Misteri Kematian Atie W. Soekandar

http://www.tabloidn ova.com

Kepergian wanita berjiwa sosial ini membuat keluarga dan
rekan-rekannya terpukul. Selain mendadak, kematian Atie juga masih
menyimpan teka-teki. Benarkah gara-gara sedot lemak?

Sebuah rumah di Jalan Sukahaji Permai, Geger Kalong, Bandung, Jawa
Barat
tampak sepi. Maklum, para penghuninya masih dalam suasana
berduka lantaran kehilangan salah satu anggota keluarganya, Dr. dr.
Atie W. Soekandar, SpFK. Hanya seorang satpam yang menemui NOVA
menyampaikan pesan, pihak keluarga belum bersedia ditemui. Di rumah
itu, tinggal ibunda Atie beserta beberapa saudaranya.
Kepedihan semakin dalam karena ada kabar meninggalnya Atie disebabkan
oleh operasi sedot lemak (liposuction) , beberapa hari menjelang ulang
tahunnya yang ke-57. Awalnya, Atie menjalani operasi pada Jumat (7/3)
di Rumah Sakit Mitra Kemayoran, Jakarta. Seminggu kemudian Atie
dipindahkan ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Bandung. Kondisinya
terus menurun, bahkan sempat mengalami koma hingga akhirnya
mengembuskan nafas terakhirnya disana pada Rabu (19/3).

INFEKSI USUS
Benarkah Atie berpulang akibat sedot lemak ? Seorang rekan dekat Atie
yang tak mau disebutkan namanya bercerita, sejak Rabu (19/3) sore
sejumlah teman mendiang telah mengetahui kondisi Atie di Bandung dan
saling berkabar lewat sms. “Mula-mula katanya kondisi Atie kritis
sehingga harus segera dioperasi. Tak lama kemudian, menyusul berita
Atie sudah koma,” katanya.
Hanya selang beberapa waktu, tepatnya jam 18.30, “Kami dapat kabar
Atie sudah meninggal. Padahal, rencananya Sabtu pagi saya dan sejumlah
teman akan ke Bandung untuk menengok Atie. Ternyata kami harus
mengantar jenazahnya ke pemakaman Taman Cikutra, Bandung,” ujarnya
dengan nada sedih.
Teman Atie lainnya yang sama-sama tergabung dalam yayasan pecinta kain
menuturkan, tak jelas benar penyebab kematian Atie. “Memang, sih, ada
cerita bahwa dia sempat menjalani operasi sedot lemak. Itu pun
dilakukan tanpa sepengetahuan siapa pun. Dia ke rumah sakit hanya
diantar supirnya.”
Si supir inilah, lanjut teman Atie, “Yang pertama kali menelpon
sahabat Atie. Dia bingung karena sampai sore hari, Atie tak juga
keluar dari rumah sakit. Dia curiga sekaligus khawatir.”
Ia juga bertutur, setelah kembali ke rumah, kabarnya Atie merasa ada
yang tak beres pada tubuhnya, kemudian minta diantar ke Bandung. Tiba
di kota kelahirannya itu, kondisi Atie mulai menurun. “Perutnya
bengkak. Oleh karena itu, ia dibawa ke Rumah Sakit Hasan Sadikin
(RSHS). Karena kondisinya makin buruk, dokter memutuskan melakukan
operasi. Sayang, nyawa Atie tak tertolong.”
Menyoal kabar sedot lemak, sang teman ini menduga, kalau benar Atie
melakukannya, “Mungkin ia tak mau ada orang yang tahu. Makanya ia cuma
pergi bersama supirnya ke rumah sakit. Saya dan teman-teman lain juga
heran bercampur kaget ketika ada kabar yang menyebutkan Atie berpulang
gara-gara hal itu. Kami enggak percaya dia melakukan sedot lemak. Tapi
entahlah. Yang jelas, berita duka itu memang diminta tidak
disebarluaskan. Saya sendiri tak tahu alasan persisnya. Mungkin saja
keluarga merasa malu atau apa jika memang Atie benar melakukan sedot
lemak. Apa pun juga, dia kan doktor, farmakolog. Kan, seharusnya dia
mengerti betul risiko sedot lemak. Tapi itu hanya dugaan saya saja.”
Dari sumber lain didapat keterangan, ketika tiba di RSHS, kondisi Atie
sudah buruk sehingga ia langsung dimasukkan ke ruang ICU (intensive
care unit). Bahkan sempat dipasangkan ventilator atau alat bantu
napas. Dalam keadaan koma, Atie dioperasi. “Dari perawat yang membantu
di ruang operasi, katanya usus Atie bernanah dan ditemukan bolongan.
Apa penyebabnya, saya tidak tahu.” Yang jelas, lanjutnya, “Terjadi
perforasi atau infeksi di usus.”
Sumber ini membenarkan, kasus Atie dirahasiakan pihak RSHS.
“Sepertinya sudah ada perjanjian dengan pihak keluarga.” Ia menduga,
operasi sedot lemak yang dilakukan Atie tak dikerjakan dengan baik
sehingga menimbulkan komplikasi yang berujung pada kepergian Atie
untuk selamanya.

TAK MENGELUH SAKIT
Semasa hidupnya, mantan istri Prof. Dr. Wardiman Djojonegoro ini
dikenal sangat berjiwa sosial. Salah satu sumbangsihnya adalah
mendirikan Yayasan Pantara, sebuah yayasan sosial anak-anak yang
memiliki kesulitan belajar. Ditemui di kantor SD Pantara, Jalan
Senopati, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Henny Indrawati (43),
Sekretaris Eksekutif Yayasan Pantara sekaligus sahabat Atie mengaku
sangat terpukul dengan kejadian ini. “Soalnya kepergian beliau (Atie.
Red.) sangat mendadak,” ungkap Henny.
Henny bercerita, tak sempat mendengar kabar Atie sakit. Makanya ia
begitu kaget ketika diberitahu Atie dirawat di Rumah Sakit Mitra
Kemayoran sejak Jumat (7/3), “Tapi saat itu saya tak tahu Ibu Atie
sakit apa.”
Lalu semuanya seakan berjalan begitu cepat. “Proses sampai beliau
meninggal itu sangat kilat. Banyak orang lain juga kaget karena
sebelumnya bertemu dengan beliau masih sehat-sehat saja. Saya sempat
bertanya kepada beliau mengapa enggak pernah bilang kalau sakit.
Beliau bilang dia enggak mau membuat orang repot,” ungkap Henny.
Memang, sempat sekali waktu Atie cerita pada Henny bahwa ia menderita
beberapa jenis penyakit. “Kemudian saya ketahui bahwa beliau menderita
penyakit hati dan ginjal. Itu mengapa kukunya terlihat kuning. Enggak
heran, karena beliau adalah pekerja keras. Selain aktif di Yayasan,
beliau juga aktif di Badan Pengawas Obat dan Makanan,” papar ibu dua
anak ini.
Mengenai kabar miring yang menyatakan Atie meninggal akibat melakukan
tindakan operasi sedot lemak Henny mengaku tidak mengetahui. “Saya
sudah dengar isu itu. Tapi mengenai beliau liposuction atau enggak
saya enggak bisa memastikan. Ketika saya tanyakan kepada pihak
keluarga, dari pihak keluarga juga sepertinya enggak mau membicarakan
soal itu.”
Diakui Henny, Almarhumah memang menyukai sesuatu yang indah. “Lukisan
tergantung miring saja dia pasti menegur saya. Beliau juga suka bunga
dan lukisan, kebetulan beliau juga aktif di Yayasan Seni Rupa.”
Dengan kepergian Atie, Henny merasa perjuangannya untuk mempertahankan
Yayasan semakin berat. “Kami harus mempertahankan keberadaan SD
Pantara ini,” tuturnya.
Diceritakan Henny secara sekilas, Yayasan Pantara didirikan akibat
keresahan hati Karlinah Umar Wirahadikusumah dan Atie yang saat itu
melihat pendidikan nasional belum menjangkau pendidikan untuk
anak-anak yang mempunyai kesulitan belajar. Akhirnya pada tanggal 13
September 1996 lalu terbentuklah Yayasan Pantara.
Sebagai salah satu pendiri, Atie menurut Henny sudah mempunyai
beberapa gagasan yang menunggu untuk direalisasikan. “Misalnya
intervensi dini. Yaitu penanganan anak-anak berusia 3 sampai 6 tahun
yang diduga berisiko mengalami kesulitan belajar atau LD (Learning
Disorder. Red.),” ungkapnya yang sudah kenal ketika Atie masih
mengajar di Fakultas Kedokteran Unpad tahun 90-an.
Edwin Yusman F

RESIKO KECIL, ASAL…
Menanggapi meninggalnya Atie, jika benar meninggal usai sedot lemak,
Rudi Halimun, CEO AiBee Aesthetic Center, rumah sakit khusus bedah
estetik di Bogor menduga usai sedot lemak, dokter tidak melakukan
observasi. “Harusnya setelah dilakukan sedot lemak dokter harus
melakukan pemantauan. Jadi begitu ada yang tidak beres, langsung bisa
ditangani.” Makanya di RS miliknya mensyaratkan, usai sedot lemak,
pasien harus menginap dulu. “Biar dokter bisa memantau jika ada
sesuatu yang tak beres.”
Rudi menambahkan, risiko sedot lemak sebenarnya lebih kecil dibanding
naik pesawat terbang. “Tapi harus dilakukan dengan prosedur yang
benar.” Calon pasien, lanjut Rudi, harus diobservasi dulu. Ada
beberapa hal yang tak boleh dilanggar, misalnya jika calon pasien
mempunyai darah yang encer, diabetes, dll. “Makanya dari 1500 calon
pasien, paling hanya sekitar 400 yang lolos. Walau pasien ngotot,
tetapi tak memenuhi syarat, maka tak boleh dilakukan.”
Karena liposuction, menurut Rudi, tak sekadar menyedot lemak di bawah
kulit. Jumlah lemak yang disedot juga ada aturannya. Masing-masing
orang beda. Tapi yang tak kalah penting, lanjut Rudi, harus dilakukan
oleh dokter spesialis bedah plastik. Karena di bawah kulit juga ada
organ-organ tubuh. “Dan lemak disedot tak boleh mengganggu fungsi
organ. Itu tak boleh ditawar,” tandas Rudi seraya menambahkan seperti
tindakan medis lainnya, operasi sedot lemak juga perlu persiapan matang.
Krisna

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s