Sekali Lagi Soal Jilbab

Hampir tidak ragu lagi, mispersepsi dan distorsi terhadap Islam masih kuat
menghinggapi pandangan Barat. Peristiwa kekerasan dan bahkan terorisme yang
terjadi sejak 11 September 2001 hanya menambah mispersepsi dan distorsi itu.
Meski pada saat yang sama juga terjadi peningkatan berbagai forum pertemuan
serta dialog antarperadaban, khususnya Islam dan Barat, mispersepsi dan
distorsi pun masih bertahan terhadap Islam dan kaum Muslim.

Contoh paling akhir adalah ketika saya menjadi salah satu pemakalah dalam
konferensi ‘Islam, Demokrasi, dan Kebebasan Media: Tantangan dan Perspektif
bagi Indonesia dan Jerman pada Awal Abad ke-21′, awal Maret lalu di Jakarta.
Dalam sesi tanya jawab, seorang peserta dari Jerman melihat pemakaian jilbab
atau hijab yang semakin meluas di kalangan perempuan Muslim merupakan
indikasi berlanjutnya ketidakadilan gender. Bahkan, penindasan terhadap kaum
perempuan dalam masyarakat Muslim.

Persepsi semacam itu cukup tipikal di masyarakat Barat. Perdebatan di Dunia
Barat–seperti di Prancis–tentang hijab juga melibatkan persepsi yang
distortif tentang hijab; ia merupakan pertanda ketidakadilan dan penindasan
terhadap perempuan Muslimah dalam masyarakat Muslim, mulai dari Maroko di
Afrika Utara sampai Merauke di nusantara.

Meningkatnya penggunaan hijab atau jilbab yang hampir merata di dunia
Muslim, dalam perspektif masyarakat Barat, tidak hanya berkaitan dengan
peningkatan semangat keislaman. Akan tetapi, lebih jauh lagi merupakan
indikasi ‘terjelas’ dari kebangkitan Islam politik. Dan, jika sudah
berbicara tentang Islam politik, rasa terancam pun kian meningkat di
kalangan masyarakat Barat. Sebab, mereka merasa bakal menjadi target
selanjutnya. Mereka cemas bahwa sistem politik, ekonomi, dan budaya yang
selama ini banyak bersumber dari Barat juga menjadi target untuk digantikan
dengan sistem yang menurut mereka fundamentalis.

Ketakutan pada hijab atau jilbab mungkin bermula dari penggambarannya yang
mulai menyeruak imajinasi Barat. Hal ini berbarengan dengan keberhasilan
revolusi Ayatullah Khomeini pada 1979 yang menumbangkan dominasi dan
hegemoni Amerika Serikat pada masa Syah Iran, Reza Pahlevi. Apa yang tampil
ke publik Barat adalah hijab tipikal Iran yang umumnya berwarna hitam atau
berwarna gelap. Bahkan, belakangan juga berwarna putih. Hijab model ini
biasanya menjuntai dan menutupi hampir seluruh bagian tubuh perempuan.
Bahkan, disertai penutup seluruh wajah yang hanya menyisakan sedikit ruang
untuk melihat bagi yang empunya diri.

Hijab seperti ini boleh disebut sebagai hijab ‘ideologis’. Maksudnya, hijab
yang bertitik tolak dari pandangan dan pretensi religio-politik Islam
tertentu. Dalam hal ini, hijab tidak hanya dipandang sebagai penutup rambut
yang dianggap aurat perempuan hingga perlu ditutupi dari pandangan orang
lain, khususnya bukan yang muhrim.

Tetapi jelas, bentuk dan model hijab atau jilbab juga tidaklah seragam.
Kebanyakan hijab atau jilbab lebih mencerminkan sikap yang lebih tawadhu
(modest) dari para pemakainya. Bahkan, jilbab tidak lagi menampilkan bentuk
dan model yang dapat mengundang pertanyaan, keanehan, dan ketakutan orang
yang melihatnya. Jilbab model itulah yang dikenakan sebagian besar Muslimah
Asia Tenggara; menutupi rambut, leher, dan dada dengan bahan warna-warni
yang fashionable. Jelas, jilbab semacam ini dan para pemakainya tidaklah
berangkat dari ideologi religius-politis.

Dilihat dari keanekaragaman bentuk dan mode jilbab, terlalu simplistis kalau
pemakaian hijab dan jilbab secara keseluruhan dipandang sebagai ekspresi
kebangkitan Islam politik. Dan, juga simplistis untuk menganggap pemakaian
hijab atau jilbab itu sebagai cerminan ketidakadilan gender dan
ketertindasan perempuan dalam masyarakat Muslim. Karena jelas, pemakaian
hijab atau jilbab yang tidak didasari pretensi religio-politik, lebih
berdasarkan kesadaran untuk tampil secara lebih Islami atau sebagai upaya
untuk lebih saleh; tidak yang lain-lain.

Dalam konteks itu, memang masih banyak yang harus dilakukan kaum Muslimin,
terutama mereka yang bisa berbicara dalam bahasa yang dipahami masyarakat
Barat, untuk menjelaskan berbagai hal tentang Islam dan kaum Muslim,
termasuk soal hijab dan jilbab. Penjelasan tersebut tidak akan efektif bila
didasari sikap konfrontatif. Sebaliknya, harus dengan cara persuasif, tetapi
tegas dengan bukti-bukti dan argumentasi yang bisa memupus mispersepsi dan
distorsi tersebut.

(Azyumardi Azra )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s