“ ANTARA STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN DAN BALDRIGE AWARD : KRITERIA PENDIDIKAN UNTUK PENCAPAIAN KINERJA UNGGULAN “

Sampai dengan tahun sembilan puluhan, usaha untuk meningkatkan mutu sekolah di dunia internasional dilaksanakan secara implisit yaitu pada perbaikan mutu kurikulum dan tidak pada program perbaikan mutu sekolah secara langsung dan menyeluruh. Seakan akan dengan merubah kurikulum, maka tercipta sebuah kualitas pendidikan yang baik. Nyatanya tidak sedemikian rupa, bahwa banyak faktor yang terkait yang perlu mendapat sentuhan prosedur mutu agar peningkatan kurikulum juga diikuti pada sector pendidikan lainya.

Di Indonesia, belakangan ini setelah tercecer selama 3 tahun setelah Sisdiknas, 7 dari 8 standar pendidikan diramu dan dijadikan patokan standar pendidikan nasional. Ketujuh standar tersebut adalah Standar Isi, Standar komptensi lulusan, Standar Proses, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Guru, Standar Pengelolaan,dan standar penilaian.

Selayaknya ketujuh standar tersebut akan merepresentasikan kualitas pendidikan Nasional, namun dengan pola segmentatif serta non sistematis membuat 7 standar ini seakan tidak berjalan bersama dalam satu kesatuan. Keluarnya yang standar inipun terlihat tidak sistematik, dimulai di mei 2006 keluar SI dan SKL, dengan dibantu oleh ketentuan penerapan SI dan SKL,

1. Permendiknas No. 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi (SI)

2. Permendiknas No. 23 Tahun 2006 Tentang SKL

3. Permendiknas No. 16 Tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi Guru

4. Permendiknas No. 19 Tahun 2007 Standar Pengelolaan Pendidikan

5. Permendiknas No. 20 Tahun 2007 Tentang Standar Penilaian Pendidikan

6. Permendiknas No. 24 Tahun 2007 Tentang Standar Sarana & Prasarana

7. Permendiknas No. 41 Tahun 2007 Tentang Standar Proses :

8. standar pembiayaan : belum keluar

yang terakhir keluar adalah permendiknas n0 41 dibulan oktober 2007, Jadi dengan rentang waktu sebanyak 1.5 tahun, ketujuh standar ini keluar, dan dari urutan keluarnya menunjukkan konsep pembuatan yang segmentis dan tidak runut, Standar proses pembelajaran misalnya keluar paling bontot, padahal jantung pendidikan adalah pada proses, bagaimana pembelajaran dilakukan oleh siswa didik.

Dengan memahami target pendidikan (si & SKL) yang dicapai melalui sebuah proses kemudian diukur pencapaiannya dengan penilaian yang tepat, dilaksankan oleh guru, dengan menggunakansarana dan prasarana dan pengeloaan secara baik, maka selayaknya permendiknas keluar dengan pola urutan sbb

1. SI dan SKL,

2. Proses,

3. Penilaian

4. Guru

5 Sarana Prasarana

6.pengelolaan

Kalau dari Urutan permendiknas masih belum runut, lebih lanjut dari segi konteks dan kaitan masing masingpun masih diperlukan benang merah yang menyambung ketujuh standar ini agar dapat beroperasi dan sekaligus menunjukkan level pencapaian standar sebagai sebuah capaian kualitas pendidikan/sekolah. Salah satu yang menonjol  terlihat gebrakkan serta hingar bingarnya  proses UN sebagai kepanjangan tangan standar penilaian, yang melihat luaran secara terpisah dengan proses dan keberadaan sarana/prasarana serta keragaman sekolah yang ada di Indonesia. Apa hubungan UN dengan target visi pendidikan nasional secara definitif masih perlu dipertanyakan sekali lagi.

Di dunia luar, konsep peningkatan kualitas pendidikan nampak sempat tertinggal dengan counterpartnya yaitu pengguna SDM di industri. Dimana konsep kualitas yang dikomandoi oleh Demming dan Juran bergulir jauh di bidang industri produk/manfaktur maupun jasa, sampai pada konsep quality manajemen manual yang dapat disertifikasi oleh badan Internasional seperti ISO hingga pada level Six Sigma yang diperkenalkan oleh Motorolla, di tahun 1986, dan berhasil menyabet penghargaan Maclom Baldrige di tahun 1988 dan kemudian di adposi oleh banyak perusahaan besar seperti GE, Allied signal dan menempatkan sepertiga dari perusahaan “fortune 500″ sebagai pengguna sistem kualitas ini.

Berbicara mutu di bidang pendidikan, konsep mutu masih menjadi perdebatan, apakah benar dan tepat mengkiaskan pelanggan pada industri dengan siswa sebagai pembeli pendidikan. Banyak yang tidak setuju, karena konsep kualitas yang ada hanya berdasarkan pada hal hal yang diukur, bukan berdasarkan nilai kualitatif. Dan khususnya dalam pendidikan pencapaian kualitas pendidikan tidak cukup berhenti hanya pada ukuran ujian atau pencapaian nilai test kognitif semata, namun pada nilai nilai afektif yang humanis. terlebih lagi smeua sadar bahwa luaran dari pendidikan berbicara pada jangka waktu yang cukup panjang dan pada jangka waktu tersebut akan banyak kejadian /hal yang akan menelikung hasil akhir dari proses pendidikan ini.

Bagi yang setuju dengan kiasan diatas maka penerapan konsep mutu pendidikan merupakan ajang yang uji coba yang memang layak untuk diterabas, karena belum adanya kesamaan visi, kurikulum, fasilitas, lokasi, penekanan pendidikan dsb. Oleh karenanya diperlukan sebuah kerangka khusus dalam memahami luaran pendidikan yang bagaimana yang akan enjadi tolok ukur keberhasilan sebuah proses pendidikan.

Dari sistim mutu internasional yang ada, hanya penghargaan Baldrige yang telah menyentuh dan mengakomodasi konsep pengukuran kinerja organisasi/institusi pendidikan secara spesifik. Penghargaan Baldrige atau Baldrige awards diresmikan oleh kongress Amerika di tahun 1987 dan mengambil nama Malcom Baldrige, sekretaris perdagangan Amerika yang ke 26. Penghargaan Baldrige diberikan kepada perusahaan atau organisasi dalam kategori Manufaktur, Usaha Kecil, Kesehatan dan Pendidikan dengan didasarkan pada keunggulan kinerja perusahaan atau organisasi. Namun baru di tahun 1999 kriteria kualitas pendidikan ini dipertandingkan untuk institusi pendidikan di Amerika.

Semenjak dibukanya kompetisi mutu Baldrige kategori Pendidikan di tahun 1999, tiga puluh tujuh organisasi pendidikan telah mengajukan diri sebagai kontestan penerima penghargaan. Namun baru di tahun 2001 tiga organisasi pendidikan dianggap layak menerima penghargaan Baldrige.

Seluruh kontestan melalui penilaian mutu yang ketat, dengan sekitar 300 s/d 1000 jam pemeriksaan serta tinjauan oleh dewan penguji independen. Ditahun 2002 kembali penghargaan untuk mutu pendidikan tidak diberikan karena dianggap tidak ada yang memenuhi syarat penilaian minimum untuk mendapatkan award. Di tahun 2003, satu institusi pendidikan berhasil mendapatkan penghargaan mutu yang bergensi ini.

Kriteria Baldrige yang merupakan dasar dari kajian diri organisasi, telah digunakan berbagai organisasi untuk ikut dalam kompetisi bergengsi di Amerika untuk mendapatkan penghargaan/award dibidang mutu. Selain itu kriteria Baldrige telah juga digunakan oleh banyak organisasi tidak hanya untuk ikut dalam kompetesi mutu namun untuk memberikan masukan kepada organisasi mengenai status kinerjanya.

Dengan adanya kriteria Baldrige yang dikompetisikan secara nasional di Amerika, tiga manfaat utama yang terlihat adalah:

1. membantu untuk meningkatkan kinerja organisasi secara praktek, kemampuan dan hasil capaian.
2. Untuk memfasilitasi komunikasi dan penyebaran praktek baik ke seluruh organisasi lainnya.
3. Sebagai perangkat kerja untuk memahami dan mengelola kinerja dan untuk mengarahkan perencanaan organisasi serta peluang untuk belajar.

Melihat perkembangan akan sistim mutu pendidikan yang telah berjalan baik di Amerika, maka gelombang adopsi sistem kualitas telah mampu memacu sistim pemantauan kualitas pada institusi pendidikan di berbagai tempat seperti new zealand dan australia dan beragam tempat lainnya. Di Indonesia kajian diri yang sistematis berdasarkan sistim pemantauan kualitas pada sekolah merupakan hal yang masih baru dan sangat jarang dilakukan secara sistematik. Padahal kualitas atau mutu merupakan sebuah prasyarat utama dalam menghadapi zaman yang penuh dengan kompetisi. Tanpa Mutu yang baik pada setiap produk atau jasa yang dihasilkan maka masyarakat atau pelanggan akan dengan cepat beralih menggunakan produk/jasa dari organisasi lainnya.

Pada sektor pendidikan, terciptanya mutu pendidikan yang baik merupakan cikal bakal terciptanya sumber daya manusia yang tangguh dan handal, yang akan mengelola negara ini. Bila kualitas pendidikan rendah maka akan mutu SDM juga akan rendah dan selanjutnya berimbas pada pola pengelolaan negara yang juga tidak baik.

Adanya Sistim akreditasi sekolah yang dilakukan oleh Badan Akreditasi Sekolah merupakan sebuah langkah yang baik, namun seringkali perolehan peringkat akreditasi merupakan target utama, bukan peningkatan mutu sekolah itu sendiri. Oleh karena itu sebuah pemantauan diri yang bermaksud untuk semata meningkatkan pendidikan perlu mendapat perhatian dari para pengelola sekolah sekolah di Indonesia.

Sistem kajian diri yang digunakan pada kompetisi mutu Baldrige untuk sekolah di Amerika merupakan sebuah standar yang sangat baik dan bisa diadopsi pada sekolah sekolah di Indonesia. Dibawah ini sekelumit mengenai kriteria dan proses kajian diri tersebut

Baldrige Award : Kriteria Pendidikan untuk Mencapai Target Kinerja Unggulan

Kriteria baldrige dibangun berdasarkan nilai nilai utama serta konsep yang terintegrasi dan saling terkait. Nilai dan konsep tersebut merupakan benang merah dari kepercayaan yang tertanam serta tingkah laku yang terlihat pada organisasi yang memiliki keunggulan kinerja. Nilai serta konsep tersebut adalah:

– Kepemimpinan yang memiliki visi
– Pendidikan yang memiliki orientasi pusat pembelajaran
– Organisasi dan pembelajaran individu
– Penilaian fakultas, staf akademis serta mitra kerja
– Agilitas
– terfokus ke masa depan
– pengelolaan inovasi
– pengelolaan berdasarkan fakta
– tanggung jawab sosial
– Fokus pada hasil dan penciptaan nilai
– Prespektif pada sistem bukan sektoral

Nilai dan konsep tersebut merupakan fondasi dalam mengintegrasikan persyaratan kunci pada sebuah kerangka kerja yang berorientasi pada hasil. Sehingga nantinya dapat digunakan untuk dasar kerja dan introspeksi masukan/feedback.

Kriteria Pendidikan Baldrige untuk tahun 2004 memastikan nilai utama serta konsep diatas dalam tujuh bagian kerangka kerja yang bisa diadaptasi sesuai kebutuhan tiap organisasi, termasuk pendidikan. Namun adaptasi ini tidak bermakna bahwa setiap persyaratan harus didekati dengan cara yang sama. Ketujuh kriteria tersebut adalah :

1. Kepemimpinan,
2. Perencanaan Strategis,
3. Siswa, Stakeholder, dan Fokus pasar
4. Pengukuran, Analisis dan manajemen pengetahuan
5. Fokus pada staff dan falkultas
6. Manajemen Proses
7. Hasil Kinerja Organisasi

Gambar dibawah menunjukkan korelasi antara ketujuh kriteria dengan profil organisasi sebagai atap dari kerangka kerja dan operasi.

Profil Organisasi

Profil organisasi (top of figure) menciptakan setting konteks untuk organisasi beroperasi. Lingkungan, hubungan kerja kunci serta tantangan strategis berperan sebagai payung petunjuk untuk sistem manajemen kinerja organisasi.

Sistem Kerja Operasi

Sistem kerja operasi yang terletak di tengah tengah gambar terdiri dari enam kategori baldrige yang menunjukkan kerja dan operasi organisasi dan hasil kinerja yang didapatkan.

Kepemimpinan (kategori 1), Rencana Strategis (kategori 2) dan siswa, stakeholder dan fokus pasar (kategori 3) mencerminkan segitiga kepemimpinan. Ketiga kategori ini digabungkan dalam satu segitiga untuk menekankan pentingnya pemimpin yang memiliki fokus pada stragei dan kepada siswa serta stakeholder. Pemimpin senior menyatakan kemana arah dari organisasi serta mencari peluang bagi organisasi di masa depan.

Fokus pada Fakultas dan staf pengajar (kategori 5), manajemen proses/sekolah (kategori 6) dan hasil kinerja organisasi (kategori 7) mencerminkan segitiga hasil. Sistim pengorganisasian pada fakultas serta staf pengajar dan pelaksanaan proses kunci adalah kegiatan utamaa organisasi untuk menghasilkan sebuah kinerja organisasi.

Seluruh kegiatan bermuara pada hasil kinerja organisasi, sebuah campuran kinerja yang menunjukkan kinerja siswa, stakeholder, finansial, serta kinerja operasional termasuk juga kinerja yang berhubungan dengan fakultas dan staf pengajar, pemerintah serta tanggung jawab sosial pada masyarakat. Panah horizontal menghubungkan segitiga kepemimpinan dengan segitiga hasil kinerja, dimana merupakan fakor krtitikal dalam kesuksesan organisasi. Lebih jauh lagi terdapat hubungan inti anatar kepemimpinan (kategori 1) dengan hasil kinerja organisasi (kategori 7). Anak panah bermata dua menunjukkan pentingnya feedback/masukan mengenai sistem manajemen kinerja yang efektif.

Fondasi dari sebuah sistem organisasi

Pengukuran, analisis dan manajemen pengetahuan (kategori 4) merupakan elemen yang kritikal terhadap sistem manajemen kinerja yang efektif dan terhadap basis fakta, sistem yang dikendalikan oleh pengetahuan untuk peningkatan kinerja. Pengukuran, analisis dan manajemen pengetahuan berperan sebagai landasan fondasi untuk kinerja sistem manajemen.

Kriteria Baldrige di bidang pendidikan di desain untuk membantu organisasi dalam menerapkan pendekatan terpadu untuk mengelola kinerja organisasi yang menghasilkan peningkatan nilai yang berkesinambungan kepada siswa dan pihak terkait (stakeholder), secara langsung memiliki kontribusi pada peningkatan mutu pendidikan sekaligus meningkatkan efektifitas, kemampuan organisasi dan pembelajaran individunya.

Bilamana sekolah telah memiliki data yang baik serta komplit maka prosesnya akan lebih sederhana menjadi sebagai berikut.

Penerapan konsep serta kriteria Malcolm Baldrige ini kemudian menjadi salah satu agenda yang perlu di sederhanakan dalam bentuk sebuah kode komputer, Create Fondation dalam hal ini mengadopsi dan menmperkaya konsep kualitas pendidikan dalam sebuah pake Aplikasi edutekh yang diberinama EDUQUAL. Tujuannya sederhana, beum sampai untuk ikut dalam lomba bergengsi Malcolm baldrige Award, tapi cukup sebagai kajian diri sejauh mana pendidikan kita telah bekerja menggapai mutu.

Kegiatan kajian diri ini akan menghasilkan dokumen sistim mutu pendidikan yang komprehensif berdasarkan 7 kriteria baldrige award. Serta penilaian dan masukan atas temuan kajian diri yang juga berdasarkan kriteria penilaian Baldrige award. Disamping itu luaran yang tidak ternilai adalah penguasaan proses kajian diri pada staf/tim yang dibentuk sekolah sehingga proses kajian diri nantinya akan dapat terus menerus dilaksanakan.

http://merekaharussukses.wordpress.com/2008/05/23/measuring-success-with-quality/#more-35

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s