Bom-A, Jihad, dan Indonesia

Setelah Benazir Bhutto dibunuh, Pakistan dianggap lebih
mengkhawatirkan daripada Iran.

Anggapan ini masuk akal meskipun disanggah Duta Besar Pakistan untuk
Indonesia. Instabilitas polkam menyelimuti Pakistan dan Iran. Di
kancah politik, ada unsur-unsur yang berhaluan garis keras. Mereka
siap mati syahid dengan memicu bom bunuh diri. Namun, Pakistan
mempunyai bom-A(tom), sedangkan Iran belum. Di tangan ideologiwan
fanatik, bom maut dapat untuk meneror. Ini bukan kemuhalan moral; ini
kemungkinan logis!

Pakistan sukses menguji coba bom-A tahun 1996. Pakistan pasti
menguasai teknologi pemisahan isotop sebab dengan cara ini saja
didapat bahan terbelahkan (fissile) bermutu senjata (weapons grade).
Uranium baru bermutu senjata bila kadar U-235-nya melebihi 70 persen.
Padahal, kadar U-235 dalam uranium alam hanya 0,7 persen. Jadi,
uranium itu harus diperkaya sampai U-235- nya lebih dari 100 kali
lipat kadarnya dalam uranium alam.

Bom-A juga dibuat dengan Pu-239. Plutonium sudah tidak ada lagi di
alam. Karena itu, plutonium dibiakkan dalam reaktor, lalu dipisahkan
dari bahan bakar bekasnya secara kimia. Ini memerlukan robotika sebab
bahan bakar bekas itu amat radioaktif dan plutonium amat radiotoksik.
Dari pemisahan kimia ini belum diperoleh Pu-239 murni, tetapi campuran
Pu-239, Pu-240, Pu-241, Pu-242, dan Pu-243. Meski lebih dari
separuhnya ialah Pu-239, untuk menjadi bermutu senjata, campuran ini
masih harus diperkaya.

Sangat rahasia

Ada beberapa cara untuk mengayakan uranium, yakni bauran gas (gaseous
diffusion), emparan gas (gas centrifuge), cerat Becker (Becker
nozzle), tabung pual gas (gas vortex tube), dan pemisahan laser. Yang
lazim dipakai ialah bauran dan emparan.

Dalam bauran/difusi dipakai pipa yang disekat menjadi dua alur (A dan
B) dengan membran berpori. Gas UF6 dialirkan melalui alur A. Karena
tekanan di alur B lebih rendah, sebagian gas itu merembes melalui
sekatan itu ke alur B. U-235 lebih ”kecil” daripada U-238 sehingga
lebih mudah merembes melalui pori-pori sekatan itu. Maka, kadar U-235
di alur B lebih besar daripada di alur A. Proses ini diulang-ulang
sampai dicapai tingkat pengayaan yang diinginkan.

Dalam emparan, gas UF6 diempar (diinteri, bahasa Jawa). Agar menir dan
beras terpisah, campuran menir-beras di-interi dengan nyiru. Juga UF6
yang berkadar U-235 lebih tinggi terkumpul di tengah bila campuran itu
diempar. Proses ini diulang- ulang sampai tingkat pengayaan yang
diinginkan tercapai.

Emparan lebih efisien daripada bauran, tetapi keduanya memerlukan
instalasi yang amat mahal. Karena itu, dipakai pula cara pemisahan
laser. Uranium diuapkan dan atom-atomnya diteral dengan laser.
Artinya, elektron-elektron dalam atom itu dinaikkan ke aras tenaga
yang lebih tinggi dengan tambahan tenaga dari laser. Berdasar
perbedaan sifat-sifat U-235 dan U-238, medan elektrik lalu dipakai
untuk mengendapkan U-235 dan U-238 yang tertelar/tereksitas i di
elektrode yang berbeda.

Yang bisa memakai cara pemisahan laser hanya segelintir negara maju
sebab teknologinya amat dirahasiakan. Penguapan logam uranium pada
suhu tinggi (2727>sup<0 >res<>res<C) amat sulit. Frekuensi laser yang
diperlukan untuk meneral atom-atom uranium itu juga amat dirahasiakan.
Mencarinya sendiri amat susah sebab terdapat banyak garis dalam
spektrum uranium teralan. Frekuensi itu harus benar-benar tepat agar
teralan yang dimaksud terjadi.

Massa genting

Bom-A ialah bom pembelahan. Ledakannya dipicu reaksi pembelahan inti
berantai yang adigenting (supercritical) , artinya dari 2-3 neutron
yang muncul pada setiap pembelahan inti, rata-rata lebih dari satu
berhasil membelah inti lain. Jika ”lebih dari 1” ini 2, semua inti
dalam bom akan terbelah dalam 87 generasi. Karena laju pembelahan
dalam reaksi berantai yang adigenting naik secara eksponensial, tenaga
bom itu hanya berasal dari 10 generasi yang terakhir. Setiap generasi
memakan waktu 10 nanosekon, jadi hanya diperlukan 0,1 mikrosekon
(sepersepuluh juta sekon) untuk meledakkan bom-A.

Reaksi berantai adigenting terjadi bila massa bom sama dengan massa
genting (critical mass)nya. Jadi, bom yang massanya semula
bawah-genting (subcritical) , dibuat menjadi adigenting agar meledak.
Caranya, menyatukan dua bagian bom itu, atau memampatkan satu gumpalan
massa, memakai bahan peledak biasa.

Massa genting uranium 15 kg jika berbentuk bola. Massa genting
plutonium bahkan hanya 4,5 kg, asal berbentuk bola yang volumenya 0,28
liter dan disalut uranium alam yang berfungsi sebagai pemantul neutron.

Udang di balik batu

Bagi kelompok garis keras seperti Al Qaeda, jihad berarti melawan
Barat yang zalim. Mereka berusaha mengimbangi Barat dalam segala hal.
Menurut Ulil Abshar Abdalla, karena Barat punya bom nuklir, mereka
bertekad memilikinya, tetapi ini tidak gampang sebab dihalangi Barat.

Di Indonesia tak ada pejabat sipil atau TNI yang menyatakan ambisinya
untuk membuat senjata atom. Pendukung PLTN menegaskan, tujuannya hanya
pembangkitan energi. Namun, wakil Greenpeace curiga, ada alasan
militer di balik rencana itu.

Kaum anti-PLTN mengajukan seabrek keberatan. Dari segi keekonomian,
ketergantungan, pencemaran, nilai budaya dan etika, keberadaan di
lingkaran api dekat persentuhan tiga lempeng besar, kenyataan bahwa
Indonesia mengekspor gas alam, dan masih adanya sumber daya energi
yang belum digarap, dan lainnya tidak masuk akal jika kita membeli
PLTN. Justru lebih logis kalau ada maksud untuk menjadikan PLTN
sebagai batu loncatan ke senjata atom. Namun, yang logis ini tidak etis.

L Wilardjo Guru Besar Fisika dan Etikawan UK Satya Wacana, Salatiga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s