<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Berpena yang  Menyenangkan &#187; Sejarah</title>
	<atom:link href="http://arhiefstyle87.wordpress.com/category/sejarah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://arhiefstyle87.wordpress.com</link>
	<description>berkatalah jujur dengan semangat kebenaran</description>
	<lastBuildDate>Fri, 07 Nov 2008 16:03:36 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='arhiefstyle87.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/cb37012dcf4cc727766e1d20f99153ad?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Berpena yang  Menyenangkan &#187; Sejarah</title>
		<link>http://arhiefstyle87.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://arhiefstyle87.wordpress.com/osd.xml" title="Berpena yang  Menyenangkan" />
		<item>
		<title>Menggali Jejak Kebangkitan</title>
		<link>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/05/24/menggali-jejak-kebangkitan/</link>
		<comments>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/05/24/menggali-jejak-kebangkitan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 May 2008 13:46:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arhiefstyle87</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arhiefstyle87.wordpress.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[Rabu, 21 Mei 2008
Bagaimanakah kita harus memaknai seratus tahun kebangkitan nasional? Rasa-rasanya, bagi kebanyakan orang saat ini, sebuah perayaan sebagai bentuk parade sukacita bukanlah pilihan. Tentu tak mungkin menabuh gendang dan menari di kala rakyat masih dibelenggu oleh ancaman kesulitan hidup yang semakin menyesakkan hari demi hari.
Mungkin sebuah perenungan akan lebih tepat. Perenungan untuk mencari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arhiefstyle87.wordpress.com&blog=815275&post=83&subd=arhiefstyle87&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Rabu, 21 Mei 2008</p>
<p>Bagaimanakah kita harus memaknai seratus tahun kebangkitan nasional? Rasa-rasanya, bagi kebanyakan orang saat ini, sebuah perayaan sebagai bentuk parade sukacita bukanlah pilihan. Tentu tak mungkin menabuh gendang dan menari di kala rakyat masih dibelenggu oleh ancaman kesulitan hidup yang semakin menyesakkan hari demi hari.</p>
<p>Mungkin sebuah perenungan akan lebih tepat. Perenungan untuk mencari di manakah hilangnya jejak-jejak kebangkitan akan lebih bermakna justru di tengah semakin sirnanya asa akibat perhelatan tekanan kehidupan karena tersanderanya republik.</p>
<p>Seratus tahun lalu, mahasiswa-mahasiswa sekolah kedokteran STOVIA menemukan momentum kebangkitan di tengah impitan penindasan kolonialisme. Kita pun kini mencoba mengikuti jejak mereka mencari momentum yang sama di tengah pengisapan neoliberalisme. Namun, di manakah kita harus mulai?</p>
<p>Kerja kolektif</p>
<p>Marilah kita mulai, seperti mereka dulu, dengan menumbuhkan kesadaran akan realitas ketertindasan dan ketertinggalan. Inilah saat ketika pilihan-pilihan tersandera akibat hilangnya peran negara sebagai badan publik, yang ironisnya dibentuk secara sadar untuk melindungi kepentingan masyarakat. Ungkapan &#8220;tiada pilihan yang tersisa selain memotong subsidi&#8221; adalah contoh nyata sirnanya tanggung jawab sosial negara sekaligus pengabaian atas alasan adanya negara.</p>
<p>Kesadaran akan ketertindasan dan ketertinggalan bukanlah perkara mudah. Seabad yang lalu, para aktivis pergerakan harus mengunjungi daerah demi daerah untuk menyadarkan rakyat akan ketertindasan mereka. Kesadaran itu terkubur di tengah tuntutan pragmatisme hidup dan janji-janji manis elite kolonial dengan kampanye politik etis. Kini kesadaran pun mungkin terbenam di antara tekanan untuk bertahan hidup dan politik tebar pesona yang meninabobokan rakyat.</p>
<p>Sejarah kita sendiri kerap menunjukkan bahwa di tengah situasi fatamorgana itu, mobilisasi gagasan dan mobilisasi sumber daya manusia menjadi penting. Mobilisasi melalui pengorganisasian politik massa-rakyat yang dapat membuat tiap individu yang sadar menjadi pelaku-pelaku perubahan. Mata mereka yang tertindas harus dibuka, sehingga mereka sadar bahwa perubahan tidak datang dari langit. Perubahan tidak datang dari seorang satria piningit. Perubahan datang dari tiap orang biasa yang sadar bahwa mereka harus berubah, melakukan perubahan, dan menjamin masa depan untuk kehidupan yang lebih baik untuk semua. Perubahan adalah buah kerja keras panjang yang tanpa kenal lelah dan tetap bekerja untuk mengakhiri suatu bangunan struktur yang membuat mereka tertindas/tertingga l.</p>
<p>Tidak hanya sampai di situ. Perubahan adalah juga kerja bersama, seperti seratus tahun lalu, bukan kesadaran dan kerja individu yang melahirkan kebangkitan nasional. Kolektivitas adalah apa yang membedakan pergerakan kemerdekaan sebelum dan sesudah 20 Mei 1908.</p>
<p>Perasaan ketertindasan/ ketertinggalan sebagai satu entitas bangsa menjadi faktor pembeda dari upaya-upaya perjuangan para pangeran, raja, dan ulama yang pernah mengangkat senjata melawan kolonialisme. Kesadaran kolektivitas para mahasiswa STOVIA-lah yang 20 tahun kemudian melahirkan tonggak sejarah baru dalam kongres pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda. Melalui sumpah itulah kebangkitan nasional melahirkan suatu entitas politik-kebangsaan baru, yaitu Indonesia.</p>
<p>Jejak kerja bersama itu yang mungkin harus kita cari saat ini di tengah politik liberalisme (di tengah kurangnya kadar kesadaran menjadi demokrat) yang membuat semangat kekelompokan berdominasi. Memang, hampir mustahil menghapuskan kepentingan pribadi dan kelompok ketika ia memang secara sah diharuskan berkontestasi. Namun, ketika ia menjadi panglima, tujuan bersama pun menjadi sisa-sisa.</p>
<p>Kebangkitan sebagai spirit</p>
<p>Kebangkitan itu sebagian besarnya adalah soal spirit. Spirit letaknya ada dalam imajinasi pikiran dan kegelisahan yang mengusik hati sanubari massa. Imajinasi yang sedemikian rupa sehingga menginspirasi orang secara massif. Barulah imajinasi massif itu mewujud dalam tindakan sosial.</p>
<p>Harapan pada suatu zaman kebangkitan yang mampu membebaskan bangsa dari kolonialisme adalah spirit yang menyebar hingga ke dalam bentuk gosip-gosip di kalangan masyarakat. Ia menjadi discourse sosial. Discourse yang meluas ke tingkat massa menyebabkan massa gelisah, bak api dalam sekam yang mencari jawaban atas hari ini dan hari depannya.</p>
<p>Discourse yang bergerak di tingkat masyarakat di era kolonial itu suatu kali memiliki momentum meletup tanpa terkendali, dikatalisasi oleh tekanan sosial dan ekonomi yang luar biasa serta berita kebangkitan negara Timur lainnya. Potensi letupan-letupan kecilnya dapat kita lihat dalam berbagai bentuk, mulai selebaran-selebaran di tingkat massa hingga bentrokan-bentrokan fisik dengan aparat kolonial. Perlawanan diam-diam dan terbuka ke bentuk yang paling konfliktual secara terbuka sesungguhnya hanyalah wajah permukaan. Ada yang jauh mengendap di dalam hati massa itu, yaitu kebangkitan kemerdekaan bangsa.</p>
<p>Pada masa itu, suasana spirit sosial itu sebenarnya hanya menunggu suatu keberanian untuk memimpin proses perubahannya. Hanya tinggal menunggu pemimpin yang punya keberanian memimpin perubahan untuk berangkat melalui imajinasi sosial rakyat. Dari sana lalu memuarakan letusan-letusan sosial itu menjadi sebuah tindakan yang, karena massif diikuti oleh massa rakyat yang gelisah terhadap perubahan menentang kolonialisme, bermetamorfosis menjadi gerakan sosial politik yang dahsyat pada masa-masa berikutnya. Itulah riwayat bagaimana bangsa ini akhirnya meraih kemerdekaan untuk dirinya.</p>
<p>Pertanyaannya, refleksi bagi kita kini adalah mampukah kita menangkap gejala-gejala spirit perubahan di tingkat rakyat itu, kini dan di sini? Kemudian mampukah kita menangkap imajinasi sosial dan mengkristalisasikan nya? Kristalisasi adalah bentuk olahan terhadap imajinasi sosial itu. Kemudian menyebarkannya ulang ke dalam suatu cita-cita yang bisa diterima dan dibenarkan oleh rakyat. Jika kita bisa menangkap imajinasi sosial rakyat itu, kini tugas kita menjadi lebih jelas: memimpin cita-cita perubahan rakyat dalam rangka kebangkitan nasional selanjutnya.</p>
<p>Spirit yang mencari pemimpin</p>
<p>Proses ini mungkin dapat disebut sebagai suatu discourse sosial. Suatu proses komunikasi teks tuturan rakyat, dengan segala model bentuknya, yang ditangkap oleh aktivis gerakan sosial, diolah, dan dinyatakan kembali kepada massa rakyat. Ini seperti peristiwa rekontekstualisasi yang kompleks. Melibatkan rakyat beserta teks sosialnya, diterima oleh aktivis sosial dan diberikan bentuk konteks baru, kemudian disampaikan dalam bentuk teks progresif yang menginspirasi khalayak rakyat secara massif. Tak bisa dibantah bahwa ini merupakan suatu proses discourse yang kompleks.</p>
<p>Namun, jika kita mampu dengan tepat memposisikan diri di arena komunikasi sosial itu, kita mampu bukan hanya menyelami imajinasi sosial rakyat, melainkan juga maju selangkah lagi dengan memimpin imajinasi rakyat ke dalam bentuk tindakan perubahan yang luar biasa. Syaratnya sederhana saja. Sebagaimana pada awal-awal kebangkitan, hampir semua pemimpin kebangkitan nasional hidup bersama rakyat, sangat dekat dengan kehidupan keseharian rakyat, sehingga bahasa rakyat hampir tak berjarak dengannya. Pesan sosial rakyat bisa diterima dengan sangat baik oleh mereka.</p>
<p>Pertanyaan reflektif kepada kita adalah sedekat mana jarak kedekatan komunikasi sehari-hari kita dengan rakyat. Sedekat apa kita bisa memahami pesan massa rakyat. Jadi, menurut saya, konteks kebangkitan baru ini hanya perlu disederhanakan saja, sebagai sebuah teks baru, sedangkan mekanisme prosesual pemberian maknanya hanya perlu direfleksikan dari pengertian pada proses yang sama pada awal kebangkitan pertama 1908.</p>
<p>Sejarah kembali mengetuk pintu rumah kita, hanya mereka yang berjiwa pemimpin akan punya cukup keberanian untuk membukakan pintunya: bersiap menerima kenyataan sejarah apa pun yang akan datang. Itulah yang dilakukan oleh dr Soetomo, dr Wahidin Soedirohoesodo, dan kawan-kawan pada 100 tahun yang lampau.</p>
<p>Budiman Sudjatmiko, Ketua Umum Relawan Perjuangan Demokrasi-PDI Perjuangan</p>
<p><a rel="nofollow" href="http://tempointeraktif.com/hg/khusus/kolom/" target="_blank">http://tempointerak tif.com/hg/ khusus/kolom/</a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arhiefstyle87.wordpress.com/83/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arhiefstyle87.wordpress.com/83/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arhiefstyle87.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arhiefstyle87.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arhiefstyle87.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arhiefstyle87.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arhiefstyle87.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arhiefstyle87.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arhiefstyle87.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arhiefstyle87.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arhiefstyle87.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arhiefstyle87.wordpress.com/83/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arhiefstyle87.wordpress.com&blog=815275&post=83&subd=arhiefstyle87&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/05/24/menggali-jejak-kebangkitan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33b921d0c64c5cd19ccbeecc563e019f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arif Keren</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Catatan Ringan Di Sabtu Pagi</title>
		<link>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/04/12/catatan-ringan-di-sabtu-pagi/</link>
		<comments>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/04/12/catatan-ringan-di-sabtu-pagi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Apr 2008 17:00:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arhiefstyle87</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arhiefstyle87.wordpress.com/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Ringan Di Sabtu Pagi  :
Dari Sjahrir sampai Kyai Dasuki
Oleh Anton
Selain buku `The Future Games&#8217; karya Teweles and  Jones yang dalam
sebulan ini belum  selesai-selesai dibaca. Ada beberapa buku
selingan yang sudah diselesaikan salah satunya adalah dua buku
catatan tajuk Mochtar Lubis dan catatan harian Sutan Sjahrir. Dua
buku ini sebenarnya buku terbitan lama. Sekedar catatan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arhiefstyle87.wordpress.com&blog=815275&post=45&subd=arhiefstyle87&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Catatan Ringan Di Sabtu Pagi  :<br />
Dari Sjahrir sampai Kyai Dasuki</p>
<p>Oleh Anton</p>
<p>Selain buku `The Future Games&#8217; karya Teweles and  Jones yang dalam<br />
sebulan ini belum  selesai-selesai dibaca. Ada beberapa buku<br />
selingan yang sudah diselesaikan salah satunya adalah dua buku<br />
catatan tajuk Mochtar Lubis dan catatan harian Sutan Sjahrir. Dua<br />
buku ini sebenarnya buku terbitan lama. Sekedar catatan untuk<br />
catatan harian Sutan Sjahrir saya sering melihat dipajang di<br />
Gramedia Blok M sejak saya masih SMA awal tahun 90-an. Ada yang<br />
menarik tentang Sutan Sjahrir dan Mochtar Lubis. Yaitu sama-sama<br />
menginginkan manusia rasional, modern dan berpikiran maju di<br />
Indonesia. Namun berkiblat ke barat.</p>
<p>Catatan Harian Sutan Sjahrir</p>
<p>Awal saya mengenal Sutan Sjahrir  justru dari tulisan Harry Poetze ,<br />
dimana peran Djohan Sjahruzah (tokoh PSI, keponakan Sjahrir) sangat<br />
besar dalam mengenalkan alam pemikiran Sjahrir ke pada Poetze, namun<br />
di buku Poetze bagi saya sangat gersang jiwa<br />
Sastra dari tulisan Poetze kurang hidup. Justru pada catatan harian<br />
Sjahrir `Renungan dan Perjuangan&#8217; kita bisa mengenal sosok Sjahrir<br />
yang humanis. Tidak kering seperti Hatta, namun tidak juga berkobar<br />
bagai Sukarno. Membaca Sjahrir tentunya kita akan ingat tentang<br />
pamfletnya yang terkenal : &#8220;Perdjoangan Kita&#8221;. Pamflet &#8220;Perdjoangan<br />
Kita&#8221; ini bagi sebagian orang sebagai masterpiece- nya, dan ini sama<br />
saja dengan buku `Alam Pikiran Yunani&#8217; dan artikel `Demokrasi Kita&#8217; –<br />
nya Hatta, atau `Indonesia Menggugat-nya Sukarno.<br />
Pamflet `Perdjoangan kita&#8217; mempunyai tiga isi pokok yang kemudian<br />
isinya ini sangat mempengaruhi sejarah negeri ini. Isi itu adalah  :</p>
<p>1.	Jangan sampai Indonesia merdeka jatuh ke tangan unsur-unsur<br />
radikal<br />
2.	Menghapuskan mentalitas fasis yang ditanamkan oleh Jepang<br />
3.	Memperoleh kepercayaan luar negeri.</p>
<p>Selain unsur yang ketiga yang merupakan sebuah strategi jangka<br />
pendek diplomasi RI. Dua unsur pertama dan kedua, merupakan tragedi<br />
dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Karena kedua unsur inilah<br />
yang menjadi mesin sejarah utama bangsa ini bergerak. Tarik menarik<br />
antara kekuatan radikal (Tan Malaka, TNI Masyarakat, PKI dua versi<br />
dan Islam Radikal), moderat (Unsur Sjahrir/PSI, Profesional ala<br />
Djuanda), karismatis (Sukarno) dan Tentara profesional (Ala<br />
Nasution, kemudian menjadi tentara tangsi ala Suharto) menjadi<br />
cerita sejarah paling utama di negeri ini, yang kemudian berpuncak<br />
pada tragedi pembantaian besar-besaran sepanjang 1965-1966. Matinya<br />
kemanusiaan di Indonesia karena pembantaian raksasa yang dilakukan<br />
militer dengan bantuan ormas pro Suharto terhadap kelompok PKI dan<br />
Sukarnois, kebetulan juga bersamaan dengan wafatnya Sjahrir di Swiss<br />
Sjahrir tanggal 9 April 1966. Di sekitar tanggal itu Sukarno bagai<br />
banteng ketaton pidato disana sini untuk mempertaruhkan jabatannya<br />
yang diam-diam sudah diserang kelompok Suharto. Di hari kematian<br />
Sjahrir, Sukarno langsung menganugerahkan gelar pahlawan nasional<br />
pada Sutan Sjahrir. Padahal sehari sebelumnya Sjahrir merupakan<br />
tawanan politik pemerintahan Sukarno. Apakah dengan ini kita ingat<br />
akan kasus HR Dharsono, yang di jaman Suharto mau dimakamkan di<br />
Taman Makam Pahlawan Kalibata saja dilarang?</p>
<p>Humanisme Sjahrir bisa dibaca pada tulisan GM di bukunya `Setelah<br />
Revolusi Tak Ada Lagi&#8217; yang saya kira GM banyak mengambil dari buku<br />
catatan harian Sutan Sjahrir ini. GM menulis di buku itu tentang<br />
Sjahrir pada hal. 31 dengan tajuk `Sjahrir di Pantai&#8217;. Tulisan ini<br />
sungguh manis untuk mengantarkan kita pada kisah catatan harian<br />
Sutan Sjahrir yang banyak ditulis ketika ia dibuang ke Banda Neira<br />
oleh pemerintahan Hindia Belanda setelah sebelumnya ia merasakan<br />
ganasnya Digoel. Begini kata-kata GM :</p>
<p>&#8220;Saya membayangkan Sjahrir di Banda Neira pagi itu, 1 Februari 1942.<br />
Kemarin tentara Jepang menyerbu Ambon dan beberapa jam sesudah itu<br />
bom dijatuhkan. Saya membayangkan Sjahrir di Banda Neira pagi itu,<br />
setelah sebuah pesawat MD-Catalina  yang bisa mendarat di permukaan<br />
berputar-putar  di sekitar pulau. Berisiknya membangunkan penduduk.<br />
Tak lama kemudian kapal terbang kecil itu pun berhenti di sebuah<br />
bagian pantai yang datar.  Ko-pilot pesawat, seorang perwira Belanda<br />
yang kurus, turun ke tempat Sjahrir dan Hatta tinggal.  Kedua<br />
tahanan politik itu harus meninggalkan pulau cepat-cepat, pesannya.<br />
Hanya ada waktu satu jam untuk bersiap.</p>
<p>Hatta mengepak buku-bukunya, tergopoh-gopoh, ke dalam 16 kotak.<br />
Sjahrir memutuskan untuk membawa ketiga anak angkatnya, meskipun<br />
salah satunya masih berusia tiga tahun. Sampai di dekat pesawat<br />
sebuah problem harus dipecahkan : Ruang di Catalina itu terbatas<br />
Enam belas kotak buku atau ketiga anak itu harus ditinggalkan. Hatta<br />
mengalah. Ketiga kotak buku itu tak jadi dibawa &#8211;  untuk selama-<br />
lamanya – kecuali bos Atlas   yang sempat disisipkan Hatta ke dalam<br />
kopor pakaian. Empat puluh tahun kemudian Hatta masih menyesali<br />
kehilangan itu.</p>
<p>(GM, Ketika Revolusi Tak Ada Lagi, Alvabet 2004)</p>
<p>Disini karakter Sjahrir terlihat sebagai pecinta kehidupan, pecinta<br />
keriangan masa kanak-kanak beda dengan Hatta yang kering, disiplin<br />
dan kaku. Sjahrir adalah jiwa yang hidup. Mungkin inilah yang<br />
menyamakan dirinya dengan Sukarno, tapi sekaligus melemparkannya ke<br />
dalam perbedaan yang tajam dengan Sukarno. Sepanjang sejarahnya<br />
Sjahrir adalah lawan politik Sukarno yang paling kuat dan<br />
berpengaruh.</p>
<p>Yang menarik dari catatan Sjahrir ini adalah pendapatnya tentang<br />
intelektualitas dan sastra, yang ditulisnya pada 20 April 1934 di<br />
penjara Cipinang. Satu baris kutipannya yang menarik adalah :</p>
<p>&#8220;Sebab itu pada hematku, kurang adanya kehidupan ilmiah dan minat<br />
yang sungguh-sungguh terhadap ilmu pengetahuan diantara kaum<br />
intelektual kita di Indonesia ini, bukan terutama disebabkan karena<br />
kita kurang mampu, kurang berkepribadian atau karena ada kekosongan<br />
moral, melainkan karena belum cukup ada perangsang-perangsa ng yang<br />
diperlukan di dalam masyarakat kita yang untuk sementara jauh lebih<br />
sederhana ini.  Bagi kebanyakan &#8220;pemegang-pemegang titel&#8221; di<br />
Indonesia – kupakai perkataan ini akan pengganti istilah &#8220;orang<br />
intelektual&#8221; , sebab di Indonesia ini ukuran orang bukan terutama<br />
pada terutama tingkat kehidupan intelektual, melainkan kehidupan<br />
sekolah –Ilmu pengetahuan itu tetap yang lahiriah saja dan bukan<br />
kekayaan batiniah. Bagi mereka ilmu pengetahuan tetap sebagai barang<br />
yang mati, bukan sesuatu hakekat yang hidup, yang berkembang dan<br />
senantiasa harus dipupuk dan dipelihara. Tetapi ini bukan salah<br />
mereka, terutama apabila mereka itu tidak mendapat kesempatan untuk<br />
berkenalan dengan ilmu pengetahuan itu sebagai suatu pengertian yang<br />
hidup, yakni di Eropa sendiri&#8221;.</p>
<p>(cuplikan catatan harian Sjahrir, Renungan Dan Perjuangan hal. 5-6,<br />
Djambatan)</p>
<p>Sjahrir menulis problem intelektualitas itu tahun 1934 dan ini<br />
merupakan pemikiran masalah Indonesia yang jangkauannya jangka<br />
panjang. Bayangkan sampai detik ini (April 2008) ini saja problem<br />
intelektualitas belum sepenuhnya `genah&#8217;. Bahkan beberapa bulan lalu<br />
ada move dari Partai Demokrat dan Golkar untuk menjegal Megawati<br />
dengan menggunakan gelar sarjana sebagai ukuran kematangan<br />
intelektualitas. Jelas ini akan menjadi tertawaan bagi Sjahrir<br />
seandainya Sjahrir berada dalam ruang sejarah sekarang.<br />
Intelektualitas adalah sesuatu yang hidup&#8230;.begitu pikir Sjahrir,<br />
disini makna `hidup&#8217; adalah kita terus mencari tahu terhadap<br />
pertanyaan-pertanya an yang timbul. Sudah menjadi jamak bagi kita<br />
setelah selesai sekolah maka kita menutup buku selama-lamanya,<br />
enggan membaca apalagi studi sendiri. Kita kerap terjebak pada<br />
ukuran-ukuran gelar akademis, namun tidak mau menjebakkan diri pada<br />
pertanyaan-pertanya an yang menajamkan intelektualitas. Pertanyaan-<br />
pertanyaan pada diri kita sendiri kemudian kita mencarinya dari<br />
studi-studi kita maka disitulah intelektualitas kita dilatih untuk<br />
hidup.</p>
<p>Tentang Sastra, Sjahrir juga mengungkapkan di hari yang sama 20<br />
April 1934. Begini kutipannya :</p>
<p>&#8220;Lagipula aku tahu dari pengalamanku sendiri bahwa belajar dengan<br />
sungguh-sungguh bagi kita orang Indonesia di negeri Belanda tidak<br />
begitu gampang. Iklim dan masyarakat kita di negeri itu kadang-<br />
kadang amat mempengaruhi saraf kita.  Hidup terkurung ke dalam<br />
tembok di dalam kamar-kamar yang pengap, suasana gelisah dalam<br />
pergaulan hidup, semua itu sangatlah besar pengaruhnya bagi jiwa<br />
kita, ada mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang berbakat yang gagal<br />
dalam studi mereka, semata-mata karena mereka tidak berdaya<br />
menghadapi semua itu; mereka memboroskan energi dalam kegelisahan<br />
itu sehingga jasmani pun menjadi rusak.</p>
<p>Kutunjukkan pada bahaya-bahaya itu kepada adikku dan kutegaskan pula<br />
bahwa belajar dengan cara yang baik, sekaligus membentuk watak kita,<br />
karena untuk belajar diperlukan pengekangan diri sendiri, disiplin<br />
diri sendiri. Kunasehati dia supaya memberikan dia supaya memberikan<br />
perhatian pada kehidupan kultural di Eropa, terutama<br />
kesusastraannya. Selain ia akan mendapatkan gambaran yang lebih baik<br />
tentang kehidupan dan  dunia pikiran barat, pun dengan demikian<br />
matanya akan terbuka terhadap masalah-masalah kehidupan yang ada<br />
disana; terhadap keanekaragaman dan kemuskilan hidup disana. Juga<br />
dengan demikian ia akan belajar kenal masalah-masalah sosial politik<br />
dengan cara yang lebih gampang dan menarik.</p>
<p>Kepada M kutulis pula surat untuk menolongnya dalam hal itu sedapat-<br />
dapatnya. Bahwa ia masih memerlukan bimbingan serupa itu, bukan<br />
suatu hal yang luar biasa : yang dapat disebut kaum intelektual di<br />
negeri kita, pada umumnya yang masih buta huruf dalam bidang ini.<br />
Mereka tidak membaca kecuali bacaan vak mereka sendiri, surat kabar<br />
dan kadang sedikit bacaan hiburan. Dalam seluruh perpustakaan H,<br />
misalnya terdapat hanya sebuah roman saja, dan tentang itupun dia<br />
memberikan penjelasan – seolah hendak membersihkan diri – bahwa itu<br />
dihadiahkan orang kepadanya. Padahal tak disangkal ia termasuk<br />
puncak golongan intelektual kita yang dididik di Eropa.</p>
<p>Hal ini sesungguhnya sudah menggambarkan pula keadaan kesusastraan<br />
kita. Sebenarnya boleh dikatakan bahwa belum ada orang intelektual<br />
yang menulis dalam arti yang sebenarnya di negeri kita ini. Tidak<br />
ada kesusasstraan, baik dalam bahasa Melayu maupun dalam satu bahasa<br />
daerah yang banyak itu. Tentu saja ada jutga orang menulis malahan<br />
tidak sedikit jumghahnya. Ada suatu lembaga yang bernama Instituut<br />
voor de Volksclectuur (kemudian bernama Balai Pustaka) yang<br />
menerbitkan buku-buku rakyat banyak, kebanyakan terjemahan. Ada juga<br />
tulisan-tulisan asli, tapi belum bisa dimasukkan ke dalam kategori<br />
kesusastraan. Kita baru sampai pada menulis cerita-cerita. Di<br />
Indonesia – tentu ada juga beberapa kekecualian – orang pada umumnya<br />
tidak tahu tentang adanya suatu kesusastraan Eropa, suatu<br />
kesusasstraan dunia,  jadi orang pun tidak mempelajarinya.</p>
<p>Sebab itulah umpamanya usaha-usaha bebeberapa orang nasionalis muda<br />
untuk menulis karya sastra –meskipun usaha itu diproklamirkan<br />
sebagai renaissance, kebangkitan kembali pada saat ini ternyata<br />
belum cukup bermutu untuk bisa menarik perhatian. Tingkatannya<br />
terlalu masih rendah untuk itu; bahkan didalamnya boleh dikatakan<br />
tidak ada pemikiran, tidak ada bentuk, tidak ada nada, dan yang<br />
paling parah tidak ada kesungguhan dan kejujuran yang cukup. Yang<br />
ada hanya pekerjaan bikinan yang tidak bermutu, yang dipropagandakan<br />
dengan banyak reklame.</p>
<p>Padahal tanpa kesusastraan roman, juga tidak ada ungkapan-ungkapan<br />
tentang masalah hidup, dan oleh karena itu pula kurang ada<br />
pengetahuan tentang peri kehidupan. Seorang keluaran HBS (Hogere<br />
Burger School, SMA- Anton)  anak muda berumur 17-18 tahun di Eropa,<br />
kadang-kadang tahu lebih banyak tentang kehidupan daripada banyak<br />
orang intelektual, mahasiswa atau mereka yang sudah tamat sekolah,<br />
di negeri kita.</p>
<p>(cuplikan catatan harian Sjahrir, Renungan Dan Perjuangan hal. 6-7,<br />
Djambatan)</p>
<p>Disini saya bisa melihat kesadaran intelektual Sjahrir yang mampu<br />
menghubungkan segala bentuk dimensi pemikiran dan ilmu pengetahuan<br />
untuk dijadikan rangkaian-rangkaian yang memperluas pemahaman<br />
tentang manusia. Banyak dari kita yang merasa sudah ahli dalam satu<br />
bidang, malah tidak peduli dengan bidang yang lain. Bahkan sering<br />
dialami seorang anak kecil dilarang orang tuanya untuk membaca novel<br />
atau komik atau karya sastra yang dianggap buang-buang waktu dan<br />
hanya disuruh belajar Matematika saja atau ilmu pengetahuan lain<br />
yang sifatnya lebih eksak. Padahal sastra dan musik memiliki<br />
rangsangan intelektual seseorang. Orang yang mampu mencerna bacaan-<br />
bacaan sastra dengan baik dan mampu meng-imajinasikan di dalam<br />
kepalanya, lebih mampu berpikir abstrak dan menggabung-gabungka n<br />
berbagai peristiwa dengan cara yang indah. Hingga pemahaman dunia<br />
tidak melulu hanya satu dimensi saja. Bacaan-bacaan sastra akan<br />
merangsang imajinasi seseorang, sehingga bila ia belajar sesuatu<br />
maka akan lebih efektif bila menggabungkan imajinasi dengan logika<br />
yang digampang dimengerti. Disinilah Sjahrir memberikan benih-benih<br />
kesadaran betapa pentingnya sastra dalam kehidupan intelektual<br />
seseorang.</p>
<p>Saya sendiri adalah orang yang sangat yakin bahwa jaman bisa dibaca<br />
melalui sastranya ketimbang dengan penelitian fakta-fakta yang<br />
cenderung kering. Karena dengan sastra kita bisa segera menangkap<br />
zeitgeist (semangat jaman) dari sebuah era. Dalam hal ini saya tidak<br />
sependapat dengan Mochtar Lubis yang menolak bahwa karya sastra<br />
tidak bisa dijadikan rujukan sejarah. Saya bisa menangkap pesan-<br />
pesan perang kemerdekaan justru ketika saya membaca cerita `Hujan<br />
Kepagian&#8217; karangan Nugroho Notosusanto atau `Bukan Pasar Malam&#8217;<br />
karangan Pram. Saya bisa menangkap pesan gemuruh kebingungan manusia<br />
Indonesia terhadap arus Orde Baru justru dari tulisan-tulisan GM<br />
ketimbang saya harus membaca bacaan kering tentang `akselerasi<br />
pembangunan 25 tahun karya Ali Moertopo&#8217;.Dan pesan-pesan kegelisahan<br />
pembangunan bisa digambarkan lewat kutang-kutang yang berkibaran<br />
pada bait-bait puisi WS Rendra ketimbang saya harus membaca jurnal<br />
statistik keluaran BPS. Betapa indahnya melihat kehidupan Jakarta<br />
dari anekdot-anekdot yang diceritakan pada catatan Pram tentang<br />
kehidupan rakyat kecil di gang-gang Jakarta yang kumuh dan becek.<br />
Betapa romantisnya bayangan di dalam kepala membayangkan kisah<br />
revolusi Perancis dengan membaca `The Tale of Two Cities&#8217; atau<br />
membaca ketersingkiran kaum tertinggal terhadap gemuruh kapitalisme<br />
yang berselingkuh dengan kekuasaan lewat buku `Laskar Pelangi&#8217; karya<br />
Andrea Hirata.</p>
<p>Sjahrir adalah manusia Sosialis yang kemudian memenangkan revolusi<br />
kemerdekaannya. Era 1945-1949 adalah era Sjahrir bukan kelompok<br />
Sosialis Garis Keras seperti Tan Malaka atau Musso. Disini Sukarno<br />
memilih Sjahrir karena pertimbangan praktis saja. Sukarno<br />
membutuhkan diplomasi Amerika Serikat melalui Sjahrir untuk menekan<br />
Belanda walaupun bayarannya teramat mahal. Peristiwa Madiun 1948.</p>
<p>Sjahrir yang seluruh energinya memperjuangkan perlawanan anti<br />
fasisme, ironisnya beliau meninggal ketika sebuah era Fasisme di<br />
Indonesia mendapat fajar baru. Apakah ini pertanda? Apakah ini<br />
merupakan isyarat? Kematian intelektual besar yang sangat membenci<br />
fasisme dimana tahun kematiannya menjadi era dimulainya  fasisme ala<br />
anak tangsi PETA menghujam Indonesia. Suharto menjadikan Indonesia<br />
ladang percobaan neo fasisme dengan menerapkan sistem feodalisme<br />
yang rumit dan dengan ini mencoba memodernisir Indonesia. Dan<br />
hasilnya adalah sebuah kegagalan besar!.</p>
<p>Dan ironisnya lagi Mochtar Lubis, wartawan yang dekat dengan kultur<br />
Sjahrir begitu memuja Suharto sampai peristiwa pembakaran Pasar<br />
Senen, Malari 1974. Adalah irasionalitas ala Jawa dan kharismatis<br />
feodal yang tidak begitu dipahami oleh Mochtar Lubis terhadap figur<br />
Sukarno yang menjadikan dia begitu membenci Sukarno, setidak-<br />
tidaknya lewat tulisan-tulisannya terutama di Tajuk-Tajuk Harian<br />
Indonesia Raya.</p>
<p>Namun walaupun Mochtar Lubis dalam tajuk ini banyak mengucapkan<br />
pujian pada Suharto dan melemparkan sesuatu yang buruk pada Sukarno,<br />
tulisan Mochtar Lubis bisa dijadikan rujukan penting tentang<br />
bermulanya korupsi-korupsi dalam skala raksasa terjadi di Indonesia.</p>
<p>Membaca tulisan Mochtar Lubis sesungguhnya seperti membaca sebuah<br />
kisah dimana seseorang manusia seperti Suharto menganggap dirinya<br />
mampu memberi makan rakyat dengan hanya mengandalkan konsep represif<br />
yang tingkat kekejiannya melampaui penjajah dan tragisnya konsep itu<br />
kemudian menjadi alat paling efektif dalam membodohi manusia<br />
Indonesia. Kesadaran Orde Baru adalah kesadaran semu tentang<br />
kepemilikan kapital yang sifatnya melawan arus terhadap kesadaran<br />
kemerdekaan sesuai dengan visi para founding fathers. Orde Baru<br />
tidak lebih daripada konsepsi dari Colijn (Menteri urusan Jajahan<br />
yang terkenal keras terhadap kaum pergerakan) yang diperbaharui –<br />
Orde Baru adalah pengejewantahan Colijnisme yang sedikit banyak<br />
bercampur dengan pengaruh Mussert (Tokoh Belanda yang pro Nazi dan<br />
fasis). Namun sayangnya konsepsi murahan Orde Baru kini mulai pelan-<br />
pelan menjadi bahan rujukan kembali untuk membangun bangsa ini<br />
setelah melihat demokrasi yang gagap ala pemerintahan Reformasi<br />
1999. Maka untuk melihat akar-akar kesalahan Orde Baru justru lewat<br />
buku kumpulan tulisan Mochtar Lubis sesungguhnya kita bisa melihat<br />
bagaimana Orde Baru yang awalnya adalah Monsterverbond (persekutuan<br />
jahat) dalam menjatuhkan Sukarno kemudian menjadi sebuah<br />
pemerintahan yang amat totaliter dan korup. Kita dapat membaca akar<br />
kesalahan Orde Baru justru dari penulis yang memang mendukung<br />
sepenuh hati terhadap Orde Baru, Mochtar Lubis&#8230;Di awal mulanya.</p>
<p>Hampir seluruh sejarawan sepakat (baik yang netral, aliran kiri dan<br />
pro Orde Baru) awal mula perseteruan Indonesia dengan kekuatan barat<br />
adalah munculnya kemauan Sukarno yang keras untuk menjadikan<br />
Indonesia independen. Sesuai dengan sifat Sukarno yang cenderung<br />
memanfaatkan percaturan politik Internasional di jaman Jepang,<br />
Sukarno dengan cerdik memanfaatkan kekuatan militer Jepang untuk<br />
memegang jabatan paling penting bagi pribumi. Masuknya Sukarno ke<br />
dalam struktur kekuasaan militer Jepang ini tentunya menghalangi<br />
ruang gerak kaum Komunis yang lolos dari penangkapan besar-besaran<br />
1927 dan menguasai pucuk pimpinan bukan dari unsur birokrasi kolot<br />
juga bukan golongan agama, yang pada jaman Jepang cenderung mendapat<br />
angin (berdirinya Masyumi pada masa Jepang untuk menjinakkan kaum<br />
muslim radikal dan ini sangat berhasil kecuali gerakan-gerakan<br />
tarekat yang melakukan perlawanan sporadis). Setelah kekalahan<br />
Jepang, Sukarno dengan cerdik membuka jalan untuk kelompok Sjahrir<br />
masuk. Geng Sjahrir-Hatta memiliki jaringan kepercayaan ke negara-<br />
negara barat hal inilah yang ditolak Tan Malaka dengan menghendaki<br />
kemerdekaan 100% dan bekerjasama dengan militer PETA namun pada<br />
tahun 1949 kekuatan unsur PETA sepenuhnya berhasil dijinakkan<br />
kelompok KNIL dibawah Nasution-Simatupang dimana kebijakan<br />
politiknya sepenuhnya mendukung kelompok realistis (Hatta dan<br />
lingkaran Sjahrir). Bahkan akhir babak dari perang kemerdekaan yang<br />
heroik itu adalah antiklimaks dengan terbunuhnya Tan Malaka. Matinya<br />
Tan Malaka dan hancurnya kesepakatan kaum kiri di Madiun dalam<br />
kerangka Front Demokrasi Rakyat. Tanpa sengaja kematian Tan Malaka<br />
merupakan belokan amat penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Tan<br />
Malaka-lah yang pada mulanya mengucapkan sebuah konsepsi politik<br />
yang pada saat itu dipegang penuh oleh para perwira militer dari<br />
kubu PETA. Merdeka 100%. Pemikiran Tan Malaka ini bukan saja<br />
merupakan pemikiran yang serta merta tumbuh dalam gejolak<br />
kemerdekaan, tapi pemikiran ini adalah buah hasil cucuran<br />
keringatnya bermandi peluh di perpustakaan nasional dan renungannya<br />
di sebuah gang becek di Cililitan sana. Memang dalam pemikiran Tan<br />
Malaka yang tertuang dalam Madilog pemikirannya mengarah pada sebuah<br />
paham yang dianggapnya universal, namun Tan Malaka mampu melihat<br />
gejala jaman, dan penglihatan Tan Malaka ini jauh lebih dulu<br />
dibandingkan Sukarno. Syahdan di suatu pagi, beberapa orang menemui<br />
Jenderal Sudirman di kota Yogyakarta, orang-orang ini adalah anak<br />
muda yang terpengaruh paham Tan Malaka dan banyak bergerak di kota<br />
Jakarta. Beberapa hari sebelumnya mereka berangkat dari Jakarta yang<br />
sudah dikuasai NICA. Sudirman sendiri baru datang dari Yogya setelah<br />
mengunjungi beberapa wilayah di sekitar Jawa Tengah. Sudirman<br />
tertarik dengan gagasan Tan Malaka, baginya &#8220;Perang harus<br />
diselesaikan sampai ke akar-akarnya&#8217; namun apa daya, Sudirman ini<br />
hanyalah seorang guru SD yang tingkat intelektualitasnya jauh di<br />
bawah jago-jago militer lulusan Akmil Breda Bandung macam AH<br />
Nasution atau TB Simatupang. Dan Sudirman bukan jenis orang yang mau<br />
menang sendiri, ia pendengar&#8230; ia merasakan. Sementara di lingkungan<br />
dalam Istana, Nasution dan Simatupang dengan intens mengeluarkan<br />
gagasan untuk memperpendek perang, mengajukan sebuah tawaran damai<br />
dengan Belanda lewat fasilitas Amerika Serikat dan memanfaatkan<br />
situasi perang dingin, dimana kelompok Nasution paham bahwa AS akan<br />
sangat marah bila Moskow buka cabang di Jawa. Di sinilah Sudirman<br />
menemui dilema, sementara Tan Malaka menghadapi dilemanya sendiri,<br />
ia pertama-tama sudah gagal menduduki kursi utama RI, karena memang<br />
Sukarno lebih dipercaya rakyat, dan jadi selebritis utama sejak<br />
Jepang menduduki Indonesia. Kedua, Tan Malaka merasa ditelikung oleh<br />
Sutan Sjahrir tokoh yang pernah ingin dipengaruhinya untuk merebut<br />
kekuasaan Sukarno, namun yang terjadi Sjahrir malah membuat `kudeta<br />
sunyi&#8217; dengan membentuk pos `Perdana Menteri&#8217; dari sebuah sistem<br />
konstitusional yang tidak mengenal istilah Perdana Menteri. Disini<br />
Tan Malaka menemukan titik frustrasinya. Akhirnya sebuah kesepakatan<br />
bersama lahir di Den Haag tahun 1949, dengan bayaran diam-diam<br />
dibunuhnya Tan Malaka, di sebuah desa di daerah Kediri, Jawa<br />
Timur&#8230;.</p>
<p>Kematian Tan Malaka kelak menjadi sebuah perlambatan sejarah, karena<br />
kesadaran kemerdekaan Indonesia 100% baru dimulai tahun 1960 tatkala<br />
Sukarno dengan gemilang menemukan sebuah idee revolusinya, yang<br />
kemudian juga dihancurkan oleh sebuah konspirasi paling rumit pada<br />
abad 20, Konspirasi Gerakan Untung 1965.</p>
<p>Sejarah selalu mengenalkan orang-orang kalah, di sanalah berdiri<br />
seuntai cerita tentang manusia yang berdiri pada pojok sejarah.<br />
Apakah sejarah selalu seperti cerita kembang melati Aryo Penangsang,<br />
sebagai perayaan khusus kemenangan Danang Sutowidjojo? Kembang<br />
melati yang diuntai pada keris mempelai pria dalam adat Jawa<br />
Mataraman, adalah simbol dari pengharapan keberanian seorang lelaki<br />
Jawa menghadapi kehidupan, ini disamakan dengan usus Aryo Penangsang<br />
yang dibiarkan terburai saat berkelahi dengan Danang Sutowidjojo.<br />
Namun, keberanian tidak pernah dipandang sebagai keberanian,<br />
keberanian hanyalah soal bagaimana kita memandang sesuatu dari<br />
pengalaman psikologis seseorang, masyarakat bahkan bentukan sejarah.<br />
Orang-orang Blora tidak pernah mau menggunakan adat melati yang<br />
diuntai pada pinggir keris, ini sama artinya penghinaan pada Aryo<br />
Penangsang, bagi mereka itu adalah adat Jawa Mataraman, sebuah<br />
kekuasaan yang telah menghancurkan kelanggengan sebuah trah, sebuah<br />
dinasti. Keberanian adalah sebuah persepsi? Lalu dimana sejarah<br />
diletakkan pada persepsinya?</p>
<p>Sahibul Hikayat, tak lama setelah kejadian Prambanan dan<br />
pemberontakan PKI di beberapa tempat tahun 1926/27 terhadap<br />
pemerintahan kolonial, beribu-ribu orang ditangkap, diantaranya<br />
dibuang ke Digoel. Salah seorang yang dibuang ke Digoel adalah Kyai<br />
Dasuki. Kyai ini kyai sakti dari Solo dan namanya sudah sangat<br />
terkenal. Dia pulang dari Digoel dengan gagah, tak lama kemudian<br />
Jepang masuk. Saat dalam perjalanan pulang dari Surabaya ke<br />
Semarang, ia menumpang kereta api. Kebetulan di tengah jalan saat<br />
kereta itu berangkat ada bisik-bisik bahwa di sebuah pos akan<br />
dilakukan pemeriksaan militer yang dilakukan oleh Kempetai. Sudah<br />
jamak kiranya pemeriksaan itu diiringi dengan perampasan barang<br />
berharga. Kyai Dasuki menyuruh orang-orang menaruh tas, koper, peti<br />
dan barang bawaan berharga ini untuk ditaruh di atas bangku dan<br />
ditumpuk, ia lalu duduk diatasnya. Dengan kesaktian yang ia miliki<br />
Kyai Dasuki menghilangkan penglihatan atas barang-barang itu. Itulah<br />
cerita legenda yang banyak diceritakan orang-orang tua jaman dulu.<br />
Kyai Dasuki adalah seorang yang baik, berjiwa sosial, dan senang<br />
mengajari ngaji. Namun  pilihan politiknya adalah Komunis. Ia<br />
mempunyai anak kandung lelaki yang sangat pintar, kita mengenalnya<br />
sebagai Profesor Baiquni, ahli atom Indonesia yang namanya sangat<br />
sohor di kalangan ilmuwan internasional tapi diluar itu (saya<br />
membaca di majalah Tempo) Kyai inilah yang menikahkan Aidit dengan<br />
dokter Soetanti. Setelah geger Gestapu 1965, Kyai Dasuki<br />
menghilang.. ..seorang baik telah hilang, dilenyapkan oleh sebuah<br />
rezim yang kelak membangkrutkan Indonesia&#8230;</p>
<p>Een Toch Sejarah tidak akan berhenti, seperti ucapan Bung Karno<br />
ketika dia mengunjungi museum di Mexico City. Si Bung<br />
Bercerita &#8220;Disana ada tulisan &#8230;Sekarang kita telah meninggalkan<br />
gedung museum, gedung yang berisi cerita sejarah&#8230;namun kita tidak<br />
akan pernah meninggalkan sejarah, karena sejarah akan terus bergerak<br />
selama kehidupan ada di muka bumi&#8221; ya sejarah akan terus bergerak<br />
dan mempunyai cerita-cerita baru.</p>
<p>ANTON</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arhiefstyle87.wordpress.com/45/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arhiefstyle87.wordpress.com/45/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arhiefstyle87.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arhiefstyle87.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arhiefstyle87.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arhiefstyle87.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arhiefstyle87.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arhiefstyle87.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arhiefstyle87.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arhiefstyle87.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arhiefstyle87.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arhiefstyle87.wordpress.com/45/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arhiefstyle87.wordpress.com&blog=815275&post=45&subd=arhiefstyle87&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/04/12/catatan-ringan-di-sabtu-pagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33b921d0c64c5cd19ccbeecc563e019f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arif Keren</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>