Perempuan-perempuan dalam Ayat-ayat Cinta

http://www.jurnalpe rempuan.com/ yjp.jpo/?
act=perspektif% 7C-69%7CX

Jum’at, 11 April 2008

Perempuan-Perempuan dalam Ayat-Ayat Cinta

Memahami Ayat-Ayat Cinta versi Hanung Bramantyo

Oleh: Olin Monteiro

Sewaktu saya riset untuk menulis tentang film ini, di
google tercatat
96.000 “review” tentang film Ayat Ayat Cinta, hal ini
menyebabkan
saya cukup bingung untuk menulis apa.

Setelah melihat bahwa dalam kehidupan tokoh utama
kita, Fahri, ada 4
orang perempuan, saya pikir ada bagusnya juga melihat
perempuan,
cinta dan jodoh dalam film tersebut.

Mengapa kita hidup di dunia? Siapa kita dan apa yang
kita ingin
capai? Apa kewajiban kita? Apa itu cinta dan jodoh?
Itulah hidup
dalam kisah ayat-ayat cinta versi novel yang
penekanannya pada
pembangunan karakter islami atau sisi muslim muda
seorang lelaki muda
Indonesia yang sedang berguru ke negeri orang, namanya
Fahri,
beberapa orang perempuan dalam hidupnya dan apa maksud
dari jodoh itu
sendiri.

Film dibuka dengan cerdas, memperlihatkan sisi
kehidupan Fahri
sebagai pemuda mahasiswa yang kebetulan harus
mengerjakan tugas dari
kampusnya, problem dengan komputernya dan ternyata
Fahri lari ke
Maria, tetangganya, seorang perempuan muda, keturunan
Arab yang
beragama Kristen Koptik. Walaupun agak aneh, karena
semua temannya
satu kos kayaknya tidak ada yang tahu urusan computer,
tetapi Maria
si karakter perempuan pertama di film ini,
memperlihatkan kebaikan
hati dan niat membantu yang tulus Terlihat para lelaki
merubah posisi
mereka ketika Maria datang, bahkan ada yang kabur
karena masih
bertelanjang dada keluar kamar mandi. Kebanyakan film
memang selalu
menunjukkan perempuan sebagai pihak lemah, butuh
ditolong dan
diselamatkan karakter lelaki dalam ceritanya. Ternyata
dengan begitu
besarnya kontroversi yang saya dengar tentang film
ini, ternyata AAC
malah berhasil mempresentasikan anti-stereotipe
terhadap karakter
tokoh perempuan.

Berkenalan dengan karakter dalam film

Fahri yang orang Indonesia, mahasiswa teladan, taat
beribadah, sayang
orang tua dan menjadi idola para perempuan di kampus,
adalah sosok
rekaan sang penulis novel yang terlihat hidup untuk
memenuhi
kewajibannya, sebagai lelaki, muslim dan anak yang
hormat pada orang
tua. Bahkan di dinding pun tertulis beberapa target
hidupnya,
termasuk kawin (yang diberi tanda tanya besar di
dindingnya). Dia
bingung, siapa jodohnya, siapa yang bisa membantu dia
menuntaskan
kewajibannya sebagai muslim yang saleh, untuk menikah
dan menjadi
lebih tenang.

Fahri berteman dengan Maria, tetangga sekaligus
perempuan yang diam-
diam dia kagumi (versi novelnya), Nurul anak pemuka
agama yang cukup
soleha, lalu sering juga berpapasan dengan Noura,
tetangga korban
domestic violence yang sering dipukuli ayahandanya.
Maria hidup
dengan ibunya, seorang dokter yang juga single mother
(walaupun beda
dengan bukunya) dan sedang kuliah tentang sastra di
suatu kampus yang
tak jelas. Maria sering membantu Fahri untuk
pengetikan tugas. Dalam
novel, sosok Maria digambarkan sebagai perempuan
smart, baik hati dan
penuh semangat. Maria juga rajin mempelajari Islam,
walaupun dia
sendiri beragama Kristen Koptik (salah satu aliran
agama Kristen di
Mesir yang sudah sejak lama). Banyak percakapan cerdas
antara Fahri
dan Maria di novel yang tidak terungkapkan di film.
Pada intinya, toh
di film Maria terlihat sangat baik hati, suka menolong
Fahri dan
memperhatikannya dengan special. Tentu saja kita semua
tahu kenapa
dia begitu, walaupun Fahri sepertinya satu-satunya
orang yang (klise
sebenarnya) tidak menyadari.

Film berlanjut dengan pertemuan Fahri dengan Aishah di
bus
umum/kereta, di mana Aishah ditunjukkan sebagai
karakter yang murah
hati, baik dan penuh pengertian. Aishah memberi
bangkunya buat ibu
turis dari Amerika yang terlihat lemah, walaupun
diprotes seorang
penumpang lain yang atas nama agama menyatakan
keberatan bangku itu
diberikan kepada orang Amerika yang katanya “kafir”.
Aishah perempuan
keturunan Turki-German, hidup dengan pamannya dan
kebetulan kaya
raya. Aishah yang ditunjukkan sebagai perempuan
bercadar, terlihat
kuat, mandiri dan tentu cerdas. Aishah bertemu lagi
dengan FAhri
ketika mengantar wartawan asing yang ibunya ditolong
oleh Fahri di
dalam bus itu. Pertemuan ini memperkuat relasi kontak
batin antara
Aishah dan Fahri, walaupun tidak terlalu banyak kata
yang mereka
pertukarkan.

Nurul, adalah perempuan lain dalam kehidupan Fahri.
Sebagai aktifis
organisasi dan kampus, Nurul mengenal sekali siapa
Fahri dan sering
berkegiatan dengan beliau. Nurul terlihat setia dan
sangat
bersemangat berorganisasi, apalagi dengan keberadaan
Fahri. Nurul
yang juga mencintai Fahri secara platonis bahkan
menggunting gambar
Fahri dan menempelnya di buku hariannya. Sampai di
sini saya masih
sepakat dengan karakter yang diberikan, walaupun
kehebatan Nurul
dalam berorganisasi agak kurang menonjol. Dia terlihat
seperti salah
satu anggota fans club Fahri. Bahkan perilaku Fahri
yang biasa saja
kepada Nurul juga tidak mematikan harapan Nurul akan
suatu masa depan
nantinya bagi dia dengan Fahri.

Noura, perempuan tetangga, korban kekerasan dalam
keluarga, adalah
perempuan yang terperangkap dalam kekerasan, pasrah
dan sangat
ketakutan walaupun berkali-kali menjadi korban
kebrutalan ayah
tirinya. Noura beberapa kali berpapasan di jalan
dengan Fahri,
lengkap dengan wajah memar-memar dan ketakutan,
walaupun Fahri tidak
bisa berbuat apapun selain memandangnya dengan tampang
terganggu
alias jengkel. Suatu ketika, Fahri dan Maria menolong
Noura malam-
malam dari perlakuan brutal sang ayah tiri. Mereka
menyembunyikan
Noura di apartemen Maria.

Sayangnya, hubungan Fahri dengan Nurul dan Noura pun
tidak terlalu
terbangun seperti di bukunya. Walaupun ada adegan di
mana Noura yang
korban kekerasan seksual dan pemukulan ini bertemu
dengan Fahri yang
berusaha menunjukkan chemistry di antara keduanya,
hanya terlihat
sekilas dan tidak membangun suasana intens.

Akhirnya, setelah melalui perjodohan dengan sang guru
spiritualnya,
Fahri menikahi Aishah (yang kebetulan sekali
dijodohkan dengan dia).
Yang anehnya, pada waktu bersamaan itu, Maria sedang
keluar kota
dengan ibu, sehingga beliau belum sempat mengetahui
kenyataan bahwa
lelaki yang dicintainya itu menikah dengan orang lain.
Begitu pulang,
Maria langsung menjalani kehidupan paling merana
sedunia. Apakah
betul perempuan menjadi sangat merana karena
kehilangan orang yang
dicintainya sampai dia pun koma dan tak mau bangun?
Reaksi Nurul pun
tidak kalah heboh, dia menjadi sedih, marah dan
merobek gambar Fahri
dari bukunya. Baik Nurul dan Maria pun tidak mau
bicara dengan Fahri
paska pernikahannya. Terus mengapa Fahri bingung?

Percaya cinta dan jodoh?

Kemudian setelah menikah, ternyata Aishah menemui
bahwa kehidupan
menikah tidak seperti harapan kebanyakan orang. Banyak
hal harus
dibicarakan dan harus banyak toleransi. Aishah pun
harus berhadapan
dengan Fahri yang ambigu hidup dengan seorang
perempuan kaya yang
praktis bisa menafkahi keluarganya (tanpa perlu uang
dari suami).
Identitas Fahri sebagai suami mulai menjadi gejolak
dalam keluarga.
Lalu, Aishah juga berhadapan dengan kenyataan
membingungkan tentang
siapa suaminya. Pertama, keluarga Nurul meminta Fahri
menikahi Nurul
sebagai istri kedua, lalu belum selesai itu, polisi
datang dan
menangkap Fahri atas tuduhan perkosaan, oleh Noura
orang yang pernah
ditolong Fahri dan Maria. Kurang pusing apa lagi
Aishah? Benar ini
jodoh saya begitu pikir Aishah?

Di saat bersamaan, Maria ternyata koma karena
kecelakaan. Maria
adalah salah satu saksi kunci dalam perkara perkosaan
yang dihadapi
Fahri. Maria yang percaya dirinya berjodoh dengan
Fahri, tetapi
ternyata Fahri menikahi Aishah, yang tentunya dianggap
sebagai jodoh
syah Fahri.

Dari sini, keempat perempuan dalam kehidupan Fahri pun
akhirnya
bertemu. Aishah sang istri yang ingin membantu suami
keluar penjara,
mencari bukti dan mengenal lebih jauh siapa suaminya.
Aishah pun
menanyai Nurul kehidupan suaminya dan bagaimana
interaksi dia dengan
orang lain. Aishah pun harus mencari Maria dan mencoba
mendapatkan
keterangan dari dia, walaupun ternyata gagal. Dengan
Noura, Aishah
pun sempat berpapasan di depan ruang pengadilan dan
memaksanya untuk
mengaku bahwa perbuatannya itu tidak benar. Aishah
pada saat
bersamaan menjadi korban, penolong (sang suami) dan
agresor
(menyerang perempuan korban kekerasan lain).

Sementara itu, Noura sebagai korban kekerasan disaat
lain akhirnya
menjadi pelaku kekerasan. Terutama kekerasan penipuan
terhadap korban
yaitu Fahri dan juga Aishah. Sesama perempuan dalam
satu film bisa
menjadi korban dan pelaku kekerasan dalam waktu
bersamaan. Lingkaran
ini pun pasti banyak terjadi di dalam masyarakat kita,
contohnya para
TKW yang dipukuli oleh majikannya yang juga perempuan.
Walaupun pada
akhirnya Noura mengakui kesalahannya dan mengatakan
siapa pelaku
pemerkosaan yang ternyata ayah tiri-nya sendiri.

Perempuan-perempuan dalam cerita AAC ini terlihat
ambigu, terkadang
mereka terlihat pandai, terpelajar, mandiri, kuat,
tetapi di sisi
lainnya mereka juga lemah, penuh ketidakberdayaan,
terkadang egois
dan mudah nestapa karena cinta. Kalau membandingkannya
dengan film
Berbagi Suami, Nia Dinata, tokoh perempuan dalam film
beliau memang
pernah juga jadi korban, sedih, terpukul atau trauma,
tetapi mereka
pun memilih untuk bangkit dan bahagia dengan
pilihannya.

Perempuan sang penyelamat

Untungnya, bagian akhir dari cerita, satu dari
karakter perempuan
yaitu Aishah pun berusaha menyelamatkan Maria
(perempuan lainnya)
dari koma, menyelamatkan Fahri dari penjara atau
mungkin dirinya
sendiri yang sedang hamil. Aishah (dengan berbagai
pemikirannya)
menyadari bahwa satu-satunya cara adalah Fahri
menikahi Maria. Fahri,
seorang cendikiawan, tidak memikirkan opsi ini, tetapi
sang istri
yang akhirnya menyadarkan kenyataan dan opsi dramatik
ini. Fahri
sempat berargumentasi bahwa poligami itu tidak gampang
(yang tentunya
saya setuju banget), berdebat dengan Aishah, tetapi
tersentak kaget
akan kenyataan bahwa sang istri ternyata sedang hamil.
Oh Fahri, ya
harus keluarlah engkau dari penjara demi bayimu.

Sebagai muslim sejati, untuk memegang Maria, yang
masih koma, maka
satu-satunya cara adalah menikahi Maria. Anehnya,
Maria dinikahi
dalam keadaan tidak sadar. Sepengetahuan saya,
seseorang yang akan
pindah agama dan menikah harusnya melakukan itu suami
dengan penuh
kesadaran. Aishah yang menyaksikan tetap tidak kuasa
juga, menangis
melihat sang suami harus menikahi perempuan lain. Ah,
begitulah kisah
cinta masa kini.

Dari sini saya mengambil kesimpulan, Fahri –yang
sedang tidak berdaya-
atas kebaikan sang istri, yang kasihan pada Maria
merelakan Fahri
menikahi Maria (baca: memaksa). Lalu, Maria yang
akhirnya bangun,
berhasil bangun dan sehat, lalu memberikan kesaksian
di pengadilan.

Sang tokoh lelaki, Fahri sudah diselamatkan oleh dua
perempuan.
Perempuan-perempuan penyelamat itu adalah para
istrinya. Bravo buat
AAC versi Hanung, karena hanya dengan perempuanlah,
Fahri
terbebaskan, mengerti makna cinta dengan perspektif
berbeda dan
memahami arti jodoh sebenarnya. Terimakasih Maria dan
Aishah, sudah
menyelamatkan cerita ini dari kekosongan cerita-cerita
cinta yang
umumnya memang rada “klise” ala perdagangan bioskop
masa kini.

Olin Monteiro, Jurnal Perempuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s