Bui Tanpa Jeruji Besi

Oleh Bonnie Triyana

Mereka berangkat membawa tugas dari bangsa. Terhalang pulang karena pergolakan
politik 1965. Banyak di antara mereka yang bergelar doktor.

Selama bertahun-tahun, peristiwa 1965 atau G.30.S hanya diketahui oleh
masyarakat Indonesia sebagai peristiwa penculikan dan pembunuhan enam jenderal
dan satu perwira pertama Angkatan Darat. Sementara itu peristiwa yang terjadi
sesudahnya, yakni pembantaian massal dan penangkapan besar-besaran anggota dan
simpatisan PKI sama sekali tak pernah mencuat ke ranah publik. Orde Baru menulis
sejarah secara parsial: hanya menulis apa yang berkaitan langsung dengan
kepentingan Soeharto sebagai penguasa: legitimasi kekuasaan.

Pada masa Orde Baru, sejarah yang disampaikan kepada masyarakat ternyata bukan
sejarah yang sepenuhnya mencerminkan kebenaran. Kebenaran dalam sejarah
pergolakan politik 1965-1969 banyak terpendam di dalam memori korban, pada
relung-relung ingatan mereka yang ditindas selama Soeharto berkuasa. Cerita itu
beredar dari mulut ke mulut, di kalangan korban dan sanak familinya, tanpa
pernah dituangkan ke dalam sebuah buku sejarah yang kemudian diajarkan kepada
generasi muda: bahwa suatu ketika, di Indonesia, pernah terjadi pertumpahan
darah yang rekornya bisa menyamai Holocaust oleh NAZI di Jerman.

Kejatuhan Soeharto pada 21 Mei 1998 menjadi pertanda baik bagi penulisan sejarah
tragedi kemanusiaan 1965-1969. Mereka yang semula terpasung dan dibungkam satu
per satu angkat bicara tentang perlakuan apa saja yang Orde Baru lakukan pada
mereka. Pada saat itu pula semua orang tahu tentang apa yang Orde Baru lakukan
di awal kekuasaan mereka. Tentu saja tak semua orang menerima pengakuan itu dan
bahkan ada banyak pihak tampaknya antipati terhadap usaha untuk menulis sejarah
kelam rezim Orde Baru.

Dari sekian peristiwa kemanusiaan yang terjadi sepanjang tahun 1965-1969, mulai
dari pembunuhan massal sampai dengan penangkapan paksa, persoalan eksil masih
belum diketahui secara luas oleh masyarakat. Benar beberapa tahun belakangan
terbit beberapa buku yang menuliskan kehidupan eksil di Eropa, seperti yang
ditulis oleh Imam Soedjono dalam Yang Berlawan, biografi Ibrahim Isa, Umar Said,
JJ Kusni, Sobron Aidit dan menyusul akan terbit biografi Mawie Ananta Jonie, eks
mahid-cum-penyair yang kini menetap di negeri Belanda. Namun demikian, kendati
banyak buku mengenai eksil diterbitkan, persoalan ini belum lagi menjadi
pengetahuan masyarakat luas.

Kaum eksil (exile) adalah mereka yang terhalang pulang akibat peristiwa Gestok
1965. Mereka terdiri dari para mahasiswa ikatan dinas (Mahid), diplomat dan
wartawan yang sedang ditugaskan mewakili bangsa dan negara di luar negeri.
Paspor mereka dicabut karena dituduh terlibat dalam peristiwa G.30.S 1965 atau
terkait dengan organisasi yang dilarang Orde Baru, PKI.

Sebagian besar eksil terdiri dari Mahid. Sekira akhir 1950-an sampai dengan 1965
ada banyak pemuda Indonesia yang dikirim ke luar negeri untuk tugas belajar.
Mereka menimba ilmu di berbagai perguruan tinggi terkenal di beberapa negara
Eropa, barat maupun timur.

Tak pernah diketahui secara pasti apakah Bung Karno sedang meniru Restorasi
Meiji atau tidak. Yang pasti pasti, pada periode itu pemerintah Indonesia memang
banyak mengirimkan pemudanya untuk belajar ke luar negeri. Restorasi Meiji
adalah awal dari perubahan struktur sosial dan politik Jepang. Restorasi Meiji
yang dalam bahasa Jepang dikenal sebagai Meiji Ishin itu berlangsung pada 1866
sampai dengan 1869 yang mencakup pada akhir era Edo dan permulaan era Meiji.
Restorasi atas inisiatif Kaisar Meiji (1868-1912) ini adalah dampak langsung
dari dibukanya Jepang terhadap kedatangan kapal Amerika yang dipimpin oleh
Kapten Matthew Perry. Sejak saat itulah Jepang membuka diri dan berinteraksi
dengan dunia luar.

Restorasi Meiji menjadi tonggak awal kebangkitan Jepang sebagai bangsa yang
maju. Salah satu program terpenting dalam Restorasi Meiji adalah pengubahan
sistem pendidikan Jepang dari sistem tradisional menjadi modern. Program wajib
belajar digalakan kepada seluruh pemuda Jepang, bahkan banyak di antara mereka
yang dikirim ke luar negeri untuk menimba ilmu untuk kemudian dibawa pulang ke
Jepang. Transfer ilmu dan teknologi dari barat dilakukan demi membangun Jepang.

Sebagai presiden pertama Indonesia, Bung Karno memang ingin agar dibangun oleh
pemuda-pemuda terampil yang telah berhasil menggondol ilmu dan keterampilan dari
luar negeri. Paling tidak keinginan itu tercermin dari perbincangannya dengan
putri pertamanya, Megawati, menanggapi begitu banyak pertanyaan kepadanya soal
kenapa ia tak segera mengelola sumber daya alam Indonesia. “Dis, tunggu sampai
kita punya insinyur-insinyur sendiri,” kata Bung Karno dalam pidatonya.

Ia sadar sedari awal bahwa untuk menjadikan Indonesia yang mandiri, bebas dari
cengkeraman neo kolonialisme dibutuhkan lebih dari keberanian, tapi juga
pengorbanan. Bung Karno mahfum benar kalau keadaan ekonomi Indonesia di tahun
1960-an terseok-seok. Semua itu bukan berarti harus membuatnya berkata, “come in
America” malah sebaliknya dia berkata “go to hell with your aid”. Menderita
adalah memperkuat diri, demikian Bung Karno dalam otobiografinya.

Sejak awal pula ia sudah tahu bahwa Indonesia adalah negeri yang kaya, namun ia
tak mau bermurah hati menggadaikan semua kekayaan alam Indonesia pada pihak
asing, terlebih yang berkaitan langsung pada hajat hidup orang banyak. Bung
Karno bercita-cita ingin membawa Indonesia kepada sosialisme: agar keadilan
sosial-ekonomi tercipta bagi seluruh rakyat Indonesia. Mimpi itu memang sudah ia
kemukakan pada saat aktif sebagai tokoh pergerakan di tahun 1930-an.

Tujuan mulia, butuh kerja keras. Indonesia perlu manusia-manusia tangguh dan
cerdas. Oleh karena itu mengirimkan pemuda-pemudi terbaiknya untuk belajar di
luar negeri adalah jalan terbaik menuju Indonesia mandiri. Kerjasama dengan
beberapa negara pun dijalin erat. Pemerintah Soekarno yang agak condong ke blok
timur menghasilkan kesepahaman di antara beberapa negara blok timur untuk
menjalin kerjasama dalam program pendidikan.

Peristiwa Gestok 1965 mengubah segalanya. Soeharto secara perlahan namun pasti
menggeser posisi Soekarno sebagai presiden. Sejak 1 Oktober 1965 secara de facto
Soeharto memegang kendali negara. Kampanye besar-besaran dilancarkan untuk
menumpas PKI dan semua orang yang dianggap sebagai pendukung Soekarno. Bahkan di
Purwodadi, Jawa Tengah, anggota PNI pun tak luput dari penangkapan dan
pembunuhan massal. Militer di sana menyebut mereka sebagai Soekarno-Sentris atau
SS.

Tentu saja situasi pascaperistiwa Gestok 1965 itu menimbulkan kebingungan bagi
mereka yang berada di luar negeri. Serentetan pertanyaan pun muncul: ada apa
dengan Soekarno? Apakah ini sebuah kudeta gagal? Apakah Soekarno masih memimpin
Indonesia? Siapa gerangan seorang jenderal yang bernama Soeharto itu? Ada
apa…? Bagaimana…?? dan seterusnya.

Setelah terbitnya Surat Perintah 11 maret 1966, beberapa Kedutaan Besar Republik
Indonesia di masing-masing negara memanggil semua warga Indonesia seraya
menyodorkan surat dukungan kepada pemerintah Soeharto sebagai penguasa baru di
Indonesia. Tentu saja bagi mereka yang menggangap Soekarno masih presiden yang
sah memimpin bangsa Indonesia enggan untuk menandatangani surat itu. Belakangan,
banyak juga kalangan warga eksil yang sudah mengendus gelagat buruk dari rezim
Soeharto.

Pilihan untuk tetap bersetia kepada pemerintahan Soekarno yang sah ternyata
membawa konsekuensi yang cukup berat. Sebagian besar eksil dibiarkan
terkatung-katung tanpa kewarganegaraan. Paspor mereka dicabut, seperti yang
dialami oleh AM Hanafi, Duta Besar Republik Indonesia di Kuba atau S Tahsin
Sandjadirdja, Duta Besar Republik Indonesia untuk Mali.

Dalam sebuah pertemuan Gus Dur pernah memberi “titel” kepada eksil sebagai
orang-orang yang klayaban. Hidup di luar negeri, terlebih di Eropa, betapa pun
dipenuhi fasilitas selayaknya negara maju, tentulah tetap sebagai penderitaan
kalau harus berpisah dengan sanak famili tanpa ada kesempatan untuk pulang.
Keadaan seperti itu tiada beda dengan berada di sebuah bui namun tanpa jeruji
besi.

Di antara begitu banyak warga eksil, tak jarang di antara mereka ada yang
mengantongi gelar doktor, seperti Achmad Supardi, PhD dari Universitas Moskwa
atau Sujak yang mengantongi gelar insinyur pertambangan. Karena terhalang pulang
Sujak malah bekerja membangun tambang minyak di Aljazair dan kini menikmati masa
pensiunnya di Amsterdam, Belanda.

Kendati sudah tinggal puluhan tahun di luar negeri, mereka masih ingat pesan
dari Bung Karno sebelum mereka berangkat, “bawalah badanmu keliling dunia,
tetapi tunjukanlah jiwamu tetap kepada Tuhan dan Indonesia.” Demikian ujar Mawie
Ananta Jonie di dalam otobiografinya.

Di antara begitu banyak warga eksil, ada beberapa sastrawan terkenal seperti
Agam Wispi (Belanda) dan Utuy Tatang Sontani (Rusia), keduanya sudah meninggal
dunia. Karya-karya mereka dikenal sebagai karya sastra eksil.

Warga eksil Indonesia bisa pulang ke Indonesia ketika sudah mengantongi paspor
sebagai warga negara asing. Tapi pulang di sini bukan berarti back for good,
bukan untuk selamanya, melainkan hanya sekadar berkunjung, seperti halnya
wisatawan mancanegara. “Kalau dengan paspor Belanda setidaknya kami bisa pulang.
Bagaimana pun kami tetap orang Indonesia,” kata Sarmadji, eksil Indonesia yang
kini mengelola Perhimpunan Dokumentasi Indonesia di Negeri Belanda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s