<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Berpena yang  Menyenangkan &#187; Pendidikan</title>
	<atom:link href="http://arhiefstyle87.wordpress.com/category/pendidikan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://arhiefstyle87.wordpress.com</link>
	<description>berkatalah jujur dengan semangat kebenaran</description>
	<lastBuildDate>Fri, 07 Nov 2008 16:03:36 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='arhiefstyle87.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/cb37012dcf4cc727766e1d20f99153ad?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Berpena yang  Menyenangkan &#187; Pendidikan</title>
		<link>http://arhiefstyle87.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://arhiefstyle87.wordpress.com/osd.xml" title="Berpena yang  Menyenangkan" />
		<item>
		<title>Radio yang Tidak Mencerdaskan</title>
		<link>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/11/07/radio-yang-tidak-mencerdaskan/</link>
		<comments>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/11/07/radio-yang-tidak-mencerdaskan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 16:02:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arhiefstyle87</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arhiefstyle87.wordpress.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[ Oleh : Arif Wicaksono Mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta
 
 Pada era globalisasi saat ini. Komunikasi memegang peranan yang sangat penting dalam upaya mengembangkan dirinya yakni dari hubungan jaringan hingga pengetahuan. Banyak hasil yang telah dimunculkan. Karya penelitianpun muncul seolah tumbuhnya lumut dimusim hujan.
 Media merupakan komponen yang penting dalam memberikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arhiefstyle87.wordpress.com&blog=815275&post=111&subd=arhiefstyle87&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--> Oleh : Arif Wicaksono Mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;"><span> </span>Pada era globalisasi saat ini. Komunikasi memegang peranan yang sangat penting dalam upaya mengembangkan dirinya yakni dari hubungan jaringan hingga pengetahuan. Banyak hasil yang telah dimunculkan. Karya penelitianpun muncul seolah tumbuhnya lumut dimusim hujan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;"><span> </span>Media merupakan komponen yang penting dalam memberikan komunikasi kepada setiap orang baik yang berada di ujung belahan dunia maupun yang disamping kita. Media juga diartikan sebagai wadah dalam penyampaian informasi. Selain itu, media dibagi menjadi beberapa jenis yakni media cetak dan media elektronik. Media cetak mencakup surat kabar, majalah, tabloid dan lain sebagainya. Media elektronik meliputi televisi dan radio.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="color:black;" lang="EN-GB">Radio merupakan revolusi di bidang telekomunikasi, sebelumnya komunikasi dilakukan melalui telepon dan telegraf yang di hubungkan melaui kabel, sedangkan melalui radio komunukasi wireless (tanpa kabel) dapat dilakukan. Radio seperti penemuan yang lain ditemukan melalui berbagai eksperimen dari banyak orang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;" lang="EN-GB"> Pada tahun 1800, seseorang Profesor dari Universitas Princeton yang bernama Yoseph henry dan seorang fisikawan inggris yang bernama Michael Faraday bereksperimen dengan elektromagnet, dan menemukan teori induksi. Pada tahun 1864, James Clark Maxwell, seorang fisikawan Inggris yang lain, mencoba mengembangkan teori induksi yang dihubungkan dengan kecepatan cahaya. Bunyi teori maxwell adalah : Karena perubahan medan magnet dapat menimbulkan medan listrik, maka sebaiknya perubahan medan listrikpun akan dapat menimbulkan medan magnet. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="color:black;" lang="EN-GB">Akan tetapi maxwell belum dapat membuktikan hipotesanya selama hidupnya. Orang yang pertama kali menguji hipotesa. Maxwell mengenai gelombang elektro magnetic ini adalah Heinrich hertz, seorang fisikawan Jerman. Ia berhasil membuktikan teori Maxwell pada tahun 1880, dengan menggunakan kumparan Ruhmkorf. Pada tahun 1895, Guglielmo marconi, seorang penemu dari Italia, mengkombinasikan teori-teori yang sudah ada (tentang elektromagnetik) dengan idenya sendiri. Ia adalah orang pertama yang mengirimkan sinyal radio melalui udara. Ia menggunakan gelombang elektro magnetic untuk mengirim kode sinyal telegraf dalam jangkauan lebihdari 1,5 Km.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Televisi berasal dari kata tele dan vision; yang mempunyai arti masing-masing jauh (tele) dan tampak (vision). Jadi televisi berarti tampak atau dapat melihat dari jarak jauh. Penemuan televisi disejajarkan dengan penemuan roda, karena penemuan ini mampu mengubah peradaban dunia. Di Indonesia &#8216;televisi&#8217; secara tidak formal disebut dengan TV, tivi, teve atau tipi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Dalam penemuan televisi, terdapat banyak pihak, penemu maupun inovator yang terlibat, baik perorangan maupun perusahaan. Televisi adalah karya massal yang dikembangkan dari tahun ke tahun.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Awal dari televisi tentu tidak bisa dipisahkan dari penemuan dasar, yaitu hukum Gelombang Elektromagnetik yang ditemukan oleh Joseph Henry dan Michael Faraday (1831) yang merupakan awal dari era komunikasi elektronik.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;"><span> </span>Radio memiliki karakteristik yang berbeda dengan media elektronik lainnya. Ini dapat dilihat dari</span> kemampuannya untuk menciptakan panggung teater dalam imajinasi setiap pendengarnya. Radio dapat berbicara langsung dengan pendengar. Radio memiliki &#8216;positioning&#8217; bagi pendengar mereka di antara radio lainnya. Pada saat terjadi sebuah peristiwa, radio dapat menyampaikannya kepada pendengar secara langsung dari lokasi peristiwa berupa Reportase.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span>Radio dalam pelaksanaannya lebih murah. Dapat selalu menjaga stabilitas aktivitas. Lebih luas dalam jangkauannya apalagi didukung dengan satelit serta dapat didengar serentak.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span>Di samping itu, radio memiliki kelemahan. Radio hanya dapat menampilkan audio saja. Media pelengkap dalam aktivitas. Selintas dalam menampilkan serta ketidakmampuan secara detail dalam menyampaikan segala informasi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span>Pada tahun 60-an radio memegang peran penting dalam perkembangan pendidikan kita. Program yang diberikan memiliki kualitas edukasi yang tinggi. Selain itu, radio memiliki fungsi yang sangat strategis.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Dalam perkembangan saat ini radio sudah berubah fungsi yang pada hakekatnya radio memiliki peran seimbang dalam menampilkan hiburan, edukasi dan informasi. Namun, pada saat ini kita dapat mendengar sebagian besar radio khususnya pada radio swasta. Radio swasta tidak dapat menyeimbangkan antara hiburan, edukasi dan informasi. Mereka lebih memprioritaskan hiburan yang lebih banyak prosentasenya ketimbang edukasi dan informasi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Radio sebagai sarana pendidikan sangatlah penting dalam pengembangan bangsa ini. Dalam pembukaan UUD’45 telah jelas diungkapkan tujuan bangsa kita yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Selain itu,upaya pembelajaran sepanjang hayat telah diamanatkan didalam Tap MPR Nomor : II/ MPR/ 1988. Disebutkan, pendidikan merupakan proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia. Berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Dengan demikian pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga,masyarakat dan pemerintah. &#8220;. Retno Sri Ningsih Satmoko (1999:65).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Namun,hal ini belum terpenuhi malahan menjadi penurunan dari nilai yang ada. Program yang diberikan semuanya hiburan tidak ada yang memprioritaskan pendidikan. Sehingga ada pepatah yang mengatakan siapa yang berkuasa maka dia berhak mengatur semuanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span>Oleh karena itu, kita sebagai generasi penerus bangsa diharapkan dapat memberikan sebuah apresiasi karya. Radio merupakan karya yang sangat strategis. Dimanapun dan kapanpun serta siapapun radio dapat diakses. Mari kita bersama membangun dan memperbaiki program radio yang telah ada kemudian disesuaikan dengan tujuan pendidikan kita.</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="listparagraph" style="margin-bottom:10pt;text-align:justify;">Darmanto, 2005. <em>Himpunan Materi Pelatihan Bidang Radio Siaran. </em>Yogyakarta: DEPKOMINFO-BPPI wilayah IV Yogyakarta.</p>
<p class="listparagraph" style="margin-bottom:10pt;text-align:justify;"><span style="color:black;">A, Darmanto, 2008. <em>Produksi Program Audio.</em></span></p>
<p class="listparagraph" style="margin-bottom:10pt;text-align:justify;">Panuju, Redi, 2005. <em>Nalar Jurnalistik: Dasarnya Dasar Jurnalistik</em>. Bayumedia Publising.</p>
<p class="listparagraph" style="margin-bottom:10pt;text-align:justify;"><span style="color:black;">Harian Suara Merdeka edisi 13 September 2005</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:black;"><a href="http://dlibrary.tifafoundation.org/download/download.php?dlid=50"><span style="color:black;">http://dlibrary.tifafoundation.org/download/download.php?dlid=50</span></a></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;"><a href="http://kurtek.upi.edu/media/sources/2-%20klasifikasi%20media.pdf"><span style="color:black;">http://kurtek.upi.edu/media/sources/2-%20klasifikasi%20media.pdf</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;"><a href="http://mbeproject.net/siaran.html"><span style="color:black;">http://mbeproject.net/siaran.html</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;"><a href="http://wrm-indonesia.org/content/view/835/3/"><span style="color:black;">http://wrm-indonesia.org/content/view/835/3/</span></a></span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:black;"><a href="http://v3.bhawikarsu.net/article_read.asp?id=116"><span style="color:black;">http://v3.bhawikarsu.net/article_read.asp?id=116</span></a></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arhiefstyle87.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arhiefstyle87.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arhiefstyle87.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arhiefstyle87.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arhiefstyle87.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arhiefstyle87.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arhiefstyle87.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arhiefstyle87.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arhiefstyle87.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arhiefstyle87.wordpress.com/111/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arhiefstyle87.wordpress.com&blog=815275&post=111&subd=arhiefstyle87&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/11/07/radio-yang-tidak-mencerdaskan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33b921d0c64c5cd19ccbeecc563e019f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arif Keren</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Upaya Peningkatan Perpustakaan Sebagai Pusat Sumber Belajar</title>
		<link>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/11/07/upaya-peningkatan-perpustakaan-sebagai-pusat-sumber-belajar/</link>
		<comments>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/11/07/upaya-peningkatan-perpustakaan-sebagai-pusat-sumber-belajar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 15:28:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arhiefstyle87</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arhiefstyle87.wordpress.com/?p=107</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Arif Wicaksono Mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta
BAB I
PENDAHULUAN
Berbagai usaha yang dilakukan oleh guru atau pengelola pendidik untuk lebih meningkatkan serta mendukung proses belajar agar lebih efektif dan efisien. Meskipun banyak faktor yang menentukan kualitas pendidikan atau hasil belajar. Salah satunya yang terkait dengan sumber belajar. Banyak berbagai sumber yang dapat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arhiefstyle87.wordpress.com&blog=815275&post=107&subd=arhiefstyle87&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh : Arif Wicaksono Mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;" lang="SV">BAB I</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;" lang="SV">PENDAHULUAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span lang="SV">Berbagai usaha yang dilakukan oleh guru atau pengelola pendidik untuk lebih meningkatkan serta mendukung proses belajar agar lebih efektif dan efisien. Meskipun banyak faktor yang menentukan kualitas pendidikan atau hasil belajar. Salah satunya yang terkait dengan sumber belajar. Banyak berbagai sumber yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span lang="SV">Seperti yang dilakukan oleh </span>ibu Hariyati melakukan praktek mengajar mata pelajaran IPS di SDN Kalisalak II Kebasen. Salah satu kegiatannya adalah siswa diajak ke warung dekat sekolah, dengan menanyakan berbagai jenis barang, harga beli dan harga jual. Selain itu, belajar dari sesama teman juga memiliki makna lebih besar sebab siswa lebih mudah memahami bahasa dan isyarat yang diberikan oleh temannya. Lewat kegiatan berkelompok pula siswa memperoleh berbagai hal yang sulit didapatkan pada saat belajar sendiri, seperti sikap mau menghagai orang lain, sikap mau menerima orang lain, bekerja sama, dan sikap menikmati hidup bersama orang lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Taman Bacaan Masyarakat (TBM) juga dapat dijadikan sebagai bagian dari layanan dalam memenuhi minat baca masyarakat serta sebagai sumber belajar bagi masyarakat dengan menyediakan bahan-bahan bacaan atau koleksi bahan pustaka serta informasi lainnya. Dilihat dari sisi pelayanan, TBM masih belum dikelola secara profesional, dari sisi koleksi bahan pustaka, koleksi yang dimiliki masih belum lengkap ragam dan jenisnya sesuai kebutuhan masyarakat sekitar, serta kemampuan pengelola belum sesuai standar. Pentingnya keberadaan TBM dalam menumbuhkan minat baca masyarakat, maka diperlukan TBM yang dapat mengakomodir dan memfasilitasi kepentingan tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Banyaknya sumber belajar perlu dilestarikan serta dikelola, karena berperan untuk mendorong efektifitas serta optimalisasi proses pembelajaran melalui penyelenggaraan berbagai fungsi yang meliputi fungsi layanan fungsi pengadaan/pengembangan media pembelajaran, fungsi penelitian dan pengembangan, dan fungsi lain yang relevan untuk peningkatan efektifitas dan efisiensi pembelajaran. Untuk itu diperlukannya upaya dalam peningkatan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;color:black;" lang="SV">BAB II</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;color:black;" lang="SV">Kajian Teori</span></strong></p>
<p class="MsoListParagraph" style="text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="color:black;" lang="SV"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="color:black;" lang="SV">Teori Sumber Belajar</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="color:black;">Secara tradisional, sumber belajar adalah guru dan buku paket. Padahal sumber belajar yang ada di sekitar sekolah, di rumah, di masyarakat sangat banyak. Sangat di sayangkan berbagai sumber belajar disekitar kita yang berlimpah-limpah tersebut belum dapat dimanfaatkan secara maksimal. Sumber belajar tradisional adalah guru dan buku teks, dan untuk banyak guru (dan dosen) ini masih adalah cara utama untuk mengajar. Siapa atau apa saja sumber belajar itu? Tentu saja bukan guru sebagai satu-satunya sumber belajar. Tapi apapun, baik lingkungan, nuansa, alat, bahan dan lain-lain bisa berfungsi sebaga sumber belajar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="color:black;">Menurut konsep Teknologi Pendidikan, sumber belajar dapat meliputi (1) <strong>Orang</strong> (seperti guru, teman, tokoh, artis/selebritis, dll); (2) <strong>Bahan</strong> (seperti buku teks, modul, CD-ROM pembelajaran, VCD Pembelajaran, OHT, dll); (3) <strong>Alat</strong> (seperti komputer, LCD projector, peralatan lab, dll); (4) <strong>Lingkungan</strong> (baik lingkungan fisik seperti tata ruang kelas atau non fisik seperti nuansa, iklim belajar, hubungan antara guru dan siswa, dll); (5) <strong>Pesan</strong>; (6) <strong>Tehnik.</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="color:black;">Itu semua merupakan sumber belajar. Jadi, dalam proses pembelajaran di sekolah atau perguruan tinggi atau di perusahaan tempat kerja, harus ada upaya atau harus ada sekelompok orang dengan keahlian, tugas dan tanggung jawab tertentu yang mampu menyulap sedemikian rupa semua sumber belajar tersebut agar optimal untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi proses pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukanlah suatu institusi yang “secara konseptual” dinamakan sebagai <strong>Pusat Sumber Belajar</strong>. <strong>Pusat Sumber Belajar ini, atau apapun namanya adalah sekelompok orang plus sekretariat (atau bangunan) yang bertugas mengelola dan mengoptimalkan berbagai bentuk dan jensi sumber belajar, seperti disebutkan di atas, sedemikian rupa untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi pembelajaran</strong>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="color:black;">Suatu lembaga pendidikan tinggi tidak mungkin dapat terselenggara dengan baik jika para dosen dan para mahasiswa tidak didukung oleh sumber belajar yang diperlukan untuk penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.</span></p>
<p class="MsoListParagraph" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="color:black;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="color:black;">Pusat Sumber Belajar</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="color:black;">Menurut Tucker (79) pusat sumber belajar didefinisikan dengan istilah media center, dengan pengertian bahwa suatu departemen yang memberikan fasilitas pendidikan, latihan, dan pengenalana melalui produksi bahan media (transparansi overhead, slide, filmstrip, videotape, dll) serta memberikan pelayanan penunjang (seperti sirkulasi peralatan audiovisual, penyajian program-program video, pembuatan katalog, dan pemanfaatan pelayanan sumber-sumber belajar pada perpustakan. Pusat Sumber Belajar bertugas untuk menyediakan sarana dan media pendukung bagi kegiatan belajar mengajar seperti yang dilakukan oleh Yayasan Pendidikan Salman Al-Farisi, yakni seperti pengadaan alat peraga yang efektif bagi kegiatan belajar mengajar (KBM), pengadaan media promosi dan publikasi, dan lain sebagainya.</span></p>
<p class="MsoListParagraph" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="color:black;"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="color:black;">Perpustakaan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;">Menurut Sulistyo (1991)perpustakaan diartikan sebagai sebuah ruangan, atau gedung yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu yang digunakan pembaca bukan untuk dijual.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">BAB III</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Pembahasan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span>Peningkatan Perpustakaan sebagai Pusat Sumber Belajar</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Upaya untuk menghidupkan dan mengembangkan perpustakaan sangat dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Tidak hanya tugas pengurus/anggota perpustakaan dan institusi terkait, melainkan kita semua karna intinya usaha bersama menjaga atau mengembangkan ilmu pengetahuan. Serta merevisi atau mengkaji ulang tujuan dari perpustakaan, untuk mengintensifkan perpustakaan menjadi pusat sumber belajar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Untuk itu, </span><span lang="IN">perpustakaan </span><span>perlu</span><span lang="IN"> memiliki </span><span>atau</span><span lang="IN"> memberikan pelayanan</span><span> yang prima dan</span><span lang="IN"> terbaik dalam penyediaan dan pelayanan informasi dalam menunjang tugas pokok dan fungsi lembaga induknya. </span><span>Artinya memberikan pelayanan prima, yaitu suatu sikap atau cara pustakawan dalam melayani penggunanya dengan prinsip <em>people based service</em> (layanan berbasis pengguna) dan <em>service excellence</em> (layanan unggul). Semua ini untuk memuaskan pengguna, meningkatkan loyalitas pengguna, serta meningkatkan jumlah pengguna.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Bukan hanya pemimpin tetapi semua pengelola atau pegawai perpustakaan harus berani menampilkan “wajah baru” atau “gerakan baru” dalam arti berani melakukan terobosan baru dan paradigma baru yaitu dapat mengubah persepsi masyarakat/akademis dari perpustakaan identik dengan buku menjadi perpustakaan identik dengan informasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Ketergantungan pada seorang pemimpin perlu ditinggalkan dan bergerak menciptakan kreatifitas atau inovasi yang sistematis. Pimpinan pusat (lembaga) tentunya membuka pintu yang lebar kepada semua bawahannya untuk menentukan kebijakan dalam menciptakan keratifitas untuk mengembangkan dan meningkatkan perpustakaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Upaya selanjutnya bagaimana pengelola menjalin hubungan dengan semua pihak atau institusi melakukan kerja sama yang saling menguntungkan untuk meningkatkan dan mengembangkan perpustakaan. Hubungan dengan masyarakat juga perlu ditingkatkan, misalnya membuka perpustakaan keliling, pelatihan penulisan karya ilmiah, kegiatan kompetisi dalam masyarakat (lomba synopsis, artikel, opini dll). Hal ini untuk meningkatkan minat baca masyarakat/akademis dan menjadi perpustakaan yang mampu bersaing. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Sehubungan dengan ini kemampuan pustakawan, idealnya perlu adanya Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI yang terakreditasi sehingga dapat menetapkan sertifikasi untuk standar kompetensi tertentu bagi pustakawan Indonesia agar berdaya saing tinggi dan akreditasi perpustakaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Kemudian adanya Undang-undang tentang Perpustakaan yang meliputi :</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>-<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]-->Kepala Perpustakaan (unsur pimpinan)</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>-<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]-->Petugas tata usaha perpustakaan (unsur pembantu pimpinan)</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>-<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]-->Unsur pelaksana yang terdiri atas:</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">a) Petugas pengadaan/pengolahan bahan pustaka,</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">b) Petugas pelayanan (sirkulasi dan referensi),</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">c) Petugas penyuluhan/pemasyarakatan, dan</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">d) Petugas penelitian dan pengembangan</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center">Dengan adanya undang-undang tentang perpustakaan khususnya unsur pelaksana yang terkait dengan petugas penyusluhan, penelitian dan pengembangan lebih ditekankan sehingga dapat menciptakan atau menemukan sesuatu yang baru. Serta menganalisa bagaimana usaha atau jalan untuk lebih meningkatkan perpustakaan menjadi pusat sumber belajar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">BAB IV</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Penutup</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="line-height:150%;">Kesimpulan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="line-height:150%;">Perpustakaan bukan hanya miliki satu lembaga melainkan milik kita semua. Setiap perpustakaan harus dapat memberikan pelayanan yang prima dan terbaik.</span><span> Dalam pengelolaan dapat menjalin hubungan dengan semua pihak atau institusi dengan melakukan kerja sama yang saling menguntungkan untuk meningkatkan dan mengembangkan perpustakaan. Membuat hubungan dengan masyarakat yang ada di sekitar perpustakaan tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span>Saran</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Untuk meningkatkan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar maka perpustakaan harus dapat melakasanakan tugasnya sesuai dengan fungsi perpustakaan sebagai pusat sumber belajar. Perpusatakaan dapat mengikuti perkembangan zaman yang ada serta memperbanyak sumber referensi baik dari dalam negeri maupun luar negeri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;">Daftar Pustaka</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="line-height:115%;">AECT. 1997. The Definition of Educational Technology. Washington: AECT</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="line-height:115%;">Budhiningsih, C. Asri. 2005. <em>Belajar dan Pembelajaran</em>. Jakarta : PT Rineka Cipta</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:63.8pt;text-indent:-63.8pt;"><span style="line-height:115%;">Mudhoffir. (1986). <em>Prinsip-Prinsip Pengelolaan Pusat Sumber Belajar. </em>Bandung: Remaja Rosdakarya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:63.8pt;text-indent:-63.8pt;"><span style="line-height:115%;">Muhtadi, Ali. 2005. <em>Managemen Sumber Belajar ‘Buku Pegangan Kuliah’. </em>Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:63.8pt;text-indent:-63.8pt;">Wirojoedo, Soebijanto. 1986. <em>Perencanaan Pendidikan’Buku Pegangan Kuliah’. </em>Yogyakarta : CV. Kaliwangi</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Pujiriyanto. 2005. <em>Otomasi Perpustakaan</em>. Yogyakarta : FIP UNY</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:63.8pt;text-indent:-63.8pt;">Seels, Barbara B &amp; Richey, Rita C. 1994. <em>Teknologi Pembelajaran: Definisi dan Kawasannya (terjemahan oleh Yusuf Hadimiarso, dkk).</em> Jakarta: Unit Percetakan Universitas Negeri Yogyakarta</p>
<p class="MsoNoSpacing" style="margin-left:63.8pt;text-indent:-63.8pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://www.surya.co.id/web/index2.php?option=com_content&amp;do_pdf=1&amp;id=30740"><span style="color:black;text-decoration:none;" lang="IN">http://www.surya.co.id/web/index2.php?option=com_content&amp;do_pdf=1&amp;id=30740</span></a></p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://www.karangturi.org/index2.php?option=com_content&amp;do_pdf=1&amp;id=59"><span style="color:black;text-decoration:none;" lang="IN">http://www.karangturi.org/index2.php?option=com_content&amp;do_pdf=1&amp;id=59</span></a></p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://www.ung.ac.id/web/lp3/index2.php?option=com_content&amp;do_pdf=1&amp;id=16"><span style="color:black;text-decoration:none;" lang="IN">http://www.ung.ac.id/web/lp3/index2.php?option=com_content&amp;do_pdf=1&amp;id=16</span></a></p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://lib.unair.ac.id/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=152&amp;Itemid=252"><span class="Internetlink"><span lang="IN">http://lib.unair.ac.id/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=152&amp;Itemid=252</span></span></a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arhiefstyle87.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arhiefstyle87.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arhiefstyle87.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arhiefstyle87.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arhiefstyle87.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arhiefstyle87.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arhiefstyle87.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arhiefstyle87.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arhiefstyle87.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arhiefstyle87.wordpress.com/107/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arhiefstyle87.wordpress.com&blog=815275&post=107&subd=arhiefstyle87&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/11/07/upaya-peningkatan-perpustakaan-sebagai-pusat-sumber-belajar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33b921d0c64c5cd19ccbeecc563e019f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arif Keren</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>“ ANTARA STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN DAN BALDRIGE AWARD : KRITERIA PENDIDIKAN UNTUK PENCAPAIAN KINERJA UNGGULAN “</title>
		<link>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/05/24/%e2%80%9c-antara-standar-nasional-pendidikan-dan-baldrige-award-kriteria-pendidikan-untuk-pencapaian-kinerja-unggulan-%e2%80%9c/</link>
		<comments>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/05/24/%e2%80%9c-antara-standar-nasional-pendidikan-dan-baldrige-award-kriteria-pendidikan-untuk-pencapaian-kinerja-unggulan-%e2%80%9c/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 May 2008 13:43:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arhiefstyle87</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arhiefstyle87.wordpress.com/?p=82</guid>
		<description><![CDATA[Sampai dengan tahun sembilan puluhan, usaha untuk meningkatkan mutu sekolah di dunia internasional dilaksanakan secara implisit yaitu pada perbaikan mutu kurikulum dan tidak pada program perbaikan mutu sekolah secara langsung dan menyeluruh. Seakan akan dengan merubah kurikulum, maka tercipta sebuah kualitas pendidikan yang baik. Nyatanya tidak sedemikian rupa, bahwa banyak faktor yang terkait yang perlu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arhiefstyle87.wordpress.com&blog=815275&post=82&subd=arhiefstyle87&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;margin:0 0 0.0001pt;"><span lang="FI">Sampai dengan tahun sembilan puluhan, usaha untuk meningkatkan mutu sekolah di dunia internasional dilaksanakan secara implisit yaitu pada perbaikan mutu kurikulum dan tidak pada program perbaikan mutu sekolah secara langsung dan menyeluruh. Seakan akan dengan merubah kurikulum, maka tercipta sebuah kualitas pendidikan yang baik. Nyatanya tidak sedemikian rupa, bahwa banyak faktor yang terkait yang perlu mendapat sentuhan prosedur mutu agar peningkatan kurikulum juga diikuti pada sector pendidikan lainya.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span lang="FI"> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span lang="FI">Di Indonesia, belakangan ini setelah tercecer selama 3 tahun setelah Sisdiknas, 7 dari 8 standar pendidikan diramu dan dijadikan patokan standar pendidikan nasional. Ketujuh standar tersebut adalah Standar Isi, Standar komptensi lulusan, Standar Proses, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Guru, Standar Pengelolaan,dan standar penilaian.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span lang="FI"> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span lang="FI">Selayaknya ketujuh standar tersebut akan merepresentasikan kualitas pendidikan Nasional, namun dengan pola segmentatif serta non sistematis membuat 7 standar ini seakan tidak berjalan bersama dalam satu kesatuan. Keluarnya yang standar inipun terlihat tidak sistematik, dimulai di mei 2006 keluar SI dan SKL, dengan dibantu oleh ketentuan penerapan SI dan SKL,</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span lang="FI"> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span lang="FI">1. Permendiknas No. 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi (SI)</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span lang="FI">2. Permendiknas No. 23 Tahun 2006 Tentang SKL</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span lang="FI">3. Permendiknas No. 16 Tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi Guru</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span lang="FI">4. Permendiknas No. 19 Tahun 2007 Standar Pengelolaan Pendidikan</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span lang="FI">5. Permendiknas No. 20 Tahun 2007 Tentang Standar Penilaian Pendidikan</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span lang="FI">6. Permendiknas No. 24 Tahun 2007 Tentang Standar Sarana &amp; Prasarana</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span lang="FI">7. Permendiknas No. 41 Tahun 2007 Tentang Standar Proses :</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span lang="FI">8. standar pembiayaan : belum keluar</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span lang="FI"> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span lang="FI">yang terakhir keluar adalah permendiknas n0 41 dibulan oktober 2007, Jadi dengan rentang waktu sebanyak 1.5 tahun, ketujuh standar ini keluar, dan dari urutan keluarnya menunjukkan konsep pembuatan yang segmentis dan tidak runut, Standar proses pembelajaran misalnya keluar paling bontot, padahal jantung pendidikan adalah pada proses, bagaimana pembelajaran dilakukan oleh siswa didik.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span lang="FI"> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span lang="FI">Dengan memahami target pendidikan (si &amp; SKL) yang dicapai melalui sebuah proses kemudian diukur pencapaiannya dengan penilaian yang tepat, dilaksankan oleh guru, dengan menggunakansarana dan prasarana dan pengeloaan secara baik, maka selayaknya permendiknas keluar dengan pola urutan sbb</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span lang="FI"> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span lang="NO-BOK">1. SI dan SKL,</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span lang="NO-BOK">2. Proses,</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span lang="NO-BOK">3. Penilaian</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span lang="NO-BOK">4. Guru</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span lang="NO-BOK">5 Sarana Prasarana </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span lang="NO-BOK">6.pengelolaan</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span lang="NO-BOK"> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span lang="NO-BOK">Kalau dari Urutan permendiknas masih belum runut, lebih lanjut dari segi konteks dan kaitan masing masingpun masih diperlukan benang merah yang menyambung ketujuh standar ini agar dapat beroperasi dan sekaligus menunjukkan level pencapaian standar sebagai sebuah capaian kualitas pendidikan/sekolah. Salah satu yang menonjol  terlihat gebrakkan serta hingar bingarnya  proses UN sebagai kepanjangan tangan standar penilaian, yang melihat luaran secara terpisah dengan proses dan keberadaan sarana/prasarana serta keragaman sekolah yang ada di Indonesia. Apa hubungan UN dengan target visi pendidikan nasional secara definitif masih perlu dipertanyakan sekali lagi.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;">Di dunia luar, konsep peningkatan kualitas pendidikan nampak sempat tertinggal dengan counterpartnya yaitu pengguna SDM di industri. Dimana konsep kualitas yang dikomandoi oleh Demming dan Juran bergulir jauh di bidang industri produk/manfaktur maupun jasa, sampai pada konsep quality manajemen manual yang dapat disertifikasi oleh badan Internasional seperti ISO hingga pada level Six Sigma yang diperkenalkan oleh Motorolla, di tahun 1986, dan berhasil menyabet penghargaan Maclom Baldrige di tahun 1988 dan kemudian di adposi oleh banyak perusahaan besar seperti GE, Allied signal dan menempatkan sepertiga dari perusahaan “fortune 500″ sebagai pengguna sistem kualitas ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Berbicara mutu di bidang pendidikan, konsep mutu masih menjadi perdebatan, apakah benar dan tepat mengkiaskan pelanggan pada industri dengan siswa sebagai pembeli pendidikan. Banyak yang tidak setuju, karena konsep kualitas yang ada hanya berdasarkan pada hal hal yang diukur, bukan berdasarkan nilai kualitatif. Dan khususnya dalam pendidikan pencapaian kualitas pendidikan tidak cukup berhenti hanya pada ukuran ujian atau pencapaian nilai test kognitif semata, namun pada nilai nilai afektif yang humanis. terlebih lagi smeua sadar bahwa luaran dari pendidikan berbicara pada jangka waktu yang cukup panjang dan pada jangka waktu tersebut akan banyak kejadian /hal yang akan menelikung hasil akhir dari proses pendidikan ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi yang setuju dengan kiasan diatas maka penerapan konsep mutu pendidikan merupakan ajang yang uji coba yang memang layak untuk diterabas, karena belum adanya kesamaan visi, kurikulum, fasilitas, lokasi, penekanan pendidikan dsb. Oleh karenanya diperlukan sebuah kerangka khusus dalam memahami luaran pendidikan yang bagaimana yang akan enjadi tolok ukur keberhasilan sebuah proses pendidikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari sistim mutu internasional yang ada, hanya penghargaan Baldrige yang telah menyentuh dan mengakomodasi konsep pengukuran kinerja organisasi/institusi pendidikan secara spesifik. Penghargaan Baldrige atau Baldrige awards diresmikan oleh kongress Amerika di tahun 1987 dan mengambil nama Malcom Baldrige, sekretaris perdagangan Amerika yang ke 26. Penghargaan Baldrige diberikan kepada perusahaan atau organisasi dalam kategori Manufaktur, Usaha Kecil, Kesehatan dan Pendidikan dengan didasarkan pada keunggulan kinerja perusahaan atau organisasi. Namun baru di tahun 1999 kriteria kualitas pendidikan ini dipertandingkan untuk institusi pendidikan di Amerika.</p>
<p style="text-align:justify;">Semenjak dibukanya kompetisi mutu Baldrige kategori Pendidikan di tahun 1999, tiga puluh tujuh organisasi pendidikan telah mengajukan diri sebagai kontestan penerima penghargaan. Namun baru di tahun 2001 tiga organisasi pendidikan dianggap layak menerima penghargaan Baldrige.</p>
<p style="text-align:justify;">Seluruh kontestan melalui penilaian mutu yang ketat, dengan sekitar 300 s/d 1000 jam pemeriksaan serta tinjauan oleh dewan penguji independen. Ditahun 2002 kembali penghargaan untuk mutu pendidikan tidak diberikan karena dianggap tidak ada yang memenuhi syarat penilaian minimum untuk mendapatkan award. Di tahun 2003, satu institusi pendidikan berhasil mendapatkan penghargaan mutu yang bergensi ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Kriteria Baldrige yang merupakan dasar dari kajian diri organisasi, telah digunakan berbagai organisasi untuk ikut dalam kompetisi bergengsi di Amerika untuk mendapatkan penghargaan/award dibidang mutu. Selain itu kriteria Baldrige telah juga digunakan oleh banyak organisasi tidak hanya untuk ikut dalam kompetesi mutu namun untuk memberikan masukan kepada organisasi mengenai status kinerjanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan adanya kriteria Baldrige yang dikompetisikan secara nasional di Amerika, tiga manfaat utama yang terlihat adalah:</p>
<p style="text-align:justify;">1. membantu untuk meningkatkan kinerja organisasi secara praktek, kemampuan dan hasil capaian.<br />
2. Untuk memfasilitasi komunikasi dan penyebaran praktek baik ke seluruh organisasi lainnya.<br />
3. Sebagai perangkat kerja untuk memahami dan mengelola kinerja dan untuk mengarahkan perencanaan organisasi serta peluang untuk belajar.</p>
<p style="text-align:justify;">Melihat perkembangan akan sistim mutu pendidikan yang telah berjalan baik di Amerika, maka gelombang adopsi sistem kualitas telah mampu memacu sistim pemantauan kualitas pada institusi pendidikan di berbagai tempat seperti new zealand dan australia dan beragam tempat lainnya. Di Indonesia kajian diri yang sistematis berdasarkan sistim pemantauan kualitas pada sekolah merupakan hal yang masih baru dan sangat jarang dilakukan secara sistematik. Padahal kualitas atau mutu merupakan sebuah prasyarat utama dalam menghadapi zaman yang penuh dengan kompetisi. Tanpa Mutu yang baik pada setiap produk atau jasa yang dihasilkan maka masyarakat atau pelanggan akan dengan cepat beralih menggunakan produk/jasa dari organisasi lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada sektor pendidikan, terciptanya mutu pendidikan yang baik merupakan cikal bakal terciptanya sumber daya manusia yang tangguh dan handal, yang akan mengelola negara ini. Bila kualitas pendidikan rendah maka akan mutu SDM juga akan rendah dan selanjutnya berimbas pada pola pengelolaan negara yang juga tidak baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Adanya Sistim akreditasi sekolah yang dilakukan oleh Badan Akreditasi Sekolah merupakan sebuah langkah yang baik, namun seringkali perolehan peringkat akreditasi merupakan target utama, bukan peningkatan mutu sekolah itu sendiri. Oleh karena itu sebuah pemantauan diri yang bermaksud untuk semata meningkatkan pendidikan perlu mendapat perhatian dari para pengelola sekolah sekolah di Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Sistem kajian diri yang digunakan pada kompetisi mutu Baldrige untuk sekolah di Amerika merupakan sebuah standar yang sangat baik dan bisa diadopsi pada sekolah sekolah di Indonesia. Dibawah ini sekelumit mengenai kriteria dan proses kajian diri tersebut</p>
<p style="text-align:justify;">Baldrige Award : Kriteria Pendidikan untuk Mencapai Target Kinerja Unggulan</p>
<p style="text-align:justify;">Kriteria baldrige dibangun berdasarkan nilai nilai utama serta konsep yang terintegrasi dan saling terkait. Nilai dan konsep tersebut merupakan benang merah dari kepercayaan yang tertanam serta tingkah laku yang terlihat pada organisasi yang memiliki keunggulan kinerja. Nilai serta konsep tersebut adalah:</p>
<p style="text-align:justify;">- Kepemimpinan yang memiliki visi<br />
- Pendidikan yang memiliki orientasi pusat pembelajaran<br />
- Organisasi dan pembelajaran individu<br />
- Penilaian fakultas, staf akademis serta mitra kerja<br />
- Agilitas<br />
- terfokus ke masa depan<br />
- pengelolaan inovasi<br />
- pengelolaan berdasarkan fakta<br />
- tanggung jawab sosial<br />
- Fokus pada hasil dan penciptaan nilai<br />
- Prespektif pada sistem bukan sektoral</p>
<p style="text-align:justify;">Nilai dan konsep tersebut merupakan fondasi dalam mengintegrasikan persyaratan kunci pada sebuah kerangka kerja yang berorientasi pada hasil. Sehingga nantinya dapat digunakan untuk dasar kerja dan introspeksi masukan/feedback.</p>
<p style="text-align:justify;">Kriteria Pendidikan Baldrige untuk tahun 2004 memastikan nilai utama serta konsep diatas dalam tujuh bagian kerangka kerja yang bisa diadaptasi sesuai kebutuhan tiap organisasi, termasuk pendidikan. Namun adaptasi ini tidak bermakna bahwa setiap persyaratan harus didekati dengan cara yang sama. Ketujuh kriteria tersebut adalah :</p>
<p style="text-align:justify;">1. Kepemimpinan,<br />
2. Perencanaan Strategis,<br />
3. Siswa, Stakeholder, dan Fokus pasar<br />
4. Pengukuran, Analisis dan manajemen pengetahuan<br />
5. Fokus pada staff dan falkultas<br />
6. Manajemen Proses<br />
7. Hasil Kinerja Organisasi</p>
<p style="text-align:justify;">Gambar dibawah menunjukkan korelasi antara ketujuh kriteria dengan profil organisasi sebagai atap dari kerangka kerja dan operasi.</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-39" src="http://merekaharussukses.files.wordpress.com/2008/05/baldrigea2.gif?w=450&amp;h=279&#038;h=279" alt="" width="450" height="279" /></p>
<p style="text-align:justify;">Profil Organisasi</p>
<p style="text-align:justify;">Profil organisasi (top of figure) menciptakan setting konteks untuk organisasi beroperasi. Lingkungan, hubungan kerja kunci serta tantangan strategis berperan sebagai payung petunjuk untuk sistem manajemen kinerja organisasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Sistem Kerja Operasi</p>
<p style="text-align:justify;">Sistem kerja operasi yang terletak di tengah tengah gambar terdiri dari enam kategori baldrige yang menunjukkan kerja dan operasi organisasi dan hasil kinerja yang didapatkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kepemimpinan (kategori 1), Rencana Strategis (kategori 2) dan siswa, stakeholder dan fokus pasar (kategori 3) mencerminkan segitiga kepemimpinan. Ketiga kategori ini digabungkan dalam satu segitiga untuk menekankan pentingnya pemimpin yang memiliki fokus pada stragei dan kepada siswa serta stakeholder. Pemimpin senior menyatakan kemana arah dari organisasi serta mencari peluang bagi organisasi di masa depan.</p>
<p style="text-align:justify;">Fokus pada Fakultas dan staf pengajar (kategori 5), manajemen proses/sekolah (kategori 6) dan hasil kinerja organisasi (kategori 7) mencerminkan segitiga hasil. Sistim pengorganisasian pada fakultas serta staf pengajar dan pelaksanaan proses kunci adalah kegiatan utamaa organisasi untuk menghasilkan sebuah kinerja organisasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Seluruh kegiatan bermuara pada hasil kinerja organisasi, sebuah campuran kinerja yang menunjukkan kinerja siswa, stakeholder, finansial, serta kinerja operasional termasuk juga kinerja yang berhubungan dengan fakultas dan staf pengajar, pemerintah serta tanggung jawab sosial pada masyarakat. Panah horizontal menghubungkan segitiga kepemimpinan dengan segitiga hasil kinerja, dimana merupakan fakor krtitikal dalam kesuksesan organisasi. Lebih jauh lagi terdapat hubungan inti anatar kepemimpinan (kategori 1) dengan hasil kinerja organisasi (kategori 7). Anak panah bermata dua menunjukkan pentingnya feedback/masukan mengenai sistem manajemen kinerja yang efektif.</p>
<p style="text-align:justify;">Fondasi dari sebuah sistem organisasi</p>
<p style="text-align:justify;">Pengukuran, analisis dan manajemen pengetahuan (kategori 4) merupakan elemen yang kritikal terhadap sistem manajemen kinerja yang efektif dan terhadap basis fakta, sistem yang dikendalikan oleh pengetahuan untuk peningkatan kinerja. Pengukuran, analisis dan manajemen pengetahuan berperan sebagai landasan fondasi untuk kinerja sistem manajemen.</p>
<p style="text-align:justify;">Kriteria Baldrige di bidang pendidikan di desain untuk membantu organisasi dalam menerapkan pendekatan terpadu untuk mengelola kinerja organisasi yang menghasilkan peningkatan nilai yang berkesinambungan kepada siswa dan pihak terkait (stakeholder), secara langsung memiliki kontribusi pada peningkatan mutu pendidikan sekaligus meningkatkan efektifitas, kemampuan organisasi dan pembelajaran individunya.</p>
<p style="text-align:justify;">Bilamana sekolah telah memiliki data yang baik serta komplit maka prosesnya akan lebih sederhana menjadi sebagai berikut.</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-40" src="http://merekaharussukses.files.wordpress.com/2008/05/baldrigebgf1.gif?w=450&amp;h=424&#038;h=424" alt="" width="450" height="424" /></p>
<p style="text-align:justify;">Penerapan konsep serta kriteria Malcolm Baldrige ini kemudian menjadi salah satu agenda yang perlu di sederhanakan dalam bentuk sebuah kode komputer, Create Fondation dalam hal ini mengadopsi dan menmperkaya konsep kualitas pendidikan dalam sebuah pake Aplikasi edutekh yang diberinama EDUQUAL. Tujuannya sederhana, beum sampai untuk ikut dalam lomba bergengsi Malcolm baldrige Award, tapi cukup sebagai kajian diri sejauh mana pendidikan kita telah bekerja menggapai mutu.</p>
<p style="text-align:justify;">Kegiatan kajian diri ini akan menghasilkan dokumen sistim mutu pendidikan yang komprehensif berdasarkan 7 kriteria baldrige award. Serta penilaian dan masukan atas temuan kajian diri yang juga berdasarkan kriteria penilaian Baldrige award. Disamping itu luaran yang tidak ternilai adalah penguasaan proses kajian diri pada staf/tim yang dibentuk sekolah sehingga proses kajian diri nantinya akan dapat terus menerus dilaksanakan.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arhiefstyle87.wordpress.com/82/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arhiefstyle87.wordpress.com/82/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arhiefstyle87.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arhiefstyle87.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arhiefstyle87.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arhiefstyle87.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arhiefstyle87.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arhiefstyle87.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arhiefstyle87.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arhiefstyle87.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arhiefstyle87.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arhiefstyle87.wordpress.com/82/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arhiefstyle87.wordpress.com&blog=815275&post=82&subd=arhiefstyle87&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/05/24/%e2%80%9c-antara-standar-nasional-pendidikan-dan-baldrige-award-kriteria-pendidikan-untuk-pencapaian-kinerja-unggulan-%e2%80%9c/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33b921d0c64c5cd19ccbeecc563e019f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arif Keren</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://merekaharussukses.files.wordpress.com/2008/05/baldrigea2.gif?w=450&#38;h=279" medium="image" />

		<media:content url="http://merekaharussukses.files.wordpress.com/2008/05/baldrigebgf1.gif?w=450&#38;h=424" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Kalimat Motivasi untuk bangun dan bangkit</title>
		<link>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/05/19/kalimat-motivasi-untuk-bangun-dan-bangkit/</link>
		<comments>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/05/19/kalimat-motivasi-untuk-bangun-dan-bangkit/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 May 2008 13:16:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arhiefstyle87</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arhiefstyle87.wordpress.com/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[Written by Krishnamurti on 7  January 2008 – 12:00 am &#8211;   3296 views 
1. Aku dilahirkan untuk menjadi PEMENANG.
Keyakinan pertama yang harus aku miliki sebagai anak manusia adalah keyakinan  bahwa aku dilahirkan untuk menjadi Pemenang. Aku percaya bahwa tidak mungkin  Allah menciptakan aku ke dunia ini, tanpa alasan apapun. Tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arhiefstyle87.wordpress.com&blog=815275&post=79&subd=arhiefstyle87&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Written by Krishnamurti on 7  January 2008 – 12:00 am &#8211;   3296 views </p>
<p>1. Aku dilahirkan untuk menjadi PEMENANG.</p>
<p>Keyakinan pertama yang harus aku miliki sebagai anak manusia adalah keyakinan  bahwa aku dilahirkan untuk menjadi Pemenang. Aku percaya bahwa tidak mungkin  Allah menciptakan aku ke dunia ini, tanpa alasan apapun. Tidak mungkin! Pasti  ada alasannya, bukan? (tarik nafas perlahan sebentar)</p>
<p>Nah, jika aku berani lahir, maka aku juga haruslah berani mati (karena aku  pasti mati, bukan? He..he..) Lalu, sekarang mati seperti apa yang aku inginkan?  (tarik dan tahan nafas yang lama…) Duh, sereeem banget sih pertanyaannya. Iya  dong, sekali-sekali serius ah! Baiklah, sekarang pilihan aku sebagai manusia  yang hidup, yang masih bernafas, yang masih beredetak jantungnya, hanya tersisa  satu pilihan saja, bukan? Yakni aku ingin mati sebagai apa? Ingin dikenang  sebagai siapa?</p>
<p>Karena aku yakin bahwa aku dilahirkan untuk menjadi Pemenang, sudah sebaiknya  pula aku memilih mati minimal sebagai pemenang. Pemenang seperti apa, itu  persoalan lain. Yang penting pilihannya adalah kembali ke Sang Khalik sebagai  seorang pemenang. Gak malu-maluin yang “nyiptain”, gitu lho! Orang Sunda bilang:  “Tong Ngerakeun”.</p>
<p>Lalu, setelah sadar bahwa aku dilahirkan untuk menjadi Pemenang, berarti aku  sekarang harus bangun dari biusnya si tidur. Oke, setelah bangun bukankah  diperlukan kekuatan, diperlukan keberanian, diperlukan…? Ya,…</p>
<p>2. Memang diperlukan keberanian untuk melangkah maju ke depan. Namun,  bagaimana berani (tahan nafas sebentar) kalau aku tetap diam di tempat?</p>
<p>Betul juga ya. Baiklah aku segera berdiri dan mulai melangkah. Langkah  pertama, langkah kedua dan langkah ketiga, tapi oh..oh.. lihat apa yang ada di</p>
<p>depan jalan. Ah, kayaknya agak mendung, agak redup, agak berkelok, agak licin.  Ehm, bisa-bisa terpeleset, tergelincir, bahkan terpental saat di</p>
<p>perjalanan? Ya, bisa saja. Namun, aku yakin akan pesan nenekku…</p>
<p>3. Daripada hanya berdiam diri… Melangkah dan mungkin tergelincir (tahan  nafas sebentar) adalah pilihan yang jauh lebih baik! (tahan nafas sebentar) Ada  banyak pelajaran di sana…</p>
<p>Masak sih? Apakah benar dengan tergelincir aku malahan belajar? Betul, bila  aku bisa merasakan sakitnya tergelincir, maka pasti aku akan menghindari</p>
<p>berbuat kesalahan yang sama. Akupun akan mencari ide-ide lain yang lebih baik,  lebih tepat guna, lebih kreatif, lebih produktif dan sebagainya.</p>
<p>Kesalahan yang terbesar adalah aku tidak pernah melakukan sesuatu, bahkan  mencobanyapun “gak” pernah, malah pikiran aku sering “merancang” imajinasi rasa  sakit yang belum tentu terjadi dari sebuah kesalahan atau kekeliruan di masa  mendatang. Astaga, ngeri sekali bukan? Karena aku merancang ketakutan, maka  seringkali aku hanya berdiam diri. Namun aku sebenarnya percaya bahwa… (baca  kalimat berikut ini dengan sangat keras!!!)</p>
<p>4. Orang yang berani bangkit dan belajar dari kegagalan adalah PEMENANG  SEJATI!</p>
<p>Huh, lumayan kalimat motivasi ini ya. Cukup kuat dampaknya untuk  membangkitkan semangat paling dalam dari diriku. Di dunia ini banyak sekali  cerita orang yang pernah mengalami kegagalan dan setelah itu tidak ada lagi  ceritanya. Apakah aku mau seperti mereka? Habis terbit, kena awan gelap dan  menghilang tanpa bekas? Gone with the wind…</p>
<p>Ah, aku kan bisa punya pilihan lain. Aku ingin jadi pemenang atas diriku  sendiri. Cerita kehidupan yang hanya bisa dibagikan adalah cerita</p>
<p>kebangkitan, bukan cerita kegagalan. Wah, jika aku tidak pernah bangkit, maka  habislah pula cerita hidupku. Percuma dong aku dilahirkan. Baik,</p>
<p>baiklah dan baiklah! (silahkan teriak dalam hati he..he..) Sekarang aku  tanamkan dalam benak aku bahwa aku HARUS bangkit, kapanpun saat aku mengalami  apa yang disebut orang lain adalah kegagalan. Karena aku yakin dan percaya bahwa…</p>
<p>5. Apa pun SAYA BISA jika saya mau!</p>
<p>Kuncinya adalah kemauan, bukan kemampuan. Orang yang memiliki kemampuan, jika  tidak ada kemauan, bagaikan mayat hidup yang tidak tahu mau kemana. Gak bedanya  dengan hidup luntang lantung, gak ada tenaga, gak ada semangat, gak ada spirit,  gak nafsu deh hidup kayak gitu. Hidup ini adalah pilihan, kok. Aku bisa memilih  sedih (hening 3 detik) , aku bisa memilih senang (hening 2 detik). Aku bisa  memilih marah (hening 1 detik) dan aku bisa memilih tenaaang. Nah, jika…</p>
<p>6. Hidup ini adalah pilihan. Aku memilih menjadi orang yang bahagia ….</p>
<p>Aku tahu memang sebuah pilihan yang tidaklah mudah, namun aku harus mulai  belajar berani memilih dan memutuskan kemana arah hidupku. Apa pilihan</p>
<p>hidupku? Akulah yang harus menentukan arah jalan hidupku. Akulah yang  menentukan titiknya… Besar titiknya… Warna titiknya… Bunyi titiknya… Rasa  titiknya… Sinar titiknya… Sinar biasa atau sinar sebuah BERLIAN? Kecil bentuknya  (tahan nafas sebentar, lalu katakan dengan keyakinan kuat), namun silau sinarnya.  Kekuatan silau sinar berlianlah yang membuat aku tidak mungkin kehilangan arah.  Walau disekitarku kadang mendung, kadang redup, kadang gelap. Karena…</p>
<p>7. Semakin aku fokus pada impianku. Semakin cepat aku mencapai impianku.</p>
<p>Fokus menghasilkan energi yang besar, bahkan semakin lama semakin dahsyat.  Fokus membuatku bersemangat, berenergi, berkeringat, tetap panas karena membantu  aku untuk selalu bergerak. Bergerak melangkah, bergerak lari, bergerak ke arah  silau sinar berlian yang memimpinku. Karena fokus, maka apapun situasi  disekitarku, tidak akan membuatku terganggu. Jalan yang berkelokpun, kujalani….  Jalan macetpun, kunikmati… Jalan berbatupun, kelewati… Jalan terhalangpun,  kulampaui… Karena arah fokusku jelas, arah menuju sinar berlian, sinar tujuan  hidupku… Silau namun indah. Maka, aku tidak akan pernah menunggu situasi. Dan  sebaiknya…</p>
<p>8. Berhentilah menunggu kondisi membaik. LAKUKAN SESUATU agar kondisi membaik.</p>
<p>Itulah motto hidupku. Banyak hal diluar jangkauan kemampuanku, keadaan alam  semesta, keadaan negara, keadaan masyarakat dimana aku berada. Buat apa aku  fokus pada sesuatu diluar kendaliku. Lebih baik aku fokus pada sesuatu yang bisa  aku kendalikan, bukan? Sesuatu yang bisa aku jangkau, sesuatu yang bisa aku buat  lebih baik. Jadi aku pikir, sebaiknya aku fokus saja pada karya. Ya, berkarya,  berkarya dan berkarya…</p>
<p>Sekarang setelah aku sadar, aku bangun, aku bangkit dan aku berkarya, aku  fokus pada karyaku, maka selanjutnya…</p>
<p>9. Aku bekerja dengan sungguh-sungguh. Aku berdoa dengan sungguh-sungguh.</p>
<p>Selanjutnya, biarlah Tuhan yang menentukan. (Florence Griffit Joyner)</p>
<p>(Sekarang katakan dalam hati dengan rasa keyakinan yang kuat) BENDERA SUDAH  DIKIBARKAN.</p>
<p>(lebih perkuat lagi rasa keyakinan Anda) MAKA KIBARKANLAH SETINGGI MUNGKIN.</p>
<p>(tingkatkan rasa keyakinan Anda sekuat-kuatnya) KIBARKANLAH BENDERA  KEMENANGAN KEPADA KEHIDUPAN.</p>
<p>KEHIDUPAN YANG BERHIKMAH.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arhiefstyle87.wordpress.com/79/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arhiefstyle87.wordpress.com/79/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arhiefstyle87.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arhiefstyle87.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arhiefstyle87.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arhiefstyle87.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arhiefstyle87.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arhiefstyle87.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arhiefstyle87.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arhiefstyle87.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arhiefstyle87.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arhiefstyle87.wordpress.com/79/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arhiefstyle87.wordpress.com&blog=815275&post=79&subd=arhiefstyle87&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/05/19/kalimat-motivasi-untuk-bangun-dan-bangkit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33b921d0c64c5cd19ccbeecc563e019f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arif Keren</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ujian Nasional Penentu Kelulusan?</title>
		<link>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/05/17/ujian-nasional-penentu-kelulusan/</link>
		<comments>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/05/17/ujian-nasional-penentu-kelulusan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 May 2008 11:16:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arhiefstyle87</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arhiefstyle87.wordpress.com/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[Berbicara mengenai Ujian Nasional (UN) tampaknya tak akan pernah membosankan. Apalagi mulai tahun ini juga digelar UN untuk jenjang SD dengan tajuk ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN).
Di tengah polemik UN yang pasang surut menerpa pemerintah maju tak gentar menggelar UN. Untuk menghadapi UN seperti tahun-tahun sebelumnya program pengayaan pun diselenggarakan pihak sekolah melalui penambahan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arhiefstyle87.wordpress.com&blog=815275&post=76&subd=arhiefstyle87&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal">Berbicara mengenai Ujian Nasional (UN) tampaknya tak akan pernah membosankan. Apalagi mulai tahun ini juga digelar UN untuk jenjang SD dengan tajuk ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN).</p>
<p>Di tengah polemik UN yang pasang surut menerpa pemerintah maju tak gentar menggelar UN. Untuk menghadapi UN seperti tahun-tahun sebelumnya program pengayaan pun diselenggarakan pihak sekolah melalui penambahan jam pelajaran. Bahkan tak ketinggalan menggandeng lembaga bimbingan belajar agar para siswanya sukses UN.</p>
<p>Pola menghadapi UN seperti itu tentu saja bukan lagi mengejutkan. Setiap tahun selalu ditemukan pola-pola serupa yang dilakukan pihak sekolah. Perbedaannya, apa yang sering dilakukan pihak sekolah pada jenjang SMP/sederajat dan SMA/sederajat itu kini juga diikuti sekolah-sekolah di jenjang SD.</p>
<p>Terkait dengan pergelaran UN memang pro kontra diakui terus muncul sampai detik ini. Salah satunya terkait dengan pola belajar menjelang UN yang dilakukan selama ini.</p>
<p>Seperti terlihat pihak sekolah dan para siswa cukup tertantang dengan pergelaran UN. Entah apakah direkayasa atau berangkat dari kesadaran pribadi siswa terus mempersiapkan diri dengan tekun belajar. Pihak sekolah pun tak mengenal bosan untuk memberikan pendalaman terhadap materi pelajaran yang akan di-UN-kan.</p>
<p>Bahkan, dengan target lulus UN siswa tingkat akhir terus di-drill dengan menjawab soal-soal multiple choice yang diprediksi akan keluar di UN. Yang jelas, UN 2008 dihadapi siswa-siswa jenjang pendidikan dasar dan menengah pada April sampai Mei.</p>
<p>Untuk siswa SMA/sederajat menghadapi UN pada 22-24 April 2008 lalu. Sedangkan siswa SMP/sederajat pada 5-8 Mei 2008 dan siswa SD pada 13-15 Mei 2008. Diwartakan, UN SMA/sederajat pada tahun ini ditambah 3 mata pelajaran.</p>
<p>Tahun lalu, siswa SMA/sederajat hanya mengerjakan ujian Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan matematika. Kini, siswa SMA jurusan IPA ditambah dengan mata pelajaran Biologi, Kimia, dan Fisika. Ada pun siswa SMA jurusan IPS ditambah dengan mata pelajaran Ekonomi, Sosiologi, dan Geografi. Sementara itu untuk siswa SMA Jurusan Bahasa ditambah bahasa asing, sastra Indonesia, dan sejarah budaya/antropologi. Siswa SMA Jurusan Keagamaan akan mendapatkan ujian tambahan Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, dan Tasawuf.</p>
<p>Tak berbeda dengan siswa SMA siswa SMP pun mengalami penambahan mata pelajaran yang diujikan. Selain Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika UN untuk siswa SMP ditambah dengan mata pelajaran IPA. Untuk siswa SD, UASBN yang digelar pertama kali pada tahun ini akan mengujikan mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA.</p>
<p>Selain ada penambahan mata pelajaran untuk UN SMP/sederajat dan SMA/sederajat, standar kelulusan UN pada tahun ini pun meningkat. Pada UN 2008, standar kelulusan adalah rata-rata 5,25 untuk enam mata pelajaran tanpa ada nilai di bawah 4,25.</p>
<p>Setiap siswa boleh mendapatkan nilai 4 asalkan nilai mata pelajaran lainnya<br />
rata-rata 6. Begitu juga untuk siswa SMK harus memiliki nilai kompetensi kejuruan minimal 7 untuk bisa dinyatakan lulus. Jika standar kelulusan untuk UN SMP/sederajat dan SMA/sederajat ditentukan secara nasional, maka pada UASBN untuk siswa SD ditentukan oleh masing-masing sekolah di setiap kabupaten/kota.</p>
<p>Disadari atau tidak, dari pengalaman selama ini, standar kelulusan yang ditetapkan Depdiknas tak dimungkiri menjadi momok tersendiri. Motivasi pihak sekolah menggulirkan kebijakan penambahan jam pelajaran dan program try out UN lebih disebabkan adanya standar kelulusan yang ditetapkan Depdiknas.</p>
<p>Asumsi ini tentu tak berlebihan karena tak pernah pihak sekolah membuat kebijakan seperti itu saat diselenggarakan ujian sekolah. Dengan adanya standar kelulusan yang harus dicapai pihak sekolah pun tidak bisa main-main lagi karena berkaitan dengan masa depan siswa.</p>
<p>Berbeda dengan ujian sekolah. Pihak sekolah tak pernah &#8216;terbebani&#8217; dengan target standar kelulusan. Bahkan pengatrolan nilai tidak dimungkiri sering kali dilakukan. <span style="font-family:&quot;">�</span></p>
<p>Memang tak dimungkiri jika UN dengan standar kelulusan yang dipatok secara nasional telah menyebabkan pihak sekolah berorientasi pada UN ansich. Kendati masih ada ujian yang diselenggarakan pihak sekolah otoritas UN dalam meluluskan siswa tetap besar. Dengan kata lain ujian sekolah belum bertaji berhadapan dengan standar kelulusan UN yang dipatok Depdiknas.</p>
<p>Berbicara lebih lanjut dengan melihat fakta di lapangan dan berita-berita di surat kabar tampaknya ada beberapa hal yang perlu dijernihkan mengenai UN. Pertama, apakah UN merupakan penentu tunggal kelulusan? Kedua, apakah mata pelajaran yang tidak di-UN-kan tidak penting untuk meluluskan siswa?</p>
<p>Jika UN dikatakan sebagai penentu tunggal kelulusan boleh jadi akibat dari standar nasional yang ditetapkan. Dengan adanya standar nasional, para siswa dituntut untuk berjuang maksimal agar bisa lulus. Adanya kondisi seperti itu akhirnya berkembang persepsi bahwa kelulusan siswa hanya ditentukan lewat UN. Padahal, penentuan kelulusan siswa memiliki berbagai persyaratan tidak hanya lulus UN.</p>
<p>Persyaratan kelulusan siswa itu telah dijelaskan dalam PP No 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP). Pada Pasal 72 (1) PP No. 19/2005 disebutkan bahwa peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah: a. menyelesaikan seluruh program pembelajaran; b. memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan; c. lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu<br />
pengetahuan dan teknologi; dan d. lulus ujian nasional.</p>
<p>Nah, poin a, b, dan c yang menentukan kelulusan siswa itu jelas agak dialpakan. Yang terjadi selama ini adalah kejar target lulus UN dengan menempatkan mata pelajaran non-UN secara kurang proporsional. Dengan mencermati isi Pasal 72 (1) PP No 19/2005 itu pihak sekolah selayaknya mendudukkan setiap mata pelajaran pada posisi sederajat karena sama-sama menentukan kelulusan siswa.</p>
<p>Dari uraian di atas akhirnya menjawab pertanyaan kedua. Apakah mata pelajaran yang tidak di-UN-kan tidak penting untuk meluluskan siswa? Jawabannya kian jelas bahwa semua mata pelajaran memegang posisi penting dalam meluluskan siswa.</p>
<p>Pertanyaan selanjutnya apakah pihak sekolah berani untuk tidak meluluskan siswa jika mata pelajaran non-UN belum dikuasai siswa? Atau dengan kata lain apakah pihak sekolah tidak akan meluluskan siswa jika hasil ujian sekolahnya terhitung di bawah rata-rata? Tentu saja hanya pihak sekolahlah yang berhak menjawabnya. Wallahulam.<br />
<span style="font-family:&quot;">�</span><br />
<strong>Hendra Sugiantoro</strong><strong><br />
<strong>Karangmalang Yogyakarta 55281</strong><br />
<strong>hendra_lenteraindonesia@yahoo.co.id</strong></strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arhiefstyle87.wordpress.com/76/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arhiefstyle87.wordpress.com/76/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arhiefstyle87.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arhiefstyle87.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arhiefstyle87.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arhiefstyle87.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arhiefstyle87.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arhiefstyle87.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arhiefstyle87.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arhiefstyle87.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arhiefstyle87.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arhiefstyle87.wordpress.com/76/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arhiefstyle87.wordpress.com&blog=815275&post=76&subd=arhiefstyle87&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/05/17/ujian-nasional-penentu-kelulusan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33b921d0c64c5cd19ccbeecc563e019f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arif Keren</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KOMPAS: Standar UASBN Rendah</title>
		<link>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/05/16/kompas-standar-uasbn-rendah/</link>
		<comments>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/05/16/kompas-standar-uasbn-rendah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 May 2008 14:33:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arhiefstyle87</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arhiefstyle87.wordpress.com/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[Sekolah Ingin Semua Siswa Lulus
http://kompas.com
Jakarta, kompas &#8211; Sekolah rata-rata menetapkan standar kelulusan yang
rendah dalam pelaksanaan ujian akhir sekolah berstandar nasional atau
UASBN untuk tingkat sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah. Hal ini
disebabkan pihak sekolah tidak ingin ada siswanya yang tidak lulus UASBN
sehingga merusak reputasi sekolah.
Dalam pelaksanaan UASBN yang pertama kali ini, setiap sekolah memang
diberikan keleluasaan menentukan standar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arhiefstyle87.wordpress.com&blog=815275&post=72&subd=arhiefstyle87&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sekolah Ingin Semua Siswa Lulus<br />
http://kompas.com<br />
<span class="yshortcuts" style="border-bottom:1px dashed #0066cc;background:transparent none repeat scroll 0 50%;cursor:pointer;">Jakarta</span>, kompas &#8211; Sekolah rata-rata menetapkan standar kelulusan yang<br />
rendah dalam pelaksanaan ujian akhir sekolah berstandar nasional atau<br />
UASBN untuk tingkat sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah. Hal ini<br />
disebabkan pihak sekolah tidak ingin ada siswanya yang tidak lulus UASBN<br />
sehingga merusak reputasi sekolah.</p>
<p>Dalam pelaksanaan UASBN yang pertama kali ini, setiap sekolah memang<br />
diberikan keleluasaan menentukan standar kelulusan siswa-siswanya. Jika<br />
standar kelulusan tinggi, secara tidak langsung menunjukkan mutu lulusan<br />
sekolah bersangkutan. Namun, kenyataannya, banyak sekolah menetapkan<br />
standar kelulusan rendah, bahkan di bawah 3, untuk tiga mata pelajaran<br />
yang diujikan, yakni Bahasa Indonesia, Matematika dan IPA, agar semua<br />
siswanya lulus.</p>
<p>Berdasarkan data yang dihimpun Kompas dari berbagai wilayah, Kamis<br />
(15/5), standar kelulusan rendah bukan hanya di sekolah dasar daerah<br />
terpencil, tetapi juga di kawasan perkotaan. ”Dengan sarana sekolah yang<br />
sangat terbatas, sekolah tidak berani menetapkan standar kelulusan<br />
tinggi, rata-rata berkisar 2 hingga 2,28,” kata Sudarman, pengawas<br />
sekolah di Kecamatan Cibinong, salah satu daerah di pinggiran Kabupaten<br />
<span class="yshortcuts" style="border-bottom:1px dashed #0066cc;background:transparent none repeat scroll 0 50%;cursor:pointer;">Cianjur, Jawa Barat</span>. ”Yang penting siswa lulus sehingga bisa melanjutkan<br />
ke SMP,” ujarnya.</p>
<p>Turman, Kepala SDN Nanggung, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten,<br />
mengatakan, sekolah menetapkan nilai minimal lulus untuk Bahasa<br />
Indonesia 3, IPA 3, dan Matematika 2,5. Penetapan nilai minimal di<br />
sekolah rendah karena disesuaikan dengan kondisi ekonomi keluarga siswa<br />
yang umumnya tidak sanggup membayar biaya les di luar yang disediakan<br />
sekolah.</p>
<p>Omang Adiwijaya, Kepala SDN Percontohan Lubang Buaya 12 <span class="yshortcuts" style="border-bottom:1px dashed #0066cc;cursor:pointer;">Jakarta</span>,<br />
mengatakan, sekolah menetapkan nilai minimal lulus UASBN Bahasa<br />
Indonesia 3, Matematika 2, dan IPA 3. ”Lebih baik standar lulusnya<br />
rendah, tetapi nilai yang dicapai para siswa bisa di atas standar itu,”<br />
kata Omang.</p>
<p>Rukmini, Kepala SDN Percontohan Kelapa Dua Wetan 01 <span class="yshortcuts" style="border-bottom:1px dashed #0066cc;cursor:pointer;">Jakarta</span>, menetapkan<br />
nilai minimal lulus Bahasa Indonesia 4, Matematika 3, dan IPA 4 dengan<br />
mempertimbangkan kemampuan siswa.</p>
<p>Direktur Pendidikan TK/SD Depdiknas Mudjito AK mengatakan, sekolah<br />
menetapkan standar kelulusan rendah karena UASBN baru pertama kalinya<br />
dilakukan sehingga kemampuan siswa masih diduga-duga.</p>
<p>”Meski kelulusan siswa SD terkesan lebih mudah, tidak berarti sekolah<br />
bisa sembarangan menentukan standar kelulusan. Sebab, besarnya standar<br />
kelulusan ini bisa dijadikan bahan penilaian masyarakat terhadap mutu<br />
sekolah yang bersangkutan,” kata Mudjito. (ELN/INE)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arhiefstyle87.wordpress.com/72/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arhiefstyle87.wordpress.com/72/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arhiefstyle87.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arhiefstyle87.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arhiefstyle87.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arhiefstyle87.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arhiefstyle87.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arhiefstyle87.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arhiefstyle87.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arhiefstyle87.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arhiefstyle87.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arhiefstyle87.wordpress.com/72/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arhiefstyle87.wordpress.com&blog=815275&post=72&subd=arhiefstyle87&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/05/16/kompas-standar-uasbn-rendah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33b921d0c64c5cd19ccbeecc563e019f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arif Keren</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Indonesia Masih Utamakan Pengajaran</title>
		<link>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/05/07/pendidikan-indonesia-masih-utamakan-pengajaran/</link>
		<comments>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/05/07/pendidikan-indonesia-masih-utamakan-pengajaran/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 May 2008 07:04:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arhiefstyle87</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arhiefstyle87.wordpress.com/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[Kelemahan yang dialami oleh sistem pendidikan nasional di Indonesia terletak pada pola implementasinya yang lebih menekankan pada pengajaran, bukan pada pendidikan. Hal tersebut diungkapkan Pengamat Pendidikan Arief Rahman sehubungan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei, Jumat (2/5).
Menurutnya, mengajar dan mendidik memiliki definisi yang berbeda, mengajar adalah proses mentranfer ilmu pengetahuan, sedangkan mendidik adalah membentuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arhiefstyle87.wordpress.com&blog=815275&post=64&subd=arhiefstyle87&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kelemahan yang dialami oleh sistem pendidikan nasional di Indonesia terletak pada pola implementasinya yang lebih menekankan pada pengajaran, bukan pada pendidikan. Hal tersebut diungkapkan Pengamat Pendidikan Arief Rahman sehubungan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei, Jumat (2/5).</p>
<p>Menurutnya, mengajar dan mendidik memiliki definisi yang berbeda, mengajar adalah proses mentranfer ilmu pengetahuan, sedangkan mendidik adalah membentuk watak, sikap, moral, dan pola pikir. Dengan demikian, mengajar belum tentu mendidik.</p>
<p>Sebab, lanjut Arief, yang dihasilkan dari pengajaran hanyalah bersifat kecerdasan, tetapi belum tentu menjamin terbentuknya budi pekerti.</p>
<p>&#8220;Padahal tidak hanya pintar yang dibutuhkan. Jangan cuma menekankan pengajaran, ini berbahaya, &#8221; tegasnya.</p>
<p>Apabila sistem pengajaran tetap ditonjolkan, tambahnya, fenomena yang terjadi sekarang akan terus terjadi, di mana banyak pejabat memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi, namun melakukan tindakan yang tercela seperti korupsi.</p>
<p>&#8220;Ini membuktikan, bahwa kecerdasan otak seringkali tak koheren dengan kecerdasan nurani.Percuma bila sekedar cerdas tapi moral bobrok, &#8221; tukas Arief.</p>
<p>Selain sistem pendidikan, arif juga mengkritisi kualitas guru yang masih rendah. Ia menyatakan, ditingkat pendidikan guru saja, pembinaan yang diberikan terhadap calon guru masih sangat lemah, pada saat melakukan program kerja lapangan (PKL).</p>
<p>Menurut Arief, saat PKL di mana mahasiswa turun ke lapangan untuk mengajar di sekolah-sekolah, para mahasiswa itu masih juga sekadar berkutat dengan proses belajar mengajar, tanpa arah didikan fundamental kepada murid-muridnya. &#8220;Jadi yang pertama kali perlu digodok itu gurunya, &#8221; imbuh Arief.</p>
<p><strong>Anggaran Penentu Kelancaran Pendidikan</strong></p>
<p>Mengenai Anggaran pendidikan, Pemerintah harus konsisten memenuhi anggaran pendidikan sebesar 20 persen, sesuai dengan amanat konstitusi. Sehingga, mutu pendidikan di masa depan dapat berjalan dengan baik.</p>
<p>&#8220;Ada atau tidak ada uang, anggaran pendidikan wajib dipenuhi, &#8221; kata Arief yang merupakan Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia UNESCO.</p>
<p>Arief mengaku, bahwa kebijakan anggaran tiap daerah berbeda. Daerah kaya mungkin bisa memenuhi anggaran pendidikan sebesar 20 persen, namun daerah miskin belum bisa.</p>
<p>Namun demi pendidikan nasional yang lebih baik di masa depan, harus dicari cara agar pemerintah daerah maupun pemerintah nasional bisa memenuhi anggaran pendidikan tersebut. Misalnya dengan menggeser alokasi anggaran dari sektor lain.</p>
<p>&#8220;Merupakan suatu hal mutlak bahwa pendidikan harus mendapat prioritas utama dalam proses pembangunan nasional. Terlebih, masa depan bangsa terletak di tangan generasi muda yang pastinya membutuhkan pendidikan terbaik untuk membawa Indonesia menjadi negara yang tangguh dan diperhitungkan, &#8221; tandasnya.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arhiefstyle87.wordpress.com/64/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arhiefstyle87.wordpress.com/64/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arhiefstyle87.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arhiefstyle87.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arhiefstyle87.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arhiefstyle87.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arhiefstyle87.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arhiefstyle87.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arhiefstyle87.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arhiefstyle87.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arhiefstyle87.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arhiefstyle87.wordpress.com/64/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arhiefstyle87.wordpress.com&blog=815275&post=64&subd=arhiefstyle87&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/05/07/pendidikan-indonesia-masih-utamakan-pengajaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33b921d0c64c5cd19ccbeecc563e019f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arif Keren</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pemangkasan Anggaran Mutu Pendidikan Dikorbankan</title>
		<link>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/04/18/pemangkasan-anggaran-mutu-pendidikan-dikorbankan/</link>
		<comments>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/04/18/pemangkasan-anggaran-mutu-pendidikan-dikorbankan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Apr 2008 14:14:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arhiefstyle87</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arhiefstyle87.wordpress.com/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[SUARA PEMBARUAN DAILY
[JAKARTA] Pemerintah dinilai tidak memiliki niat baik terhadap kualitas
pendidikan nasional. Pemangkasan anggaran di sektor pendidikan merupakan
pelanggaran terhadap UUD 1945 dan UU No 23/2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional mengakibatkan mutu pendidikan terombang-ambing.
&#8220;Pemerintah seharusnya tidak boleh mengorbankan anggaran pendidikan.
Komisi X DPR menyayangkan pemotongan anggaran di sektor pendidikan. Kita
khawatir, ada imbas pada wajib belajar pendidikan dasar sembilan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arhiefstyle87.wordpress.com&blog=815275&post=63&subd=arhiefstyle87&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>SUARA PEMBARUAN DAILY<br />
[JAKARTA] Pemerintah dinilai tidak memiliki niat baik terhadap kualitas<br />
pendidikan nasional. Pemangkasan anggaran di sektor pendidikan merupakan<br />
pelanggaran terhadap UUD 1945 dan UU No 23/2003 tentang Sistem<br />
Pendidikan Nasional mengakibatkan mutu pendidikan terombang-ambing.</p>
<p>&#8220;Pemerintah seharusnya tidak boleh mengorbankan anggaran pendidikan.<br />
Komisi X DPR menyayangkan pemotongan anggaran di sektor pendidikan. Kita<br />
khawatir, ada imbas pada wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun,&#8221;<br />
kata anggota Komisi X DPR Cyprianus Aoer, dalam diskusi bertajuk<br />
&#8220;Membedah Perspektif Pembiayaan Pendidikan&#8221;, di Jakarta, Kamis (17/4)<br />
yang dihadiri Sekretaris Jenderal Departemen Pendidikan Nasional (Sekjen<br />
Depdiknas) Dodi Nandika, dan Kepala Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi<br />
(Dikmenti) DKI Jakarta Margani Mustar.</p>
<p>Cyprianus mengatakan, anggaran pendidikan tidak bisa digiring ke ranah<br />
politik dan tidak perlu lagi menjadi diskusi karena sudah ada dalam UUD<br />
1945 dan UU Sisdiknas. Dia mengemukakan, paradigma pemerintah dalam<br />
pendidikan sudah banyak melenceng. Di antaranya, lahirnya Perpres No<br />
77/2007 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang<br />
Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal.</p>
<p>Cyprianus menyarankan agar anggaran pendidikan yang saat ini ada, perlu<br />
dilakukan perbaikan manajerial. Sehingga penggunaan anggaran pun dapat<br />
optimal untuk kepentingan pendidikan rakyat miskin dan kemakmuran<br />
rakyat. Artinya, katanya, optimalisasi harus disertai dengan kesadaran<br />
untuk mengubah nasib rakyat.</p>
<p>*Butuh Dana Besar*</p>
<p>Sementara itu, Sekjen Depdiknas Dodi Nandika mengatakan, untuk<br />
menggratiskan biaya pendidikan dasar sembilan tahun dibutuhkan dana Rp<br />
11,55 triliun. Dana sebanyak itu diperlukan untuk menambah biaya bantuan<br />
operasional sekolah (BOS) di tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah<br />
pertama.</p>
<p>Selama ini, terangnya, pemerintah menetapkan besaran BOS untuk<br />
SD/madrasah ibtidaiyah sederajat sebesar Rp 254.000 per siswa per tahun.<br />
Sedangkan untuk tingkat SMP/sederajat sebesar Rp 354.000 per siswa per<br />
tahun. Jumlah siswa SD/sederajat saat ini 30.004.171 orang, jika<br />
dikalikan dengan nilai BOS SD, total dana yang digunakan adalah Rp 8,12<br />
triliun.</p>
<p>Jumlah siswa SMP/sederajat saat ini 11.840.030 orang, jika dikalikan<br />
dengan nilai BOS, total dana yang digunakan adalah Rp 4,46 triliun.<br />
&#8220;Dana BOS SD harus ditambahkan menjadi Rp 14,06 triliun, dan BOS SMP<br />
menjadi Rp 10,07 triliun,&#8221; ujarnya.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arhiefstyle87.wordpress.com/63/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arhiefstyle87.wordpress.com/63/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arhiefstyle87.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arhiefstyle87.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arhiefstyle87.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arhiefstyle87.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arhiefstyle87.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arhiefstyle87.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arhiefstyle87.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arhiefstyle87.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arhiefstyle87.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arhiefstyle87.wordpress.com/63/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arhiefstyle87.wordpress.com&blog=815275&post=63&subd=arhiefstyle87&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/04/18/pemangkasan-anggaran-mutu-pendidikan-dikorbankan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33b921d0c64c5cd19ccbeecc563e019f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arif Keren</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengubah Konflik Menjadi Kerja Sama</title>
		<link>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/04/18/mengubah-konflik-menjadi-kerja-sama/</link>
		<comments>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/04/18/mengubah-konflik-menjadi-kerja-sama/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Apr 2008 13:59:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arhiefstyle87</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arhiefstyle87.wordpress.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[ Oleh
Roy Sembel dan Sandra Sembel
Kita menjadi malas bekerja sama dengan orang-orang ini, sehingga penyelesaian pekerjaan terhambat, bahkan bisa menyebabkan pekerjaan terbengkalai atau sama sekali tidak terselesaikan. Jika semua ini terjadi, konsumen akan lari, dan lambat laun, bisnis kita pun akan hancur. Bagaimana agar konflik bisa diubah menjadi kerja sama?
PENYEBAB KONFLIK
Konflik di tempat kerja seringkali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arhiefstyle87.wordpress.com&blog=815275&post=62&subd=arhiefstyle87&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p> Oleh<br />
Roy Sembel dan Sandra Sembel</p>
<p>Kita menjadi malas bekerja sama dengan orang-orang ini, sehingga penyelesaian pekerjaan terhambat, bahkan bisa menyebabkan pekerjaan terbengkalai atau sama sekali tidak terselesaikan. Jika semua ini terjadi, konsumen akan lari, dan lambat laun, bisnis kita pun akan hancur. Bagaimana agar konflik bisa diubah menjadi kerja sama?<br />
PENYEBAB KONFLIK<br />
Konflik di tempat kerja seringkali tidak bisa dielakkan. Ada banyak hal yang bisa menyulut konflik. Namun kali ini pembahasan dibatasi pada konflik yang terjadi karena adanya perbedaan-perbedaan yang mendasar di antara pihak-pihak yang langsung terlibat dalam konflik. Untuk mengatasi konflik yang terjadi ataupun menghindari agar konflik bisa dihindari, kita perlu terlebih dahulu melakukan identifikasi atas titik-titik perbedaan yang mungkin ada, yaitu:</p>
<p>Perbedaan kepribadian<br />
Menurut Alan A. Cavaiola, PhD, and Neil J. Lavender, PhD dalam buku mereka Toxic Coworkers: How to Deal with Dysfunctional People on the Job langkah pertama yang perlu dilakukan dalam mengatasi konflik adalah mengidentifikasikan orang-orang yang menyebabkan konflik tersebut, lalu mencari strategi untuk mengubah konflik tersebut menjadi kerja sama yang menguntungkan.<br />
Seorang rekan sekerja yang sangat senang memperhatikan detail, akan menghadapi kesulitan menghadapi rekan lainnya yang memiliki kepribadian yang berlawanan. Tipe ”detail” seperti ini cenderung mencari-cari kesalahan, dan memaksakan kehendaknya pada orang lain. Mereka juga merasa bahwa cara merekalah yang terbaik untuk dilakukan. Orang-orang seperti ini menurut Caviola dan Lavender termasuk dalam kategori kepribadian Obsessive Compulsive.</p>
<p>Perbedaan cara pandang<br />
Seringkali konflik terjadi karena adanya perbedaan cara pandang. Seorang anggota tim yang berpandangan bahwa pekerjaan harus dikerjakan dengan prinsip-prinsip biar lambat asal sempurna. Rekan kerja ini seringkali mendapat hambatan bekerja sama dengan anggota tim lain yang berpandangan bahwa yang penting pekerjaan bisa diselesaikan dengan cepat dan tepat waktu, kekurangan bisa diperbaiki kemudian. Rekan lain yang berpandangan bahwa prestasi pribadi lebih penting dari pada prestasi tim, akan melakukan berbagai cara untuk menunjukkan keunggulannya tanpa memperhatikan dampak perbuatan tersebut terhadap kinerja tim. Sedangkan rekan kerja yang lebih mementingkan kinerja tim, mungkin saja tidak terlalu memberi perhatian pada prestasi-prestasi dicapai tiap individu dalam tim.</p>
<p>Perbedaan tujuan<br />
Konflik juga terjadi karena adanya perbedaan tujuan dan kepentingan antara tujuan individu dalam tim dan tujuan tim atau perusahan itu sendiri. Seorang yang bertujuan memenuhi target jangka pendek dengan melakukan berbagai cara untuk mencapainya, misalnya mengurangi biaya dengan mengurangi kualitas, menawarkan diskon besar walaupun harus mengorbankan image dan profit perusahaan untuk mengejar volume penjualan yang besar. Orang seperti ini akan mendapat masalah jika bekerja sama dengan rekannya yang lebih mendahulukan pencapaian tujuan perusahaan dalam jangka panjang, memenuhi target bukannya dari segi angka saja tapi juga dari segi profitabilitas jangka panjang. Untuk itu mereka mungkin akan mempertahankan kualitas, dan mempertahankan image dan nilai produk dan jasa yang ditawarkan sehingga bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi. Jadi walaupun volume penjualan lebih kecil, tetap bisa mendapatkan profit yang sama atau bahkan lebih besar.</p>
<p>Perbedaan pemahaman<br />
Konflik sering juga terjadi karena miskomunikasi yang menimbulkan perbedaan pemahaman. Hal ini bisa terjadi karena penjelasan yang didengar, fakta yang dikumpulkan kurang lengkap ataupun kurang akurat. Pemahaman yang setengah-setengah, tidak tuntas tersebut, berpotensi menimbulkan masalah. Misalnya saja, kita menawarkan pertolongan kita pada rekan sekerja yang terlihat terlalu banyak dibebani dengan pekerjaan. Bisa saja ini disalahartikan oleh rekan sekerja tersebut sebagai penghinaan karena mereka merasa bahwa kita menganggap mereka kurang mampu melakukan pekerjaan mereka, padahal kita yang sudah lebih dulu menyelesaikan pekerjaan, memang tulus ingin membantu mereka. Atau, atasan atau ketua tim memberikan tugas kepada kita yang bertumpang tindih dengan tugas yang harus dilakukan oleh anggota tim lainnya. Kondisi ini juga berpotensi menimbulkan konflik antara kita dan rekan sekerja tersebut.<br />
MENGATASI KONFLIK<br />
Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mengatasi konflik yang terjadi di tempat kerja. Berikut adalah cara-cara mengatasi konflik yang diusulkan oleh beberapa pakar dalam buku-buku yang mereka tulis.</p>
<p>Hindari sumber konflik<br />
Daniel Robin dalam artikelnya ”Strategies for handling difficult workplace behaviors” mengatakan jika kita dapat melakukan pekerjaan tanpa harus berinteraksi langsung dengan orang yang ”bisa menimbulkan konflik”, lakukanlah hal ini. Kita tidak perlu menguras tenaga, pikiran dan waktu untuk mencoba mengubah mereka ataupun mengubah diri kita sendiri. Kita tidak perlu bersusah payah mengatasi rasa kesal, ataupun marah yang muncul karena berurusan dengan mereka. Dengan demikian kita dan orang tersebut bisa melakukan pekerjaan masing-masing tanpa harus dipusingkan untuk menghadapi ketidakcocokan ataupun perbedaan-perbedaan menyolok lainnya yang bisa saja memiliki potensi yang besar sebagai penyebab konflik.</p>
<p>Netralisasi sikap<br />
Menurut Robin, cara lain yang bisa kita lakukan untuk mengatasi konflik adalah menetralisasi sikap kita terhadap orang-orang yang berpotensi menjadi sumber konflik. Kalaupun kita tidak bisa menghindari interaksi dengan orang-orang yang mungkin bisa menyebabkan konflik, yang bisa kita lakukan adalah menetralisasi sikap kita terhadap orang-orang tersebut dengan mengabaikan kebiasaan-kebiasaan buruk mereka yang menyebalkan. Sebaliknya, yang bisa kita lakukan adalah memfokuskan perhatian pada kekuatan orang-orang tersebut dan mencari strategi ampuh untuk memanfaatkan kekuatan mereka untuk mendukung pekerjaan kita. Misalnya, jika orang-orang tersebut seringkali mengkritik pekerjaan kita dan merasa bahwa mereka bisa melakukannya dengan lebih baik dari kita, serahkan saja pekerjaan tersebut kepada mereka, dan kita bisa memfokuskan waktu, tenaga dan pikiran kita untuk mengerjakan pekerjaan yang lain. Dengan demikian lebih banyak pekerjaan yang bisa terselesaikan dari pada kita meladeni kritik mereka yang mungkin akan menyakitkan hati dan menyurutkan motivasi kita untuk bekerja.</p>
<p>”Ubah” sikap kita<br />
Dr. Rick Brinkman dan Dr. Rick Kirschner dalam buku mereka Dealing with People You Can’t Change mengusulkan untuk mengendalikan reaksi kita dalam menghadapi orang-orang yang merongrong kita dan pekerjaan kita. Menurut kedua pakar ini, kita mungkin tidak bisa mengubah orang-orang seperti ini seratus persen, tetapi yang bisa kita lakukan adalah mengubah sikap kita pada pengaruh negatif yang mereka timbulkan. Jika mereka mulai berulah, kita tidak perlu merasa terusik. Yang perlu kita lakukan adalah menghampiri mereka, memandang mereka dengan tegas (tanpa rasa emosi yang meluap) dan berkata dengan tenang, ”Saya menghormati pendapat anda, dan saya juga mempersilahkan Anda bekerja dengan cara yang Anda anggap baik untuk menyelesaikan bagian anda. Tetapi, saya harap Anda juga menghormati pendapat saya (seperti saya telah menghormati pendapat anda), dan cara saya menyelesaikan pekerjaan saya (seperti saya juga telah mempersilahkan Anda untuk mengerjakan bagian Anda tanpa mengganggu pekerjaan saya).” Dengan kalimat ini kita menunjukan bahwa perbedaan memang ada, kita menghormati perbedaan tersebut, dan kita berharap mereka pun bisa menghormati kita.</p>
<p>”Blending”<br />
Cara lain yang diusulkan Dr. Brinkman dan Dr. Kirschner adalah ”blending”, yaitu cara yang dilakukan untuk mengurangi perbedaan yang ada, mencari persamaan, dan berangkat dari persamaan tersebut. Kita bisa mencoba mengurangi perbedaan dengan bersama-sama berangkat menuju titik tengah. Cara lain adalah mencari titik persamaan dari sekian perbedaan yang ada. Maksudnya, jika ternyata kita memiliki perbedaan cara pandang tetapi memiliki tujuan akhir yang sama. Kita bisa memfokuskan pada tujuan yang sama tersebut. Selanjutnya kita bisa mencoba untuk menggalang koordinasi dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan agar bisa diarahkan untuk mencapai tujuan yang sama tersebut.</p>
<p>”Understanding”<br />
Yang juga bisa kita lakukan dalam mengatasi konflik, adalah mencari sumber masalahnya untuk kemudian memecahkan masalah tersebut bersama. Semua sikap ataupun tindakan serta keputusan yang dilakukan seseorang pasti ada alasannya. Jika kita bisa menemukan ataupun mencari tahu alasan sebenarnya dari sebuah tindakan, tentu kita akan memahami mengapa seseorang melakukan suatu tindakan (yang awalnya tidak kita mengerti). Jika kita sudah bisa mengerti alasan dari sebuah tindakan yang dilakukan, kita mungkin bisa mencari cara untuk menyelesaikan konflik yang sudah muncul, kita juga bisa mencoba membantu orang yang tadinya kita anggap sebagai ”sumber masalah” untuk bersama-sama menyelesaikan masalah yang muncul.<br />
Jadi, jika kita menghadapi konflik, yang pertama kali harus kita lakukan adalah identifikasi sumber penyebab konflik, dan memilih strategi yang tepat untuk mengatasi konflik tersebut sehingga kita bisa mengubah konflik menjadi kerja sama yang harmonis. Dengan kerja sama ini diharapkan kita bisa lebih berprestasi dan memperoleh banyak dukungan untuk berprestasi.<br />
www.sinarharapan.co.id</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arhiefstyle87.wordpress.com/62/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arhiefstyle87.wordpress.com/62/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arhiefstyle87.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arhiefstyle87.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arhiefstyle87.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arhiefstyle87.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arhiefstyle87.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arhiefstyle87.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arhiefstyle87.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arhiefstyle87.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arhiefstyle87.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arhiefstyle87.wordpress.com/62/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arhiefstyle87.wordpress.com&blog=815275&post=62&subd=arhiefstyle87&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/04/18/mengubah-konflik-menjadi-kerja-sama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33b921d0c64c5cd19ccbeecc563e019f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arif Keren</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jalan Pintas Menaklukkan Ujian Semu</title>
		<link>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/04/15/jalan-pintas-menaklukkan-ujian-semu/</link>
		<comments>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/04/15/jalan-pintas-menaklukkan-ujian-semu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Apr 2008 23:45:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arhiefstyle87</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arhiefstyle87.wordpress.com/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[TEMPO Edisi. 08/XXXVII/14 &#8211; 20 April 2008
Ujian nasional membuat guru, orang tua, dan murid sekolah dasar cemas.
Sekolah pun berubah jadi tempat bimbingan belajar.
Wajah-wajah itu begitu belia. Tapi lihatlah, mereka tampak letih dan
terkantuk-kantuk. Mereka murid kelas enam Sekolah Dasar Negeri Gamar,
Siak Hulu, Kampar, Riau. Senin lalu, ketika hari sudah merambat senja,
anak-anak remaja itu masih berupaya menyerap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arhiefstyle87.wordpress.com&blog=815275&post=61&subd=arhiefstyle87&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>TEMPO Edisi. 08/XXXVII/14 &#8211; 20 April 2008</p>
<p>Ujian nasional membuat guru, orang tua, dan murid sekolah dasar cemas.<br />
Sekolah pun berubah jadi tempat bimbingan belajar.</p>
<p>Wajah-wajah itu begitu belia. Tapi lihatlah, mereka tampak letih dan<br />
terkantuk-kantuk. Mereka murid kelas enam Sekolah Dasar Negeri Gamar,<br />
Siak Hulu, Kampar, Riau. Senin lalu, ketika hari sudah merambat senja,<br />
anak-anak remaja itu masih berupaya menyerap pelajaran dari guru.</p>
<p>Setiap hari, selama dua jam, para murid di sekolah yang terletak 90<br />
kilometer dari ibu kota Kabupaten Kampar itu mendapat pelajaran tambahan<br />
seusai jam sekolah. Waktu tambahan yang lebih lama diberikan di Sekolah<br />
Dasar 70 Kota Timur, Gorontalo, sejak bulan lalu. Tak kurang dari tiga<br />
setengah jam tiap harinya siswa harus tetap terpaku di bangku kelasnya.</p>
<p>Kesibukan ini merambat hingga ke rumah. Para ibu harus memikirkan<br />
konsumsi anak-anaknya karena seusai sekolah mereka tidak langsung<br />
pulang. Terpaksalah, ”Makanan mereka diantar orang tua,” kata Aspa<br />
Ismail, seorang guru.</p>
<p>Ibu-ibu di Makatara, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, bahkan<br />
lebih sibuk lagi. Tak hanya perlu rantang untuk tempat makanan, mereka<br />
bahkan harus membawakan selimut karena buah hatinya harus menginap di<br />
sekolah. Menurut Kepala Dinas Pendidikan Kepulauan Talaud, Alex J.<br />
Ulaen, banyak murid yang rumahnya jauh dari sekolah, sehingga sulit<br />
kalau harus bolak-balik. ”Makanya mereka menginap saja di sekolah,” ujarnya.</p>
<p>Kesibukan yang sudah berlangsung dua bulan terakhir ini terjadi di<br />
seluruh <span class="yshortcuts" style="border-bottom:1px dashed #0066cc;cursor:pointer;">Indonesia</span> karena akan digelarnya ujian akhir sekolah berstandar<br />
nasional pada 13-15 Mei. Ini adalah ujian nasional pertama untuk anak<br />
sekolah dasar.</p>
<p>Ujian ini sebenarnya tidak seberat kakak-kakak mereka di tingkat<br />
lanjutan karena pusat hanya menyumbang 25 persen bahan, sedangkan 75<br />
persen materi ujian ditentukan provinsi. Selain itu, kriteria kelulusan<br />
juga lebih longgar karena dipatok sendiri oleh daerah masing-masing.<br />
Artinya, standarnya bisa diatur menurut kondisi daerah.</p>
<p>Walau begitu, aura ketakutan terhadap ujian ini telah menyebar. Guru dan<br />
orang tua sama-sama khawatir anak mereka tidak lulus. Apalagi tingkat<br />
ketidaklulusan dalam ujian nasional murid sekolah lanjutan selama ini<br />
seperti sebuah momok. Tahun lalu, puluhan ribu murid harus mengulang<br />
ujian karena tidak lulus.</p>
<p>Ketakutan ini mau tidak mau merambat ke para murid. ”Saya takut<br />
matematika. Sulit sekali. Semua kawanku juga takut. Karena itu, kami<br />
belajar sampai sore,” kata Saidul Arif, siswa kelas enam Sekolah Dasar<br />
Negeri 31 Kecamatan Siak Hulu, Kampar. Ada juga yang khawatir tidak bisa<br />
melanjutkan ke sekolah menengah. ”Kata ibu guru, kalau tidak lulus ujian<br />
akhir, kami tidak bisa masuk sekolah menengah. Kami tidak mau tinggal<br />
terus di sekolah dasar ini,” kata Andri, siswa lainnya.</p>
<p>Akibatnya, murid terbebani. Itulah yang sudah sejak awal diingatkan para<br />
pendidik ketika pemerintah pusat berencana menggelar ujian nasional<br />
untuk sekolah dasar. ”Kami takut, kalau mereka dibebani ujian nasional,<br />
malah tertekan dan tidak bisa berkembang sesuai dengan yang diinginkan,”<br />
kata Kepala Dinas Pendidikan Jawa Tengah, Widadi, dalam wawancara dengan<br />
Tempo, Juli tahun lalu.</p>
<p>Selain masalah materi pelajaran, guru dan orang tua pun khawatir<br />
terhadap cara pengisian lembar jawaban. Cara mengisi menggunakan pensil<br />
untuk kemudian diperiksa komputer adalah hal yang sama sekali baru bagi<br />
sebagian murid sekolah dasar. ”Bisa saja mereka mampu menyelesaikan<br />
soal, tapi salah mengikuti prosedur. Ini yang paling saya khawatirkan,”<br />
kata Yety, guru di Sekolah Dasar Gamar, Kampar.</p>
<p>Tapi kekhawatiran itu, menurut Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan<br />
Dasar dan Menengah Suyanto, terlalu mengada-ada. Murid kelas enam,<br />
katanya, sudah memiliki mental cukup kuat untuk menghadapi tekanan.<br />
”Sudah saatnya memberikan pembelajaran ke mereka untuk menghargai<br />
belajar, kemudian bersaing secara baik, dan juga menyiapkan masa depan<br />
mereka,” ujarnya.</p>
<p>Pemerintah tetap berkukuh menggelar ujian ini karena menganggap proses<br />
wajib belajar sembilan tahun sudah berjalan. Menurut Suyanto, sudah<br />
saatnya berpikir kualitas, dan ujian nasional ini adalah alat untuk<br />
memetakan kondisi pendidikan kita secara nasional.</p>
<p><span class="yshortcuts" style="border-bottom:1px dashed #0066cc;cursor:pointer;">Dari hasil ujian</span> itu, akan diketahui tingkat kemajuan tiap provinsi. Di<br />
satu provinsi yang kualitasnya rendah, bisa dilihat apakah itu karena<br />
guru atau buku yang kurang. Data itu kemudian bisa dijadikan bahan untuk<br />
mencari bentuk pembinaan berikutnya.</p>
<p>Cara berpikir pemerintah seperti ini, menurut pendidik Arief Rachman,<br />
terbalik. ”Mestinya urut-urutan pembinaan adalah pemetaan dulu untuk<br />
mengetahui kondisi sekolah, lalu diberikan bantuan. Baru setelah semua<br />
mencapai standar yang sama, dilakukan ujian nasional. Sekarang seolah<br />
ujian untuk pemetaan,” katanya.</p>
<p>Karena ujian nasional ini punya kuasa begitu besar, sekolah dan para<br />
orang tua mencari berbagai cara untuk menaklukkannya. Mereka mengarahkan<br />
siswa hanya pada tiga <span class="yshortcuts" style="border-bottom:1px dashed #0066cc;background:transparent none repeat scroll 0 50%;cursor:pointer;">mata</span> ujian: bahasa Indonesia, matematika, dan ilmu<br />
pengetahuan alam. Pelajaran lain? Lupakan saja. Ini yang disesalkan<br />
Arief Rachman. ”Masyarakat mestinya tetap mengutamakan proses, tidak<br />
hanya hasil,” ujarnya.</p>
<p>Sesal tinggal sesal. Yang terjadi dalam dua bulan terakhir sekolah telah<br />
berubah menjadi tempat bimbingan belajar untuk tiga mata pelajaran ujian<br />
nasional. Latihan ujian diperbanyak. Murid kelas enam diutamakan, kadang<br />
sampai mengorbankan jam pelajaran adik-adik kelasnya. Seperti di sebuah<br />
sekolah di Jakarta Timur yang menggelar latihan ujian pada pagi hari dan<br />
menunda jam masuk murid kelas lain menjadi pukul 9.00.</p>
<p>Ada juga yang mempercepat jam masuk siswa kelas enam. Ini terjadi di<br />
sekolah yang tergolong elite. Sekolah Dasar Laboratorium Universitas<br />
Malang, misalnya, mengawali pelajaran untuk murid kelas enam satu jam<br />
lebih awal menjadi pukul 6.00. Belum lagi les tambahan pada sore hari.<br />
Murid dengan prestasi menjulang pun tidak cukup percaya diri. Riska Alya<br />
Putri, yang pernah mewakili Sekolah Dasar Laboratorium itu ke kongres<br />
lingkungan hidup untuk anak-anak dengan tema pemanasan global di <span class="yshortcuts" style="border-bottom:1px dashed #0066cc;cursor:pointer;">Perth,<br />
Australia</span>, Juli tahun lalu, masih mencari guru privat. Rupanya, orang<br />
tuanya yang khawatir. ”Kami ingin dia lulus dengan nilai baik,” ujar<br />
Widayanto, orang tua Riska.</p>
<p>Di <span class="yshortcuts" style="border-bottom:1px dashed #0066cc;cursor:pointer;">Jakarta</span>, sekolah papan atas Al-Azhar, di kawasan Jakarta Selatan,<br />
ikut pula menambah pelajaran dua jam tiap hari. Tapi, bagi Ririz Rizani<br />
Rizkita, 11 tahun, pelajaran tambahan itu masih kurang. Maka ia pun ikut<br />
bimbingan belajar ditambah les privat pada seorang guru matematika.<br />
”Saya khawatir kalau melihat nilai-nilai saya di sekolah,” katanya.<br />
Agaknya aura ketakutan telah begitu menyebar.</p>
<p>Tidak sedikit orang tua yang harus merelakan waktunya untuk menunggu<br />
anaknya mengikuti les. Nurhayati, 53 tahun, adalah salah satunya. Warga<br />
Pondok Pinang, Jakarta Selatan, itu mengirim anaknya mengikuti bimbingan<br />
belajar tiga kali dalam seminggu dan selama itu pula ia setia menunggu.<br />
”Kalau tidak begini, ia tidak mau belajar,” ujarnya.</p>
<p>Kecemasan itu pula yang menjadi santapan penyelenggara bimbingan belajar<br />
di kota-kota besar. Primagama cabang Mayestik, Jakarta Selatan,<br />
misalnya, sejak awal tahun ajaran mengadakan kelas reguler dua kali<br />
seminggu dan menjaring 76 siswa.</p>
<p>Bimbingan belajar Alumni, yang menyediakan jasa privat untuk 1-3 siswa<br />
di rumah mereka dengan biaya Rp 900 ribu untuk delapan kali pertemuan,<br />
bisa menjaring siswa empat kali lebih banyak daripada tahun lalu.<br />
Bimbingan belajar Bintang Pelajar, yang setiap kelasnya terdiri atas<br />
lima murid, mematok angka yang menakjubkan: sampai Rp 6,6 juta!<br />
Peminatnya? Bejubel.</p>
<p>Latihan ujian juga banyak digelar bersama oleh sejumlah sekolah. Di<br />
daerah Ciputat, Tangerang, hampir saban Minggu ada try out dari sekolah<br />
ke sekolah dan peminatnya terus membludak. Bahkan Bintang Pelajar bisa<br />
menggaet hampir 9.000 murid sekolah dasar untuk latihan ujian di<br />
Gelanggang Olahraga Bung Karno, Senayan, <span class="yshortcuts" style="border-bottom:1px dashed #0066cc;background:transparent none repeat scroll 0 50%;cursor:pointer;">Jakarta</span>, Minggu dua pekan lalu.</p>
<p>Segala kecemasan ini menimbulkan perputaran uang yang tak sedikit. Dari<br />
kocek pemerintah, untuk menggelar ujian nasional sekolah dasar ini,<br />
diperlukan lebih dari Rp 80 miliar. Biaya terbanyak tentu keluar dari<br />
5,2 juta orang tua yang anaknya bersekolah di 184 ribu sekolah dasar dan<br />
madrasah. Mereka harus menyediakan uang ekstra jutaan rupiah untuk<br />
berbagai persiapan ujian seperti les, latihan ujian, membeli pensil 2B,<br />
hingga rantang dan selimut seperti di Kepulauan Talaud di atas.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arhiefstyle87.wordpress.com/61/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arhiefstyle87.wordpress.com/61/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arhiefstyle87.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arhiefstyle87.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arhiefstyle87.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arhiefstyle87.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arhiefstyle87.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arhiefstyle87.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arhiefstyle87.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arhiefstyle87.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arhiefstyle87.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arhiefstyle87.wordpress.com/61/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arhiefstyle87.wordpress.com&blog=815275&post=61&subd=arhiefstyle87&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/04/15/jalan-pintas-menaklukkan-ujian-semu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33b921d0c64c5cd19ccbeecc563e019f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arif Keren</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>