Test Potensi “Bakat Bawaan”

Setiap ciptaan mempunyai talenta alami yang unik di dalam dirinya. Talenta bawaan itu akan menjadi sempurna secara alami. Artinya, bila seseorang menyadari bahwa kekuatan bawaannya yang dimilikinya misalkan talenta seorang orator (communicator) maka dengan berlatih guna memperoleh skill dan mempelajari teknik-teknik berkomunikasi dan berbicara (knowledge) maka dia akan mampu mencapai penampilan puncak yang sempurna (best performance)nya sebagai orator. Maka sebenarnya dalam pemilihan jurusan bagi anak-anak kita, sebaiknya disesuaikan dengan bakat bawaan (talenta innate) yang mereka miliki. Saat ini test potensi bawaan ini seperti Strengths Finder,  MBTI dan DISC Profile telah dapat digunakan untuk memahami potensi bawaan seseorang.

Biasanya siswa yang memilih jurusan sesuai dengan potensi bawaannya, seolah telah mempersiapkan karir yang nanti akan memberinya kepuasan dan kebahagiaan. Sebaliknya mereka yang dipaksa mengikuti jurusan yang sebenarnya tidak seusai dengan potensi bawaannya, sering mengalami kesulitan dalam meniti karir, bahkan stress dalam menjalani jurusan tersebut. Simaklah cerita sekolah kompetensi berikut ini:

Sekolah Mengembangkan Kompetensi
Suatu ketika, para binatang memutuskan untuk melakukan sesuatu yang berarti guna mengantisipasi masalah-masalah dalam dunia yang baru. Karena itu mereka menyelenggarakan sekolah. Mereka mengadopsi kurikulum kegiatan yang terdiri dari “lari”, “memanjat”, “berenang” dan “terbang.”

Supaya lebih mudah mengaturnya, semua binatang harus melakukan semua kegiatan tersebut. Bebek sangat pintar berenang, bahkan lebih baik dari instrukturnya. Namun, ia hanya pas-pasan dalam aktivitas terbang dan sangat jelek dalam aktivitas lari. Karena larinya sangat jelek, maka bebek harus berhenti berenang dan tetap tinggal di sekolah untuk berlatih lari. Akibatnya, selaput kaki sang bebek luka parah, sehingga berenangnya tidak begitu bagus lagi. Namun bebek mendapat nilai rata-rata, sehingga tak ada lagi yang merasa khawatir, kecuali si bebek sendiri.

Kelinci mula-mula merasa di puncak prestasi dalam latihan lari, tapi otot kakinya menjadi kram karena harus menaikkan nilai renangnya.

Tupai ahli memanjat, tapi ia frustrasi dalam kelas terbang karena sang guru menyuruhnya melayang dari tanah ke atas, bukan dari atas pohon ke bawah seperti yang terampil dilakukannya. Ia mengalami kejang kaki karena latihan yang terlalu keras. Karena itu tupai hanya mendapat nilai C dalam memanjat dan D dalam lari.

Burung rajawali adalah anak yang bermasalah dan harus didisiplinkan keras karena kebanyakan tidak mau mengikuti aturan. Dalam kelas memanjat, ia memang mengalahkan semua binatang untuk mencapai puncak pohon, tetapi ia memaksakan caranya sendiri untuk sampai ke sana.

Cerita di atas mengandung pesan moral yang sangat jelas. Betapa pentingnya bagi orang tua dan pendidik untuk memahami dan menghargai perbedaan bakat dan talenta yang ada di dalam diri setiap anak. Ada banyak orang tua yang memaksakan anak untuk memilih jurusan, yang sebenarnya tidak disukai dan tidak diminati oleh anak. Akibatnya, anak mengalami frustrasi, jengkel pada dirinya sendiri dan orang lain, menjadi suka berontak, tidak puas dengan hidupnya dan merasa tertekan. Anak menjadi acuh-tak acuh pada potensi dirinya, seperti bebek yang telah terluka selaput kakinya — akibat harus berlatih lari — malah gagal menggunakan potensi diri yang telah dimilikinya.

Itulah kisah-kisah yang sering kita dengar sebagai pengalaman beberapa mahasiswa di Perguruan Tinggi (PT). Apa yang terjadi? Ketika si mahasiswa akhirnya harus Drop Out (DO) karena prestasinya tidak memenuhi standar, ketika ditanya, mengapa memilih jurusan ini? Jawabnya adalah karena “disuruh oleh orang tua saya.”

Akibat Salah Jurusan
Hampir bisa dipastikan setiap DO selalu ada kaitannya dengan ketidak sesuaian talenta dan kemampuan anak, seperti bebek yang dipaksa berhenti berenang dan harus berlatih lari. Sebagian memang – dengan ketekunan, motivasi dan usaha keras — akhirnya berhasil menyelesaikan perkuliahan dan program belajar, tapi karena minatnya tidak di situ, maka setelah tamat, mereka bekerja di bidang lain. Artinya persiapan diri selama ini hanyalah sebuah usaha sia-sia. Mereka telah membuang banyak waktu mempelajari keterampilan dan pengetahuan yang tidak mendukung talentanya. Maka pada bidang karir, pribadi-pribadi ini akhirnya hanya memperoleh kemampuan yang pas-pasan seperti tupai yang hanya memperoleh nilai ‘C’ pada bidang keahliannya dalam memanjat. Soalnya, — perasaan frustrasi, kekecewaan dan perasaan marah yang berkepanjangan — telah menjadi semacam duri penghambat dalam kepribadian mereka.

http://www.edutraco .com/?p=32

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s