Kekerasan pada Perempuan Dominasi Tayangan Media

Jakarta, Kompas – Berbagai tayangan dalam media film dan sinetron di
Tanah Air kian didominasi adegan kekerasan terhadap perempuan. Situasi
ini dikhawatirkan semakin menyuburkan perilaku kekerasan terhadap
perempuan, khususnya dalam rumah tangga.

”Sekarang tayangan kekerasan kian marak di media elektronik,” kata
Asisten Deputi Urusan Kekerasan terhadap Perempuan Heru P Kasidi dalam
diskusi yang diprakarsai Kalyanamitra, pusat komunikasi dan informasi
perempuan, Kamis (13/3) di Jakarta. Acara itu juga diisi dengan
pemutaran film Perempuan Punya Cerita.

Menurut hasil survei ekonomi sosial tahun 2006, prevalensi kekerasan
terhadap perempuan adalah 3,1 persen atau empat hingga enam juta jiwa
dan mayoritas adalah istri pelaku. Lokasi kekerasan 70 persen berada
di rumah. Pencetus tindak kekerasan itu adalah kondisi ekonomi dan
perilaku pelaku.

Di tengah kuatnya sistem kapitalisme industri perfilman dan sinetron,
kini terjadi kompetisi antara pendidikan antikekerasan dan pendidikan
kekerasan, terutama lewat media elektronik. Bentuk kekerasannya kian
beragam, baik kekerasan psikis, fisik, maupun seksual. ”Padahal, media
massa berpengaruh besar dalam mengubah perilaku masyarakat,” ujar Heru.

Isu sosial

Sineas Nia Dinata menyatakan, film sangat berpotensi mengangkat
isu-isu sosial yang dialami suatu negara di mana penonton bisa
berasosiasi dengan karakter dalam film. Sinema bisa menjadi alat
efektif karena sifatnya populis, penonton tidak merasa digurui. Namun,
di Indonesia, mayoritas tema film berkisar kisah percintaan, kehidupan
konsumtif, dan kekerasan.

Sejauh ini pemerintah dinilai belum menjalankan fungsinya dengan
memberikan kebijakan yang mendukung perkembangan film Indonesia, dari
segi pendidikan teknis sinematografi film dan pentingnya pendidikan
jender dalam film, ekonomi dan industri perfilman. Pemerintah juga
belum menyadari pentingnya politik kebudayaan untuk melindungi film
nasional.

Untuk meningkatkan mutu film yang diproduksi di Indonesia, sangat
diperlukan sekolah-sekolah film yang bermutu. Padahal, sejauh ini
Indonesia hanya memiliki satu sekolah film.

”Studi jender juga sangat diperlukan bagi mahasiswa film sehingga para
sineas Indonesia dapat menjadi agen perubahan bagi kesetaraan jender
dengan menghasilkan film-film yang lebih sensitif jender,” ujarnya. (EVY)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s