Cerpen Celana Dalam

CELANA DALAM

Cerita Mariana Amiruddin

Manusia yang kulihat dari sudut kota ini seperti remah-remah yang ingin kukunyah. Mata mereka aneh. Memelototi aku terus menerus. Kuludahi mata mereka satu persatu. Aku mengerang. Mata-mata itu semakin melotot padaku. Aku meludah lagi. Kali ini ke tanah.
Begitulah setiap hari. Kerjaku meludahi orang-orang melotot. Aku memang tidak suka mata melotot. Kenapa memangnya? Kenapa memangnya kalau aku begini? Lalu aku melempar celana dalamku ke wajah mereka. Celana dalam terbuat dari besi berikut gemboknya. Aku lemparkan ke mereka, juga beha-beha ukuran kecil dan besar yang kupakai berlapis, berkawat-kawat untuk menopang daging. Seperti melempar jala-jala yang menjaring ikan besar. “Ambillah! Buatlah monumen celana dalam tolol itu di tengah kota!” Aku pergi meninggalkan mereka dengan tubuh menggigil. Aku telanjang.
***
Aku melangkah hati-hati. Jari-jari kakiku mulai koyak. Kulit di punggungku terkelupas dan ditumbuhi jamur-jamur mini, seperti pulau-pulau yang dihidupi hutan-hutan kelam. Gatal. Itulah hal terunik di tubuhku, juga payudaraku. Payudaraku rata. Lalu orang-orang membenci payudaraku. Aneh. Setiap hal yang aku suka, mereka malah membencinya. Padahal waktu kecil aku senang menekannya dengan bantal. Kupikir biar tidak tumbuh terus. Tapi ternyata tetap tumbuh, sakit pula ketika putingnya membesar. Apa enaknya. Lalu aku takut bila tumbuh terus, takut akan pecah terburai. Tapi ternyata tidak. Ia tumbuh segitu saja, kecil. Syukurlah. Aku bisa berlari cepat, tak ada daging bergelantungan di dadaku.
Tapi akhir-akhir ini aku putus asa, hidup dengan orang-orang itu. Mereka seperti remah-remah yang ingin kukunyah. Lalu aku memilih untuk pergi. Tak hanya meninggalkan mereka, tetapi juga pamanku yang sudah mati. Bahkan sebelum kutinggalkan, orang-orang itu membuat larangan-larangan aneh. Aku bahkan tak boleh punya bisul di pantatku. Entah bisulnya atau pantatnya yang mereka benci. Juga tak boleh berjalan maju-mundur. Entah gerakannya atau maju-mundurnya yang mereka benci. Jalanku memang begitu, memajukan dan memundurkan pantat supaya tidak sakit. Habis bagaimana, bisulku terus membesar. Sudah lama pantatku terbebas dari celana dalam besi itu. Ternyata memang bisul-bisul besar sudah lama tumbuh di sana, juga jamur-jamur berwarna kuning.
Pernah suatu hari aku biarkan bisul dipantatku terlihat semua orang. Kulubangi celanaku hingga hampir separuh pantatku kelihatan. Lega rasanya, karena tidak tergesek bahan pakaian. Kalau tidak begitu sakitnya luar biasa. Habis bagaimana, aku harus belanja kebutuhan makan dalam keadaan begitu. Tapi orang-orang meludahiku. Mereka bilang itu pelanggaran. Tapi bagaimana, aku suka begitu karena sakitnya hilang. Aku kesal karena mereka tidak pernah mau mengerti. Aku biarkan bisul besarku memandangi mereka satu persatu. Mereka tampak semakin marah.
Begitulah selama seminggu ternyata bisul di pantatku tak juga sembuh, dan di hari-hari itu pula orang-orang melemparku dengan bebatuan dan tanah. “Perempuan binal! Perempuan binal!” teriak mereka.
Aku sudah biasa mendengar teriakan itu. Untung saja batu-batu itu tidak mengenai aku. Aku memang pelari cepat. Selain payudaraku rata, aku bisa berlari cepat karena sejak kecil sering diusir orang. Banyak hal yang aku langgar, biasanya hal-hal yang aku inginkan tetapi tak mereka inginkan.
Pernah aku memukuli lelaki dewasa yang memaksa memasukkan kelaminnya ke kelaminku. Lalu aku cerita ke paman apa adanya. Pamanku marah besar. Begitupula orang-orang banyak memarahi aku. Sejak itu aku tidak boleh keluar rumah, tak boleh pula bermain di halaman. Tapi aku tidak mau, aku tetap ingin bermain di luar, dan lagi-lagi lelaki dewasa yang tak kukenal coba-coba memainkan kelaminku ketika aku sedang bermain tanah basah di seberang jalan. Aku menangis keras dan berlarian pulang ke rumah, mengadu pada paman. Pamanku malah bertambah marah, dan segera membuatkanku celana dalam terbuat dari besi berikut gemboknya, “Biar kamu tidak binal!” katanya.
Pamanku seorang pandai besi setelah sebelumnya ia bertani dan membajak tanah dengan kudanya di pekarangan belakang yang luas. Kini ia membuatkanku celana dalam besi supaya aku tidak binal dan supaya aku tidak meninggalkan cap merah dimana-mana. Paman bilang itu namanya menstruasi. Dan menstruasi adalah hal yang paling menjijikan baginya. Aku disuruh menghentikannya. Tetapi darah terus mengucur dari kelaminku sedikit demi sedikit selama tujuh hari. Aku bingung melihatnya. Aku takut paman marah, apalagi bila darah itu membekas di sofa dan kursi-kursi paman, juga kain dipan tempat alas tidurku. Aku tak punya orang dekat yang mengenalkan proses kerja tubuhku. Aku pun tidak pernah merasakan sekolah dan jarang bermain dengan teman-teman sebaya. Paman, tempatku menyandarkan hidup selalu sibuk dengan pekerjaannya. Dan bermain kartu serta minum-minuman keras setiap malam bersama teman-temannya. Aku sering mengintip mereka dari balik dinding kamar.
Tapi tulang pinggulku sakit rasanya karena harus menopang celana besi itu. Aku takut. Aku meringis kesakitan dan tawa paman keras sekali bila memenangkan permainan. Giginya tampak kuning dan besar-besar. Aku merasakan bau mulutnya yang busuk. Aku takut melihatnya. Dan aku tak berani mengadu kalau aku sakit. Aku takut paman akan membuatkan celana dalam yang lebih menyiksa lagi.
Sejak itu aku merasa ada yang salah dengan tubuhku. Terutama kelaminku. Terutama pahaku. Juga lenganku. Punggungku, ketiakku, betisku, pantatku, paudaraku. Banyak sekali orang yang tidak suka tubuhku. Mereka membalut semua tubuhnya dengan kain. Seperti mayat yang akan dikubur. Dan wanita-wanitanya berjalan lambat. Konon mereka dibuatkan pakaian besi di dalamnya. Untuk melindungi tubuh-tubuh mereka. Supaya tidak tampak. Dan kain-kain lebar yang menyelubunginya. Supaya tak teraih. Dan para lelaki yang seringkali melotot bila anak-anak perempuan bermain-main mengibaskan kainnya. Tampak betis-betis mereka berlari-lari kecil. Dan setelah itu para orangtua membuatkan mereka pakaian besi.
Menjadi anak perempuan di sini memang selalu resah. Mereka yang keluar malam sering tak ada yang kembali ke rumah. Mereka hilang begitu saja, aku mengatakan malam telah menelannya. Padahal aku menyukai malam dan ingin sekali aku menyatu dalam kegelapannya.
Namun aku langsung berhenti menyalahkan malam. Ternyata orang-oranglah yang memusuhi malam. Dan membenci tubuh-tubuh perempuan. Pada akhirnya sering aku disekap karena ketahuan jalan-jalan sendirian di malam hari. “Dasar binal!” teriak mereka bergegas menghampiri sambil menjambak rambutku. Mereka menarik-narik lenganku dan menggiringku seperti kerbau. “Aku bukan kerbau!” kataku gusar. “Kamu memang bukan kerbau! Kau perempuan binal!” Aku merintih dan hatiku penuh dengan risau. Apa yang salah denganku. Apa yang salah dengan malam. Berulang-ulang kejadian itu berlangsung. Aku tak pernah jera. Aku ingin tahu apa yang terjadi di kepala mereka. Namun pada akhirnya aku diam. Sering hanya menatap pagi dibalik jeruji. Sejak itu pagi menjadi hari yang menjemukan. Dan malam yang menyimpan luka. Dan tubuh yang hangus. Lalu bertanya pada Tuhan, “Lantas mengapa Kau ciptakan ini semua?”
Hari demi hari aku semakin dewasa dan ternyata sudah lama aku menimbun luka. Luka yang kemudian tumbuh dendam. Aku dendam pada mereka yang tak pernah bisa memakai otaknya. Aku tahu apa itu otak manusia. Bahwa aku mengenal hidup yang tak hanya berlangsung dengan tubuh, tetapi juga pikiran. Mataku menyorot nyala setiap kali melihat mereka. Lalu mereka bilang aku gila.
***
Sehari saja aku lalu dibebaskan dari bui. Meninggalkan jeruji-jeruji tempatku menatap pagi. Paman tak menjemputku bahkan menengokku sebentar seperti biasanya. Ia seperti membiarkan aku merasakan akibatnya. Aku pulang dengan tubuh lelah dan wajah limbung. Tetapi aku tak menemukan paman di sana. Aku melihat rumahnya berantakan. “Paman!” teriakku dan menemukan ia terbujur kaku di atas sofanya. Aku menangis.

***
Satu jam aku menangis di atas tubuh paman. Lalu kubiarkan paman di situ. Aku bangkit dan melewati cerminnya. Kulihat wajahku disana. Dan tubuhku. Aku tak mengerti, bahwa tubuhku semakin melekuk. Sejak darah-darah itu keluar dari kelaminku dan semua orang membenci malam, tubuhku melekuk seperti dahan pohon yang menari. Lekukan-lekukan ini yang menurut mereka tidak boleh terjadi. Atau tidak boleh tampak. Mereka akan menyebutnya binal. Dan aku tidak tahu apa itu binal. Bagiku kata itu hanya untuk binatang yang kusayangi waktu ku kecil dulu. Kuda paman yang sering kutungganggi. Paman dulu membiarkan aku menemani kudanya berhari-hari. Aku menyukai kuda karena larinya, dan tubuh liat berlekuknya, gagah sekali. Tak sedikitpun aku membenci binatang itu. Binatang binal yang kemudian mati. Aku sangat kehilangan. Paman telah menembaknya. “Kuda pincang. Tak ada gunanya lagi,” katanya.
***
Kedewasaan menjadi sesuatu yang mengerikan bagiku. Paman mati. Orang-orang bilang ia mengalami serangan jantung atau dibunuh temannya. Aku melihat darah kental mengering di keningnya dan busa mengalir dari mulutnya. Aku sudah lupa apa yang telah terjadi padanya. Sejak itu aku punya kebiasaan baru. Berulang-ulang kupandangi tubuhku di cermin. Aku telanjang. Tampaklah celana dalam besi itu. Sisi-sisinya berkarat. Aku jadi ingat dulu paman mengingatkanku untuk tidak sekali-kali membukanya. Ada lubang sedikit untuk saluran kencing di bawahnya. Dan saluran tahi di belakangnya. “Jangan sekali-kali kau buka!” katanya bernada mengancam. “Kamu akan tahu akibatnya! Akibat yang menjijikan seumur hidupmu.” Tapi apa? Mengapa hanya aku? Pamanku tak perlu besi-besi di tubuhnya. Aku sering melihat paman telanjang kalau sedang memukuli bara-bara besi di bengkelnya. Kadang aku kagum dengan tubuh paman yang kokoh. Tampak garis tengah dadanya berlekuk. Tempat bulir-bulir keringat mengalir dan jatuh di perutnya yang petak-petak. Ia sering menyekanya dengan baju yang menggantung di pundaknya.
Tapi sebenarnya aku juga membenci paman, sama dengan membenci orang-orang itu. Tapi tak ada orang lain selain paman. Bagiku paman sama seperti orang-orang lainnya. Membenci tubuhku. Apalagi ketika aku dewasa. Suatu hari ia memaksa membuka gembok celana dalamku. Aku malu. Aku merasa hina. Aku melawan dan meludahi matanya berkali-kali. Wajahnya meringis, dan matanya mengerjap, tampak air matanya beruraian. Ludahku memang pedas, karena sering mengunyah cabai dan bawang karena tak ada makanan lain yang dapat kukunyah.
Dengan sepenuh tenaga kulepaskan sendiri celana besi itu, yang sebagian melekat di kulit kelaminku. Aku merasakan gatal luar biasa tetapi situasi membuatku ingin membenturkan celana besi itu ke kepala pamanku. Tampaklah darah mengucur. Waktu itu malam hari, dan aku berlarian ke jalan dengan setengah telanjang. Lariku tak secepat waktu kecil dulu, aku tertatih-tatih menahan sakit tulang pinggulku yang terasa lebam. Dan jemari kaki yang koyak. Aku tak kuasa menahan sakit, dan datanglah kerumunan lelaki yang memelototi aku, sebagian lagi berdatangan menatap sinis padaku. Itulah malam terakhirku meninggalkan paman dan untuk kesekian kalinya aku digiring orang-orang keparat itu karena ketahuan di tempat umum di malam hari.
***
Dan aku pergi. Dengan membawa lelah aku berjalan berkilo-kilo meter mencapai satu kota ke kota lainnya. Dengan perut lapar aku bergumam, semua kota ternyata sama: memelototi aku. Aku muntah. Muntahannya kulemparkan pula pada mereka. Muak rasanya.
Sampai pada sebuah tempat lapang. Jauh menuju pantai. Seperti di ujung sebuah pulau. Aku tak melihat orang di sana. Aku melihat rimbunan pohon dari jauh. Aku melanjutkan langkah, masuk rimbunan itu. Ternyata hutan. Dan hanya hewan-hewan. Ada yang menghampiri, ada yang berlari. Dan sinar matahari yang meredup, tak bisa menembus ke tanah. Tanah yang lembab dan serangga berbagai bentuk. Kera-kera bergelantungan memanggilku. Aku merasakan sejuk. Aku menghirup segar. Aku tak mendengar kata benci. Burung berwarna-warni bertengger di pundakku. Di bawah rindang, tampak tumpukan dedaun yang empuk dan serabut akar diseklilingnya. Aku berbaring. Menatap langit yang sembunyi di balik dedaunan tinggi. Seekor kucing hutan menghampiri, menjilat keningku lembut sekali. Lalu tupai-tupai sibuk menyelemuti tubuh telanjangku dengan daun-daun kering. Aku tertidur.

Percetakan Negara, 5 Maret 2006

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s