Untuk Urip dan Arta,

Secara pribadi saya sangat mendukung perbuatan Urip dan Arta.
Dalam bahasa jawa, URIP (Urip Tri Gunawan) artinya HIDUP sedang
ARTA (Artalyta Suryani) artinya UANG. Secara filosofis, Urip (hidup)
dan Arta (uang) adalah pasangan yang sangat serasi, keduanya
saling melengkapi. Uang bagi orang hidup, ibarat darah yang mengalir
ditubuhnya. Orang hidup Tanpa uang, dijamin akan mengalami banyak
kerepotan. Sistim ekonomi modern, menuntut semua orang untuk
memiliki uang sebagai alat pembayar dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya. Dari kebutuhan sandang, pangan, rumah, mobil, TV, HP,
sampai sekolah semua harus diganti dengan uang. Itulah, mengapa
Urip mau berpasangan dengan Arta.

Saya sangat terkejut dengan pemberitaan tentang ditangkapnya
Urip karena berpasangan dengan Arta. Apakah mereka berselingkuh?
Melanggar hukum? Bukankah Urip tanpa Arta ibarat suami tanpa istri,
atau mobil tanpa bensin? Hanya orang gila atau orang yang bosan
urip (hidup) saja yang merasa tidak membutuhkan arta (uang).
Jadi mengapa mereka ditangkap? Alangkah baiknya bila mereka
dibiarkan saja untuk berpelukan, berciuman bergandengan tangan
untuk merangkai hidup yang sejahtera.

Seseorang yang memiliki Arta sangat banyak, Uripnya akan makmur
serta sejahtera, setidaknya dari segi materi uripnya akan berkecukupan
asal sehat, tidak berpenyakitan sehingga Artanya tidak akan habis
untuk biaya rumah sakit. Itulah mengapa orang yang Urip akan selalu
berusaha mencari Arta, yaitu dengan bekerja, wiraswasta, atau menjadi
bromocorah (bhs jawa : pelaku kriminal) dll. Disini kekuatan moral,
akal, kecerdasan, ketrampilan juga nasib seseorang akan diuji dalam
mencari arta. Orang yang memiliki pendidikan, ilmu, juga nasib baik
lebih berkesempatan untuk memiliki banyak arta, kalau perlu cari juga
kesempatan untuk korupsi, manipulasi sehingga arta yang didapat
juga lebih banyak, jadi tidak melulu dari gaji saja yang kata orang
tidak pernah cukup untuk membiayai gaya hidup yang serba
materialistik.

Orang yang bermoral pas-pasan akan mencari arta dengan berbagai
cara, bila perlu menjadi bromocorah (pelaku kriminal) atau korupsi
bila ada kesempatan. Nach ini agaknya yang menyebabkan ada
seorang jaksa yang Urip, yang seharusnya memiliki ilmu, pendidikan
tinggi serta akhlak yang terpuji, tetapi ditangkap aparat negara ketika
bertemu dengan Arta. Konon menurut berita dimedia masa, Arta yang
dibawa Urip, adalah Arta yang tidak syah.. Jadi pasangan Urip dan
Arta tersebut adalah pasangan selingkuhan yang dianggap tidak
syah, ditinjau dari hukum negara, juga norma-norma susila serta
agama. Bila ini kejadianya, saya menyesal mendukung Urip yang
berselingkuh dengan Arta. Urip yang bergelimpangan dengan
Arta, tetapi mendapatkan dengan tidak halal, insya alloh menjadi
tidak ada berkahnya. Bisa jadi secara materi uripnya makmur, tetapi
batinya menjadi tertekan serta merasa berdosa, apalagi bila
nasibnya apes seperti pak jaksa tersebut, karena namanya hancur,
serta harus siap menjadi penghuni penjara, bergaul dengan kecoa,
cecurut serta tikus masyarakat.

Demikianlah sedikit tulisan saya yang ngawur ini, semoga tidak
menjadi beban pikiran bagi orang urip (hidup) yang sedang berichtiar
mencari arta (uang) untuk memenuhi kebutuhanya.
Salam.

Gunawan Setyadi <demang.gun@gmail.com>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s