Kambing Hitam Pascakonfrontasi

Habis manis sepah dibuang. Itulah nasib tragis ratusan gerilyawan
Pasukan Rakyat Kalimantan Utara atau Paraku-Pasukan Gerakan Rakyat
Sarawak atau PGRS dukungan intelijen militer Indonesia semasa Presiden
Soekarno mencanangkan konfrontasi menentang pembentukan Malaysia tahun
1963. Ketika Soekarno menyatakan “Ganyang Malaysia” tanggal 27 Juli
1963, relawan Indonesia dan gerilyawan Paraku-PGRS menjadi pahlawan di
Indonesia.
Paraku-PGRS menjadi momok menghantui pasukan Malaysia, Brunei,
Inggris, dan Australia saat bergerilya di perbatasan Kalimantan
Barat-Sarawak. Ketika Soeharto tampil sebagai penguasa yang berdamai
dengan Malaysia, Paraku-PGRS pun digempur habis dan disertai kerusuhan
anti-Tionghoa di Kalimantan Barat tahun 1967 sebagai harga
rekonsiliasi Jakarta-Kuala Lumpur.
Paraku-PGRS terlupakan dalam lembaran sejarah seiring kukuhnya Orde
Baru dan baru muncul kembali dalam pembicaraan Indonesia-Malaysia
dalam Joint Border Comitee (JBC) di Kuala Lumpur awal Desember 2007.
Peneliti kekerasan terhadap Tionghoa, Benny Subianto, menjelaskan, ada
benang merah dalam pemberantasan Paraku-PGRS dan kekerasan terhadap
penduduk Tionghoa di Kalimantan Barat yang dikenal sebagai peristiwa
“Mangkok Merah”.
“Demi menghabisi Paraku-PGRS akhirnya dikondisikan kerusuhan
anti-Tionghoa. Sebelumnya, Dayak, Melayu, dan Tionghoa hidup bersama
secara damai di Kalimantan Barat,” kata Benny.
Keberadaan Paraku-PGRS diakui sebagai buah karya kebijakan militer
Indonesia. Buku Sejarah TNI Jilid IV (1966-1983) halaman 116-125
mencatat embrio Paraku-PGRS adalah 850 pemuda China Serawak yang
menyeberang ke daerah RI saat terjadi konfrontasi dengan Malaysia.
Buku Sejarah TNI menyebut mereka adalah orang-orang China yang
prokomunis. Pemerintah RI melatih dan mempersenjatai mereka secara
militer dalam rangka Konfrontasi Indonesia-Malaysia.
Lebih lanjut dijelaskan, mereka dibagi menjadi dua kesatuan, yakni
Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS) dan Pasukan Rakyat Kalimantan
Utara (Paraku). Kedua pasukan dikoordinasi oleh Brigadir Jenderal TNI
Supardjo, pejabat Panglima Komando Tempur IV Mandau, berpusat di
Bengkayan, Kalbar.
Bersama “relawan” dari Indonesia, Paraku-PGRS yang juga menghimpun
suku Melayu dan Dayak berulang kali menyusup wilayah Sarawak dan
bahkan Brunei. Salah satu tokoh Revolusi Brunei tahun 1962, Doktor
Azhari, yang juga pimpinan Partai Rakyat Brunei, dan pengikutnya
diketahui dekat dengan kubu gerilyawan ini.
Benny Subianto dalam laporan ilmiah itu menjelaskan, banyak pemuda
Tionghoa di Sabah, Sarawak, dan Brunei menolak pendirian Malaysia
karena takut dominasi Melayu dan warga Semenanjung Malaya terhadap
wilayah Sabah-Sarawak dan Brunei.
Gerilyawan Paraku-PGRS dalam laporan Herbert Feith di Far Eastern
Economic Review (FEER) edisi 59 tanggal 21-27 Januari 1968 dilukiskan
hidup bagai ikan di tengah air terutama di antara masyarakat Tionghoa
Kalbar yang waktu itu hidup tersebar di pedalaman.
Benny Subianto menambahkan betapa gerilyawan Paraku-PGRS dan relawan
Indonesia menghantui wilayah perbatasan. Bahkan, mereka nyaris
menghancurkan garnisun 1/2 British Gurkha Rifles (1/2 GR) dalam
serangan terhadap distrik Long Jawi (sekitar 120 kilometer sebelah
barat Long Nawang, Kalimantan Timur). Selama berbulan-bulan mereka
juga menghantui jalan darat Tebedu-Serian-Kuching (dekat Pos
Perbatasan Darat Entikong) selama berbulan-bulan pada paruh pertama
tahun 1964.
JP Cross dalam buku A Face Like A Chicken Backside-An Unconventional
Soldier in Malaya and Borneo 1948-1971 halaman 150-151 mencatat betapa
serangan relawan Indonesia di Long Jawi tanggal 28 September 1963
menewaskan operator radio, beberapa prajurit Gurkha dan Pandu
Perbatasan (Border Scout). Long Jawi sempat dikuasai lawan sebelum
akhirnya Pasukan Gurkha menyerang balik setelah mendapat bala bantuan.
Di balik perjuangan Paraku-PGRS dan relawan Indonesia, sebagian besar
operasi militer selama konfrontasi tidak mencapai hasil memuaskan.
Mantan Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) Tanjung Pura Soeharyo
alias Haryo Kecik dalam memoirnya mencatat, gerakan pasukan dan
gerilyawan di wilayah Kalimantan selalu bocor dan diketahui lawan.
Menurut Soeharyo, kebocoran justru terjadi di tubuh militer dari Jakarta!
Adapun dalam laporan ilmiah Benny Subianto disebutkan, operasi
Paraku-PGRS dan relawan tidak mendapat dukungan penuh dari Angkatan
Darat (AD) yang dikenal sebagai kubu antikomunis semasa konfrontasi.
Setelah Jakarta-Kuala Lumpur berdamai melalui diplomasi di Bangkok,
Paraku-PGRS harus diberantas sebagai musuh bersama. Itulah ironi
sejarah yang terlupakan ketika kawan harus berubah menjadi kambing hitam!

Kompas, Jumat, 25 januari 2008 | 04:23 WIB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s