KOMPAS: Standar UASBN Rendah

Sekolah Ingin Semua Siswa Lulus
http://kompas.com
Jakarta, kompas – Sekolah rata-rata menetapkan standar kelulusan yang
rendah dalam pelaksanaan ujian akhir sekolah berstandar nasional atau
UASBN untuk tingkat sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah. Hal ini
disebabkan pihak sekolah tidak ingin ada siswanya yang tidak lulus UASBN
sehingga merusak reputasi sekolah.

Dalam pelaksanaan UASBN yang pertama kali ini, setiap sekolah memang
diberikan keleluasaan menentukan standar kelulusan siswa-siswanya. Jika
standar kelulusan tinggi, secara tidak langsung menunjukkan mutu lulusan
sekolah bersangkutan. Namun, kenyataannya, banyak sekolah menetapkan
standar kelulusan rendah, bahkan di bawah 3, untuk tiga mata pelajaran
yang diujikan, yakni Bahasa Indonesia, Matematika dan IPA, agar semua
siswanya lulus.

Berdasarkan data yang dihimpun Kompas dari berbagai wilayah, Kamis
(15/5), standar kelulusan rendah bukan hanya di sekolah dasar daerah
terpencil, tetapi juga di kawasan perkotaan. ”Dengan sarana sekolah yang
sangat terbatas, sekolah tidak berani menetapkan standar kelulusan
tinggi, rata-rata berkisar 2 hingga 2,28,” kata Sudarman, pengawas
sekolah di Kecamatan Cibinong, salah satu daerah di pinggiran Kabupaten
Cianjur, Jawa Barat. ”Yang penting siswa lulus sehingga bisa melanjutkan
ke SMP,” ujarnya.

Turman, Kepala SDN Nanggung, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten,
mengatakan, sekolah menetapkan nilai minimal lulus untuk Bahasa
Indonesia 3, IPA 3, dan Matematika 2,5. Penetapan nilai minimal di
sekolah rendah karena disesuaikan dengan kondisi ekonomi keluarga siswa
yang umumnya tidak sanggup membayar biaya les di luar yang disediakan
sekolah.

Omang Adiwijaya, Kepala SDN Percontohan Lubang Buaya 12 Jakarta,
mengatakan, sekolah menetapkan nilai minimal lulus UASBN Bahasa
Indonesia 3, Matematika 2, dan IPA 3. ”Lebih baik standar lulusnya
rendah, tetapi nilai yang dicapai para siswa bisa di atas standar itu,”
kata Omang.

Rukmini, Kepala SDN Percontohan Kelapa Dua Wetan 01 Jakarta, menetapkan
nilai minimal lulus Bahasa Indonesia 4, Matematika 3, dan IPA 4 dengan
mempertimbangkan kemampuan siswa.

Direktur Pendidikan TK/SD Depdiknas Mudjito AK mengatakan, sekolah
menetapkan standar kelulusan rendah karena UASBN baru pertama kalinya
dilakukan sehingga kemampuan siswa masih diduga-duga.

”Meski kelulusan siswa SD terkesan lebih mudah, tidak berarti sekolah
bisa sembarangan menentukan standar kelulusan. Sebab, besarnya standar
kelulusan ini bisa dijadikan bahan penilaian masyarakat terhadap mutu
sekolah yang bersangkutan,” kata Mudjito. (ELN/INE)

One thought on “KOMPAS: Standar UASBN Rendah

  1. Lebih setuju kalau siswa SD/MI banyak yang lulus (standar kelulusannya direndahkan) karena secara akademis, siswa SD/MI kemampuannya sangat variatif dalam menerima keilmuan, bahkan anak kelas VI masih ada yang sifat kekanakannya tinggi, sehingga semangat belajarnya kurang. Dengan SKL rendah bukan berarti anak yang pandai menjadi rendah mutunya. Mereka tetap dapat berkompetisi tanpa harus terpengaruh. Baru setelah di tingkat SLTP, akademis harus digalakkan, karena mereka sudah waktunya berfikir keras, dan kelulusan SMP/TSANAWIYAH harus dibuat ketat, karena pada dasarnya ditingkat SMP mereka telah tersaring.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s