Menggali Jejak Kebangkitan

•Mei 24, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Rabu, 21 Mei 2008

Bagaimanakah kita harus memaknai seratus tahun kebangkitan nasional? Rasa-rasanya, bagi kebanyakan orang saat ini, sebuah perayaan sebagai bentuk parade sukacita bukanlah pilihan. Tentu tak mungkin menabuh gendang dan menari di kala rakyat masih dibelenggu oleh ancaman kesulitan hidup yang semakin menyesakkan hari demi hari.

Mungkin sebuah perenungan akan lebih tepat. Perenungan untuk mencari di manakah hilangnya jejak-jejak kebangkitan akan lebih bermakna justru di tengah semakin sirnanya asa akibat perhelatan tekanan kehidupan karena tersanderanya republik.

Seratus tahun lalu, mahasiswa-mahasiswa sekolah kedokteran STOVIA menemukan momentum kebangkitan di tengah impitan penindasan kolonialisme. Kita pun kini mencoba mengikuti jejak mereka mencari momentum yang sama di tengah pengisapan neoliberalisme. Namun, di manakah kita harus mulai?

Kerja kolektif

Marilah kita mulai, seperti mereka dulu, dengan menumbuhkan kesadaran akan realitas ketertindasan dan ketertinggalan. Inilah saat ketika pilihan-pilihan tersandera akibat hilangnya peran negara sebagai badan publik, yang ironisnya dibentuk secara sadar untuk melindungi kepentingan masyarakat. Ungkapan “tiada pilihan yang tersisa selain memotong subsidi” adalah contoh nyata sirnanya tanggung jawab sosial negara sekaligus pengabaian atas alasan adanya negara.

Kesadaran akan ketertindasan dan ketertinggalan bukanlah perkara mudah. Seabad yang lalu, para aktivis pergerakan harus mengunjungi daerah demi daerah untuk menyadarkan rakyat akan ketertindasan mereka. Kesadaran itu terkubur di tengah tuntutan pragmatisme hidup dan janji-janji manis elite kolonial dengan kampanye politik etis. Kini kesadaran pun mungkin terbenam di antara tekanan untuk bertahan hidup dan politik tebar pesona yang meninabobokan rakyat.

Sejarah kita sendiri kerap menunjukkan bahwa di tengah situasi fatamorgana itu, mobilisasi gagasan dan mobilisasi sumber daya manusia menjadi penting. Mobilisasi melalui pengorganisasian politik massa-rakyat yang dapat membuat tiap individu yang sadar menjadi pelaku-pelaku perubahan. Mata mereka yang tertindas harus dibuka, sehingga mereka sadar bahwa perubahan tidak datang dari langit. Perubahan tidak datang dari seorang satria piningit. Perubahan datang dari tiap orang biasa yang sadar bahwa mereka harus berubah, melakukan perubahan, dan menjamin masa depan untuk kehidupan yang lebih baik untuk semua. Perubahan adalah buah kerja keras panjang yang tanpa kenal lelah dan tetap bekerja untuk mengakhiri suatu bangunan struktur yang membuat mereka tertindas/tertingga l.

Tidak hanya sampai di situ. Perubahan adalah juga kerja bersama, seperti seratus tahun lalu, bukan kesadaran dan kerja individu yang melahirkan kebangkitan nasional. Kolektivitas adalah apa yang membedakan pergerakan kemerdekaan sebelum dan sesudah 20 Mei 1908.

Perasaan ketertindasan/ ketertinggalan sebagai satu entitas bangsa menjadi faktor pembeda dari upaya-upaya perjuangan para pangeran, raja, dan ulama yang pernah mengangkat senjata melawan kolonialisme. Kesadaran kolektivitas para mahasiswa STOVIA-lah yang 20 tahun kemudian melahirkan tonggak sejarah baru dalam kongres pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda. Melalui sumpah itulah kebangkitan nasional melahirkan suatu entitas politik-kebangsaan baru, yaitu Indonesia.

Jejak kerja bersama itu yang mungkin harus kita cari saat ini di tengah politik liberalisme (di tengah kurangnya kadar kesadaran menjadi demokrat) yang membuat semangat kekelompokan berdominasi. Memang, hampir mustahil menghapuskan kepentingan pribadi dan kelompok ketika ia memang secara sah diharuskan berkontestasi. Namun, ketika ia menjadi panglima, tujuan bersama pun menjadi sisa-sisa.

Kebangkitan sebagai spirit

Kebangkitan itu sebagian besarnya adalah soal spirit. Spirit letaknya ada dalam imajinasi pikiran dan kegelisahan yang mengusik hati sanubari massa. Imajinasi yang sedemikian rupa sehingga menginspirasi orang secara massif. Barulah imajinasi massif itu mewujud dalam tindakan sosial.

Harapan pada suatu zaman kebangkitan yang mampu membebaskan bangsa dari kolonialisme adalah spirit yang menyebar hingga ke dalam bentuk gosip-gosip di kalangan masyarakat. Ia menjadi discourse sosial. Discourse yang meluas ke tingkat massa menyebabkan massa gelisah, bak api dalam sekam yang mencari jawaban atas hari ini dan hari depannya.

Discourse yang bergerak di tingkat masyarakat di era kolonial itu suatu kali memiliki momentum meletup tanpa terkendali, dikatalisasi oleh tekanan sosial dan ekonomi yang luar biasa serta berita kebangkitan negara Timur lainnya. Potensi letupan-letupan kecilnya dapat kita lihat dalam berbagai bentuk, mulai selebaran-selebaran di tingkat massa hingga bentrokan-bentrokan fisik dengan aparat kolonial. Perlawanan diam-diam dan terbuka ke bentuk yang paling konfliktual secara terbuka sesungguhnya hanyalah wajah permukaan. Ada yang jauh mengendap di dalam hati massa itu, yaitu kebangkitan kemerdekaan bangsa.

Pada masa itu, suasana spirit sosial itu sebenarnya hanya menunggu suatu keberanian untuk memimpin proses perubahannya. Hanya tinggal menunggu pemimpin yang punya keberanian memimpin perubahan untuk berangkat melalui imajinasi sosial rakyat. Dari sana lalu memuarakan letusan-letusan sosial itu menjadi sebuah tindakan yang, karena massif diikuti oleh massa rakyat yang gelisah terhadap perubahan menentang kolonialisme, bermetamorfosis menjadi gerakan sosial politik yang dahsyat pada masa-masa berikutnya. Itulah riwayat bagaimana bangsa ini akhirnya meraih kemerdekaan untuk dirinya.

Pertanyaannya, refleksi bagi kita kini adalah mampukah kita menangkap gejala-gejala spirit perubahan di tingkat rakyat itu, kini dan di sini? Kemudian mampukah kita menangkap imajinasi sosial dan mengkristalisasikan nya? Kristalisasi adalah bentuk olahan terhadap imajinasi sosial itu. Kemudian menyebarkannya ulang ke dalam suatu cita-cita yang bisa diterima dan dibenarkan oleh rakyat. Jika kita bisa menangkap imajinasi sosial rakyat itu, kini tugas kita menjadi lebih jelas: memimpin cita-cita perubahan rakyat dalam rangka kebangkitan nasional selanjutnya.

Spirit yang mencari pemimpin

Proses ini mungkin dapat disebut sebagai suatu discourse sosial. Suatu proses komunikasi teks tuturan rakyat, dengan segala model bentuknya, yang ditangkap oleh aktivis gerakan sosial, diolah, dan dinyatakan kembali kepada massa rakyat. Ini seperti peristiwa rekontekstualisasi yang kompleks. Melibatkan rakyat beserta teks sosialnya, diterima oleh aktivis sosial dan diberikan bentuk konteks baru, kemudian disampaikan dalam bentuk teks progresif yang menginspirasi khalayak rakyat secara massif. Tak bisa dibantah bahwa ini merupakan suatu proses discourse yang kompleks.

Namun, jika kita mampu dengan tepat memposisikan diri di arena komunikasi sosial itu, kita mampu bukan hanya menyelami imajinasi sosial rakyat, melainkan juga maju selangkah lagi dengan memimpin imajinasi rakyat ke dalam bentuk tindakan perubahan yang luar biasa. Syaratnya sederhana saja. Sebagaimana pada awal-awal kebangkitan, hampir semua pemimpin kebangkitan nasional hidup bersama rakyat, sangat dekat dengan kehidupan keseharian rakyat, sehingga bahasa rakyat hampir tak berjarak dengannya. Pesan sosial rakyat bisa diterima dengan sangat baik oleh mereka.

Pertanyaan reflektif kepada kita adalah sedekat mana jarak kedekatan komunikasi sehari-hari kita dengan rakyat. Sedekat apa kita bisa memahami pesan massa rakyat. Jadi, menurut saya, konteks kebangkitan baru ini hanya perlu disederhanakan saja, sebagai sebuah teks baru, sedangkan mekanisme prosesual pemberian maknanya hanya perlu direfleksikan dari pengertian pada proses yang sama pada awal kebangkitan pertama 1908.

Sejarah kembali mengetuk pintu rumah kita, hanya mereka yang berjiwa pemimpin akan punya cukup keberanian untuk membukakan pintunya: bersiap menerima kenyataan sejarah apa pun yang akan datang. Itulah yang dilakukan oleh dr Soetomo, dr Wahidin Soedirohoesodo, dan kawan-kawan pada 100 tahun yang lampau.

Budiman Sudjatmiko, Ketua Umum Relawan Perjuangan Demokrasi-PDI Perjuangan

http://tempointerak tif.com/hg/ khusus/kolom/

“ ANTARA STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN DAN BALDRIGE AWARD : KRITERIA PENDIDIKAN UNTUK PENCAPAIAN KINERJA UNGGULAN “

•Mei 24, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Sampai dengan tahun sembilan puluhan, usaha untuk meningkatkan mutu sekolah di dunia internasional dilaksanakan secara implisit yaitu pada perbaikan mutu kurikulum dan tidak pada program perbaikan mutu sekolah secara langsung dan menyeluruh. Seakan akan dengan merubah kurikulum, maka tercipta sebuah kualitas pendidikan yang baik. Nyatanya tidak sedemikian rupa, bahwa banyak faktor yang terkait yang perlu mendapat sentuhan prosedur mutu agar peningkatan kurikulum juga diikuti pada sector pendidikan lainya.

Di Indonesia, belakangan ini setelah tercecer selama 3 tahun setelah Sisdiknas, 7 dari 8 standar pendidikan diramu dan dijadikan patokan standar pendidikan nasional. Ketujuh standar tersebut adalah Standar Isi, Standar komptensi lulusan, Standar Proses, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Guru, Standar Pengelolaan,dan standar penilaian.

Selayaknya ketujuh standar tersebut akan merepresentasikan kualitas pendidikan Nasional, namun dengan pola segmentatif serta non sistematis membuat 7 standar ini seakan tidak berjalan bersama dalam satu kesatuan. Keluarnya yang standar inipun terlihat tidak sistematik, dimulai di mei 2006 keluar SI dan SKL, dengan dibantu oleh ketentuan penerapan SI dan SKL,

1. Permendiknas No. 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi (SI)

2. Permendiknas No. 23 Tahun 2006 Tentang SKL

3. Permendiknas No. 16 Tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi Guru

4. Permendiknas No. 19 Tahun 2007 Standar Pengelolaan Pendidikan

5. Permendiknas No. 20 Tahun 2007 Tentang Standar Penilaian Pendidikan

6. Permendiknas No. 24 Tahun 2007 Tentang Standar Sarana & Prasarana

7. Permendiknas No. 41 Tahun 2007 Tentang Standar Proses :

8. standar pembiayaan : belum keluar

yang terakhir keluar adalah permendiknas n0 41 dibulan oktober 2007, Jadi dengan rentang waktu sebanyak 1.5 tahun, ketujuh standar ini keluar, dan dari urutan keluarnya menunjukkan konsep pembuatan yang segmentis dan tidak runut, Standar proses pembelajaran misalnya keluar paling bontot, padahal jantung pendidikan adalah pada proses, bagaimana pembelajaran dilakukan oleh siswa didik.

Dengan memahami target pendidikan (si & SKL) yang dicapai melalui sebuah proses kemudian diukur pencapaiannya dengan penilaian yang tepat, dilaksankan oleh guru, dengan menggunakansarana dan prasarana dan pengeloaan secara baik, maka selayaknya permendiknas keluar dengan pola urutan sbb

1. SI dan SKL,

2. Proses,

3. Penilaian

4. Guru

5 Sarana Prasarana

6.pengelolaan

Kalau dari Urutan permendiknas masih belum runut, lebih lanjut dari segi konteks dan kaitan masing masingpun masih diperlukan benang merah yang menyambung ketujuh standar ini agar dapat beroperasi dan sekaligus menunjukkan level pencapaian standar sebagai sebuah capaian kualitas pendidikan/sekolah. Salah satu yang menonjol  terlihat gebrakkan serta hingar bingarnya  proses UN sebagai kepanjangan tangan standar penilaian, yang melihat luaran secara terpisah dengan proses dan keberadaan sarana/prasarana serta keragaman sekolah yang ada di Indonesia. Apa hubungan UN dengan target visi pendidikan nasional secara definitif masih perlu dipertanyakan sekali lagi.

Di dunia luar, konsep peningkatan kualitas pendidikan nampak sempat tertinggal dengan counterpartnya yaitu pengguna SDM di industri. Dimana konsep kualitas yang dikomandoi oleh Demming dan Juran bergulir jauh di bidang industri produk/manfaktur maupun jasa, sampai pada konsep quality manajemen manual yang dapat disertifikasi oleh badan Internasional seperti ISO hingga pada level Six Sigma yang diperkenalkan oleh Motorolla, di tahun 1986, dan berhasil menyabet penghargaan Maclom Baldrige di tahun 1988 dan kemudian di adposi oleh banyak perusahaan besar seperti GE, Allied signal dan menempatkan sepertiga dari perusahaan “fortune 500″ sebagai pengguna sistem kualitas ini.

Berbicara mutu di bidang pendidikan, konsep mutu masih menjadi perdebatan, apakah benar dan tepat mengkiaskan pelanggan pada industri dengan siswa sebagai pembeli pendidikan. Banyak yang tidak setuju, karena konsep kualitas yang ada hanya berdasarkan pada hal hal yang diukur, bukan berdasarkan nilai kualitatif. Dan khususnya dalam pendidikan pencapaian kualitas pendidikan tidak cukup berhenti hanya pada ukuran ujian atau pencapaian nilai test kognitif semata, namun pada nilai nilai afektif yang humanis. terlebih lagi smeua sadar bahwa luaran dari pendidikan berbicara pada jangka waktu yang cukup panjang dan pada jangka waktu tersebut akan banyak kejadian /hal yang akan menelikung hasil akhir dari proses pendidikan ini.

Bagi yang setuju dengan kiasan diatas maka penerapan konsep mutu pendidikan merupakan ajang yang uji coba yang memang layak untuk diterabas, karena belum adanya kesamaan visi, kurikulum, fasilitas, lokasi, penekanan pendidikan dsb. Oleh karenanya diperlukan sebuah kerangka khusus dalam memahami luaran pendidikan yang bagaimana yang akan enjadi tolok ukur keberhasilan sebuah proses pendidikan.

Dari sistim mutu internasional yang ada, hanya penghargaan Baldrige yang telah menyentuh dan mengakomodasi konsep pengukuran kinerja organisasi/institusi pendidikan secara spesifik. Penghargaan Baldrige atau Baldrige awards diresmikan oleh kongress Amerika di tahun 1987 dan mengambil nama Malcom Baldrige, sekretaris perdagangan Amerika yang ke 26. Penghargaan Baldrige diberikan kepada perusahaan atau organisasi dalam kategori Manufaktur, Usaha Kecil, Kesehatan dan Pendidikan dengan didasarkan pada keunggulan kinerja perusahaan atau organisasi. Namun baru di tahun 1999 kriteria kualitas pendidikan ini dipertandingkan untuk institusi pendidikan di Amerika.

Semenjak dibukanya kompetisi mutu Baldrige kategori Pendidikan di tahun 1999, tiga puluh tujuh organisasi pendidikan telah mengajukan diri sebagai kontestan penerima penghargaan. Namun baru di tahun 2001 tiga organisasi pendidikan dianggap layak menerima penghargaan Baldrige.

Seluruh kontestan melalui penilaian mutu yang ketat, dengan sekitar 300 s/d 1000 jam pemeriksaan serta tinjauan oleh dewan penguji independen. Ditahun 2002 kembali penghargaan untuk mutu pendidikan tidak diberikan karena dianggap tidak ada yang memenuhi syarat penilaian minimum untuk mendapatkan award. Di tahun 2003, satu institusi pendidikan berhasil mendapatkan penghargaan mutu yang bergensi ini.

Kriteria Baldrige yang merupakan dasar dari kajian diri organisasi, telah digunakan berbagai organisasi untuk ikut dalam kompetisi bergengsi di Amerika untuk mendapatkan penghargaan/award dibidang mutu. Selain itu kriteria Baldrige telah juga digunakan oleh banyak organisasi tidak hanya untuk ikut dalam kompetesi mutu namun untuk memberikan masukan kepada organisasi mengenai status kinerjanya.

Dengan adanya kriteria Baldrige yang dikompetisikan secara nasional di Amerika, tiga manfaat utama yang terlihat adalah:

1. membantu untuk meningkatkan kinerja organisasi secara praktek, kemampuan dan hasil capaian.
2. Untuk memfasilitasi komunikasi dan penyebaran praktek baik ke seluruh organisasi lainnya.
3. Sebagai perangkat kerja untuk memahami dan mengelola kinerja dan untuk mengarahkan perencanaan organisasi serta peluang untuk belajar.

Melihat perkembangan akan sistim mutu pendidikan yang telah berjalan baik di Amerika, maka gelombang adopsi sistem kualitas telah mampu memacu sistim pemantauan kualitas pada institusi pendidikan di berbagai tempat seperti new zealand dan australia dan beragam tempat lainnya. Di Indonesia kajian diri yang sistematis berdasarkan sistim pemantauan kualitas pada sekolah merupakan hal yang masih baru dan sangat jarang dilakukan secara sistematik. Padahal kualitas atau mutu merupakan sebuah prasyarat utama dalam menghadapi zaman yang penuh dengan kompetisi. Tanpa Mutu yang baik pada setiap produk atau jasa yang dihasilkan maka masyarakat atau pelanggan akan dengan cepat beralih menggunakan produk/jasa dari organisasi lainnya.

Pada sektor pendidikan, terciptanya mutu pendidikan yang baik merupakan cikal bakal terciptanya sumber daya manusia yang tangguh dan handal, yang akan mengelola negara ini. Bila kualitas pendidikan rendah maka akan mutu SDM juga akan rendah dan selanjutnya berimbas pada pola pengelolaan negara yang juga tidak baik.

Adanya Sistim akreditasi sekolah yang dilakukan oleh Badan Akreditasi Sekolah merupakan sebuah langkah yang baik, namun seringkali perolehan peringkat akreditasi merupakan target utama, bukan peningkatan mutu sekolah itu sendiri. Oleh karena itu sebuah pemantauan diri yang bermaksud untuk semata meningkatkan pendidikan perlu mendapat perhatian dari para pengelola sekolah sekolah di Indonesia.

Sistem kajian diri yang digunakan pada kompetisi mutu Baldrige untuk sekolah di Amerika merupakan sebuah standar yang sangat baik dan bisa diadopsi pada sekolah sekolah di Indonesia. Dibawah ini sekelumit mengenai kriteria dan proses kajian diri tersebut

Baldrige Award : Kriteria Pendidikan untuk Mencapai Target Kinerja Unggulan

Kriteria baldrige dibangun berdasarkan nilai nilai utama serta konsep yang terintegrasi dan saling terkait. Nilai dan konsep tersebut merupakan benang merah dari kepercayaan yang tertanam serta tingkah laku yang terlihat pada organisasi yang memiliki keunggulan kinerja. Nilai serta konsep tersebut adalah:

- Kepemimpinan yang memiliki visi
- Pendidikan yang memiliki orientasi pusat pembelajaran
- Organisasi dan pembelajaran individu
- Penilaian fakultas, staf akademis serta mitra kerja
- Agilitas
- terfokus ke masa depan
- pengelolaan inovasi
- pengelolaan berdasarkan fakta
- tanggung jawab sosial
- Fokus pada hasil dan penciptaan nilai
- Prespektif pada sistem bukan sektoral

Nilai dan konsep tersebut merupakan fondasi dalam mengintegrasikan persyaratan kunci pada sebuah kerangka kerja yang berorientasi pada hasil. Sehingga nantinya dapat digunakan untuk dasar kerja dan introspeksi masukan/feedback.

Kriteria Pendidikan Baldrige untuk tahun 2004 memastikan nilai utama serta konsep diatas dalam tujuh bagian kerangka kerja yang bisa diadaptasi sesuai kebutuhan tiap organisasi, termasuk pendidikan. Namun adaptasi ini tidak bermakna bahwa setiap persyaratan harus didekati dengan cara yang sama. Ketujuh kriteria tersebut adalah :

1. Kepemimpinan,
2. Perencanaan Strategis,
3. Siswa, Stakeholder, dan Fokus pasar
4. Pengukuran, Analisis dan manajemen pengetahuan
5. Fokus pada staff dan falkultas
6. Manajemen Proses
7. Hasil Kinerja Organisasi

Gambar dibawah menunjukkan korelasi antara ketujuh kriteria dengan profil organisasi sebagai atap dari kerangka kerja dan operasi.

Profil Organisasi

Profil organisasi (top of figure) menciptakan setting konteks untuk organisasi beroperasi. Lingkungan, hubungan kerja kunci serta tantangan strategis berperan sebagai payung petunjuk untuk sistem manajemen kinerja organisasi.

Sistem Kerja Operasi

Sistem kerja operasi yang terletak di tengah tengah gambar terdiri dari enam kategori baldrige yang menunjukkan kerja dan operasi organisasi dan hasil kinerja yang didapatkan.

Kepemimpinan (kategori 1), Rencana Strategis (kategori 2) dan siswa, stakeholder dan fokus pasar (kategori 3) mencerminkan segitiga kepemimpinan. Ketiga kategori ini digabungkan dalam satu segitiga untuk menekankan pentingnya pemimpin yang memiliki fokus pada stragei dan kepada siswa serta stakeholder. Pemimpin senior menyatakan kemana arah dari organisasi serta mencari peluang bagi organisasi di masa depan.

Fokus pada Fakultas dan staf pengajar (kategori 5), manajemen proses/sekolah (kategori 6) dan hasil kinerja organisasi (kategori 7) mencerminkan segitiga hasil. Sistim pengorganisasian pada fakultas serta staf pengajar dan pelaksanaan proses kunci adalah kegiatan utamaa organisasi untuk menghasilkan sebuah kinerja organisasi.

Seluruh kegiatan bermuara pada hasil kinerja organisasi, sebuah campuran kinerja yang menunjukkan kinerja siswa, stakeholder, finansial, serta kinerja operasional termasuk juga kinerja yang berhubungan dengan fakultas dan staf pengajar, pemerintah serta tanggung jawab sosial pada masyarakat. Panah horizontal menghubungkan segitiga kepemimpinan dengan segitiga hasil kinerja, dimana merupakan fakor krtitikal dalam kesuksesan organisasi. Lebih jauh lagi terdapat hubungan inti anatar kepemimpinan (kategori 1) dengan hasil kinerja organisasi (kategori 7). Anak panah bermata dua menunjukkan pentingnya feedback/masukan mengenai sistem manajemen kinerja yang efektif.

Fondasi dari sebuah sistem organisasi

Pengukuran, analisis dan manajemen pengetahuan (kategori 4) merupakan elemen yang kritikal terhadap sistem manajemen kinerja yang efektif dan terhadap basis fakta, sistem yang dikendalikan oleh pengetahuan untuk peningkatan kinerja. Pengukuran, analisis dan manajemen pengetahuan berperan sebagai landasan fondasi untuk kinerja sistem manajemen.

Kriteria Baldrige di bidang pendidikan di desain untuk membantu organisasi dalam menerapkan pendekatan terpadu untuk mengelola kinerja organisasi yang menghasilkan peningkatan nilai yang berkesinambungan kepada siswa dan pihak terkait (stakeholder), secara langsung memiliki kontribusi pada peningkatan mutu pendidikan sekaligus meningkatkan efektifitas, kemampuan organisasi dan pembelajaran individunya.

Bilamana sekolah telah memiliki data yang baik serta komplit maka prosesnya akan lebih sederhana menjadi sebagai berikut.

Penerapan konsep serta kriteria Malcolm Baldrige ini kemudian menjadi salah satu agenda yang perlu di sederhanakan dalam bentuk sebuah kode komputer, Create Fondation dalam hal ini mengadopsi dan menmperkaya konsep kualitas pendidikan dalam sebuah pake Aplikasi edutekh yang diberinama EDUQUAL. Tujuannya sederhana, beum sampai untuk ikut dalam lomba bergengsi Malcolm baldrige Award, tapi cukup sebagai kajian diri sejauh mana pendidikan kita telah bekerja menggapai mutu.

Kegiatan kajian diri ini akan menghasilkan dokumen sistim mutu pendidikan yang komprehensif berdasarkan 7 kriteria baldrige award. Serta penilaian dan masukan atas temuan kajian diri yang juga berdasarkan kriteria penilaian Baldrige award. Disamping itu luaran yang tidak ternilai adalah penguasaan proses kajian diri pada staf/tim yang dibentuk sekolah sehingga proses kajian diri nantinya akan dapat terus menerus dilaksanakan.

Nutrisi Sehat Variasi Bubur Susu

•Mei 19, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Written by Adi Baskoro

Air Susu Ibu (ASI) memang makanan utama bagi bayi. Namun, pada usia empat bulan ke atas, bayi membutuhkan makanan yang lebih padat sebagai pendamping ASI, karena meningkatnya kebutuhan gizi bayi untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuh dan otaknya. Maka, ibu harus memiliki pengetahuan yang cukup mengenai makanan berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan bayi.
Masa bayi adalah periode emas. Yaitu merupakan peluang orangtua untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan si buah hati. Hal ini, salah satunya dapat diwujudkan melalui pola asuh makan yang sehat, baik, dan benar. Bayi yang mendapatkan pola asuh makan yang tepat, pertumbuhan dan perkembangannya akan berjalan optimal.

Selain itu, saat bayi sudah membutuhkan makanan tambahan, orangtua sebaiknya memperkenalkan dengan beragam makanan yang tentunya harus sesuai dan diterima oleh sistem pencernaan bayi yang masih lemah. Sebab, kesukaan (preferensi) terhadap makanan perlu dibentuk sejak dini. Apabila tidak, anak akan bergantung kepada sedikit variasi makanan saja. Akibatnya, kelengkapan gizi anak tidak terpenuhi.

Di dalam buku “Variasi Bubur Susu; Untuk Usia 4 – 12 Bulan” ini, Dra. Mutiara Dahlia, M.Kes dan Dr. Ruslianti, M.Si menjelaskan dan memberikan arahan tentang makanan tambahan bagi bayi. Yaitu mencakup pemilihan bahan yang benar dengan kandungan zat vitamin dan mineralnya dari masing-masing jenis makanan, dan pengolahan makanan tambahan bayi dalam bentuk bubur susu. Juga dijelaskan tentang faktor makanan bagi pertumbuhan bayi, serta pertumbuhan dan perkembangan fisik bayi.

Variasi bubur yang disajikan dalam buku ini di antaranya, bubur susu pepaya apel, susu mangga pisang, susu avokat pisang, susu tomat pisang wortel, susu kentang wortel keju, susu kacang hijau pisang mangga, susu hunkwe keju, susu jagung manis kuning telur, susu beras merah hati ayam, susu beras merah ikan kakap, susu havermouth telur keju, susu ubi keju tuna, susu kacang kedelai ikan tuna keju, dan susu kedelai  labu keju.

Buku yang diterbitkan AgroMedia ini sangat tepat menjadi panduan, terutama bagi orangtua, pembuat makanan bayi, dan praktisi gizi dan kesehatan anak. Sehingga Anda bisa membuat bubur susu untuk bayi dengan berbagai variasinya secara mudah, dengan hasil yang baik dan tepat untuk perkembangan dan pertumbuhan bayi.

http://agromedia.net/index.php?option=com_content&task=view&id=198&Itemid=1

Budaya Jepang

•Mei 19, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Disiplin Waktu

Menghargai waktu sudah jadi bagian akidah dasar orang Jepang. Di Jepang, waktu tidak lagi diukur dengan ukuran bulan, minggu atau hari, tapi berdasarkan ukuran jam dan menit.

Ketika naik Shinkansen, panitia hanya memberi bekal waktu saja.”Pokoknya ustadz lihat jam saja. Begitu jam yang tertera di tiket itu sudah tiba, kereta pasti berhenti dan stasiunnya pasti benar”, begitu pesan mereka.

Dan benar saja, tepat pada waktunya, kereta memang berhenti. Tidak tahu stasiun ini apa namanya, pokoknya kereta berhenti pada jadwal di mana kami harus turun. Ya, sudah, turun saja. Dan benar sekali. Pas di pintu gerbong, panitia sudah menunggu. Hebat, jam di Jepang memang dibuat dari logam, tidak seperti di negeri kita, jam rata-rata dibuat dari karet, jadi bisa ditarik melar ke sana kemari.

Jalan Kaki atau Naik Sepeda

Mau bergaya naik mobil pribadi di Jepang?

Boleh-boleh saja. Tapi sebentar, di Tokyo jarang ada tempat parkir. Kalau pun ada, harganya mahal. Dan jangan coba-coba parkir sembarangan, atau melebihi batas maksimal waktu yang dibolehkan. Bisa-bisa mobil kita ditempeli surat oleh polisi.

Mau tahu dendanya? Ya, sekitar 1, 2 jutaan rupiah. Wah, lumayan juga ya. Itulah mengapa kita harus berpikir berkali-kali kalau mau beli mobil di Tokyo. Apalagi sudah ada subway yang jauh lebih murah, dinamis dan juga bisa mengkases semua wilayah di Tokyo.

Walhasil, apakah dia pejabat, direktur atau pun tukang sapu, kita lihat mereka pergi ke mana-mana jalan kaki atau naik subway. Tidak ada perbedaan apakah mereka kaya ataukah miskin, semua sama-sama antri, semua sama-sama berbagi di dalam kereta subway yang penuh sesat, tapi aman dan nyaman.

Justru buat kami sedikit problem, karena tidak biasa olahraga walau pun hanya jalan kaki. Melihat orang ke mana-mana jalan kaki, kayaknya orang Jepang itu tidak ada capeknya. Sementara kaki ini sudah lecet karena dibawa jalan kaki ke mana-mana. Dan jangan coba-coba cari tukang ojek di Tokyo, ditanggung tidak ada.

Wah untung tidak ada Zaenal Abidin, kalau dia ada pasti dibilang peluang bisnis tuh. Dibuka: peluang jadi tukang ojek di Tokyo.

Di Tokyo dan juga kota-kota lain di Jepang, jalan-jalan disediakan buat para pejalan kaki dan juga mereka yang bersepeda. Nah, khusus untuk bersepeda, memang terasa sangat nyaman. Kita tidak takut kesenggol mobil atau kendaraan bermotor lain. Karena telah dibuatkan jalan khusus.

Sudah irit tanpa bahan bakar bensin, juga badan jadi sehat. Sudah lazim di berbagai gedung terdapat parkir sepeda. Mulai dari orang kecil sampai orang besar, mereka biasa bersepeda.

Tidak Mau Mengambil Yang Bukan Haknya

Masyarakat Jepang mempunyai kebiasaan baik, yaitu melaporkan kepada polisi bila menemukan barang temuan atau barang hilang.

Heran, ini bukan negara Islam, tidak pernah berjargon syariah. Tapi implementasi syariah ternyata ada juga di Jepang. Yah, walau pun kita juga tidak bisa langsung bilang bahwa Jepang itu Islam. Sebab yang mabok juga banyak. Yang kumpul kebo juga tidak kurang.

Tapi urusan keamanan dan kejujuran, bisa diuji. Kalau ada orang kehilangan dompet di tempat umum, 90 – 100% kemungkinan dompet itu akan kembali kepada kita. Terutama bila ada kartu nama atau ID cardnya.

Mungkin karena sudah ditanamkan jujur sejak masih SD, tapi dipikir-pikir enggak juga ya. Di negeri kita, penanaman akhlaq dan budi pekerti serta kejujuran juga tidak kurang. Tapi herannya, kalau kita kehilangan dompet, meski sering juga kembali, tapi duitnya biasanya sudah raib.

Nah, bedanya dengan di Jepang, dompet itu kembali sendiri, masih lengkap dengan isinya, tidak kurang sedikit pun. Kita cukup lapor saja ke pos polisi terdekat. Biasanya, dompet itu malah sudah ada di kantor polisi itu. Ada orang jujur yang mau mengembalikan dompet itu ‘apa adanya’.

Pengalaman dulu isteri di Jakarta kehilangan dompet, fungsinya laporan ke polisi hanya sekedar dapat surat keterangan kehilangan. “Lha wong saya saja kehilangan motor, pak”, begitu kata polisinya. “Makanya hati-hati kalau bawa dompet, bu”, tambah pak polisi.

Iya ya, ngapain lapor polisi, kalau polisinya saja kehilangan motor. Lalu bagaimana beliau-beliau mau nyari dompet kita? Waduh, memang serba salah hidup di negara kita sendiri.

Senyap, Hobi Baca Sedikit Ngobrol

Salah satu kebiasaan masyarakat di Jepang yang kami perhatikan adalah mereka sangat menghargai kesenyapan, jauh dari kebisingan. Jarang kami dapati orang Jepang ngobrol tertawa-tawa di tempat umum, hingga mengganggu orang lain.

Ketika kami masuk ke sebuah warung makan Pakistan, barulah aroma berisik ngobrol terasa, karena ada beberapa orang Pakistan yang lagi makan. Mereka bisa sambil makan sambil ngobrol dan berisik. Sesuatu yang tidak terjadi pada orang Jepang.

Satu hal lagi yang juga tidak luput dari pengamatan kami, orang Jepang ini rata-rata pada hobi membaca. Di semua tempat, termasuk di dalam subway, mereka selalu pegang bacaan, entah buku atau pun koran. Atau kalau tidak, mereka sibuk menunduk memencet-mencet tombol HP. Tapi tidak bertelepon, mungkin lagi SMS atau malah membaca e-book.

Pemandangan ini agak berbeda dengan di negeri kita. Di dalam bus kota, kebisingan sangat kentara. Belum kondektur yang teriak-teriak, orang-orang yang ngobrol ngalor ngidul ke sana kemari. Bahkan masih diberisiki lagi dengan tukang ngamen yang tidak pernah ada hentinya.

Kebisingan sudah jadi bagian dari akidah hidup kita rupanya. Sesuatu yang kita tidak temukan di tempat umum di Tokyo. Masing-masing saling menjaga hak privasi orang lain, terutama dalam masalah kebisingan.

Menghargai Tenaga Manusia

Di Jepang, hampir semua tenaga kerja dibayar mahal. Pak Endrianto mengatakan bahwa kalau mau saja, seseorang boleh bekerja part-time dan dibayar dengan upah yang bisa buat berlibur ke pulau Bali.

“Oh, jadi turis-turis Jepang yang rajin ke Bali itu, boleh jadi di Jepang cuma tukang sampah atau cleaning service, ya?”, tanya kami. “Benar sekali, apalagi Garuda punya harga yang sangat menarik, maka penerbangan Tokyo Denpasar cukup diminati”, jawab beliau. “Dan cukup dari upah kerja kasar saja”, tambahnya.

Yang menarik, perbedaan nilai gaji pegawai rendahan atau kuli bangunan dengan pejabat tinggi tidak terlalu terpaut jauh. Sehingga jarang terjadi demo buruh di negeri ini. Semua kebutuhan buruh terpenuhi dengan cukup.

Wah, berarti kalau bikin partai yang mengusung agenda membela wong cilik, bisa-bisa tidak laku nih di Jepang. Sebab boleh dibilang tidak ada wong cilik di Jepang. Yang ada hanyalah wong cilik tapi bergaji gede. Maka sudah tidak lagi disebut wong cilik.

Budaya Malu

Orang punya budaya malu yang tinggi. Dan positifnya, kalau ada pejabat yang gagal dalam memegang amanah, tidak segan-segan mereka mengundurkan diri. Rasa malu mereka itulah yang mendorong mereka mundur.

Bagaimana dengan Indonesia? Adakah budaya malu yang sampai membuat seorang pejabat mundur dari jabatannya?

Entahlah kalau kita buka-buka sejarah. Tapi sekarang ini nyaris tidak ada. Bagaimana mau mundur, lha wong jabatan itu didapat dengan susah payah ditambah susah tidur, kok mundur?

Nanti penyandang dana kecewa. Sebab rata-rata para pejabat di negeri kita ini didanai oleh para penyandang dana alias supporter, ketika pilkada atau pemilu. Kalau hanya karena kegagalan lalu mengundurkan diri, sementara uang jarahan belum memenuhi pundi-pundi, bisa-bisa para cukongnya marah.

Jadi budaya malu lalu mengundurkan diri tidak sesuai dengan prinsip ekonomi yang berakidah: mendapat keuntungan yang sebesar-besarnya dengan pengeluaran yang sekecil-kecilnya. Dan jabatan adalah sumber penghasilan, tidak ada kamus malu. Yang ada hanya satu, maju terus menghadapi semua rintahan. Maju tak gentar membela yang bayar. Hehehe, sangat Indonesiawi.

Salam dan Sapaan

Mengucapkan salam adalah salah satu ciri masyarakat Jepang. Bahkan termasuk juga ciri polisi Jepang. Tidak jarang polisi lah yang lebih dulu menyapa anggota masyarakat.

Beda banget dengan di negara kita. Semua pengendara kendaraan bermotor kalau lihat polisi kumpul di pinggir jalan, pasti berdesir darahnya. Sebab polisi di negeri kita identik dengan ‘masalah’. Sudah tampangnya serem, eh suka minta duit pula.

Di Jepang, perilaku suka menyapa dengan ramah ini berdampak positif pada citra profesi kepolisian. Menyapa atau mengucapkan salam sudah ditanamkan sejak dini pula, sewaktu mereka menjalani pendidikan. Siswa calon polisi dilatih untuk secara terjadwal berjaga di pos pada saat-saat jam sibuk, yaitu pagi, siang dan sore hari. Mereka diwajibkan menyapa setiap warga yang lewat di depan pos tersebut.

Kalau di Indonesia, seandainya ada polisi menyapa kita di jalan, pasti kita sudah bilang, “Pak s..ss..ssaya salah apa pah, ah..eh..anu…bbbuu bukan saya malingnya, p..pak.” Suka tidak suka, memang begitulah yang terjadi di negeri kita. Sudah terlanjur kita ketakutan duluan lihat polisi. Gawat.

Jangan-jangan salah satu kegagalan pak Adang Daradjatun dalam pilkada Jakarta justru karena sulit mengubah citra pak polisi ini. Di tengah masyarakat kita ini, citra polisi nyatanya memang masih terlalu berat untuk diangkat. Buktinya, pak Adang kalah dan tidak terpilih. Jangan-jangan orang masih trauma dengan sosok polisi kita.

Selalu Minta Maaf dan Terima Kasih

Kalau sering lihat film-film ninja, kesan bahwa orang Jepang itu angker, angkuh, dingin dan kasar memang bisa terbentuk. Padahal sebetulnya orang Jepang itu tentu tidak semuanya ninja.

Yang kami dapati malah sebaliknya, orang Jepang justru sangat ramah dan kalau terjadi apa-apa, mereka lebih dahulu minta maaf.

Contoh sederhana, kalau di jalan kita tersenggol dengan sesama pejalan kaki, maka spontan akan meluncur dari mulut mereka permintaan maaf. Meski pun bukan kesalahan mereka: suimasen…suimasen (maaf…maaf…).

Kalimat lain yang paling sering kami dengar adalah ucapan terima kasih. Kalau tidak salah dengar mereka mengucapkan arigato gozaimasu (betul nggak ya tulisannya?). Tapi percayalah, itulah kalimat yang paling sering kami dengar selama beberapa hari di Jepang.

Pramugari di Sinkansen itu kalau memeriksa tiket, membungkuknya sangat dalam, bahkan ketika menyerahkan tiket yang sudah mereka periksa, bukan hanya membungkuk, tapi kakinya pun mereka tekuk, seperti orang mau berjongkok. Wah, ini sih lebih sopan dari puteri-puteri Keraton di Yogya dan Solo.

Tertib Ketika Antri

Namanya kota besar, pasti semua harus antri. Tapi yang menarik dari antrian yang di Jepang, semua berjalan dengan tertib. Tidak ada saling sodok, saling sikut dan saling dorong.

Termasuk saat antri masuk ke subway. Meski sudah sangat padat dan petugas terpaksa harus mendorong penumpang biar bisa masuk ke dalam gerbong, tapi yang belum kebagian tetap rela antri dengan manis.

Kesabaran orang Jepang dalam hal antri ini jarang kita temui di negeri kita. Bisa-bisanya mereka berdiri berjejer rapi, meski tidak ada pembatas. Mungkin sudah ‘bawaan orok’ kali ya.

Wah, seandainya di Timur Tengah orang-orang bisa seperti ini, mungkin asyik kali ya. Kenyataannya, orang Arab malah lebih parah. Pernahkah anda antri mencium Hajar Aswad di Ka’bah? Pasti semrawut dan saling dorong terjadi.

*http://www.eramuslim.com

Kalimat Motivasi untuk bangun dan bangkit

•Mei 19, 2008 • & Komentar

Written by Krishnamurti on 7 January 2008 – 12:00 am – 3296 views

1. Aku dilahirkan untuk menjadi PEMENANG.

Keyakinan pertama yang harus aku miliki sebagai anak manusia adalah keyakinan bahwa aku dilahirkan untuk menjadi Pemenang. Aku percaya bahwa tidak mungkin Allah menciptakan aku ke dunia ini, tanpa alasan apapun. Tidak mungkin! Pasti ada alasannya, bukan? (tarik nafas perlahan sebentar)

Nah, jika aku berani lahir, maka aku juga haruslah berani mati (karena aku pasti mati, bukan? He..he..) Lalu, sekarang mati seperti apa yang aku inginkan? (tarik dan tahan nafas yang lama…) Duh, sereeem banget sih pertanyaannya. Iya dong, sekali-sekali serius ah! Baiklah, sekarang pilihan aku sebagai manusia yang hidup, yang masih bernafas, yang masih beredetak jantungnya, hanya tersisa satu pilihan saja, bukan? Yakni aku ingin mati sebagai apa? Ingin dikenang sebagai siapa?

Karena aku yakin bahwa aku dilahirkan untuk menjadi Pemenang, sudah sebaiknya pula aku memilih mati minimal sebagai pemenang. Pemenang seperti apa, itu persoalan lain. Yang penting pilihannya adalah kembali ke Sang Khalik sebagai seorang pemenang. Gak malu-maluin yang “nyiptain”, gitu lho! Orang Sunda bilang: “Tong Ngerakeun”.

Lalu, setelah sadar bahwa aku dilahirkan untuk menjadi Pemenang, berarti aku sekarang harus bangun dari biusnya si tidur. Oke, setelah bangun bukankah diperlukan kekuatan, diperlukan keberanian, diperlukan…? Ya,…

2. Memang diperlukan keberanian untuk melangkah maju ke depan. Namun, bagaimana berani (tahan nafas sebentar) kalau aku tetap diam di tempat?

Betul juga ya. Baiklah aku segera berdiri dan mulai melangkah. Langkah pertama, langkah kedua dan langkah ketiga, tapi oh..oh.. lihat apa yang ada di

depan jalan. Ah, kayaknya agak mendung, agak redup, agak berkelok, agak licin. Ehm, bisa-bisa terpeleset, tergelincir, bahkan terpental saat di

perjalanan? Ya, bisa saja. Namun, aku yakin akan pesan nenekku…

3. Daripada hanya berdiam diri… Melangkah dan mungkin tergelincir (tahan nafas sebentar) adalah pilihan yang jauh lebih baik! (tahan nafas sebentar) Ada banyak pelajaran di sana…

Masak sih? Apakah benar dengan tergelincir aku malahan belajar? Betul, bila aku bisa merasakan sakitnya tergelincir, maka pasti aku akan menghindari

berbuat kesalahan yang sama. Akupun akan mencari ide-ide lain yang lebih baik, lebih tepat guna, lebih kreatif, lebih produktif dan sebagainya.

Kesalahan yang terbesar adalah aku tidak pernah melakukan sesuatu, bahkan mencobanyapun “gak” pernah, malah pikiran aku sering “merancang” imajinasi rasa sakit yang belum tentu terjadi dari sebuah kesalahan atau kekeliruan di masa mendatang. Astaga, ngeri sekali bukan? Karena aku merancang ketakutan, maka seringkali aku hanya berdiam diri. Namun aku sebenarnya percaya bahwa… (baca kalimat berikut ini dengan sangat keras!!!)

4. Orang yang berani bangkit dan belajar dari kegagalan adalah PEMENANG SEJATI!

Huh, lumayan kalimat motivasi ini ya. Cukup kuat dampaknya untuk membangkitkan semangat paling dalam dari diriku. Di dunia ini banyak sekali cerita orang yang pernah mengalami kegagalan dan setelah itu tidak ada lagi ceritanya. Apakah aku mau seperti mereka? Habis terbit, kena awan gelap dan menghilang tanpa bekas? Gone with the wind…

Ah, aku kan bisa punya pilihan lain. Aku ingin jadi pemenang atas diriku sendiri. Cerita kehidupan yang hanya bisa dibagikan adalah cerita

kebangkitan, bukan cerita kegagalan. Wah, jika aku tidak pernah bangkit, maka habislah pula cerita hidupku. Percuma dong aku dilahirkan. Baik,

baiklah dan baiklah! (silahkan teriak dalam hati he..he..) Sekarang aku tanamkan dalam benak aku bahwa aku HARUS bangkit, kapanpun saat aku mengalami apa yang disebut orang lain adalah kegagalan. Karena aku yakin dan percaya bahwa…

5. Apa pun SAYA BISA jika saya mau!

Kuncinya adalah kemauan, bukan kemampuan. Orang yang memiliki kemampuan, jika tidak ada kemauan, bagaikan mayat hidup yang tidak tahu mau kemana. Gak bedanya dengan hidup luntang lantung, gak ada tenaga, gak ada semangat, gak ada spirit, gak nafsu deh hidup kayak gitu. Hidup ini adalah pilihan, kok. Aku bisa memilih sedih (hening 3 detik) , aku bisa memilih senang (hening 2 detik). Aku bisa memilih marah (hening 1 detik) dan aku bisa memilih tenaaang. Nah, jika…

6. Hidup ini adalah pilihan. Aku memilih menjadi orang yang bahagia ….

Aku tahu memang sebuah pilihan yang tidaklah mudah, namun aku harus mulai belajar berani memilih dan memutuskan kemana arah hidupku. Apa pilihan

hidupku? Akulah yang harus menentukan arah jalan hidupku. Akulah yang menentukan titiknya… Besar titiknya… Warna titiknya… Bunyi titiknya… Rasa titiknya… Sinar titiknya… Sinar biasa atau sinar sebuah BERLIAN? Kecil bentuknya (tahan nafas sebentar, lalu katakan dengan keyakinan kuat), namun silau sinarnya. Kekuatan silau sinar berlianlah yang membuat aku tidak mungkin kehilangan arah. Walau disekitarku kadang mendung, kadang redup, kadang gelap. Karena…

7. Semakin aku fokus pada impianku. Semakin cepat aku mencapai impianku.

Fokus menghasilkan energi yang besar, bahkan semakin lama semakin dahsyat. Fokus membuatku bersemangat, berenergi, berkeringat, tetap panas karena membantu aku untuk selalu bergerak. Bergerak melangkah, bergerak lari, bergerak ke arah silau sinar berlian yang memimpinku. Karena fokus, maka apapun situasi disekitarku, tidak akan membuatku terganggu. Jalan yang berkelokpun, kujalani…. Jalan macetpun, kunikmati… Jalan berbatupun, kelewati… Jalan terhalangpun, kulampaui… Karena arah fokusku jelas, arah menuju sinar berlian, sinar tujuan hidupku… Silau namun indah. Maka, aku tidak akan pernah menunggu situasi. Dan sebaiknya…

8. Berhentilah menunggu kondisi membaik. LAKUKAN SESUATU agar kondisi membaik.

Itulah motto hidupku. Banyak hal diluar jangkauan kemampuanku, keadaan alam semesta, keadaan negara, keadaan masyarakat dimana aku berada. Buat apa aku fokus pada sesuatu diluar kendaliku. Lebih baik aku fokus pada sesuatu yang bisa aku kendalikan, bukan? Sesuatu yang bisa aku jangkau, sesuatu yang bisa aku buat lebih baik. Jadi aku pikir, sebaiknya aku fokus saja pada karya. Ya, berkarya, berkarya dan berkarya…

Sekarang setelah aku sadar, aku bangun, aku bangkit dan aku berkarya, aku fokus pada karyaku, maka selanjutnya…

9. Aku bekerja dengan sungguh-sungguh. Aku berdoa dengan sungguh-sungguh.

Selanjutnya, biarlah Tuhan yang menentukan. (Florence Griffit Joyner)

(Sekarang katakan dalam hati dengan rasa keyakinan yang kuat) BENDERA SUDAH DIKIBARKAN.

(lebih perkuat lagi rasa keyakinan Anda) MAKA KIBARKANLAH SETINGGI MUNGKIN.

(tingkatkan rasa keyakinan Anda sekuat-kuatnya) KIBARKANLAH BENDERA KEMENANGAN KEPADA KEHIDUPAN.

KEHIDUPAN YANG BERHIKMAH.

Ada apa dibalik Pejabat Perhubungan – Regulasi – Bisnis Penerbangan

•Mei 19, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Bertenggernya harga minyak mentah dunia pada titik tertinggi dalam
sejarah, dan kasus subprime mortgage di AS yang disinyalir memicu
goyahnya ekonomi AS, kedua hal tersebut dianggap sebagai indikator
pemicu krisis global. Sebagai pihak yang diuntungkan adalah
negara-negara pengekspor minyak dunia, sementara pihak yang harus
menanggung beban yakni negara pengguna bahan bakar minyak, yang
notabene adalah negara-negara sedang berkembang. Walaupun Indonesia
memiliki banyak tempat-tempat yang menyimpan cadangan minyak, namun
sampai saat ini negeri ini belum bisa mencukupi hajat hidup warga
negara atas suplai minyak, sehingga secara langsung tetap terimbas
oleh harga minyak mentah dunia yang diatas angin. Hal ini menyebabkan
anggaran perencanaan belanja negara selalu mengalami revisi seiring
volatilitas harga minyak dunia. Baru-baru ini dengan adanya rencana
pemerintah menaikkan harga BBM memicu kegelisahan terutama
industri-industri manufaktur yang menyebabkan terancamnya keberadaan
para karyawannya dari pemutusan hubungan kerja. Sehingga peran pelaku
usaha sangat diharapkan posisinya dalam keterkaitan dengan kondisi
pemerintah yang merencanakan menaikkan harga BBM dalam waktu dekat ini.

Melihat kondisi saat ini, seandainya harga bahan bakar jadi naik,
otomatis akan mengimbas ke semua lini industri, sehingga pelaku usaha
akan terasa berat dalam membantu membuka lapangan kerja baru
setidaknya bertahan dengan kondisi yang ada. Dengan mengaca kondisi
itu, proaktif pemerintah dalam memacu iklim yang kondusif pada sektor
bisnis akan sangat membantu pelaku usaha menjalani bisnisnya, sehingga
memungkinkan tetap menyerap tenaga kerja baru, setidaknya
mempertahankan karyawannya yang sudah ada. Kondisi proaktif pemerintah
untuk mensupport pelaku usaha jauh dari terasa sebagai sebuah
dukungan, seperti komentar Direktur Angkutan Udara Departemen
Perhubungan Tri Sunoko yang dilansir oleh Kompas.com mengatakan “Saya
merasa pesimis Lorena bisa terbang 6 Juni”. Pernyataan semacam itu
seyogyanya tidak dilontarkan oleh seorang pejabat, mengingat lontaran
tersebut akan membuat calon pengguna jasa Lorena Air berpolemik benar
tidaknya Lorena jadi terbang perdana pada 6 Juni, dan juga berdampak
negatif pada image pada perusahaan yang berencana terbang perdana.

Ekspansi perusahaan seperti apa yang dilakukan oleh grup bisnis
transportasi Lorena, yang selama ini dikenal orang berkecimpung dalam
transportasi bus dan logistik. Saat ini Lorena merambah `bisnis
penerbangan’ dengan rencananya memulai bisnis transportasi udara
dengan dimulai dengan bendera Lorena Air. Menjelang datangnya bisnis
pesawat ini seyogyanya disambut positif mengingat hal ini berpotensi
terjadi penyerapan tenaga kerja baru, disamping meningkatkan jasa
transportasi udara. Bisnis pesawat ini sudah direncanakan beberapa
tahun sebelumnya, sehingga kesiapan dalam bisnis transportasi udara
ini sekiranya sudah dipersiapkan dengan matang. Beberapa bulan
menjelang kedatangan pesawat Lorena Air, berbagai prosedur dan
bermacam regulasi dari pemerintah sudah selayaknya dipenuhi oleh
pelaku usaha. Tidak bisa dipungkiri bahwa dunia penerbangan nasional
beberapa tahun ke belakang dirundung beberapa peristiwa kecelakaan
pesawat yang banyak menimbulkan korban sia-sia. Mulai disebabkan oleh
kesalahan teknis sampai human error. Nah, disinilah peran pemerintah
dituntut membuat regulasi tegas terhadap bisnis transportasi udara
untuk meminimalisir kemungkinan- kemungkinan kecelakaan yang bisa
ditimbulkan. Anehnya, `kesalahan-kesalaha n terjadi berulang’ dengan
masalah yang tidak jauh berbeda.

Bercermin kondisi di atas, pihak departemen perhubungan dalam hal ini
seorang pejabat perhubungan berperan sangat penting mengingat penentu
kebijakan terhadap operator-operator pesawat di tanah air ada ditangan
mereka. Maju mundurnya dunia penerbangan di dalam negeri ini salah
faktor penentunya adalah sistem dan kebijakan para elite di departemen
perhubungan udara. Mengutip pernyataan direktur angkutan udara
tersebut dikatakan “Mungkin lampiran (rencana rute dalam SIUP) itu
sudah dianggap sebagai izin operasi. Padahal masih perlu perizinan
lainnya”. Dirjen perhubungan udara terkesan tidak mendorong agar
segera direalisasikannya launching terbang perdana LorenaAir dimana
dunia penerbangan dalam negeri tidak sepadat transportasi darat, namun
yang ada malah kecenderungan menganggap sebelah mata terhadap pemain
baru bisnis pesawat ini yang nampak pada pernyataan di atas.

Pemberitaan Bisnis Indonesia, Senin 05 Mei 2008, bahwa Indonesia
National Air Carriers Association (INACA) mempertanyakan kebijakan
Departemen Pehubungan menawari secara khusus tujuh maskapai untuk
mengambil alih 25 rute milik AdamAir. Pemberintaan tersebut memberi
kesan Dephub pilih-pilih memberi kesempatan perusahaan penerbangan
untuk mengambil alih rute itu. Hal ini menimbulkan pertanyaan ada apa
dibalik semua aturan itu. Ini dikhawatirkan para pemilik modal bisnis
penerbangan ikut mengambil peran dalam semua regulasi yang ada.
Sehingga impian penerbangan untuk menerbangi rute-rute penerbangan
internasional akan menjadi impian belaka. Seiring terus ditetapkannya
larangan terbang ke eropa oleh Uni Eropa, penerbangan dalam negeri
terkesan enggan beranjak dari kondisi yang ada untuk menuju
peningkatan keselamatan dan pelayanannya.

Saat ini, direktur angkutan udara Departemen Perhubungan dijabat oleh
Tri Sunoko, sementara jabatan Direktur Jenderal Perhubungan Udara ada
pada Budhi Mulyawan Suyitno. Penilaian atas kelambanan Dirhubud dalam
menangani masalah transportasi udara nasional sampai dilontarkan oleh
seorang presiden. Perlu ditilik kembali, apa yang salah dengan kondisi
penerbangan dalam negeri. Apakah kondisi pelaku bisnis yang enggan
bersaing meningkatkan pelayanan terbaik, ataukah pimpinan pemegang
otorita regulasi penerbangan yang tidak ingin penerbangan dalam negeri
menjadi lebih baik.
Perilaku elite Departemen Perhubungan juga menjadi sorotan, yang
seharusnya menempatkan kepentingan umum sebagai prioritas namun
sebaliknya mengabaikannya, seperti pemberitaan media Sinar Harapan,
Jumat (27/7/07), dikatakan bahwa ketika diundang oleh Uni Eropa
bersamaan dengan diselenggarakannya Paris Air Show di Paris, Perancis,
Dirjen Perhubungan Udara Budhi Mulyawan Suyitno beserta staf justru
menghadiri penandatanganan kontrak pembelian pesawat antara Lion Air
dengan Boeing dan Mandala Airlines dengan Airbus Industrie, mengingat
perusahaan itu bukan perusahaan BUMN dan transaksi jual beli tersebut
adalah murni urusan internal perusahaan itu. Merupakan pertanyaan
besar ketika seorang pejabat memasuki area bisnis perusahaan tertentu
yang bukan kewenangannya. Ini berpotensi terhadap netralitas regulator
dalam menentukan kebijakannya terhadap para operator penerbangan.

jiwa_indonesia@yahoo.com

Simpul Untuk Keadilan dan Demokrasi

•Mei 19, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

TIRTO ADHI SOERJO: PELOPOR KEBANGKITAN NASIONAL

Oleh Akbar T Arief *

Jangan sekali-kali melupakan sejarah (Jas Merah).” Itulah kata-kata yang sering yang diucapkan Bung Karno pada setiap kesempatan pidatonya. Namun, pada masa pemerintahan Soeharto, terjadi banyak distorsi terhadap sejarah Indonesia. Sejarah yang dimunculkan Orde Baru sangat jauh dari kenyataan yang sesungguhnya. Termasuk sejarah kebangkitan pergerakan nasional.

Dalam buku-buku sejarah Indonesia yang diajarkan di bangku sekolah, nama Tirto Adhi Soerjo tidak pernah diterangkan peranannya dalam kebangkitan pergerakan Nasional. Sejarah tersebut terpendam dan terkubur dalam-dalam di ingatan masyarakat Indonesia selama puluhan tahun. Kita bersyukur mempunyai sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Di tangannya, sejarah Indonesia mulai muncul ke permukaan dan mendapatkan tempat di mata sejarawan Indonesia dan Indonesianis lainnya. Lewat karyanya, Tetralogi Buru dan Sang Pemula, sejarah tentang kebangkitan nasional mulai terkuak ke permukaan.

Jika kita baca lagi karya Pram, Tetralogi dan Sang Pemula – ada satu hal yang selama ini dilupakan oleh masyarakat Indonesia tentang pelopor kebangkitan. Adalah Tirto Adhi Soerjo, Sang Pemula yang memolopori kebangkitan nasional. Dengan media cetak, Tirto berhasil membangkitan semangat perlawanan rakyat nusantara. Sarekat Priyayi adalah organisasi pertama – bukan Budi Utomo – yang menjadi peletak dasar kesadaran rakyat nusantara akan pentingnya persatuan. Dan “Desa Pasircabe” sebagai tempat percobaan semangat persatuan dan kolektivitas.

Siapakah Tirto?

Tirto Adhi Soerjo, salah satu tokoh pergerakan pada awal kebangkitan nasional Indonesia. Namanya sempat tenggelam dan ter (di) lupakan sejarah. Tidak banyak masyarakat Indonesia yang mengerti betul jejak langkah dan peranannya pada masa kebangkitan pergerakan. Bahkan orang hanya mengenal dia sebagai tokoh pers Nasional. Padahal, jika dibuka dan dilihat lagi lembaran sejarah, Djokomono tidak sekedar tokoh pers tetapi pelopor pergerakan. Dia berhasil membangkitkan semangat perlawanan rakyat Indonesia yang terjajah ratusan tahun dengan alat yang lebih modern yaitu organisasi.

Raden Mas ‘Djokomono’ Tirto Adhi Soerjo (Blora, 1880-1918) adalah seorang tokoh pers dan pelopor kebangkitan nasional Indonesia, dikenal juga sebagai perintis persuratkabaran dan kewartawanan nasional Indonesia. Tirto berasal dari keluarga bangsawan dan keturunan langsung Pangeran Sambernyowo (Mangkunegara I). Meskipun Tirto berasal dari keluarga ningrat tetapi cita-cita kemerdekaan melekat dalam dirinya. Segala sumber daya yang dia miliki dicurahkan untuk memajukan bangsanya.

Peranan yang dimainkan Tirto pada awal pergerakan nasional memberi inspirasi bagi pembentukan identitas kebangsaan selanjutnya. Tirto adalah orang pertama yang menggunakan surat kabar sebagai alat propaganda dan pembentuk pendapat umum. Dia juga berani menulis kecaman-kecaman pedas terhadap pemerintahan kolonial Belanda pada masa itu. Tirto Adhi Soerjo juga mendapat tempat yang banyak pula dalam laporan-laporan pejabat-pejabat Hindia Belanda, terutama laporan Dr. Rinkes.

Jejak Langkah Tirto Dalam Kebangkitan Nasional

Dalam kata pengantar buku Sang Pemula, Muhidin M. Dahlan mengatakan bahwa sebagai orang yang tersadarkan akan nasib bangsanya, Tirto terjun langsung mendidik masyarakat dengan pergerakan. Dengan semangat yang menggebu-gebu, ia sisihkan kepentingan dan kesenangan diri pribadinya; semua perhatian ia curahkan untuk mengorganisir masyarakat. Usahanya yang gigih ini membuah hasil berupa lahirnya Sarikat Priyayi (SP) pada tahun 1904.

Lebih lanjut, Muhidin menulis bahwa Sarikat Priyayi merupakan organisasi pergerakan pertama yang bercorak modern. SP inilah yang menjadi perintis pergerakan yang membawa setumpuk proposal awal kebangkitan kesadaran nasional dan bukannya Budi Utomo (BU). Dibandingkan dengan Budi Utomo, semangat dan wawasan SP jauh lebih. BU merupakan organisasi kesukuan sedangkan SP tidak, karena BU menggunakan bahasa Jawa dan Belanda sebagai bahasa pengantar organisasinya sedangkan SP lebih berwawasan nasional, yaitu tidak membatasi organisasinya pada paham kesukuan, menggunakan lingua-franca sebagai “bahasa bangsa-bangsa yang terperintah”.

Dari sini dapat dilihat bahwa gagasan tentang persatuan dan nasionalisme sudah muncul sebelum berdirinya Budi Utomo walaupun nasionalismenya masih berbentuk tunas. Pada zamannya, Tirto mulai membangkitkan kesadaran persatuan rakyat lewat usaha ekonomi. Di desa Pasircabe, Tirto menghimpun dan menggerakkan masyarakat dengan usaha produksi. Dari sini dia menyadari bahwa rakyat Hindia Belanda – sebagai bangsa terperintah – mampu dipersatukan oleh kepentingan bersama, yaitu melawan pemerintah kolonial Belanda.

Usaha Tirto untuk mempersatukan rakyat tidak berhenti sampai di sini. Pada tahun 1906 dengan usahanya yang gigih, sebuah organisasi yang mempunyai wawasan kebangsaan terbentuk. Cita-cita untuk mempersatukan bangsa termanifeskan dalam perhimpunan Sarikat Priyayi. Namun, harapan untuk menyatukan bangsanya lewat perhimpunan Sarikat Priyayi ternyata berakhir dengan kegagalan. Cita-cita Tirto untuk memajukan bangsa tidak dapat dipahami secara penuh oleh kawan-kawan seorganisasinya. Meskipun SP belum bisa membuktikan dirinya sebagai tali pengikat persatuan bangsa tapi SP sudah menjadi peletak dasar kebangkitan kesadaran persatuan.

Hancurnya SP tidak membuat Tirto berhenti untuk memajukan bangsanya. Dia tetap melakukan usahanya untuk membangkitkan kesadaran bangsanya – kesadaran untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Pada tehun 1907 dia mendirikan Medan Priyayi (MP). MP inilah yang kemudian dijadikan Tirto sebagai alat untuk memajukan bangsanya. Keluhan-keluhan dan penderitaan yang dialami oleh rakyat bangsanya disuarakan lewat MP. MP sebagai alat memajukan dan mempersatukan bangsa pada proses perjalanan dapat membuahkan hasil. Pada kasus perseteruannya dengan Aspiran Kontrolir Purworejo, A. Simon, Tirto berhasil menggerakkan petani Bapangan untuk menuntut hak-haknya. Bahkan dengan usahanya tersebut, Gubernur Jendral J. B Van Heustz menaruh simpati pada Tirto karena mampu membangkitkan kesadaran penduduk Bapangan untuk melawan aparat birokrasi yang bertindak sewenang-wanang.

Usaha Tirto membangkitkan kesadaran bangsanya lewat alat yang lebih modern dapat dilihat sebagai kesadaran maju bagi bangkitnya gerakan pembebasan. Takashi Shiraishi melihat Tirto sebagai archetype pemimpin pergerakan dekade berikutnya dan bumiputera pertama menggerakan ”bangsa”melalui bahasanya, yaitu bahasa yang ditulisnya dalam Medan Priyayi. Lewat bahasanya itulah semangat persatuan dan kesadaran pembebasan mulai terbentuk.

Tidak puas dengan usahanya memajukan bangsanya lewat media jurnalistik, pada tahun 1909 Tirto mendirikan organisasi pergerakan yang sepanjang sejarah Indonesia sangat terkenal yaitu Sarikat Dagang Islamiah (SDI). SDI berdiri sebagai antitesa Sarikat Priyayi dan Budi Utomo yang tidak bisa merangkul semua golongan yang ada di Hindia Belanda. Pramoedya mengatakan bahwa landasan berdirinya SDI adalah mereka yang dinamai ”Kaum Mardika”, terjemahan dari Belanda ”Vrije Burgers,” yaitu mereka yang mendapatkan penghidupannya bukan dari pengabdian pada Gubermen: golongan menengah yang terdiri dari pedagang, petani, pekerja, tukang, peladang, sedangkan unsur pengikatnya adalah Islam. SDI kemudian berkembang pesat dan menjadi salah satu organisasi pergerakan diawal abad XX.

Dari jejak langkah Tirto di atas, kita sebagai bangsa yang peduli sejarah harus merenungkan kembali tentang pelopor kebangkitan nasional Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak perlu takut untuk mempertanyakan sesuatu yang sudah mapan. Kita harus mulai jujur pada sejarah semenjak dalam pikiran. Karena sejarah dapat memberikan pelajaran dan pondasi pembangunan bangsa ke depannya.

Ujian Nasional Penentu Kelulusan?

•Mei 17, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Berbicara mengenai Ujian Nasional (UN) tampaknya tak akan pernah membosankan. Apalagi mulai tahun ini juga digelar UN untuk jenjang SD dengan tajuk ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN).

Di tengah polemik UN yang pasang surut menerpa pemerintah maju tak gentar menggelar UN. Untuk menghadapi UN seperti tahun-tahun sebelumnya program pengayaan pun diselenggarakan pihak sekolah melalui penambahan jam pelajaran. Bahkan tak ketinggalan menggandeng lembaga bimbingan belajar agar para siswanya sukses UN.

Pola menghadapi UN seperti itu tentu saja bukan lagi mengejutkan. Setiap tahun selalu ditemukan pola-pola serupa yang dilakukan pihak sekolah. Perbedaannya, apa yang sering dilakukan pihak sekolah pada jenjang SMP/sederajat dan SMA/sederajat itu kini juga diikuti sekolah-sekolah di jenjang SD.

Terkait dengan pergelaran UN memang pro kontra diakui terus muncul sampai detik ini. Salah satunya terkait dengan pola belajar menjelang UN yang dilakukan selama ini.

Seperti terlihat pihak sekolah dan para siswa cukup tertantang dengan pergelaran UN. Entah apakah direkayasa atau berangkat dari kesadaran pribadi siswa terus mempersiapkan diri dengan tekun belajar. Pihak sekolah pun tak mengenal bosan untuk memberikan pendalaman terhadap materi pelajaran yang akan di-UN-kan.

Bahkan, dengan target lulus UN siswa tingkat akhir terus di-drill dengan menjawab soal-soal multiple choice yang diprediksi akan keluar di UN. Yang jelas, UN 2008 dihadapi siswa-siswa jenjang pendidikan dasar dan menengah pada April sampai Mei.

Untuk siswa SMA/sederajat menghadapi UN pada 22-24 April 2008 lalu. Sedangkan siswa SMP/sederajat pada 5-8 Mei 2008 dan siswa SD pada 13-15 Mei 2008. Diwartakan, UN SMA/sederajat pada tahun ini ditambah 3 mata pelajaran.

Tahun lalu, siswa SMA/sederajat hanya mengerjakan ujian Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan matematika. Kini, siswa SMA jurusan IPA ditambah dengan mata pelajaran Biologi, Kimia, dan Fisika. Ada pun siswa SMA jurusan IPS ditambah dengan mata pelajaran Ekonomi, Sosiologi, dan Geografi. Sementara itu untuk siswa SMA Jurusan Bahasa ditambah bahasa asing, sastra Indonesia, dan sejarah budaya/antropologi. Siswa SMA Jurusan Keagamaan akan mendapatkan ujian tambahan Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, dan Tasawuf.

Tak berbeda dengan siswa SMA siswa SMP pun mengalami penambahan mata pelajaran yang diujikan. Selain Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika UN untuk siswa SMP ditambah dengan mata pelajaran IPA. Untuk siswa SD, UASBN yang digelar pertama kali pada tahun ini akan mengujikan mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA.

Selain ada penambahan mata pelajaran untuk UN SMP/sederajat dan SMA/sederajat, standar kelulusan UN pada tahun ini pun meningkat. Pada UN 2008, standar kelulusan adalah rata-rata 5,25 untuk enam mata pelajaran tanpa ada nilai di bawah 4,25.

Setiap siswa boleh mendapatkan nilai 4 asalkan nilai mata pelajaran lainnya
rata-rata 6. Begitu juga untuk siswa SMK harus memiliki nilai kompetensi kejuruan minimal 7 untuk bisa dinyatakan lulus. Jika standar kelulusan untuk UN SMP/sederajat dan SMA/sederajat ditentukan secara nasional, maka pada UASBN untuk siswa SD ditentukan oleh masing-masing sekolah di setiap kabupaten/kota.

Disadari atau tidak, dari pengalaman selama ini, standar kelulusan yang ditetapkan Depdiknas tak dimungkiri menjadi momok tersendiri. Motivasi pihak sekolah menggulirkan kebijakan penambahan jam pelajaran dan program try out UN lebih disebabkan adanya standar kelulusan yang ditetapkan Depdiknas.

Asumsi ini tentu tak berlebihan karena tak pernah pihak sekolah membuat kebijakan seperti itu saat diselenggarakan ujian sekolah. Dengan adanya standar kelulusan yang harus dicapai pihak sekolah pun tidak bisa main-main lagi karena berkaitan dengan masa depan siswa.

Berbeda dengan ujian sekolah. Pihak sekolah tak pernah ‘terbebani’ dengan target standar kelulusan. Bahkan pengatrolan nilai tidak dimungkiri sering kali dilakukan.

Memang tak dimungkiri jika UN dengan standar kelulusan yang dipatok secara nasional telah menyebabkan pihak sekolah berorientasi pada UN ansich. Kendati masih ada ujian yang diselenggarakan pihak sekolah otoritas UN dalam meluluskan siswa tetap besar. Dengan kata lain ujian sekolah belum bertaji berhadapan dengan standar kelulusan UN yang dipatok Depdiknas.

Berbicara lebih lanjut dengan melihat fakta di lapangan dan berita-berita di surat kabar tampaknya ada beberapa hal yang perlu dijernihkan mengenai UN. Pertama, apakah UN merupakan penentu tunggal kelulusan? Kedua, apakah mata pelajaran yang tidak di-UN-kan tidak penting untuk meluluskan siswa?

Jika UN dikatakan sebagai penentu tunggal kelulusan boleh jadi akibat dari standar nasional yang ditetapkan. Dengan adanya standar nasional, para siswa dituntut untuk berjuang maksimal agar bisa lulus. Adanya kondisi seperti itu akhirnya berkembang persepsi bahwa kelulusan siswa hanya ditentukan lewat UN. Padahal, penentuan kelulusan siswa memiliki berbagai persyaratan tidak hanya lulus UN.

Persyaratan kelulusan siswa itu telah dijelaskan dalam PP No 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP). Pada Pasal 72 (1) PP No. 19/2005 disebutkan bahwa peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah: a. menyelesaikan seluruh program pembelajaran; b. memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan; c. lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu
pengetahuan dan teknologi; dan d. lulus ujian nasional.

Nah, poin a, b, dan c yang menentukan kelulusan siswa itu jelas agak dialpakan. Yang terjadi selama ini adalah kejar target lulus UN dengan menempatkan mata pelajaran non-UN secara kurang proporsional. Dengan mencermati isi Pasal 72 (1) PP No 19/2005 itu pihak sekolah selayaknya mendudukkan setiap mata pelajaran pada posisi sederajat karena sama-sama menentukan kelulusan siswa.

Dari uraian di atas akhirnya menjawab pertanyaan kedua. Apakah mata pelajaran yang tidak di-UN-kan tidak penting untuk meluluskan siswa? Jawabannya kian jelas bahwa semua mata pelajaran memegang posisi penting dalam meluluskan siswa.

Pertanyaan selanjutnya apakah pihak sekolah berani untuk tidak meluluskan siswa jika mata pelajaran non-UN belum dikuasai siswa? Atau dengan kata lain apakah pihak sekolah tidak akan meluluskan siswa jika hasil ujian sekolahnya terhitung di bawah rata-rata? Tentu saja hanya pihak sekolahlah yang berhak menjawabnya. Wallahulam.

Hendra Sugiantoro
Karangmalang Yogyakarta 55281
hendra_lenteraindonesia@yahoo.co.id

Seruan Front Pembebasan Nasional tentang kenaikan harga BBM

•Mei 17, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Aksi-aksi menentang rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM, yang dilakukan oleh berbagai golongan masyarakat di banyak tempat di Indonesia masih berlangsung terus dan bahkan makin meluas. Suara-suara yang memprotes rencana pemerintah ini juga telah dilontarkan oleh berbagai intelektual dan tokoh-tokoh masyarakat, termasuk di kalangan DPR, DPRD, dan berbagai lembaga.

Perlawanan yang paling keras terhadap rencana kenaikan harga BBM ini datang dari beraneka-ragam organisasi massa atau gerakan rakyat, yang terdiri dari berbagai aliran politik.

Aksi-aksi atau gerakan yang sedang melanda di banyak daerah ini mengambil bentuk dan cara yang macam-macam, dan skalanya pun berbeda-beda. Hal itu menunjukkan dengan jelas bahwa kesedaran untuk menentang rencana yang bisa membikin rakyat lebih menderita lagi ini sudah meliputi banyak golongan yang luas. Salah satu di antaranya adalah terbentuknya baru-baru ini Front Pembebasan Nasional. Front ini, yang berpusat di Jakarta, terdiri dari ABM, PRP, SMI, PPRM, WALHI, FBTN, Perempuan Mahardika, KPA, Serikat Pengamen Indonesia, IGJ, LBH JAKARTA, LBH FAS, JGM, KORBAN, ARM, PRAXIS, IKOHI, SPEED, SIEKAP, BUTRI, PERGERAKAN, PAWANG.

Sebagai aksi bersama untuk menghadapi rencana kenaikan harga BBM, Front Pembebasan Nasional telah mengeluarkan pernyataan, yang ditujukan kepada umum, yang menyerukan supaya dilakukan aksi-aksi massa setiap hari, dan mengepung dan menduduki Istana pada tanggal 21 Mei dan 1 Juni yad.

  1. Umar Said

Pernyataan Front Pembebasan Nasional tersebut selengkapnya berbunyi sebagai berikut :

”Genderang perlawanan rakyat Indonesia, melawan rencana kenaikan harga BBM telah dibunyikan; Mahasiswa, kaum miskin kota, kaum buruh, kaum tani dan perempuan di seluruh penjuru Indonesia, setiap hari melakukan aksi-aksi, dan terus membesar dan menyatu dari hari ke hari. Ini menunjukkan, bahwa tingkat kesejahteraan rakyat sudah dalam batas yang paling rendah, sehingga kenaikan harga BBM sebesar 30 %, tidak akan lagi sanggup ditanggung oleh rakyat Indonesia.

”Argumentasi kuno yang disampaikan oleh Pemerintah, DPR, Elit Politik maupun Intelektual Tukang, semuanya seragam; Kenaikan harga minyak dunia yang mencapai US $ 120/barel atau Rp 1.116.000/barel atau Rp 7018/liter akan menyebabkan kenaikan subsidi dalam negeri sebesar 21,4 trilyun rupiah, sementara negara tidak mempunyai anggaran, sehingga mau tidak mau, harga BBM dalam negeri harus dinaikkan sesuai dengan harga BBM Internasional.

Yang tidak pernah mereka katakan adalah kenapa harga BBM Internasional cenderung naik? Dan kenapa harga BBM dalam negeri harus selalu mengikuti harga BBM Internasional ?

”Sebab-sebab Kenaikan Harga BBM Internasional:

1. Sebab yang paling sering diberitakan adalah menurunnya pasokan dari negeri-negeri penghasil minyak, baik karena sedang ada pergolakan (seperti Irak ataupun Nigeria), menurunnya cadangan minyak di beberapa negara (misalnya Indonesia) maupun karena pemerintah dan rakyat di beberapa negara sedang melakukan nasionalisasi terhadap perusahaan-perusaha an minyak Internasional (seperti yang terjadi di Venezuela), sementara kebutuhan energi terus meningkat, baik di negara-negara Imperialis (Amerika sebesar 20,59 juta barel per hari, Jepang sebesar 5,22 juta barel per hari, Rusia sebasar 3,10 juta barel per hari) maupun di negara-negara yang sedang meningkat pertumbuhan ekonominya (seperti India sebesar 2,53 juta barel per hari maupun Cina sebesar 7,27 juta barel per hari), sekalipun tidak ada bukti kuat, yang menyatakan bahwa Industri Minyak yang ada di seluruh dunia, tidak mampu memenuhi kebutuhan tersebut.
2. Penyebab yang sejati, dan ini yang jarang sekali diberitakan adalah spekulasi minyak di pasar saham Internasional. Seperti juga halnya dengan saham-saham lainnya, maka perdagangan saham minyak ini sangat rentan dengan spekulasi-spekulasi , inilah yang sebenarnya menjadi pemicu utama kenaikan harga BBM Internasional

”Sebab-Sebab Kenaikan Harga BBM Indonesia :

1. Harga BBM di Indonesia selalu naik mengikuti harga dunia karena mayoritas perusahaan minyak dan gas di Indonesia, di kuasai oleh modal asing (Pemilik Industri Minyak Dunia) sehingga hasil dari minyak Indonesia, lebih diutamakan untuk dijual ke pasar Internasional, dan jikapun harus dijual di Indonesia, maka harganya sama dengan harga BBM Internasional itu (yang di tentukan oleh mereka juga).
2. Yang dijual ke dalam negeripun, dibatasi hanya 15 % dari total produksi, itupun pemerintah harus membeli dengan harga Internasional selama 60 bulan, padahal seharusnya itu adalah kewajiban perusahaan-perusaha an asing itu, dan seharusnya juga bukan hanya 15 %, tetapi lebih banyak, toh itu minyak di ambil dari tanah kita.
3. Indonesia tidak punya industri yang mengolah minyak mentah ke minyak siap pakai, sehingga BBM yang sehari-harinya kita gunakan itu, harus kita beli dari negara lain. Sederhananya, kita punya minyak mentah (tapi di kuasai asing, hanya sebagian kecil di kuasai PERTAMINA) dibawa ke luar negeri untuk diolah, kemudian kita beli lagi dengan harga Internasional, itu yang membuat harga BBM kita selalu mengikuti harga Internasional.
4. Yang membuat lebih mahal lagi, pembelian ataupun penjualan minyak itu melalui perusahaan-perusaha an broker, sehingga lebih mahal lagi ketika dijual ke rakyat (besarnya keuntungan untuk import bisa mencapai 30 sen per barel, dengan total impor kita mencapai 113 juta barel per tahun, sehingga keuntungan broker adalah US $ 170 juta, atau 1,6 trilyun rupiah. Sedang untuk eksport keuntungan broker US $ 2 per barel, dengan ekport kita per hari adalah 490 ribu barel, sehingga uang yang masuk ke kantong broker adalah 9,3 milyar rupiah per hari atau 3,3 trilyun per tahun.
5. Yang lebih parah lagi, seluruh biaya perusahaan-perusaha an asing itu untuk mengambil minyak mentah ( mulai dari survey awal hingga produksi berjalan) sepenuhnya (alias 100 %, bahkan sekarang mencapai 120% karena ada tambahan 20 % bagi perusahaan-perusaha an yang mengembangkan sumur-sumur minyak yang telah diolah sebelumnya) dibiayai oleh Pemerintah (tentu dengan uang rakyat, yang dibayar lewat pajak dan lain sebagainya), yang biasa di sebut cost recovery

”Kesimpulan :

1. Jadi sekalipun bangsa Indonesia memiliki sedikitnya 329 Blok/sumber  migas dengan lahan seluas 95 juta hektar (separuh luas daratan Indonesia ) dengan cadangan minyak yang diperkirakan mencapai 250 sampai dengan 300 miliar barel (setara Arab Saudi sebagai produsen minyak terbesar di dunia saat ini) dengan total produksi minyak mentah hari ini mencapai 1 juta barel per hari atau 159 juta liter per hari, tidak bermanfaat bagi rakyat Indonesia.
2. Dengan kesanggupan memproduksi BBM mentah sebesar 1 juta barel perhari, dengan harga saat ini US $ 120 / barel) maka nilainya mencapai 1,104 triliun per hari atau 397,44 triliun per tahun. Belum termasuk nilai penjualan gas yang juga luar biasa besarnya,  mencapai 82,8 trilun per tahun. Jika semua industri minyak ini dikuasai oleh Negara yang pro rakyat, maka tidak akan pernah ada Defisit Anggaran Negara karena kenaikan harga BBM dunia (Defisit Anggaran 21,4 trilyun jauh di bawah keuntungan 397,44 trilyun dari minyak di tambah 82,8 trilyun dari gas)
3. Belum lagi negara tidak perlu mengeluarkan cost recovery yang sangat besar. Sampai pertengahan tahun 2007 saja, pemerintah sudah mengeluarkan dana 93,9 trilyun rupiah.
4. Keuntungan untuk rakyat akan bertambah, jika minyak mentah di Indonesia bisa diolah sendiri, tanpa harus membawa ke luar negeri untuk diolah, dan kemudian dibeli Indonesia lagi. Bayangkan saja, untuk broker saja (ekspor di tambah import), terbuang uang 4,9 trilyun rupiah pertahun
5. Sekarang bandingkan dengan dana BLT yang hanya 14 trilyun selama 6 bulan untuk jutaan orang, yang dalam prakteknya 100 ribu perbulan, atau 3000 perhari. Ganti ongkos angkutan seandainya harga BBM nanti naik, itu saja sudah tidak cukup.

”Kenapa bangsa Indonesia yang kaya dan besar bisa terjajah modal asing?

1. Karena seluruh kekuatan politik Indonesia (Partai Sisa Orde Baru, Tentara, Partai Reformis yang sebenarnya gadungan, partai nasionalis yang juga gadungan, juga partai yang mengatasnamakan agama, tetapi membiarkan umatnya terjajah) pengecut di hadapan modal internasional, bahkan dengan suara bulat mendukung pengesahan segala macam UU atau peraturan yang membiarkan modal internasional menjarah kekayaan alam termasuk minyak kita (yang terbaru adalah UU Penanaman Modal dengan segala turunannya) dan menghisap tenaga kerja kita. Jika sekarang PDIP, PKB, PKS atau Ketua DPR yang GOLKAR itu menolak rencana kenaikan BBM, itu hanya jualan buat menang pemilu 2009 nanti. Demikian juga dengan tokoh-tokoh elit politik lama yang sekarang berada di pinggiran, yang sibuk berkoar menolak, sejatinya juga sama saja, tidak ada yang sejati berani melawan penjajahan modal asing, seperti Castro di Kuba, Chavez di Venezuela, Evo Morales di Bolivia ataupun Soekarno di Indonesia.
2. Karena intelektual (pengamat ekonomi, politik dan lain sebagainya, rektor maupun dosen) juga sama pengecutnya, bahkan banyak yang bersedia dibayar oleh modal internasional melalui pemerintah ataupun yang lain, untuk mendukung program-program penjajahan itu (baik dengan memberikan dana penelitian, beasiswa, fasilitas dan lain sebagainya)
3. Pengusaha-pengusaha dalam negeri, juga bermental sama seperti elit-elit politik itu, bukannya melawan dominasi modal internasional, malah menjadi agen-agen modal internasional, bahkan yang sekarang gencar mendukung kenaikan harga BBM adalah organisasi pengusaha seperti KADIN (Kamar Dagang Indonesia) dan APINDO (Assosiasi Pengusaha Indonesia).
4. Kekuatan utama yang sanggup menghadapi modal internasional, yakni kelas buruh dan rakyat miskin belum menunjukkan kekuatan sejatinya, berupa mobilisasi aksi nasional dan persatuan organisasi gerakan.

”Jalan keluar rakyat Indonesia :
1. Ambil alih seluruh industri migas di Indonesia, juga industri vital lainnya, oleh penyatuan mobilisasi rakyat dan di bawah kontrol rakyat.
2. Hapus hutang luar negeri, dengan kekuatan penyatuan mobilisasi rakyat
3. Bangun kerja sama dengan pemerintah dan rakyat Venezuela dan Bolivia untuk pembangunan refinery dan industri minyak di Indonesia
4. Diversifikasi energi yang menjamim kelangsungan lingkungan
5. Singkirkan kaum modal, elit dan parpol penipu rakyat, bangun kekuasan rakyat sendiri

“Jalan Keluar Jangka Pendek :
1. Batalkan rencana kenaikan harga BBM dan turunkan Harga
2. Sita harta Soeharto dan kroninya, bayar dana BLBI.
3. Potong gaji pejabat dari pejabat-pejabat di tingkat nasional, hingga tingkat kecamatan sebesar 50 %
4. Potong gaji eksekutif di perusahaan swasta sebesar 50 %
5. Pembatasan mobil pribadi dengan cara membatasi jumlah mobil yang bisa dimiliki, menaikkan pajak mobil, menaikkan biaya parkir dan lain sebagainya
6. Tetapkan pajak 35 % dari penjualan eksport dan import minyak


”Seruan Persatuan Perlawanan :

1. Lakukan Aksi-Aksi Massa setiap hari, di manapun, dengan cara pemogokan pabrik, blokir jalan, pendudukan kantor-kantor pemerintah, maupun dengan aksi-aksi massa di jalan-jalan untuk menggagalkan kenaikan harga BBM
2. Satukan aksi-aksi mahasiswa dengan aksi-aksi rakyat, jadikan kampus sebagai salah satu tempat konsolidasi perlawanan massa rakyat.
3. Melakukan aksi nasional secara serentak, pada tanggal 21 MEI 2008 dan 1 JUNI 2008, kepung pusat kekuasaan dan duduki. Di Jakarta : Ayo bersatu kepung dan duduki Istana.
4. Bangun persatuan gerakan rakyat melawan penjajahan secara nasional sebagai embrio Pemerintahan Rakyat.

21 MEI DAN 1 JUNI : AYO BERSATU, KEPUNG DAN DUDUKI ISTANA !!
GAGALKAN KENAIKAN HARGA BBM DENGAN PERSATUAN MOBILISASI RAKYAT!
AMBIL ALIH INDUSTRI MIGAS, OLEH PERSATUAN MOBILISASI RAKYAT DAN DIBAWAH KONTROL RAKYAT!
SINGKIRKAN KAUM MODAL, ELIT POLITIK DAN PARTAI PENIPU RAKYAT..SAATNYA RAKYAT BEKUASA!!

* * *

Di samping pernyataan tersebut di atas, Front Pembebasan Nasional juga menyebarkan selebaran berikut petisi yang berbunyi sebagai berikut :

Harga BBM akan dinaikkan 25-30% (bisa mencapai sekitar Rp 6000-an/liter) dan rencanya akan ditetapkan pada Akhir Mei 2008. Keputusan menaikkan harga BBM pasti akan menambah parah kesulitan hidup rakyat. Dimana mana terlihat keresahan tapi lewat berita kita melihat sikap masa bodoh  Pemerintah yang beralasan kita semua harus berkorban dan berhemat. Tidak peduli rakyat dimana-mana semakin miskin, kekurangan gizi, kelaparan, menderita stress dan gangguan jiwa, bahkan tidak sedikit yang bunuh diri karena tak sanggup lagi bertambah menderita.

Pemerintah bisa dengan berani dan angkuhnya mencabut subsidi BBM berkat kerja sama persatuan para Penindas Rakyat yang berbeda-beda wajah dan bendera tetapi satu suara untuk menjaga kekuasaan kaum modal yang dapat untung besar dari kenaikan harga minyak dunia. Mereka adalah: Pemerintahan SBY-JK, Partai-partai penipu rakyat (Golkar, Demokrat, PDIP, PKS, dsb yang pura-pura anti kenaikan BBM buat popularitas menuju pemilu 2009 tapi telah nyata terbukti di DPR memberi ijin pada pemerintah untuk mencabut subsidi), elit-elit politik reformis gadungan yang sibuk tebar pesona, dan para Intelektual/ ekonom pro modal yang rajin menghasilkan pembenaran untuk pencabutan subsidi.

Untuk mengalihkan kemarahan rakyat kembali disiapkan solusi palsu, contohnya berupa pemberian BLT Plus (Bantuan Langsung Tunai) yang sejak 2005 sudah terbukti gagal mencegah rakyat bertambah miskin. Tujuan utamanya memang untuk meredam dan meruntuhkan semangat serta gejolak perlawanan terhadap kenaikan harga BBM. Bila rakyat yang miskin sudah dibuat tertipu maka jangan harap kita akan pernah menghentikan Kenaikan Harga BBM. Berkali-kali naik, berkali-kali harus menerima dengan pahit. Agar kali ini rakyat tidak lagi gagal menghentikan kenaikan harga BBM Pada Tahun 2000 dan 2005, maka harus kita satukan semua energi dalam sebuah Gerakan rakyat yang teroganisir yang melakukan berbagai cara perjuangan, yaitu:

1.   Untuk Bapak-Bapak, ibu-Ibu dan seluruh Warga Kampung buatlah komite-komite kampung (Misal, “Komite Rakyat Mampang Menolak Kenaikan Harga BBM”) sebagai alat perjuangan melawan kenaikan HARGA BBM. Nyatakan sikap rakyat dengan mimbar bebas dan rapat-rapat warga. Jangan ragu ajaklah semua penghuni rumah, bahkan undang lah para wartawan agar apa yang dilakukan oleh anda bisa dilihat dan dicontoh oleh kampung lain yang belum melakukan hal yang sama. Selanjutnya lakukan segera pawai dan lakukan aksi massa di dalam kampung anda dengan sasaran aksi ke kantor-kantor Kelurahan dan Kecamatan yang ada di sekitar kampung anda, pada tanggal 18-21 Mei 2008.

2.  Untuk para sopir TAXI, MIKROLET, KOPAJA, METRO MINI dan BIS KOTA, para pengendara motor satukan kekuatan anda dan mogoklah di terminal dan pol-pol bis selama jam berangkat kerja (07.00-10.00) ,jam pulang kerja (16.00-21.00) sepanjang tgl 18-21 Mei 2008 sebagai bentuk protes atas kenaikan harga BBM. Jangan lupa hubungi wartawan pada saat saudara-saudara aksi massa.

3.  Untuk para buruh, bergabunglah dengan Aliansi Buruh Menggugat dan lakukan aksi-aksi penolakan kenaikan harga BBM pada tanggal 18-21 Mei di kawasan-kawasan industri, di kampung/pemukiman buruh di dalam pabrik. Dan bila perlu mogok kerjalah secara serentak karena sesungguhnya kenaikan BBM ini akan semakin membuat kehidupan buruh terancam PHK. Jangan lupa juga hubungi para wartawan saat aksi di gelar.

4.  Untuk kawan-kawan mahasiswa saatnya membentuk komite kampus dan komite pelajar sebagai wadah perjuangan massa lakukan terus aksi-aksi massa, mimbar bebas, di kampus-kampus dan sekolahan kawan-kawan sepanjang tanggal 18-21 Mei. Jika kalian Pulang, jangan merasa hebat maka, bergabunglah dengan para warga di kampung yang sedang melakukan protes dan aksi-aksi sebagai mana point yang pertama. Jangan lupa juga hubungi para wartawan saat aksi dilakukan.

5.  Jangan lupa setelah aksi-aksi massa, pemogokan dan mimbar-mimbar bebas di masing-masing teritori anda (KAMPUNG-KAMPUNG, TERMINAL-TERMINAL, KAWASAN INDUSTRI, KAMPUS/SEKOLAHAN) . maka pada gabungkanlah kekuatan anda dengan barisan aksi bersama FRONT PEMBEBASAN NASIONAL yang akan melakukan :

AKSI MASSA PADA HARI RABU, TANGGAL 21 MEI 2008 MENGEPUNG ISTANA NEGARA UNTUK MENGGAGALKAN KENAIKAN HARGA BBM.

BAGI RAKYAT YANG TIDAK BISA AKSI DEMONSTRASI Rabu 21 Mei 2008 PADA JAM 12 SIANG PUKUL TIANG LISTRIK, KLAKSON MOBIL & MOTOR, PANCI-PANCI DAPUR DAN SEBAGAINYA

TUNTUTAN UTAMA RAKYAT

1. GAGALKAN KENAIKAN HARGA BBM

2.   TURUNKAN HARGA KEBUTUHAN POKOK

3.   AMBIL ALIH INDUSTRI MINYAK DAN GAS YANG HAMPIR SEMUANYA SUDAH DIKUASAI ASING DAN PEMODAL DIBAWAH KONTROL RAKYAT

Dan ini hanya bisa di lakukan jika seluruh kekuatan rakyat menyatu dalam  mobilisasi-mobilisa si massa yang besar, membangun organisasi-organisa si rakyat, membangun persatuan-persatuan rakyat.

Perjuangan rakyat ini membutuhkan jiwa dan tenaga rakyat yang tulus dan berani dan sepakat menyatukan diri dalam kesatuan gerakan. Kami mengajak anda menyatakan dukungan dengan mengisi petisi. Kita kumpulkan sebanyak mungkin suara rakyat dan kita tunjukkan kepada penguasa, bahwa kita menolak kenaikan harga BBM. Kirimkan PETISI ini ke Presiden, Gubernur, Walikota, Camat, Lurah, RW atau RT, juga bisa di kirimkan ke DPR RI/DPRD.

FRONT PEMBEBASAN NASIONAL

Sekber : Jl.Pori Raya No 06 Rt 009/Rw 010, Pisangan Timur, Jakarta Timur
Telp/Fax : 021 4757881, Email : front.pembebasan. nasional@ gmail.com

GOLONGAN-GOLONGAN SEKULAR

•Mei 16, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Setelah kita menghurai dan membahaskan erti faham sekular atau sekularisme maka di sini kita faham bahawa mereka yang berfaham sekular itu boleh dibahagi kepada beberapa kategori. Di antaranya seperti berikut:
1. Golongan yang berfaham sekular sejati (pure)
Golongan yang tidak percaya langsung adanya Tuhan dan adanya kehidupan Hari Akhirat. Agama dianggap candu kepada manusia. Ia adalah bikinan manusia. Wujudnya alam ini adalah secara nature atau semula jadi. Orang atau golongan yang berpegang dengan faham ini adalah orang yang berfaham komunis, atheis atau free thinker. Golongan ini adalah orang yang berfahaman sekular yang sejati atau yang pure.
2. Golongan orang-orang yang berfaham sekular yang tersesat
Golongan orang-orang kafir yang percaya dengan Tuhan, dengan hari Akhirat dan percaya dengan agama tetapi tidak kenal Tuhan. Keyakinannya dengan hari Akhirat tidak tepat. Agamanya tersesat. Kehidupan dunianya terpisah dari agama. Dalam urusan kehidupan di dunianya, seolah-olah Tuhan tidak campur tangan. Inilah golongan faham sekular yang tersesat.
3. Golongan orang-orang Islam yang yakin dengan wujudnya Tuhan
Golongan orang-orang Islam yang yakin dengan wujudnya Tuhan dan pengenalannya tentang Tuhan tepat. Percaya dengan hari Akhirat secara tepat. Namun Islamnya hanya di sudut ibadah. Persoalan kehidupan seperti ekonomi, politik, pendidikan, perjuangan dan lain-lain tidak boleh dicampur aduk dengan Islam kerana kejahilan. Syariat Islam tidak ada tempat di dalam kehidupan kecuali di sudut ibadah sahaja. Selain ibadah, mereka boleh menerima apa sahaja pandangan ideologi atau akal fikiran. Itulah golongan sekular disebabkan fasik.
4. Golongan sekular disebabkan zalim
Orang Islam seperti golongan ketiga tadi tetapi yakin bahawa Islam itu adalah agama yang syumul. Ia adalah agama seluruh kehidupan. Islam adalah agama ibadah, agama politik, agama pentadbiran, agama ekonomi, agama pendidikan tetapi mungkin kerana takut dengan golongan-golongan tertentu, atau tidak sanggup menerima risiko yang berat, kerana kepentingan peribadi atau kerana malu dan takut dituduh kolot maka berlakulah syariat Islam ditinggalkan melainkan di sudut ibadah. Di aspek-aspek kehidupan yang lain, syariat Islam tidak menjadi disiplin dan peraturan. Inilah golongan sekular disebabkan zalim.
5. Golongan sekular yang tertukar nawaitu
Orang Islam yang mengerjakan ibadah, berjuang, berekonomi, berpendidikan, berdakwah, berpolitik, berhubung dan lain-lain lagi walaupun mengikut syariat tetapi bukan kerana Allah Taala. Semua itu dibuat kerana riyak, ujub, nama, glamour, pangkat, wang ringgit, sama ada disedari atau tidak. Oleh kerana itu pahalanya tidak sampai di Akhirat. Itulah golongan sekular disebabkan tertukar nawaitu atau niatnya.
6. Golongan sekular yang disebabkan adanya unsur-unsur sekular atau mementingkan dunia
Golongan yang lebih halus lagi daripada itu ialah apabila seseorang Islam itu, segala usaha-usahanya mengikut syariat tetapi oleh kerana terlalu membesarkan kehidupan dunia daripada kehidupan Akhirat, dia tidak sanggup mengeluarkan zakat lalu menjadi bakhil. Dia tidak suka membuat kebaikan, tidak suka menolong orang, tidak suka bersedekah, suka mengumpul harta sahaja dan menjadi tamak. Itulah golongan sekular disebabkan adanya unsur-unsur sekular atau mementingkan dunia.
Begitulah erti faham sekular atau sekularisme mengikut pandangan Islam yang saya faham secara ringkas. Jadi faham sekular ini hanya mementingkan dunia semata-mata. Percaya dengan hari Akhirat tetapi tidak mengambil berat terhadap Akhirat. Sengaja melupa-lupakan atau acuh tidak acuh dengan Akhirat kerana hati telah terpaut dengan kehidupan dunia. Apatah lagi kalau seseorang itu tidak percaya langsung dengan hari Akhirat. Kehidupan itu hanya di dunia semata-mata. Lebih-lebih lagilah orang itu berfaham sekular yang sejati atau orang yang berfaham keduniaan yang benar-benar pure.
Oleh yang demikian di akhir zaman ini, majoriti penduduk dunia ini berfaham sekular. Sama ada mereka berkeyakinan bahawa kehidupan ini hanya habis di dunia atau yang masih yakin dengan kehidupan di Akhirat tetapi dari segi hati dan sikapnya, dia lebih mementingkan kehidupan di dunia dari kehidupan Akhirat. Di sini jugalah bahawa umat Islam pun telah ramai yang menganut faham ini. Kalau tidak berfaham sekular yang tulen pun setidak-tidaknya tempias-tempiasnya telah menyerang umat Islam. Di sinilah rahsianya mengapa umat Islam tidak boleh bersatu. Hati umat Islam telah dirosakkan oleh faham sekular atau faham sekularisme.
Sekianlah pandangan saya ini. Kalau ada kebenarannya, maka ia adalah daripada Allah Taala yang Maha Mengetahui. Kalau ada salah dan silapnya maka ia adalah daripada kelemahan saya sendiri sebagai seorang yang tidak mempunyai pelajaran yang tinggi.