Etika Libertarian Naif

Oleh Armada Riyanto
http://kompas. com/kompascetak/ read.php? cnt=.xml. 2008.04.12. 00571787& channel=2& mn=158&idx= 158

Kekacauan nilai etis dunia menyisakan absurditas dan kegalauan. Saat
ini sedang terjadi jurang rasionalitas nilai-nilai yang secara
mendalam mengancam keterpecahan tata hidup manusia.

Salah satu pemicu absurditas etis itu adalah apa yang disebut
gelombang etika libertarian. Dasar perspektif etika ini, manusia
adalah homo liber, manusia bebas. Kebebasan menjadi fondasi nilai.
Namun, pada saat yang sama kebebasan dimaknai sebagai ruang kosong
sehingga apa yang disebut baik atau buruk ada dalam ranah buram. Yang
penting, manusia bebas.

Nietzsche

Asal-usul libertarianisme sering diatribusikan pada filsafat
Nietzsche, filosof yang mendeklarasikan God is dead memberi inspirasi
sarkastis dunia etika. Nietzsche dipercaya telah menutup peradaban
rasionalitas, tetapi juga membuka lembaran etis baru yang �nihilistik�.

Nietzsche mengatakan, the corrosive effects (of the life of society)
would eventually destroy all moral, religious, and metaphysical
convictions and precipitate the greatest crisis in human history.
Nihilisme hadir akibat realitas koruptik, teroristik, dan kaotik di
masyarakat. Kehadirannya menghancurkan keyakinan moral, religius,
metafisik. Dan, akan menyembulkan krisis terbesar dalam peradaban manusia.

Bagi filosof Thomas Aquinas—pendahulunya—Tuhan bukan hanya Sang
Pencipta, tetapi juga Sang Kebenaran dan Kebaikan itu sendiri.
Artinya, Tuhan adalah dasar segala nilai hidup yang kita sebut �baik�,
�benar�. Ketika Tuhan �dibunuh� oleh Nietzsche, secara etis manusia
kehilangan fondasi kepastian nilai-nilai. Oleh para pengagum
Nietzsche, manusia tidak disebut �bingung� (karena telah kehilangan
kepastian nilai-nilai) , tetapi �bebas� (karena tidak lagi dikekang
aneka ketentuan Tuhan, hukum moral agama!).

Jalan pikiran ini memiliki imbas eksistensial bahwa manusia lalu
mencari sendiri nilai-nilai yang disebut �baik�, �benar�, �adil�.
Tidak ada rujukan (sebab fondasi rasionalitas, yaitu Tuhan, telah
mati). Pusat pencarian etis beralih dari �Tuhan� sebagai penentu nilai
kebaikan kepada �diri manusia� yang bergumul dengan pengalaman
keseharian yang penuh ketidakpastian. Gaya berpikir Nietzschean ini
mengalir kepada filsafat yang meletakkan manusia sebagai existenz,
yang berikutnya disebut filsafat eksistensialisme.

Sartre

Jean Paul Sartre, filosof Perancis, melanjutkan logika eksistensialis
dengan berkata, manusia adalah dia yang mengada untuk dirinya (l’être
pour soi). Artinya, manusia adalah makhluk berpikir, bertindak,
bekerja, bereksplorasi, dan mengambil risiko bagi dirinya. Gambaran
antropologis- metafisik Sartrean ini melukisan model being human dengan
�kebebasan absolut�. Namun, manusia bukannya disebut yang
�dianugerahi� kebebasan. Menurut Sartre, manusia menjadi makhluk yang
�terhukum� dalam kebebasannya.

Orang terhukum umumnya dikekang, dipenjara. Namun, dalam logika
Sartrean, karena manusia tidak bisa menceburkan hidupnya ke dalam
kondisi lain kecuali �kebebasannya�, ia lalu bagai orang terhukum.
Manusia harus mengelola hidupnya dalam kubangan kebebasannya.
Kebebasan adalah keniscayaannya. Ia terbentur-bentur dan jatuh dalam
pengalaman kebebasannya. Logika Sartre ini— jika ditarik ke wilayah
etis—wilayah pergumulan nilai-nilai kebaikan dan keburukan,
memproduksi gelombang perspektif baru yang disebut etika libertarian.

Kegilaan

Etika libertarian bukan ilusi. Perspektif libertarian memproduksi
�kegilaan� aneka imajinasi, keputusan, dan tindakan yang secara nyata
memorakporandakan tata nilai tradisional kehidupan bersama. Atas nama
libertas, manusia seolah ada dalam ruang kosong eksplorasi dengan
risiko apa saja, termasuk kemungkinan menghina atau menyakiti yang lain.

Dalam logika seorang libertarian, kebenaran dan kekeliruan tidak mudah
dibedakan. Bahkan, keburukan seakan diyakini tampil sebagai cetusan
kebaikan, lagi-lagi �atas nama kebebasan�. Tidak ada ruang kehidupan
sehari-hari, termasuk agama, yang tidak bisa dirambah.

Dengan logika semacam inilah, beberapa waktu lalu, dilansir film
vulgar dan sarkastis tentang Tuhan Yesus Kristus yang gay dan komik
seks dengan tokoh Bunda Maria. Kristianitas diinjak-injak. Pun kini
agama-agama mengalami deraan kegilaan yang sama dari para libertarian.

Kartunis Kurt Westergaart dan sineas Geert Wilders adalah sedikit
contoh manusia yang menjadi produk gelombang perspektif etika ini.
Ranah logika kebaikan dan keburukan dalam pikiran mereka benar-benar
absurd dan memicu kegalauan.

Mereka mendeklarasikan kebebasan berbicara, kebebasan berkreasi.
Namun, mereka tidak menghitung nurani manusia lain. Ketika kemodernan
dimaknai jargon kebebasan absolut, kehidupan bersama rentan
manipulasi. Absolutisme adalah diktatorisme. Produk kreativitas yang
menyinggung cita rasa nurani seharusnya dipandang jelas-jelas tidak
fair, karena itu perlu menuai sanksi hukuman.

Naif

Etika libertarian memiliki konsekuensi etis yang amat naif.
Kenaifannya terletak pada konsep banalitas kebebasan. Kebebasan
dimaknai sebagai sebuah �pesta pora� yang di dalamnya manusia seakan
dapat menikmati apa saja seenaknya. Konsep kebebasan yang selfish ini
menuai kepuasan semu individual, tetapi menjarah rasa hormat komuniter.

Di lain pihak, �kebebasan absolut� para ekstremis yang mengeksekusi
Theo van Gogh dan melakukan kekerasan apa saja seperti mengancam hidup
Ayaan Hirsi Ali dan banyak lagi juga menghancurkan kapasitas
komunikatif rasionalitas manusia, kendati itu dilakukan dengan
motivasi membela kebenaran suci.

Tanpa disadari, pelan-pelan kita terjebak dalam kubangan
keterpecahbelahan. Manusia telanjur memuja eforia kebebasan. Namun,
eforia itu justru menjadi lahan subur munculnya ekstremisme (juga
terorisme). Inilah bumerang libertarian. Manusia seakan de facto tidak
mampu lagi berdialog dan mengomunikasikan kapasitas rasional dan
nurani satu sama lain.

Sungguh memprihatinkan. Peradaban kebersamaan dan solidaritas hidup
manusia yang indah dan memesona terancam tinggal dongeng. Dalam
keseharian, manusia terang-terangan dan sembunyi-sembunyi telah dan
sedang saling mengancam. It’s painful to be true. Semoga tidak demikian.

Armada Riyanto Dosen Filsafat, Ketua STFT Widya Sasana, Malang

One thought on “Etika Libertarian Naif

  1. Ping-balik: KRITIK ATAS HUKUM YANG REPRESIF DAN BIAS GENDER (Berdasarkan kasus hukuman terhadap Lubna Ahmed al-Hussein karena mengenakan celana panjang di Sudan) | nucalale

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s