<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Berpena yang  Menyenangkan &#187; Kisah nyata</title>
	<atom:link href="http://arhiefstyle87.wordpress.com/category/kisah-nyata/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://arhiefstyle87.wordpress.com</link>
	<description>berkatalah jujur dengan semangat kebenaran</description>
	<lastBuildDate>Fri, 07 Nov 2008 16:03:36 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='arhiefstyle87.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/cb37012dcf4cc727766e1d20f99153ad?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Berpena yang  Menyenangkan &#187; Kisah nyata</title>
		<link>http://arhiefstyle87.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://arhiefstyle87.wordpress.com/osd.xml" title="Berpena yang  Menyenangkan" />
		<item>
		<title>Saat Cinta Berlabuh di Bank Syariah</title>
		<link>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/05/16/saat-cinta-berlabuh-di-bank-syariah/</link>
		<comments>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/05/16/saat-cinta-berlabuh-di-bank-syariah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 May 2008 14:20:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arhiefstyle87</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah nyata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arhiefstyle87.wordpress.com/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[(Kisah nyata perjalanan penulis bergabung dengan bank syariah)
Oleh : Alihozi
Pada bulan Juni 2001,saya mendapat panggilan untuk mengikuti test
kerja di salah satu bank syariah ternama di daerah Jakarta, waktu itu
saya masih bekerja di perusahaan retail besar milik etnis tionghoa
yaitu Indomaret sebagai senior staff accounting &#38; tax. Saya
mempersiapkan sebaik mungkin untuk mengikuti test di bank syariah tsb,
dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arhiefstyle87.wordpress.com&blog=815275&post=69&subd=arhiefstyle87&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>(Kisah nyata perjalanan penulis bergabung dengan bank syariah)</p>
<p>Oleh : Alihozi</p>
<p>Pada bulan Juni 2001,saya mendapat panggilan untuk mengikuti test<br />
kerja di salah satu bank syariah ternama di daerah <span class="yshortcuts" style="border-bottom:1px dashed #0066cc;cursor:pointer;">Jakarta</span>, waktu itu<br />
saya masih bekerja di perusahaan retail besar milik etnis tionghoa<br />
yaitu Indomaret sebagai senior staff accounting &amp; tax. Saya<br />
mempersiapkan sebaik mungkin untuk mengikuti test di bank syariah tsb,<br />
dengan membaca buku – buku yang membahas bank syariah dan buku pertama<br />
mengenai bank syariah yang saya baca berjudul &#8220;Pengantar Ekonomi<br />
Islam&#8221; karya Ibrahim Lubis.</p>
<p>Sebelum membaca buku tsb saya termasuk orang yang masih meyakini bahwa<br />
bunga bank adalah bukan riba yang diharamkan Allah, SWT karena waktu<br />
itu saya sudah membaca tulisan – tulisan karya sebagian Ulama yang<br />
tidak mengharamkan bunga bank. Setelah membaca buku karya Ibrahim<br />
Lubis tsb, fikiran dan hati saya menjadi sadar , dengan argumentasi<br />
yang meyakinkan Pak Ibrahim Lubis menjelaskan bahaya bunga bank bagi<br />
ummat manusia. Beliau mengatakan &#8220;Bahwa orang yang menghalalkan bunga<br />
bank dengan dalih bunga bank untuk membayar biaya operasional bank<br />
seperti untuk membayar gaji karyawan , biaya sewa kantor adalah tidak<br />
tepat karena bunga bank bisa menimbulkan masalah besar bagi ummat<br />
apabila situasi ekonomi tidak stabil misalnya bencana alam, kebakaran<br />
atau krisis ekonomi.</p>
<p>Adalah tidak adil apabila orang yang sedang mengalami musibah karena<br />
bencana alam atau karena hal lainnya harus terus menerus membayar<br />
bunga keterlambatan pembayaran (compund interest ) kepada bank tempat<br />
ia meminjam&#8221;</p>
<p>Pada hari yang ditentukan kira – kira sekitar bulan Juni 2001, saya<br />
mengikuti test perbankan syariah ,setelah saya dinyatakan lulus test<br />
tertulis mengenai perbankan syariah , saya mengikuti test wawancara<br />
pada sore hari sekitar awal bulan febuari 2002 dengan pimpinan bank<br />
syariah cabang fatmawati yang waktu itu dipegang oleh Ibu Hanifah<br />
Hussein. Ada hal yang berkesan pada saat itu yang selalu saya ingat<br />
sampai sekarang, pada saat saya menunggu dipanggil wawancara oleh Ibu<br />
Hanifah Hussein, saya dibelikan makan malam oleh bank syariah. Selama<br />
ini saya sudah sering mengikuti berbagai test wawancara di perusahaan<br />
– perusahaan, baru saat itu saya dibelikan makan malam oleh bank<br />
syariah, memang kalau dilihat harganya tidak mahal tetapi perhatiannya<br />
itu yang sangat membuat saya berkesan karena waktu itu saya memang<br />
lapar setelah kesasar waktu mencari <span class="yshortcuts" style="border-bottom:1px dashed #0066cc;cursor:pointer;">alamat bank syariah</span> tsb di jalan<br />
RS Fatmawati.</p>
<p>Berikut ini wawancara saya dengan Ibu Hanifah Husein yang masih saya<br />
ingat :</p>
<p>&#8221; Saudara Ali , sebelum ini kamu bekerja di mana &#8221; kata bu hanifah<br />
memulai wawancaranya.</p>
<p>&#8220;Saya bekerja di Indomaret&#8221;</p>
<p>&#8220;Kamu disana sudah di gaji berapa ?&#8221; ucap bu hanifah sambil<br />
memperhatikan saya</p>
<p>&#8221; Rp.1.100.000. -&#8221; jawab saya</p>
<p>&#8221; Sudah lumayan besar ya, tetapi sayang kamu bekerja dengan orang cina<br />
kalau kamu bekerja di sini kami hanya bisa menggaji kamu Rp.590.000,-<br />
tetapi kamu disini bisa ikut berjuang menegakkan ekonomi syariah di<br />
Indonesia&#8221;</p>
<p>Setelah selesai wawancara , sepanjang perjalanan pulang saya menjadi<br />
bimbang karena gaji yang diberikan di bank syariah sangat kecil<br />
padahal istri saya sedang hamil anak yang kedua. Hal ini saya<br />
bicarakan dengan keluarga di rumah, atas saran istri dan mertua saya<br />
akhirnya saya memutuskan untuk pindah kerja dari Indomaret ke Bank<br />
Syariah pada tanggal 7 Febuari 2002. Bagian personalia bank syariah<br />
seperti tidak percaya kalau saya memutuskan pindah dari Indomaret ke<br />
bank syariah alasannya karena gaji yang diberikan bank syariah lebih<br />
kecil daripada gaji di Indomaret. Saya bilang kepada bagian personalia<br />
untuk meyakinkannya kalau Allah, SWT memberikan rezeki itu tidak hanya<br />
dari gaji bekerja di perusahaan.</p>
<p>Memang tahun – tahun awal saya bekerja di bank syariah agak berat<br />
dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari – hari. Tetapi sekarang tahun<br />
2008, setelah saya menjalani pekerjaan di bank syariah selama 6 tahun<br />
seiring dengan pertumbuhan bank syariah tempat saya bekerja semakin<br />
pesat saya merasakan keberkahan hidup dan kesejahteraan hidup saya dan<br />
keluarga saya meningkat, bisa memiliki rumah yang diberikan bank<br />
syariah dan kendaraan motor yang diberikan koperasi karyawan tempat<br />
saya bekerja. Walaupun saya masih membayar dengan mencicil ke bank<br />
syariah yang terpenting adalah saya dan keluarga saya sudah tidak lagi<br />
tinggal di rumah kontrakkan yang sering bocor waktu musim hujan dan<br />
banyak binatang kelabangnya</p>
<p>Sebenarnya ada yang paling berharga daripada gaji , rumah dan motor<br />
itu semua yakni kepuasan batin yang tidak bisa diukur dari besarnya<br />
gaji ataupun materi lainnya karena di bank syariah saya lebih leluasa<br />
menjalankan ibadah agama islam di kantor, suasana kekeluargaan yang<br />
sangat erat antara sesama teman di kantor., bisa menimba ilmu<br />
perbankan syariah dan bisa membantu mensosialisasikan perbankan<br />
syariah di tanah air. Hal – hal inilah yang menyebabkan rasa cinta<br />
saya bekerja berlabuh di bank syariah, yang mana rasa cinta itu tidak<br />
ada ketika saya bekerja di Indomaret selama 6 tahun juga,dari tahun<br />
1996-2002.</p>
<p>Saya memanjatkan puji syukur kepada Allah, SWT atas segala nikmat yang<br />
telah diberikan kepada saya dan keluarga selama saya bekerja di bank<br />
syariah dan memohon kepada Allah, SWT agar selalu bisa mensyukuri<br />
nikmat – nikmat-Nya. Amiin</p>
<p>Sumber, <a rel="nofollow" href="http://alihozi77.blogspot.com/" target="_blank">http://alihozi77. blogspot. com</a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arhiefstyle87.wordpress.com/69/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arhiefstyle87.wordpress.com/69/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arhiefstyle87.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arhiefstyle87.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arhiefstyle87.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arhiefstyle87.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arhiefstyle87.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arhiefstyle87.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arhiefstyle87.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arhiefstyle87.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arhiefstyle87.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arhiefstyle87.wordpress.com/69/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arhiefstyle87.wordpress.com&blog=815275&post=69&subd=arhiefstyle87&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/05/16/saat-cinta-berlabuh-di-bank-syariah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33b921d0c64c5cd19ccbeecc563e019f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arif Keren</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kehamilan dan Perjuangan Melawan Maut</title>
		<link>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/03/14/kehamilan-dan-perjuangan-melawan-maut/</link>
		<comments>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/03/14/kehamilan-dan-perjuangan-melawan-maut/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Mar 2008 16:07:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arhiefstyle87</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah nyata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arhiefstyle87.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Jumat,  14  Maret  2008
Oleh:  *Eko  Bambang  Subiyantoro
Seorang  ibu  gagal  melahirkan.  Tragisnya,  tangan  bayi  sudah  terlanjur  keluar
dari  lubang  tempat  bayi  lahir.  Karena  pendarahan  terus-menerus  dan  posisi
bayi  yang  sulit  dikeluarkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arhiefstyle87.wordpress.com&blog=815275&post=20&subd=arhiefstyle87&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Jumat,  14  Maret  2008<br />
Oleh:  *Eko  Bambang  Subiyantoro</p>
<p>Seorang  ibu  gagal  melahirkan.  Tragisnya,  tangan  bayi  sudah  terlanjur  keluar<br />
dari  lubang  tempat  bayi  lahir.  Karena  pendarahan  terus-menerus  dan  posisi<br />
bayi  yang  sulit  dikeluarkan  secara  normal,  persalinan  itupun  dihentikan.<br />
Persalinan  ini  hanya  ditolong  oleh  bidan  desa.  Kondisi  ibu  dan  bayi  semakin<br />
kritis.  Warga  desa  secara  bergotong  royong  segera  membawanya  ke  rumah  sakit.</p>
<p>Sayangnya,  ibu  ini  tinggal  di  satu  desa  terpencil  di  Kabupaten  Sambas.<br />
Mencapai  Kota  Sambas  paling  mudah  menggunakan  perahu  motor,  dengan  menyusuri<br />
sungai  Sambas  dan  anak  sungainya  kurang  lebih  dua  jam  dan  ditambah  proses<br />
perjalanan  darat  sampai  satu  jam.  Selama  tiga  jam  ibu  itu  terus  membawa  bayi<br />
dalam  kandungan  yang  tangannya  sudah  terkatung  diluar,  dengan  pendarahan<br />
yang  terus-menerus.  Ibu  itu  terus  berjuang  melawan  maut.</p>
<p>***</p>
<p>Kasus  ibu  melahirkan  yang  tragis  dan  menyedihkan  ini  terjadi  di  Desa<br />
Senujuh,  Kecamatan  Senjangkung  Kabupaten  Sambas.  Seperti  disampaikan  diatas,<br />
desa  ini  sangat  terpencil.  Mencapainya  hanya  dua  cara  melalui  darat  dengan<br />
menempuh  perjalanan  hingga  3  –  4  jam,  dengan  kondisi  jalan  yang  sangat  buruk<br />
dan  hanya  bisa  dilalui  oleh  kendaraan  roda  dua,  atau  menyusuri  sungai  sambas<br />
dan  anak  sungainya  dengan  perahu  motor  selama  2  jam  melewati  sejumlah  hutan.</p>
<p>Desa  yang  dihuni  sekitar  238  kk,  dan  kurang  lebih  sekitar  1150  jiwa,<br />
sebagian  besar  berprofesi  sebagai  petani  di  sawah  maupun  di  perkebunan<br />
karet.  Selain  bertani  mereka  juga  memanfaatkan  hutan  sebagai  mata<br />
pencahariannya,  seperti  kayu,  kulit  rotan  yang  diolah  untuk  kerajinan  tangan<br />
oleh  perempuan  di  desa  itu.  Masyarakat  desa  ini  benar-benar  sangat<br />
tergantung  dengan  alam  raya  yang  telah  memberikan  banyak  sekali  kehidupan<br />
yang  telah  berpuluh-puluh  tahun  terjadi.</p>
<p>Hampir  terjadi  diseluruh  wilayah  di  Indonesia,  di  Desa  Senujuh  juga<br />
menghadapi  masalah  kesehatan  masyarakat  dan  secara  khusus  pada  perempuan.  Di<br />
desa  ini  hampir  tidak  ada  perhatian  secara  baik  terhadap  masalah  kesehatan<br />
reproduksi  perempuan,  mulai  dari  kesehatan  remaja,  dewasa,  ibu  melahirkan<br />
dan  kesehatan  bayi.  Puskesmas  harus  ditempuh  sekitar  1  jam.  Posyandu  hampir<br />
tidak  pernah  ada,  kecuali  untuk  kegiatan  simbolis  desa,  yang  ada  hanya  bidan<br />
desa,  tetapi  itupun  dengan  kemampuan  yang  sangat  terbatas.</p>
<p>Ibu  meninggal  atau  bayi  meninggal  karena  melahirkan  bagi  warga  desa  sudah<br />
hampir  menjadi  resiko  yang  harus  diterima  ketika  seorang  ibu  hamil.  Warga<br />
desa  tidak  punya  pilihan  lagi,  karena  memang  desa  mereka  sangat  terpencil<br />
dan  kurang  mendapat  perhatian.  Masyarakat  tidak  lagi  berpikir  tentang  asupan<br />
gizi,  minimal  bayi  bisa  lahir  saja  sudah  sangat  cukup.  Setidaknya  dalam  dua<br />
tahun  terakhir  ini,  menurut  Zurainah  (35  tahun),  seorang  warga  desa  yang<br />
aktif  membangun  kesadaran  perempuan  di  desa  itu  mencatat  ada  dua  ibu  yang<br />
meninggal  karena  melahirkan  beserta  anaknya  dan  sekitar  enam  bayi  yang<br />
meninggal  pada  saat  melahirkan.</p>
<p>&#8220;Ibu-ibu  kalau  hamil  dan  akan  melahirkan  disini  susah  sekali,  ia  harus<br />
berjuang  untuk  keselamatan  bayinya  dan  juga  dirinya.  Kepala  desa  disini<br />
tidak  perhatian,  yang  diperhatikan  justru  investor  sawit,  tapi  masalah<br />
kesehatan  warganya  sama  sekali  tidak  ada  perhatian,&#8221;ujar  Zurainah.</p>
<p>Sikap  aparatur  desa  memang  tidak  adil  dan  kurang  memberi  perhatian  bagi<br />
warganya.  Menurut  keterangan  warga,  aparatur  desa  lebih  banyak  memberi<br />
perhatian  kepada  para  investor  perusahaan  sawit,  karena  dianggap  bisa<br />
menambah  kas  desa.  Tetapi  penambahan  kas  desa  tidak  memperbaiki  situasi  desa<br />
secara  lebih  baik.  Kehadiran  perkebunan  sawit  di  desa  ini  justru  menambah<br />
persoalan  baru  masyarakat  desa,  seperti  kerusakan  lingkungan  yang<br />
menyebabkan  banjir,  air  menjadi  keruh,  hutan  dibabat  dan  masyarakat<br />
kehilangan  mata  pencaharian  dan  sebagainya.</p>
<p>&#8220;Saya  ingin  pemerintah  dan  aparat  memberi  perhatian  terhadap  masalah  ibu<br />
hamil  dan  anak-anak,  karena  kita  yang  perempuan  ini  terus-menerus  susah,<br />
mana  kondisi  desa  sekarang  semakin  rusak,&#8221;ujar  Zurainah  menitipkan  pesan.<br />
&#8220;Kalau  memang  tidak  bisa  menghadirkan  dokter  atau  membangun  puskesman,<br />
setidaknya  program  kesehatan  masyarakat  dan  bagi  ibu  secara  khusus  bisa<br />
rutin  dilaksanakan,  entah  dua  minggu  sekali  atau  satu  bulan  sekali,  yang<br />
penting  ada  pemeriksaan  rutin  dan  jelas  dari  dokter,&#8221;tambahnya.</p>
<p>***</p>
<p>Ibu  itu  akhirnya  selamat,  tapi  bayinya  meninggal  dunia.  Diantar  beberapa<br />
warga,  saya  bertemu  dengan  beliau,  dirumahnya  setelah  melewati  rintangan<br />
banjir  selutut  yang  saat  itu  sedang  meluap  setelah  hujan.  Rumahnya<br />
sederhana,  sebagian  besar  dari  kayu  sebagai  ciri  khas  rumah  di  desa  ini.<br />
Tidak  ada  perabotan,  hanya  tikar  di  ruang  tamu  dengan  penerangan  lampu<br />
minyak.  Dari  sini  saya  ketahui  namanya  Zuraidah,  tidak  ingat  berapa  umurnya<br />
secara  pasti,  perkiraanya  sekitar  30  an.</p>
<p>Menurut  Zuraidah,  dokter  melakukan  operasi  cesar  dan  harus  memotong  sejumlah<br />
bagian  organ  dirahim  ibu  untuk  mengeluarkan  bayi,  karena  kondisinya  sudah<br />
parah.  Pupus  sudah  harapannya  untuk  mempunyai  anak,  karena  rahimnnya  tidak<br />
mungkin  lagi  bereproduksi.  Ini  adalah  kematian  anaknya  yang  keempat.  Semua<br />
meninggal  dalam  kandungan.  Anak  pertama  karena  pendarahan.  Anak  kedua  dan<br />
ketiga  kembar,  keduanya  juga  meninggal  karena  pendarahan  dan  terlambat<br />
pertolongan  dan  anak  keempat  meninggal  dengan  kondisi  yang  tragis.</p>
<p>&#8220;Sebaiknya  wawancara  dihentikan,  dia  isteri  saya,  biarlah  apa  yang  terjadi<br />
menjadi  masa  lalu,  ujar  suami  Zuraidah,  yang  tiba-tiba  memotong  pembicaraan,<br />
setelah  saya  berbincang  selama  15  menit  dengan  Zuraidah.  Wajah  Zuraidah<br />
nampak  ketakutan  melihat  suaminya  tidak  mengizinkan  untuk  berbicara.  Ia  pun<br />
jadi  terdiam  sambil  menunduk,  padahal  sebelumnya  ia  sangat  antusias  untuk<br />
menceritakan  pengalamannya  secara  lebih  mendalam  sebagai  pelajaran  bagi<br />
perempuan  dan  pengalamannya  didengar  oleh  pihak  yang  bertanggungjawab  atas<br />
masalah  kesehatan  ibu  hamil  dan  melahirkan  agar  apa  yang  dialami  tidak<br />
terjadi.</p>
<p>Meskipun  tidak  dapat  hasil  yang  mendalam,  lima  belas  menit  bersama  Zuraidah<br />
telah  menguak,  wajah  patriakhis  negeri  ini,  dimana  persoalan-persoalan<br />
kesehatan  perempuan  tidak  diperhatikan  dan  kedua  perempuan  tidak  mempunyai<br />
hak  atas  dirinya  untuk  bertindak  atas  dirinya.  Keputusan  hidup-matinya  telah<br />
dirampas  oleh  laki-laki,  padahal  yang  merasakan  sakit  atas  satu  penderitaan<br />
memperjuangkan  bayi  dan  hidupnya  dari  kematian  adalah  dirinya  bukan<br />
laki-laki  dan  bukan  suaminya.  Inilah  potret  perempuan  di  Indonesia,<br />
kehamilan  bukanlah  berkah,  tetapi  perjuangan  melawan  maut.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arhiefstyle87.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arhiefstyle87.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arhiefstyle87.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arhiefstyle87.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arhiefstyle87.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arhiefstyle87.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arhiefstyle87.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arhiefstyle87.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arhiefstyle87.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arhiefstyle87.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arhiefstyle87.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arhiefstyle87.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arhiefstyle87.wordpress.com&blog=815275&post=20&subd=arhiefstyle87&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/03/14/kehamilan-dan-perjuangan-melawan-maut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33b921d0c64c5cd19ccbeecc563e019f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arif Keren</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>