Gedung Sebelah

Oleh Budiarto Shambazy
http://kompas. com/kompascetak/ read.php? cnt=.xml. 2008.04.12. 01010431& channel=2& mn=154&idx= 154

Tahun 1970-an Srimulat sesekali tampil di Taman Ria Remaja Jakarta.
Puas menyaksikan lawakan Johny Gudel, Gépéng, Tarzan, Asmuni, Basuki,
Paul, dan lain-lainnya.

Sebagai ungkapan terima kasih, ada penonton melemparkan uang puluhan
ribu ke panggung. Kadang ada nasi bungkus, rokok, kue, atau jajanan.

Namun, Srimulat tersaingi karena lawakan orang-orang �gedung sebelah�
lebih mengocok perut. Srimulat takkan mampu menciptakan singkatan
�D4�, yakni �datang, duduk, diam, dan duit�.

Lawak di gedung sebelah makin heboh jika Presiden Soeharto pidato
mengumumkan kenaikan gaji pegawai negeri. Suasana di gedung sebelah
riuh rendah karena tawa dan tepuk tangan mereka.

Esoknya harga sembako meroket. Dan, warga gedung sebelah D4 lagi.

Tak mungkin Srimulat menulis komedi tragis seperti itu. Sekali waktu
gedung sebelah berhari-hari sibuk membahas topik �sepak bola Pancasila�.

Pasalnya Ketua Umum PSSI Bardosono memaklumatkan Persija dan PSMS
�juara kembar� kompetisi perserikatan. Apa hubungan Pancasila dengan
juara kembar, lawakan Srimulat pasti enggak bisa nyandak.

Oh ya, sekelompok mahasiswa suatu malam September 1977 memaklumatkan
pembentukan �Dewan Perwakilan Rakyat Sementara� (DPRS) di halaman
gedung sebelah. Orang-orang gedung sebelah langsung naik pitam.

Mereka menuduh pembentukan DPRS �lelucon tak lucu�. Mereka minta
pemerintah mengusut lelucon itu, Pak Harto pun memerintahkan Kas
Kopkamtib Laksamana Sudomo menyetop lelucon itu.

Itu bukti gedung sebelah memonopoli bisnis lawak. Itu sebabnya
Srimulat menyerah dan makin jarang manggung di Taman Ria Remaja.

Gedung sebelah sesungguhnya tak aspiratif. Mereka anti terhadap upaya
�memasyarakatkan lawakan dan melawakkan masyarakat�.

Dan, lelucon di gedung sebelah kini makin canggih. Misalnya, bagaimana
gedung sebelah memanfaatkan three-in-one.

Mereka membuat lambang yang ditempelkan di nopol mobil untuk menerobos
three-in- one. Dan, jika perlu, lambang tersebut dipakai masuk ke
lajur busway.

Dulu belum ada handphone. Makanya enggak ada orang gedung sebelah yang
terjebak skandal video mesum.

Dulu belum ada KPK yang menangkap basah orang dari gedung sebelah.
Dan, dulu orang-orang gedung sebelah belum kenal �gratifikasi�.

Orang-orang gedung sebelah era Orde Baru belum keranjingan studi
banding ke luar negeri. Paling tidak ada dua jenis kelucuan studi
banding ini.

Pertama, studi berlangsung pada musim panas, saat parlemen di luar
negeri liburan. Kedua, studi dilakukan ke negara yang tak bisa
dibandingkan—ibarat membandingkan jeruk dengan apel.

Dan, dulu enggak ada pelawak sungguhan yang kerja di gedung sebelah.
Sekarang ada!

Salah satu tokoh Srimulat yang terkenal adalah drakula, yang
diperankan Paul. Drakula pengisap darah yang gentayangan sebelum
Matahari terbit.

Kata �politik� gabungan dua kata Latin: poli dan tics. Poli artinya
banyak, tics artinya serangga pengisap darah.

Jadi, politisi tak ubahnya drakula. Tak heran KPK suka operasi
malam-malam.

Di Inggris ada cerita sebuah bus rombongan politisi mendadak keluar
dari badan jalan dan menabrak pohon besar milik seorang petani tua.
Sang petani mengubur semua politisi yang tewas itu.

Esoknya polisi mengunjungi lokasi kecelakaan dan bertanya ke mana
politisi itu pergi? Si petani menjawab sudah menguburkan mereka.

�Mereka tewas semua?� polisi bertanya. Ya. Tetapi, sebagian mengaku
tidak mati. Anda tahu mereka suka bohong.

Di China lain lagi. Politisi suka umbar janji, bahkan saat kampanye
nekat bersumpah siap membangun jembatan untuk rakyat meskipun di
daerah pemilihannya tak ada sungai.

Kalau menurut Gépéng dari Srimulat, pulitik singkatan dari �ngumpul
itik itik�. Tak heran warga gedung sebelah kayak bebek senasib
sepenanggungan: bersuara, berenang, dan berbaris bersama.

Tetapi, coba Anda tabrak rombongan bebek yang menyeberangi jalan.
Mereka panik, bubar, dan kabur menyelamatkan diri masing-masing.

Meski sebal pada bebek yang suka menyeberang jalan sembarangan, saya
kasihan pada sebagian warga gedung sebelah yang serius bekerja.
Gara-gara setitik nila, rusaklah susu sebelanga.

Dan, kini lawak bukan monopoli orang-orang gedung sebelah saja.
Lelucon politisi dan pejabat membuat pelawak makin sepi penonton.

Contohnya penahanan Burhanuddin Abdullah. Ibarat lawak Srimulat, ia
bukan satu-satunya batur yang melayani kepentingan oknum-oknum gedung
sebelah.

Suap oleh Bank Indonesia untuk oknum-oknum di gedung sebelah
diputuskan bersama-sama. Oknum-oknum penerima suap di gedung sebelah
tak kunjung ditahan.

Jika meminjam logika ini, tak heran pejabat korupsi terus. Kalau
menyogok oknum di kelurahan untuk mengurus perpanjangan KTP, Anda yang
ditahan—si oknum bebas.

Saya tak setuju pernyataan Wapres Jusuf Kalla bahwa pejabat makin
takut korupsi. Pemberantasan korupsi masih pilih kasih dan tebang pilih.

Dan, maraknya penangkapan tak hanya mencerminkan keseriusan
pembasmiannya. Ia juga petunjuk kuat bahwa korupsi makin menggila.

Saran untuk Anda, perlakukanlah orang-orang gedung sebelah kayak
Srimulat. Sebagai rasa terima kasih lemparkanlah uang, rokok, nasi
bungkus, kue, dan jajanan ke halaman depan dan belakang gedung sebelah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s