Jalan Pintas Menaklukkan Ujian Semu

TEMPO Edisi. 08/XXXVII/14 – 20 April 2008

Ujian nasional membuat guru, orang tua, dan murid sekolah dasar cemas.
Sekolah pun berubah jadi tempat bimbingan belajar.

Wajah-wajah itu begitu belia. Tapi lihatlah, mereka tampak letih dan
terkantuk-kantuk. Mereka murid kelas enam Sekolah Dasar Negeri Gamar,
Siak Hulu, Kampar, Riau. Senin lalu, ketika hari sudah merambat senja,
anak-anak remaja itu masih berupaya menyerap pelajaran dari guru.

Setiap hari, selama dua jam, para murid di sekolah yang terletak 90
kilometer dari ibu kota Kabupaten Kampar itu mendapat pelajaran tambahan
seusai jam sekolah. Waktu tambahan yang lebih lama diberikan di Sekolah
Dasar 70 Kota Timur, Gorontalo, sejak bulan lalu. Tak kurang dari tiga
setengah jam tiap harinya siswa harus tetap terpaku di bangku kelasnya.

Kesibukan ini merambat hingga ke rumah. Para ibu harus memikirkan
konsumsi anak-anaknya karena seusai sekolah mereka tidak langsung
pulang. Terpaksalah, ”Makanan mereka diantar orang tua,” kata Aspa
Ismail, seorang guru.

Ibu-ibu di Makatara, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, bahkan
lebih sibuk lagi. Tak hanya perlu rantang untuk tempat makanan, mereka
bahkan harus membawakan selimut karena buah hatinya harus menginap di
sekolah. Menurut Kepala Dinas Pendidikan Kepulauan Talaud, Alex J.
Ulaen, banyak murid yang rumahnya jauh dari sekolah, sehingga sulit
kalau harus bolak-balik. ”Makanya mereka menginap saja di sekolah,” ujarnya.

Kesibukan yang sudah berlangsung dua bulan terakhir ini terjadi di
seluruh Indonesia karena akan digelarnya ujian akhir sekolah berstandar
nasional pada 13-15 Mei. Ini adalah ujian nasional pertama untuk anak
sekolah dasar.

Ujian ini sebenarnya tidak seberat kakak-kakak mereka di tingkat
lanjutan karena pusat hanya menyumbang 25 persen bahan, sedangkan 75
persen materi ujian ditentukan provinsi. Selain itu, kriteria kelulusan
juga lebih longgar karena dipatok sendiri oleh daerah masing-masing.
Artinya, standarnya bisa diatur menurut kondisi daerah.

Walau begitu, aura ketakutan terhadap ujian ini telah menyebar. Guru dan
orang tua sama-sama khawatir anak mereka tidak lulus. Apalagi tingkat
ketidaklulusan dalam ujian nasional murid sekolah lanjutan selama ini
seperti sebuah momok. Tahun lalu, puluhan ribu murid harus mengulang
ujian karena tidak lulus.

Ketakutan ini mau tidak mau merambat ke para murid. ”Saya takut
matematika. Sulit sekali. Semua kawanku juga takut. Karena itu, kami
belajar sampai sore,” kata Saidul Arif, siswa kelas enam Sekolah Dasar
Negeri 31 Kecamatan Siak Hulu, Kampar. Ada juga yang khawatir tidak bisa
melanjutkan ke sekolah menengah. ”Kata ibu guru, kalau tidak lulus ujian
akhir, kami tidak bisa masuk sekolah menengah. Kami tidak mau tinggal
terus di sekolah dasar ini,” kata Andri, siswa lainnya.

Akibatnya, murid terbebani. Itulah yang sudah sejak awal diingatkan para
pendidik ketika pemerintah pusat berencana menggelar ujian nasional
untuk sekolah dasar. ”Kami takut, kalau mereka dibebani ujian nasional,
malah tertekan dan tidak bisa berkembang sesuai dengan yang diinginkan,”
kata Kepala Dinas Pendidikan Jawa Tengah, Widadi, dalam wawancara dengan
Tempo, Juli tahun lalu.

Selain masalah materi pelajaran, guru dan orang tua pun khawatir
terhadap cara pengisian lembar jawaban. Cara mengisi menggunakan pensil
untuk kemudian diperiksa komputer adalah hal yang sama sekali baru bagi
sebagian murid sekolah dasar. ”Bisa saja mereka mampu menyelesaikan
soal, tapi salah mengikuti prosedur. Ini yang paling saya khawatirkan,”
kata Yety, guru di Sekolah Dasar Gamar, Kampar.

Tapi kekhawatiran itu, menurut Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan
Dasar dan Menengah Suyanto, terlalu mengada-ada. Murid kelas enam,
katanya, sudah memiliki mental cukup kuat untuk menghadapi tekanan.
”Sudah saatnya memberikan pembelajaran ke mereka untuk menghargai
belajar, kemudian bersaing secara baik, dan juga menyiapkan masa depan
mereka,” ujarnya.

Pemerintah tetap berkukuh menggelar ujian ini karena menganggap proses
wajib belajar sembilan tahun sudah berjalan. Menurut Suyanto, sudah
saatnya berpikir kualitas, dan ujian nasional ini adalah alat untuk
memetakan kondisi pendidikan kita secara nasional.

Dari hasil ujian itu, akan diketahui tingkat kemajuan tiap provinsi. Di
satu provinsi yang kualitasnya rendah, bisa dilihat apakah itu karena
guru atau buku yang kurang. Data itu kemudian bisa dijadikan bahan untuk
mencari bentuk pembinaan berikutnya.

Cara berpikir pemerintah seperti ini, menurut pendidik Arief Rachman,
terbalik. ”Mestinya urut-urutan pembinaan adalah pemetaan dulu untuk
mengetahui kondisi sekolah, lalu diberikan bantuan. Baru setelah semua
mencapai standar yang sama, dilakukan ujian nasional. Sekarang seolah
ujian untuk pemetaan,” katanya.

Karena ujian nasional ini punya kuasa begitu besar, sekolah dan para
orang tua mencari berbagai cara untuk menaklukkannya. Mereka mengarahkan
siswa hanya pada tiga mata ujian: bahasa Indonesia, matematika, dan ilmu
pengetahuan alam. Pelajaran lain? Lupakan saja. Ini yang disesalkan
Arief Rachman. ”Masyarakat mestinya tetap mengutamakan proses, tidak
hanya hasil,” ujarnya.

Sesal tinggal sesal. Yang terjadi dalam dua bulan terakhir sekolah telah
berubah menjadi tempat bimbingan belajar untuk tiga mata pelajaran ujian
nasional. Latihan ujian diperbanyak. Murid kelas enam diutamakan, kadang
sampai mengorbankan jam pelajaran adik-adik kelasnya. Seperti di sebuah
sekolah di Jakarta Timur yang menggelar latihan ujian pada pagi hari dan
menunda jam masuk murid kelas lain menjadi pukul 9.00.

Ada juga yang mempercepat jam masuk siswa kelas enam. Ini terjadi di
sekolah yang tergolong elite. Sekolah Dasar Laboratorium Universitas
Malang, misalnya, mengawali pelajaran untuk murid kelas enam satu jam
lebih awal menjadi pukul 6.00. Belum lagi les tambahan pada sore hari.
Murid dengan prestasi menjulang pun tidak cukup percaya diri. Riska Alya
Putri, yang pernah mewakili Sekolah Dasar Laboratorium itu ke kongres
lingkungan hidup untuk anak-anak dengan tema pemanasan global di Perth,
Australia
, Juli tahun lalu, masih mencari guru privat. Rupanya, orang
tuanya yang khawatir. ”Kami ingin dia lulus dengan nilai baik,” ujar
Widayanto, orang tua Riska.

Di Jakarta, sekolah papan atas Al-Azhar, di kawasan Jakarta Selatan,
ikut pula menambah pelajaran dua jam tiap hari. Tapi, bagi Ririz Rizani
Rizkita, 11 tahun, pelajaran tambahan itu masih kurang. Maka ia pun ikut
bimbingan belajar ditambah les privat pada seorang guru matematika.
”Saya khawatir kalau melihat nilai-nilai saya di sekolah,” katanya.
Agaknya aura ketakutan telah begitu menyebar.

Tidak sedikit orang tua yang harus merelakan waktunya untuk menunggu
anaknya mengikuti les. Nurhayati, 53 tahun, adalah salah satunya. Warga
Pondok Pinang, Jakarta Selatan, itu mengirim anaknya mengikuti bimbingan
belajar tiga kali dalam seminggu dan selama itu pula ia setia menunggu.
”Kalau tidak begini, ia tidak mau belajar,” ujarnya.

Kecemasan itu pula yang menjadi santapan penyelenggara bimbingan belajar
di kota-kota besar. Primagama cabang Mayestik, Jakarta Selatan,
misalnya, sejak awal tahun ajaran mengadakan kelas reguler dua kali
seminggu dan menjaring 76 siswa.

Bimbingan belajar Alumni, yang menyediakan jasa privat untuk 1-3 siswa
di rumah mereka dengan biaya Rp 900 ribu untuk delapan kali pertemuan,
bisa menjaring siswa empat kali lebih banyak daripada tahun lalu.
Bimbingan belajar Bintang Pelajar, yang setiap kelasnya terdiri atas
lima murid, mematok angka yang menakjubkan: sampai Rp 6,6 juta!
Peminatnya? Bejubel.

Latihan ujian juga banyak digelar bersama oleh sejumlah sekolah. Di
daerah Ciputat, Tangerang, hampir saban Minggu ada try out dari sekolah
ke sekolah dan peminatnya terus membludak. Bahkan Bintang Pelajar bisa
menggaet hampir 9.000 murid sekolah dasar untuk latihan ujian di
Gelanggang Olahraga Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu dua pekan lalu.

Segala kecemasan ini menimbulkan perputaran uang yang tak sedikit. Dari
kocek pemerintah, untuk menggelar ujian nasional sekolah dasar ini,
diperlukan lebih dari Rp 80 miliar. Biaya terbanyak tentu keluar dari
5,2 juta orang tua yang anaknya bersekolah di 184 ribu sekolah dasar dan
madrasah. Mereka harus menyediakan uang ekstra jutaan rupiah untuk
berbagai persiapan ujian seperti les, latihan ujian, membeli pensil 2B,
hingga rantang dan selimut seperti di Kepulauan Talaud di atas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s