Zaman Emas Indonesia

Oleh Jakob Sumardjo
http://kompas. com/kompascetak/ read.php? cnt=.xml. 2008.04.12. 00565481& channel=2& mn=158&idx= 158

Kapan waktunya dan siapa presidennya, belum diketahui. Namun,
keberadaannya jelas karena logikanya juga jelas, yaitu potensi alamnya
yang luar biasa, dan jumlah penduduknya yang begini besar tak mungkin
goblok semua.

Saat itu presidennya tegas dan keras, tidak takut mati dan tidak takut
kehilangan pendukungnya. Hatinya baik, tidak ada pikiran uang sama
sekali karena sejak bayi sudah kaya-raya. Ketegasannya mendapat
dukungan seluruh rakyat miskin di Indonesia, yaitu dalam melenyapkan
korupsi, kejahatan dasar yang membuat negara ini hampir saja pecah belah.

Koruptor yang diketahui menilep uang negara satu miliar ke atas
langsung dihukum mati karena yang antre untuk diadili begitu panjang.
Koruptor di atas setengah miliar dipotong tangannya dan dipenjara
seumur hidup. Yang korup seratus juta ke bawah dihukum seumur hidup.
Khusus perkara korupsi tidak ada naik banding menurut hukum negara
yang disetujui DPR, yang anggota-anggotanya cerdas, baik hati, tak
banyak bicara, tetapi lebih banyak berpikir.

Dalam waktu satu tahun pertama pemerintahannya, nafsu orang yang ingin
korup langsung lenyap. Hampir tiap hari ada koruptor dihukum mati,
sampai banyak yang tak sempat disiarkan media. Keluarga koruptor yang
dihukum mati, saat itu, tak mau mengubur sendiri, takut kerandanya
ditimpuki rakyat miskin yang marah.

Demi perikemanusiaan

Pers dalam dan luar negeri cerewet menantang pemberantasan korupsi
yang mereka nilai biadab dan melanggar hak asasi manusia ini. Namun,
presiden kita memang orang berani. ”Saya tidak takut masuk neraka,”
katanya kepada para juru kritik. ”Dalam situasi luar biasa, diperlukan
tindakan luar biasa,” tambah wakil presidennya yang sama-sama batu
karangnya.

Dalam waktu dua tahun pertama masa kepresidenannya, tak seorang
pegawai negeri pun berani mangkir kerja tanpa surat dokter negeri.
Orang berseragam pegawai negeri tak ada di jalanan, apalagi mal.
Merokok pun tak berani, kecuali saat istirahat. Tiba-tiba seluruh
pegawai negeri sibuk bekerja karena tugasnya tak habis-habis, semua
melalui prosedur yang semestinya. Orang yang suka menyogok pegawai pun
tak berkutik akibat semua pegawai negeri tak butuh sogokan, takut
dipecat hari itu juga.

Para polisi di jalan raya dan di tempat lain tak lagi membawa pistol.
Mereka hanya dibekali pentungan karet. Semua pengguna jalan tertib,
antrean lama tak mengapa, karena tilang langsung dengan denda tinggi
amat menakutkan. Para pengguna jalan ini patuh membayar denda tinggi
karena yakin, uang denda benar-benar masuk kas negara.

Meski polisi tidak bersenjata, nyali para penjahat juga kecut karena
yang diketahui membunuh korban langsung dihukum mati. Utang nyawa
bayar nyawa, itulah semboyan di pojok-pojok toko. Para pemerkosa
dihukum seumur hidup. Dua kali memerkosa dihukum mati. Di mana sila
Perikemanusiaan dalam Pancasila? Jawab presiden, ”Itu semua dilakukan
demi perikemanusiaan. Bukan perikejahatan!”

Setelah pemberantasan biang kekacauan, berangsur-angsur negara
Indonesia membutuhkan tambahan pegawai. Karena tak ada lagi budaya
sogok, hanya mereka yang benar-benar mampu di bidangnya dapat
diterima. Kerja pembangunan bisa dilaksanakan. Tidak ada rencana
pembangunan yang tak berhasil karena semua dana utuh sampai selesai.
Jalan-jalan mulus. Kemacetan tak ada lagi akibat pembangunan jalan
layang bagai kabel listrik di kota-kota besar. Dan subway dibangun di
mana-mana.

Ibu kota negara dipindah ke Kalimantan, di tengah-tengah kepulauan
Indonesia. Itulah Washington Indonesia. Jakarta adalah New York-nya
Indonesia. Bandara seperti Soekarno-Hatta dibangun di 20 kota besar
Indonesia. Semua berasal dari uang negara yang 100 persen selamat.
Coba tahun 1970-an sudah begini, Indonesia akan disebut macan Asia
nomor dua setelah Jepang.

Syarat kesuburan

Pada pemerintahan kedua, turis Indonesia ditunggu-tunggu di
negara-negara tetangga. TKI dan TKW telah lenyap sejak pemerintahan
pertama hampir berakhir. Bahkan, TKW lain bangsa masuk Indonesia.

Turisme bukan lagi slogan. Menteri Pariwisata paling sibuk bekerja.
Pada malam hari, lampu kantor ini tak pernah padam. Devisa sektor ini
melebihi pendapatan pajak, pertambangan, pertanian, kehutanan. Para
turis dimanja karena aman, transpor tepat waktu, dan ”Bali-Bali” baru
bertebaran di Indonesia.

Nilai mata uang rupiah yang puluhan tahun bikin malu bangsa (negara
sama sekali tak malu) diturunkan menjadi satu dollar AS setara satu
rupiah RI. Bayangkan kalau kekayaan negara dihitung dalam nilai mata
uang lama akan membingungkan kepala akibat triliun dari triliun dan
triliun rupiah. Harga mobil paling mewah cuma Rp 200.000. Gaji pegawai
negeri paling top Rp 70.000. Recehan satu sen ada di kantong tiap
warga negara.

Setelah pemerintahannya yang kedua berakhir, presiden dan wakil
presiden kita pensiun. Meski rakyat tetap ingin memilihnya, keduanya
tetap menolak karena tak sesuai dengan undang-undang. Penggantinya
tidak sehebat presiden kita itu, tetapi tak apa sebab seluruh bangsa
telah memasuki budaya baru, yaitu budaya bersih. Orang takut, namanya
masuk koran meski cuma nyopet jam tangan.

Impian tata temtrem kerta raharja, adil makmur ternyata bukan omong
kosong dongeng anak-anak. Kuncinya hanya satu, tembak mati para maling
negara, entah jemaah maupun perorangan. Ibu Pertiwi akan bersimbah
darah para penjarah, tetapi itulah syarat kesuburan.

Jakob Sumardjo Esais

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s