KAMMI DIPERSIMPANGAN JALAN; ANTARA IDEALITA DAN REALITA1

Oleh Enpe Ruslan21

Telaah Historis berdirinya KAMMI
Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia atau KAMMI adalah
organisasi yang lahir pada hari ahad 29 Maret 1998 yang bertepatan
dengan tanggal 1 Dzulhijjah 1418 H bertempat di Malang. Kehadiran
Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) didasari
keprihatinan mendalam terhadap krisis ekonomi nasional dan didorong
oleh rasa tanggung jawab moral mahasiswa terhadap penderitaan rakyat
ketika itu. Wadah aksi ini ketika ditinjauan historisitasnya
merpakan wadah yang dimaksudkan untuk berperan aktif dalam proses
perubahan dan perbaikan.
Sebelum menelaah lebih jauh tulisan ini, mencoba mencermati beberapa
peristiwa penting yang sedikit banyak mempengaruhi bagian alur
cerita sejarah lahirnya KAMMI. Ada banyak peristiwa sebelumnya yang
terjadi mewarnai proses berdiri dan mengantarkan bangsa indonesia
sampai tahun 1998 dan lahirnya KAMMI. Peristiwa ataupun sejarah yang
mencatat periode heroik atau kebangkitan bangsa Indonesia dalam
memulai tatanan yang lebih baik itu antara lain adalah; 1908 Boedi
Utomo, 1928 Sumpah Pemuda, 1945 Proklamasi kemerdekaan yang
sebelumnya terjadi peristiwa penting didalamnya yaitu berdirinya
BPUPKI yang mana berkumpulnya para pemimpin dalam membicarakan dan
merumuskan kemerdekaan bangsa indonesia dan menyiapkan instrumen-
instrumennya. Tidak kalah pentingnya ketika mengangkat tentang
terjadinya perdebatan idiologis yang sengit ketika pembicaraan
tentang dasar Negara yang akan diberlakukan pada Negara yang akan
berdiri. Dan juga proses politik Islam ketika mempertahankan
identitas dan eksistensinya ditengah pergolatan waktu itu termasuk
eksistensi Masyumi sebagai salah satu elemen yang berlabel Islam
dalam kancah politik pada saat demokrasi parlementer maupun
demokrasi terpimpin.
Pada tahun 1966 masa Orde Baru, masa ini adalah masa antagonistik;
terjadi ketegangan antara pemerintah dan umat Islam, tidak jarang
sampai pada level konfrontasi. Peristiwa-peristiwa konfrontatif
muncul karena persepsi pemerintah yang menganggap kekuatan politik
Islam sebagai ancaman sehingga membuat banyak kebijakan pemerintah
merugikan kepentingan Islam, Drs.Abdul Azis Thaba, M.A mencatat ada
kurang lebih tujuh kebijakan Soeharto yang tidak berpihak kepada
Umat Islam, dan menurut Alwi Alatas dan Fifrida Deliyanti salah
satunya adalah kebijakan tentang pelarangan berjilbab bagi pelajar
putri, tahun 1982-1991.
Inilah sedikit gambaran tentang corak iklim politik pada era
kepemimpinan orde baru, Drs.Abdul Aziz Thaba, M.A membagi ada 5
format politik yang tercipta ketika itu;
1.Peranan eksekutif (Negara sangat kuat karena dijalankan oleh
militer setelah ambruknya Demokrasi Terpimpin dan menjadi satu-
satnya pemain utama di atas panggung politik nasional. Legitimasi
perasaan mereka dihadirkan melalui konsep dwifungsi ABRI.
2.Upaya membangun sebuah kekuatan organisasi politik sipil sebagai
perpanjangan tangan ABRI dalam politik.
3.Penjinakan radikalisme dalam politik melalui proses depolitisasi
massa.
4.Tekanan pada pendekatan keamanan dibandingkan dengan pendekatan
kesejahteraan dalam pembangunan politik untuk menciptakan stabilitas
politik
5.Menggalang dukungan masyarakat melalui organisasi-organisa si
sosial dalam jaringan korporatis.

Format politik di atas menjustifikasi bagaimana pola kepemimpinan
dan corak politik ketika itu, bagaimana Pemimpin orde baru
menggunakan kekuatan ABRI Sebagai perpanjangan tangan kepemimpinan
otoriter. Kemudian disisi yang lain adanya rencana pembutaan politik
dengan depolitisasi dan menggalang kekuatan untuk stabilisasi
politik maupun penggalangan kekuatan jaringan korporatis. Format di
atas juga sejak awal memberikan sinyal tentang ketidak berpihakan
pemerintah orde baru terhadap elemen muslim dalam segala hal karena
diklaim sebagai oposisi pemerintah yang cukp berbahaya.
Kondisi politik bercorak sangat hegemonik, tak ada nuansa demokratis
yang kemudian membiarkan kebebasan berekspresi bagi warga negara
untuk menentukan sikap dan aktivitas, sehingga banyak aktivis yang
ditangkap, diadili, diinterogasi tanpa alasan yang jelas. Sementara
semakin lama krisis moneter, krisis ekonomi semakin parah yang
merupakan akibat dari akumulasi kebijakan dan perilaku yang salah
selama orde baru, dan jumlah rakyat dibawah garis kemiskinan tiba-
tiba meningkat drastis di Indonesia.
Dengan kompleksitas hadapan realitas bangsa indonesia yang seperti
itu, Soeharto sebagai presiden yang telah memimpin selama 32 tahun
itu mengalami krisis legitimasi yang serius. Legitimasi politik
Soeharto terletak pada kemampuannya menjadikan ekonomi sebagai
panglima, masyarakat “dipaksa” untuk tidak berpolitik. Sehingga
dapat difahami bahwa ketika krisis ekonomi melanda indonesia
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap legitimasi politik
Soeharto. Aksi-aksi protes terhadap realitas bangsa waktu itu begitu
marak; aksi protes juga berturut-turut dilakukan pada tanggal 25-26
Februari 1998 yang dihadiri sekitar 10.000 mahasiswa dan dosen.
Ketika kepemimpinan Soekarno tumbang, oleh gerakan-gerakan sparatis
pelajar dan mahasiswa, berikutnya Soeharto ketika mengkonstruk
sebuah system yang sama akhirnya juga memunculkan aksi-aksi
penolakan dari gerakan mahasiswa yang tidak pernah surut walaupun
represifitas aparat militer menjadi makanan dalam setiap aksi mereka.
Dalam kondisi seperti ini di saat bersamaan di adakannya Muktamar
Nasional FS LDK Nasional X dalam rangka mengevaluasi,
mengientifikasi problem dan solusinya serta menformulasikan konsepsi
gerakannya. Disaat kekacauan ini terjadi mahasiswa yang menghadiri
FS LDK Nasional X ini dalam kontemplasinya mencoba menemukan salah
satu jawaban terhadap krisis ini dan dirumuskanlah berdirinya KAMMI.
Dan dalam proses penyempurnaan arah gerakan dan formulasi strategi
gerakan, KAMMI dengan proses koordinasi yang begitu cepat diseluruh
Indonesi akhirnya ikut andil dalam penumbangan orde baru.
Pada 1998 Orde Reformasi, semua berubah seiring dengan transisi
kepemimpinan tingkat pusat. Perubahannya melandasi segala segala
kebijakan tertama ekonomi-politik. Orde reformasi mencirikan
kebebasan mengekspresikan diri sebagai warga Negara dan KAMMI
memanfaatkan momen ini untuk masifikasi gerakan juga memformulasi
konsep strategis dalam rangka berkontribusi terhadap tanah air
tercinta.
Dalam prosesnya kita juga butuh menelaah tentang nilai-nilai penting
maupun pelajaran berharga terhadap kemunculan KAMMI. KAMMI muncul
dilatar belakangi oleh kerisauan mahasiswa muslim yang kemudian
mengental pada Muktamar Nasional FS LDK Nasional X. Pada saat itu
peserta dari selruh wilayah merasa perlu dibentuknya KAMMI karena
pertama, keprihatinan mendalam terhadap krisis nasional yang melanda
Indonesia dan didorong tanggung jawab moral terhadap penderitaan
rakyat yang masih terus berlangsung serta itikad baik untuk berperan
aktif dalam proses perubahan kearah yang lebih baik.
Kedua, kesepakatan pada komisi pada acara FS LDK Nasional X.
Kesepakatan berintikan adalah diperlukan koordinasi dan konsolidasi
antar kampus, khususnya LDK, guna membangun kekuatan yang dapat
berfungsi sebagai peace power untuk melakukan tekanan moral terhadap
pemerintah. Kemudian pada rapat pleno FS LDK Nasional X
disepakatilah adanya satu wadah yang berkonsentrasi pada agenda
politik.
Dewan formatur KAMMI yang dipilih pada saat sidang komisi FS LDK
Nasional X di Malang yang berjumlah 8 orang kemudian mengkaji secara
filosofis terhadap eksistensi KAMMI dan mencoba mendasarinya dalam
memilih nama KAMMI sebagai hal terpenting dalam organisasi. Adapun
secara filosofi pemberian nama ini oleh Dewan Formatur didasari
beberapa alasan Pertama, sejarah telah membuktikan bahwa gerakan
massa yang berhasil di Indonesia adalah gerakan yang memperhatikan
atau memiliki basis kultural. Kultur Indonesia adalah Islam, karena
sebagian besar rakyat Indonesia adalah muslim.
Kedua, FS LDK Nasional X adalah acara yang dihadiri oleh mahasiswa-
mahasiswa yang aktif dimasjid-masjid kampus makanya adalah suatu
yang wajar ketika menggunakan label Muslim Indonesia. Tapi kemudian
penggunaan nama KAMMI memiliki lima konsekwensi. Pertama, KAMMI
harus menjadi kekuatan terorganisir yang menghimpun berbagai elemen
mahasiswa, baik individu maupun kolektif yang sepakat bekerja dalam
format bersama KAMMI. Kedua, KAMMI harus membangun gerakan yang
berorientasi kepada aksi riil dan sistematis dengan dilandasi
gagasan konsepsional yang matang tentang reformasi dan pembentukan
masyarakat madani. Ketiga, aktivis KAMMI adalah kalangan mahasiswa
dan berbagai strata dan seluruh daerah di Indonesia. Keempat,
kekuatan inti KAMMI adalah kalangan mahasiswa yang memiliki komitmen
perjuangan ke-Islaman dan kebangsaan yang jelas dan benar serta
senantiasa menunjukkan akhlakul karimah dalam berbagai aktifitasnya.
Kelima, gerakan KAMMI dilandasi pemahaman akan relaitas bangsa
Indonesia dengan berbagai kemajemukannya, sehingga KAMMI akan
bekerja untuk kebaikan dan kemajuan bersama rakyat, bangsa dan tanah
air Indonesia.
Akhirnya pada tanggal 9-15 Agustus 1999 dalam acara Rapat Kerja
Nasional Deparatemen Kaderisasi di Parung Bogor, terciptalah rumusan
idiologi KAMMI, yaitu:
1.Kemenangan Islam adalah Jiwa Perjuangan KAMMI.
2.Kebathilan adalah Musuh Abadi KAMMI.
3.Solusi Islam adalah Tawaran Perjuangan KAMMI.
4.Perbaikan adalah Tradisi Perjuangan KAMMI
5.Kepemimpinan Ummat adalah Strategi Perjuangan KAMMI.
6.Persaudaraan adalah Watak Muamalat KAMMI.
Idiologi ini kemudian bermakna seperangkat keyakinan yang akan
menjadi spirit aksi dilapangan. Idiologi ini merupakan satu nilai
penting dalam perjuangan KAMMI baik secara historis maupun
aksiologis yang kemudian memfalsafahi kemunculan dan pergerakan
KAMMI dalam menkonstruksi masyarakat madani.

KAMMI dalam realitasnya
Setelah menyelami sejarah singkat KAMMI, dari tinjauan historis yang
memantik kemunculannya, tinjauan etimologis dan filosis terhadap
eksistensi KAMMI, maupun nilai-nilai yang menjadi ruh pergerakan
maka saatnya melihat realitasnya hari ini.
Ketika menyorot awal pendirian KAMMI, yang kemudian muncul atas
keprihatinannya terhadap krisis nasional, yang kemudian muncul
karena penderitaan rakyat, maka tidak kalah bobroknya kondisi
nasional hari ini, tidak kalah menderitanya rakyat indonesia saat
ini. Ketika idiologi KAMMI adalah menjadi aksiologi dan spirit
perjuangan maka kemudian formulasi solusi ril menjadi satu hal
penting yang dinanti oleh umat. Apakah ketika KAMMI sudah berhasil
ketika itu kemudian hari hanya menjadi nostalgia, atau butuh
eskalasi dalam segala hal termasuk jati diri KAMMI.
Hari ini semoga kita tidak pretensif terhadap realitas eksternal
yang menjadi hadapan KAMMI sehingga cukup menjadi apologi dalam
menutup ambivalensi gerakannya. Hari ini fenomena yang terjadi
adalah kekerdilan pada generasi muslim dalam memandang realitas
dakwahnya sehingga terjadi gap dinamika antara subyek dan obyek
dakwah; bahwa dinamika sosial masyarakat yang begitu cepat tidak
diimbangi oleh dinamika organisasi. Sangat mungkin dinamika obyek
dakwah yang berjalan cepat bahkan berlari akan tidak mampu dikejar
oleh subyek dakwah. Disisi lain kadang organisasasi dakwah masih
berkutat pada permasalahan internal sehingga belum mampu menjadi
bagian dari solusi problematika ummat. KAMMI sebagai bagian dari
rantai perjuangan ummat harus merefleksikan diri untuk menemukan
akar permasalahannya dan menemukan kembali identitas gerakan seperti
dicita-citakan oleh para pendahulunya.
Eksistensi KAMMI sebagai gerakan yang memiliki kekuatan responsitas
politik yang kemudian telah memberikan satu kesan positif dihati
ummat, hari ini butuh direfleksikan lagi untuk mengukur relevansinya
terhadap realitas KAMMI saat ini. Kemudian dalam perenungan panjang
sepertinya akan temkan bahwa kita harus menggunakan teori rekayasa
sosial yang kemudian selalu ada dialegtika antara idealitas dan
realitas dan kemudian kita perlu melemparkan pernyataan yang
mempertanyakan relevansi KAMMI hari ini. Stresing idiologi apakah
menjadi sesuatu yang memiliki implikasi positif
terhadap “pengendapan” KAMMI hari ini.
Realitas ini apakah menjadi cukup untuk men-generalisir KAMMI se-
Indonesia, ataukah kemudian hanya lokalitas KAMMI Malang? Ini sebuah
pertanyaan reflektif yang harus dijawab secara individual dan
kolektif. Pergulatan hari ini membutuhkan energi yang cukup untuk
merampungkan segala pekerjaan rumah kita semua termasuk KAMMI
sebagai gerakan yang selalu tanggap terhadap realitas dakwahnya.
Ketika dulu ada elitisasi gerakan, maka hari ini kita memiliki apa?
Ketika mahasiswa berhasil melakukan eksekusi ditingkat kekuasaan
pada status quo maka hari ini sepertinya KAMMI butuh menambah daftar
karya yang bisa dipersembahkan lagi untuk Negara dan ummat ini
apalagi pada kondisi yang tidak kalah parahnya dengan kondisi sosial-
politik pada masa orde baru walaupun yang berbeda adalah system
pemerintahan dan pola kepemimpinan.
Awal berdirinya. KAMMI memilih mahasiswa sebagai segmentasi
dakwahnya karena mahasiswa dalam perspektifnya adalah gerakan moral
intelektual. Ketika mahasiswa dianggap sebagai segmen yang
berkepentingan dalam menyelesaikan problem horizontal dan tidak
boleh terjebak kedalam masalah yang ada, tetapi harus memposisikan
diri sebagai bagian dari solusi. Sangat ironis ketika itu menjadi
satu pijakan karena hari ini semua bergeser, semua butuh reposisi
karena tidak sesuai dengan harapan di awal. Sangat menggelitik bahwa
sejak awal-awal berdirinya KAMMI ternyata belum ada dihati ummat;
agak kasuistik mungkin karena beberapa waktu yang lalu masih ada
yang bertanya tentang letak sekretariat yang menjadi sentral
aktivitas. Terus kira-kira apa yang harus kita lakukan?
Atau mungkin kita cukup menghibur diri dengan statement bahwa KAMMI
sudah cukup sibuk dengan agenda-agenda elit yang bersentuhan
langsung mengkritik kebijakan pemerintah sehingga tidak cukup punya
waktu untuk menfasilitasi keresahan nurani kaum pinggiran dan rakyat
kecil yang minta belas kasih.
Nama KAMMI telah tertoreh dalam sejarah karena telah andil dalam
membuat cerita sejarah, pergolatan di zaman orde baru sudah cukup
menjadi nuansa heroisme dalam perjalanan KAMMI, reformasi telah
dirintis dan dikaryakan tinggal mempertanggung jawabkan pada langkah
rill yang mensejahterakan masa depan ummat ini. Dan pilihan ini
sudah di ambil maka harus dipertanggungjawabk an sampai pada tingkat
estafesitas kepemimpinan mendepan sehingga KAMMI tidak hanya berada
dipersimpangan jalan tetapi benar-benar merealisasikan visi
konstruksi masyarakat madani yang dicitakan.
Nilai historis pendirian KAMMI dan aspek-aspek yang mau
diperjuangkan tidak hanya kemudian berada diwilayah konsepsi dan
idealisme tetapi harus menjadi langkah strategis dan produktif,
sehingga mendepan tidak ada distorsi dan diskontinyuitas sejarah
KAMMI sebagai gerakan yang khas dan memberikan pencerahan nurani
umat dan menyadarkan obyek dakwah dengan segala aksi-aksinya.
Tetap Semangat..!! !

Referensi

Alatas, Alwi, dan Fefrida Desliyanti. 2001.Revolusi Jilbab, Kasus
Pelarangan Jilbab di SMA Negeri Se-jabotabek, 1982-1991.Al- Iltishom
Cahaya Umat. Jakarta Timur.

Aziz, Abdul. 1998. Islam Dan Negara Dalam Politik Orde Baru. Gema
Insani
Press.Jakarta.

Rahmat, Andi, dan Najib, M. 2001.Gerakan Perlawanan dari Masjid
Kampus.
Purimedia. Surakarta.

One thought on “KAMMI DIPERSIMPANGAN JALAN; ANTARA IDEALITA DAN REALITA1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s