Belajar YUK, dari sepakbola

Pada jaman sekarang, yang menjadi tren di dunia sepakbola adalah lifestyle
dan industrinya. sehingga glamor dan kemeriaahan sepakbola internasional
terdengar dari cara hidup pelaku2nya yang sudah tidak berbeda dengan
selebriti
holywood. sehingga kesan yang ditangkap, dunia sepakbola adalah dunia
industri
yang mampu menghasilkan banyak uang.

pergeseran itu mulai terasa di saat krisis ekonomi yang melanda dunia. saat
mata uang melambung tinggi, seorang pemain bisa dihargai dengan harga sebuah

klub profesional di negara yang masih berkembang sepakbolanya. Zinedine
Zidane
,
muslim pesepakbola, adalah pemain sepakbola dengan harga selangit, konon
sampai
66 juta dollar atau seharga triliyunan rupiah, jika dikurskan.

di era sekarang apa yang tidak bisa jadi uang. tidak luput juga dengan
sepakbola.
sekarang bos klub2 sepakbola profesional berlomba2 untuk mengumpulkan pundi2

kantong uang mereka, bahkan ada yang tidak malu untuk memperdagangkan
pemainnya
seperti barang. dan tidak jarang juga yang memang hanya memperkaya pribadi
atau
kelompoknya saja.

ada beberapa klub terkenal yang memang masih peduli dengan regenerasi dan
perkembangan sepakbola, yaitu dengan memperkuat akademi2 (kalo di indonesia
nama
nya SSB), ambil contoh: MU dan Ajax yang begitu produktif memproduksi pemain
muda berbakat, walaupun tetap UUD(ujung2nya duit).

tapi memang ada klub yang memang sengaja menjadi stasiun relay untuk pemain2
yang
mau diorbitkan. jadi mereka membeli pemain dengan harga rendah alias murah,
kemudian dijual dengan harga yang tinggi, bahkan berlipat2. ambil contoh,
klub
sepakbola prancis seperti Lyon, sekarang Lyon berubah menjadi klub kaya
karena
strateginya yang mahir untuk meramu pemain “belum” terkenal atau pemain
“bekas”
menjadi pemain yang penuh motivasi dan produktif.
sedangkan untuk gudang pemain muda berbakat hasil pantauan scout2 mereka
contohnya
adalah arsenal, yang memang mereka tidak hanya hobi membeli pemain2 muda,
tapi juga
memberi kepercayaan pada pemain2 muda tersebut untuk bermain lebih banyak,
tidak
seperti di kebanyakan2 klub lain yang memposisikan pemain2 mudanya hanya
sebagai
ban serep.

dengan demikian, para pelaku industri sepakbola (setidaknya untuk saat ini)
berhasil
mengkapitalisasi sepakbola dengan bantuan blow up media. sehingga sepakbola
yang
punya sisi strategis berupa massa yang besar dan animo yang hampir menyaingi
agama
(seperti di brazil), bisa menjadi alat politik yang sangat signifikan.


sekarang hikmah apa yang bisa kita petik? ada hikmah umum dan hikmah daawi
yang bisa
kita petik. hikmah umumnya, kita bisa melihat adanya pergeseran dari sebuah
istilah
sepakbola, dari sebuah olahraga murni dengan biaya untuk pembinaan, berbelok
menjadi
industri yang menyehatkan.

sedangkan untuk hikmah daawi yang bisa kita ambil adalah, kapitalisasi
dakwah,
bukanlah suatu hal yang tabu, jika kita menempatkannya secara proporsional.
bagi
seorang da’i/muslim, dunia itu diletakkan di tangannya.
kita melihat para pelaku bisnis industri sepakbola begitu getol dan ngotot
untuk
memperbanyak kantong mereka, hanya untuk perut mereka. tapi mereka begitu
profesional
dalam mengelolanya, berani melakukan terobosan2 tajam, dan tidak malu
melibatkan
pemain2 mudanya. walaupun mungkin banyak yang menjadikan sepakbola sebagai
alat
politik praktis untuk melanggengkan kekuasaannya( yang ironisnya untuk perut
juga).

sekarang bagaimana dengan saya,…
bagaimana dengan kita?

kita lihat saja. apa yang bisa kita perbuat dalam 1 atau beberapa tahun ke
depan.

Wallahua’lam bishshowab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s