Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya

Biasanya mata kita sulit terpejam meski selimut sudah membalut seluruh badan
usai merayakan pesta kemenangan, melewati liburan panjang yang mengasyikkan.
Orang-orang yang dijumpai saat pesta seperti masih lalu lalang di depan
mata. Kenangan kekraban dan kehangatan bersama orang-orang dekat & yang
paling dicintai seperti tak rela membiarkan kita langsung terlelap.
Dan setelah semuanya itu, besok pagi kita kembali pada yang rutin, yang
sudah terjadwal rapi di meja kantor kita. Kita kembali menghadapi atasan
yang menyebalkan, rekan yang judes pedes; kembali bergulat dengan
angka-angka jutaan supaya tidak tekor dan dituduh mark up. Juga duduk lagi
memelototi komputer dan tumpukan buku untuk menyelesaikan paper atau
skripsi..

Kembali ke pada yang biasa seringkali tidak diharapkan. Sambil kerja, mata
selalu tidak tenang memperhatikan jam di tangan, pingin supaya cepat
pulang…yang biasa terasa lebih sebagai beban ketimbang kesempatan. Yang
biasa jauh lebih menakutkan ketimbang yang luar biasa…Misalnya setiap Senin
kebanyakan kita tetap merindukan di- hallo/ Rasanya belum fokus pada
pekerjaan jika belum di-sms atau disapa selamat pagi oleh atasan; serasa
‘neraka’ ketika sadar ternyata masih banyak yang harus dikerjakan. Yang
biasa akhirnya jauh lebih menakutkan daripada yang luarbiasa, yang penuh
semarak dan pesta pada minggu dan tanggal-tanggal merah. Sebab di situ kita
acapkali bertemu dengan kesepian. Lebih sepi lagi, ketika dalam rutinitas
itu kita mendapati diri sebagai orang yang paling gagal. Pujian yang
dinanti-nanti tidak kunjung datang dan cinta seperti tidak pernah berbalas.
Dan hidup kita seperti kota mati…Meninggalkan kantor sebelum jam istirahat
bisa saja sering kita lakukan justru ketika kita benar-benar mengalami
kebosanan. Kita merasa seperti terdampar di sebuah tempat yang tidak pernah
kita inginkan…Maka kita, dengan sering membolos misalnya, mau menjadikan
Senen atau Rabu sebagai akhir pekan. Kita tidak tahan sepi dan menolak
sendiri…

Hijau adalah warna khas untuk liturgi hari biasa. Warna ini sepertinya tidak
menarik. Akan tetapi, hijau, bagi saya pribadi mengingatkan kita akan masa
kesuburan; ketika daun dan tanaman tumbuh menghijau. Di hari biasa yang
mungkin akan bisa membosankan, marilah kita terus tumbuh subur, terus
mencintai dan memberi. Maka yang biasa bukanlah barang biasa, tetapi luar
biasa biasa.

Kita mesti yakin pada kebenaran bahwa kita dijamin dan dicintai tanpa syarat
oleh Tuhan. Karena alasan itulah dalam pekerjaan yang bisa selalu akan
membosankan, kita dipanggil untuk terus mencipta, terus mencinta. Hidup kita
sama sekali tidak pernah bergantung pada belasan SMS yang memastikan bahwa
pacar kita tidak meninggalkan kita atau dering telefon teman bahwa akhir
pekan mendatang akan ada pesta yang tak kalah hebatnya dengan minggu
kemaren. Dalam masa biasa, kita pantas bersyukur atas panggilan Tuhan untuk
mengubah dunia sekeliling kita dengan tetap bersemangat, penuh hasrat dan
cinta menekuni pekerjaan kita. Sebab Tuhan membuat segala sesuatu indah pada
waktunya. Masa biasa adalah masa indah jika dihayati seperti apa adanya.


Best Regard
Erwin Arianto,SE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s