<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Berpena yang  Menyenangkan &#187; Budaya</title>
	<atom:link href="http://arhiefstyle87.wordpress.com/category/budaya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://arhiefstyle87.wordpress.com</link>
	<description>berkatalah jujur dengan semangat kebenaran</description>
	<lastBuildDate>Fri, 07 Nov 2008 16:03:36 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='arhiefstyle87.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/cb37012dcf4cc727766e1d20f99153ad?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Berpena yang  Menyenangkan &#187; Budaya</title>
		<link>http://arhiefstyle87.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://arhiefstyle87.wordpress.com/osd.xml" title="Berpena yang  Menyenangkan" />
		<item>
		<title>Budaya Jepang</title>
		<link>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/05/19/budaya-jepang/</link>
		<comments>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/05/19/budaya-jepang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 May 2008 13:31:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arhiefstyle87</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arhiefstyle87.wordpress.com/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[Disiplin Waktu
Menghargai waktu sudah jadi bagian akidah dasar orang Jepang. Di Jepang, waktu tidak lagi diukur dengan ukuran bulan, minggu atau hari, tapi berdasarkan ukuran jam dan menit.
Ketika naik Shinkansen, panitia hanya memberi bekal waktu saja.&#8221;Pokoknya ustadz lihat jam saja. Begitu jam yang tertera di tiket itu sudah tiba, kereta pasti berhenti dan stasiunnya pasti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arhiefstyle87.wordpress.com&blog=815275&post=80&subd=arhiefstyle87&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Disiplin Waktu</strong></p>
<p>Menghargai waktu sudah jadi bagian akidah dasar orang Jepang. Di Jepang, waktu tidak lagi diukur dengan ukuran bulan, minggu atau hari, tapi berdasarkan ukuran jam dan menit.</p>
<p>Ketika naik Shinkansen, panitia hanya memberi bekal waktu saja.&#8221;Pokoknya ustadz lihat jam saja. Begitu jam yang tertera di tiket itu sudah tiba, kereta pasti berhenti dan stasiunnya pasti benar&#8221;, begitu pesan mereka.</p>
<p>Dan benar saja, tepat pada waktunya, kereta memang berhenti. Tidak tahu stasiun ini apa namanya, pokoknya kereta berhenti pada jadwal di mana kami harus turun. Ya, sudah, turun saja. Dan benar sekali. Pas di pintu gerbong, panitia sudah menunggu. Hebat, jam di Jepang memang dibuat dari logam, tidak seperti di negeri kita, jam rata-rata dibuat dari karet, jadi bisa ditarik melar ke sana kemari.</p>
<p><strong>Jalan Kaki atau Naik Sepeda<br />
</strong></p>
<p>Mau bergaya naik mobil pribadi di Jepang?</p>
<p>Boleh-boleh saja. Tapi sebentar, di Tokyo jarang ada tempat parkir. Kalau pun ada, harganya mahal. Dan jangan coba-coba parkir sembarangan, atau melebihi batas maksimal waktu yang dibolehkan. Bisa-bisa mobil kita ditempeli surat oleh polisi.</p>
<p>Mau tahu dendanya? Ya, sekitar 1, 2 jutaan rupiah. Wah, lumayan juga ya. Itulah mengapa kita harus berpikir berkali-kali kalau mau beli mobil di Tokyo. Apalagi sudah ada subway yang jauh lebih murah, dinamis dan juga bisa mengkases semua wilayah di Tokyo.</p>
<p>Walhasil, apakah dia pejabat, direktur atau pun tukang sapu, kita lihat mereka pergi ke mana-mana jalan kaki atau naik subway. Tidak ada perbedaan apakah mereka kaya ataukah miskin, semua sama-sama antri, semua sama-sama berbagi di dalam kereta subway yang penuh sesat, tapi aman dan nyaman.</p>
<p>Justru buat kami sedikit problem, karena tidak biasa olahraga walau pun hanya jalan kaki. Melihat orang ke mana-mana jalan kaki, kayaknya orang Jepang itu tidak ada capeknya. Sementara kaki ini sudah lecet karena dibawa jalan kaki ke mana-mana. Dan jangan coba-coba cari tukang ojek di Tokyo, ditanggung tidak ada.</p>
<p>Wah untung tidak ada Zaenal Abidin, kalau dia ada pasti dibilang peluang bisnis tuh. Dibuka: peluang jadi tukang ojek di Tokyo.</p>
<p>Di Tokyo dan juga kota-kota lain di Jepang, jalan-jalan disediakan buat para pejalan kaki dan juga mereka yang bersepeda. Nah, khusus untuk bersepeda, memang terasa sangat nyaman. Kita tidak takut kesenggol mobil atau kendaraan bermotor lain. Karena telah dibuatkan jalan khusus.</p>
<p>Sudah irit tanpa bahan bakar bensin, juga badan jadi sehat. Sudah lazim di berbagai gedung terdapat parkir sepeda. Mulai dari orang kecil sampai orang besar, mereka biasa bersepeda.</p>
<p><strong>Tidak Mau Mengambil Yang Bukan Haknya</strong></p>
<p>Masyarakat Jepang mempunyai kebiasaan baik, yaitu melaporkan kepada polisi bila menemukan barang temuan atau barang hilang.</p>
<p>Heran, ini bukan negara Islam, tidak pernah berjargon syariah. Tapi implementasi syariah ternyata ada juga di Jepang. Yah, walau pun kita juga tidak bisa langsung bilang bahwa Jepang itu Islam. Sebab yang mabok juga banyak. Yang kumpul kebo juga tidak kurang.</p>
<p>Tapi urusan keamanan dan kejujuran, bisa diuji. Kalau ada orang kehilangan dompet di tempat umum, 90 &#8211; 100% kemungkinan dompet itu akan kembali kepada kita. Terutama bila ada kartu nama atau ID cardnya.</p>
<p>Mungkin karena sudah ditanamkan jujur sejak masih SD, tapi dipikir-pikir enggak juga ya. Di negeri kita, penanaman akhlaq dan budi pekerti serta kejujuran juga tidak kurang. Tapi herannya, kalau kita kehilangan dompet, meski sering juga kembali, tapi duitnya biasanya sudah raib.</p>
<p>Nah, bedanya dengan di Jepang, dompet itu kembali sendiri, masih lengkap dengan isinya, tidak kurang sedikit pun. Kita cukup lapor saja ke pos polisi terdekat. Biasanya, dompet itu malah sudah ada di kantor polisi itu. Ada orang jujur yang mau mengembalikan dompet itu &#8216;apa adanya&#8217;.</p>
<p>Pengalaman dulu isteri di Jakarta kehilangan dompet, fungsinya laporan ke polisi hanya sekedar dapat surat keterangan kehilangan. &#8220;Lha wong saya saja kehilangan motor, pak&#8221;, begitu kata polisinya. &#8220;Makanya hati-hati kalau bawa dompet, bu&#8221;, tambah pak polisi.</p>
<p>Iya ya, ngapain lapor polisi, kalau polisinya saja kehilangan motor. Lalu bagaimana beliau-beliau mau nyari dompet kita? Waduh, memang serba salah hidup di negara kita sendiri.</p>
<p><strong>Senyap, Hobi Baca Sedikit Ngobrol</strong></p>
<p>Salah satu kebiasaan masyarakat di Jepang yang kami perhatikan adalah mereka sangat menghargai kesenyapan, jauh dari kebisingan. Jarang kami dapati orang Jepang ngobrol tertawa-tawa di tempat umum, hingga mengganggu orang lain.</p>
<p>Ketika kami masuk ke sebuah warung makan Pakistan, barulah aroma berisik ngobrol terasa, karena ada beberapa orang Pakistan yang lagi makan. Mereka bisa sambil makan sambil ngobrol dan berisik. Sesuatu yang tidak terjadi pada orang Jepang.</p>
<p>Satu hal lagi yang juga tidak luput dari pengamatan kami, orang Jepang ini rata-rata pada hobi membaca. Di semua tempat, termasuk di dalam subway, mereka selalu pegang bacaan, entah buku atau pun koran. Atau kalau tidak, mereka sibuk menunduk memencet-mencet tombol HP. Tapi tidak bertelepon, mungkin lagi SMS atau malah membaca e-book.</p>
<p>Pemandangan ini agak berbeda dengan di negeri kita. Di dalam bus kota, kebisingan sangat kentara. Belum kondektur yang teriak-teriak, orang-orang yang ngobrol ngalor ngidul ke sana kemari. Bahkan masih diberisiki lagi dengan tukang ngamen yang tidak pernah ada hentinya.</p>
<p>Kebisingan sudah jadi bagian dari akidah hidup kita rupanya. Sesuatu yang kita tidak temukan di tempat umum di Tokyo. Masing-masing saling menjaga hak privasi orang lain, terutama dalam masalah kebisingan.</p>
<p><strong>Menghargai Tenaga Manusia</strong></p>
<p>Di Jepang, hampir semua tenaga kerja dibayar mahal. Pak Endrianto mengatakan bahwa kalau mau saja, seseorang boleh bekerja part-time dan dibayar dengan upah yang bisa buat berlibur ke pulau Bali.</p>
<p>&#8220;Oh, jadi turis-turis Jepang yang rajin ke Bali itu, boleh jadi di Jepang cuma tukang sampah atau cleaning service, ya?&#8221;, tanya kami. &#8220;Benar sekali, apalagi Garuda punya harga yang sangat menarik, maka penerbangan Tokyo Denpasar cukup diminati&#8221;, jawab beliau. &#8220;Dan cukup dari upah kerja kasar saja&#8221;, tambahnya.</p>
<p>Yang menarik, perbedaan nilai gaji pegawai rendahan atau kuli bangunan dengan pejabat tinggi tidak terlalu terpaut jauh. Sehingga jarang terjadi demo buruh di negeri ini. Semua kebutuhan buruh terpenuhi dengan cukup.</p>
<p>Wah, berarti kalau bikin partai yang mengusung agenda membela wong cilik, bisa-bisa tidak laku nih di Jepang. Sebab boleh dibilang tidak ada wong cilik di Jepang. Yang ada hanyalah wong cilik tapi bergaji gede. Maka sudah tidak lagi disebut wong cilik.</p>
<p><strong>Budaya Malu</strong></p>
<p>Orang punya budaya malu yang tinggi. Dan positifnya, kalau ada pejabat yang gagal dalam memegang amanah, tidak segan-segan mereka mengundurkan diri. Rasa malu mereka itulah yang mendorong mereka mundur.</p>
<p>Bagaimana dengan Indonesia? Adakah budaya malu yang sampai membuat seorang pejabat mundur dari jabatannya?</p>
<p>Entahlah kalau kita buka-buka sejarah. Tapi sekarang ini nyaris tidak ada. Bagaimana mau mundur, lha wong jabatan itu didapat dengan susah payah ditambah susah tidur, kok mundur?</p>
<p>Nanti penyandang dana kecewa. Sebab rata-rata para pejabat di negeri kita ini didanai oleh para penyandang dana alias supporter, ketika pilkada atau pemilu. Kalau hanya karena kegagalan lalu mengundurkan diri, sementara uang jarahan belum memenuhi pundi-pundi, bisa-bisa para cukongnya marah.</p>
<p>Jadi budaya malu lalu mengundurkan diri tidak sesuai dengan prinsip ekonomi yang berakidah: mendapat keuntungan yang sebesar-besarnya dengan pengeluaran yang sekecil-kecilnya. Dan jabatan adalah sumber penghasilan, tidak ada kamus malu. Yang ada hanya satu, maju terus menghadapi semua rintahan. Maju tak gentar membela yang bayar. Hehehe, sangat Indonesiawi.</p>
<p><strong> Salam dan Sapaan</strong></p>
<p>Mengucapkan salam adalah salah satu ciri masyarakat Jepang. Bahkan termasuk juga ciri polisi Jepang. Tidak jarang polisi lah yang lebih dulu menyapa anggota masyarakat.</p>
<p>Beda banget dengan di negara kita. Semua pengendara kendaraan bermotor kalau lihat polisi kumpul di pinggir jalan, pasti berdesir darahnya. Sebab polisi di negeri kita identik dengan &#8216;masalah&#8217;. Sudah tampangnya serem, eh suka minta duit pula.</p>
<p>Di Jepang, perilaku suka menyapa dengan ramah ini berdampak positif pada citra profesi kepolisian. Menyapa atau mengucapkan salam sudah ditanamkan sejak dini pula, sewaktu mereka menjalani pendidikan. Siswa calon polisi dilatih untuk secara terjadwal berjaga di pos pada saat-saat jam sibuk, yaitu pagi, siang dan sore hari. Mereka diwajibkan menyapa setiap warga yang lewat di depan pos tersebut.</p>
<p>Kalau di Indonesia, seandainya ada polisi menyapa kita di jalan, pasti kita sudah bilang, &#8220;Pak s..ss..ssaya salah apa pah, ah..eh..anu&#8230;bbbuu bukan saya malingnya, p..pak.&#8221; Suka tidak suka, memang begitulah yang terjadi di negeri kita. Sudah terlanjur kita ketakutan duluan lihat polisi. Gawat.</p>
<p>Jangan-jangan salah satu kegagalan pak Adang Daradjatun dalam pilkada Jakarta justru karena sulit mengubah citra pak polisi ini. Di tengah masyarakat kita ini, citra polisi nyatanya memang masih terlalu berat untuk diangkat. Buktinya, pak Adang kalah dan tidak terpilih. Jangan-jangan orang masih trauma dengan sosok polisi kita.</p>
<p><strong>Selalu Minta Maaf dan Terima Kasih</strong></p>
<p>Kalau sering lihat film-film ninja, kesan bahwa orang Jepang itu angker, angkuh, dingin dan kasar memang bisa terbentuk. Padahal sebetulnya orang Jepang itu tentu tidak semuanya ninja.</p>
<p>Yang kami dapati malah sebaliknya, orang Jepang justru sangat ramah dan kalau terjadi apa-apa, mereka lebih dahulu minta maaf.</p>
<p>Contoh sederhana, kalau di jalan kita tersenggol dengan sesama pejalan kaki, maka spontan akan meluncur dari mulut mereka permintaan maaf. Meski pun bukan kesalahan mereka: suimasen&#8230;suimasen (maaf&#8230;maaf&#8230;).</p>
<p>Kalimat lain yang paling sering kami dengar adalah ucapan terima kasih. Kalau tidak salah dengar mereka mengucapkan <em>arigato gozaimasu</em> (betul nggak ya tulisannya?). Tapi percayalah, itulah kalimat yang paling sering kami dengar selama beberapa hari di Jepang.</p>
<p>Pramugari di Sinkansen itu kalau memeriksa tiket, membungkuknya sangat dalam, bahkan ketika menyerahkan tiket yang sudah mereka periksa, bukan hanya membungkuk, tapi kakinya pun mereka tekuk, seperti orang mau berjongkok. Wah, ini sih lebih sopan dari puteri-puteri Keraton di Yogya dan Solo.</p>
<p><strong>Tertib Ketika Antri</strong></p>
<p>Namanya kota besar, pasti semua harus antri. Tapi yang menarik dari antrian yang di Jepang, semua berjalan dengan tertib. Tidak ada saling sodok, saling sikut dan saling dorong.</p>
<p>Termasuk saat antri masuk ke subway. Meski sudah sangat padat dan petugas terpaksa harus mendorong penumpang biar bisa masuk ke dalam gerbong, tapi yang belum kebagian tetap rela antri dengan manis.</p>
<p>Kesabaran orang Jepang dalam hal antri ini jarang kita temui di negeri kita. Bisa-bisanya mereka berdiri berjejer rapi, meski tidak ada pembatas. Mungkin sudah &#8216;bawaan orok&#8217; kali ya.</p>
<p>Wah, seandainya di Timur Tengah orang-orang bisa seperti ini, mungkin asyik kali ya. Kenyataannya, orang Arab malah lebih parah. Pernahkah anda antri mencium Hajar Aswad di Ka&#8217;bah? Pasti semrawut dan saling dorong terjadi.</p>
<p>*http://www.eramuslim.com</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arhiefstyle87.wordpress.com/80/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arhiefstyle87.wordpress.com/80/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arhiefstyle87.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arhiefstyle87.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arhiefstyle87.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arhiefstyle87.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arhiefstyle87.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arhiefstyle87.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arhiefstyle87.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arhiefstyle87.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arhiefstyle87.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arhiefstyle87.wordpress.com/80/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arhiefstyle87.wordpress.com&blog=815275&post=80&subd=arhiefstyle87&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/05/19/budaya-jepang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33b921d0c64c5cd19ccbeecc563e019f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arif Keren</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Toraja, &#8220;Kota&#8221; Orang Mati yang Hidup</title>
		<link>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/03/14/toraja-kota-orang-mati-yang-hidup/</link>
		<comments>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/03/14/toraja-kota-orang-mati-yang-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Mar 2008 15:57:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arhiefstyle87</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/03/14/toraja-kota-orang-mati-yang-hidup/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam suatu wawancara yang dilakukan Televisi Fox, The History Channel
dari Amerika Serikat, dengan penulis baru-baru ini, salah satu
pertanyaan menarik yang diajukan kepada saya adalah apa yang membuat
Toraja menjadi sebuah budaya unik di dunia?
Jawaban saya singkat saja, seperti yang tertuang dalam judul di atas,
dengan ciri, â€�Toraja as the town of the living dead personsâ€� di tengah
era [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arhiefstyle87.wordpress.com&blog=815275&post=17&subd=arhiefstyle87&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Dalam suatu wawancara yang dilakukan Televisi Fox, <span style="border-bottom:1px dashed #0066cc;cursor:pointer;" class="yshortcuts">The History Channel</span><br />
dari Amerika Serikat, dengan penulis baru-baru ini, salah satu<br />
pertanyaan menarik yang diajukan kepada saya adalah apa yang membuat<br />
Toraja menjadi sebuah budaya unik di dunia?</p>
<p>Jawaban saya singkat saja, seperti yang tertuang dalam judul di atas,<br />
dengan ciri, â€�Toraja as the town of the living dead personsâ€� di tengah<br />
era globalisasi dan era postmodernisme. <span style="border-bottom:1px dashed #0066cc;cursor:pointer;" class="yshortcuts">The History Channel</span> dari TV<br />
Fox mencari 12 episode rites of passage dari berbagai penjuru dunia<br />
yang akan ditayangkan pada Mei mendatang. Toraja dan Minangkabau<br />
mewakili <span style="border-bottom:1px dashed #0066cc;background:transparent none repeat scroll 0 50%;cursor:pointer;" class="yshortcuts">Indonesia</span>.</p>
<p>Kebanyakan orang berpendapat keunikan budaya Toraja adalah upacara<br />
kematian. Pendapat ini kurang tepat karena upacara kematian dengan<br />
tingkat elaborasi yang tinggi ada di mana-mana, seperti upacara<br />
pemakaman Pak Harto atau upacara pemakaman di <span style="border-bottom:1px dashed #0066cc;cursor:pointer;" class="yshortcuts">Bali</span> dan Sumbawa.<br />
Keunikan budaya Toraja sebenarnya terletak pada kepercayaan dan<br />
praktik-praktik budaya yang memperlakukan orang mati hidup atau tidak<br />
mati. Dan ini hanya ada dan terjadi di Toraja.</p>
<p>Orang Toraja memiliki satu sistem kepercayaan yang disebut Alukta.<br />
Agama ini sering disebut Aluk Todolo untuk menggambarkan bahwa agama<br />
ini asli ciptaan leluhur orang Toraja. Disadari atau tidak, satu<br />
pandangan yang masih dianut dan dipraktikkan oleh hampir seluruh<br />
masyarakat Toraja ialah pandangan tentang kehidupan yang berputar (cycle).</p>
<p>Manusia berasal dari langit, turun ke Bumiâ€&#8221;kehidupan di Bumiâ€&#8221;dan<br />
kembali lagi ke langit setelah melalui transformasi. Pandangan ini<br />
tampak dalam semua aspek budaya Toraja. Misalnya, dalam lagu-lagu duka<br />
(badong) narasi bergerak dalam tema ini: manusia lahir di langit,<br />
turun ke Bumi dan kembali lagi ke langit (ossoran). Rumah tongkonan<br />
dan lumbung alang didirikan mengikuti gerakan dari selatan ke utara<br />
sampai titik zenit tertinggi atau sebaliknya, dari utara ke selatan<br />
(puya), kembali ke langit tertinggi.</p>
<p>â€�Orang sakitâ€�</p>
<p>Kalau Anda berjalan-jalan di Toraja saat ini, Anda akan melihat<br />
bendera putih di depan jalan dekat rumah seseorang dan hal ini dapat<br />
ditemukan dari kampung ke kampung. Bendera putih menandakan ada orang<br />
sakit dalam rumah yang disebut to masaki ulunna, â€™orang yang kepalanya<br />
sakitâ€™ atau to makula; â€™orang yang panasâ€™.</p>
<p>Namun, yang dimaksud dengan orang sakit di sini ialah orang mati yang<br />
hidup. Keadaan ini mudah ditemukan karena sekarang ini orang sakit<br />
yang sedang menunggu upacara ada puluhan, bahkan mungkin ratusan<br />
jumlahnya.</p>
<p>Ungkapan-ungkapan ini dan bendera-bendera putih menunjuk pada orang<br />
yang secara biologis sudah mati tapi dari su- dut budaya Toraja orang<br />
sakit. Ungkapan-ungkapan metaforis tersebut bersifat ambigu. Ia<br />
mengandung makna ketakutan akan kekuatan alam gaib, teta- pi pada saat<br />
yang sama juga berisi keinginan untuk menguasainya.</p>
<p>Sebagai orang sakit ia dimasukkan ke dalam peti sementara dan<br />
ditidurkan di kamar tidur ruang selatan rumah tongkonan yang disebut<br />
sumbung. Dia ditidurkan dengan kepala mengarah ke matahari terbenam<br />
dan kaki ke matahari terbit, layaknya seperti cara orang hidup tidur.</p>
<p>Karena dianggap masih berada di alam kehidupan, tiga kali sehari ia<br />
mendapatkan makanan dan minuman (pagi, siang, dan malam). Yang membawa<br />
makanan selalu berkata, â€�bangunlah nenek, makanan dan minumanmu sudah<br />
adaâ€�. Pada siang hari dan terutama pada malam hari, anggota keluarga<br />
dan para tetangga berkumpul di dalam rumah bercerita sambil bermain<br />
domino dan minum kopi agar tahan begadang. Kalau sudah lelah, mereka<br />
tidur di sekitar â€�si sakitâ€�.</p>
<p>Sambil menunggu pelaksanaan upacara, si sakit dibaringkan di atas<br />
rumah selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun;<br />
bergantung pada kesediaan keluarga untuk melaksanakan upacara. Ada<br />
yang sudah disimpan selama berbulan-bulan, ada yang bertahun-tahun,<br />
misalnya enam tahun, bahkan ada yang pernah lebih dari dua puluh tahun.</p>
<p>Dalam situasi demikian, orang luar sering susah membedakan mana rumah<br />
dan mana kuburan. Untuk orang Toraja, kuburan asli disebut banua tang<br />
merambu (rumah tanpa asap) karena di dalamnya tidak ada dapur. Dapur<br />
adalah simbol kehidupan.</p>
<p>Alasan menyimpan si sakit berlama-lama, seperti beberapa komentar dari<br />
keluarga, adalah agar anggota-anggota keluarga dapat melakukan upacara<br />
dengan tepat dan baik sesuai dengan strata sosialnya. Para anggota<br />
keluarga harus punya waktu mencari uang untuk beli babi dan kerbau<br />
yang akan dikorbankan nanti kalau upacara sudah dimulai. Alasan kedua,<br />
agar semua anggota keluarga dapat hadir karenaâ€&#8221;seperti yang<br />
diketahuiâ€&#8221;banyak anggota keluarga yang merantau.</p>
<p>â€�Orang tidurâ€�</p>
<p>Tibalah waktu upacara. Upacara untuk orang dengan strata sosial tinggi<br />
dilakukan sebanyak dua kali. Upacara pertama (aluk pia) berlangsung<br />
selama lima malam, sedang yang kedua (aluk dio rante) selama dua<br />
malam; walaupun yang kedua ini biasa juga berlangsung berhari-hari.<br />
Antara upacara pertama dan kedua terkadang ada tenggang waktu yang<br />
lamanya bisa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.</p>
<p>Sebagai rite of passage, ritus utama tetap bertumpu pada konsep kaâ€™tu<br />
(â€™putusâ€™) yang dimainkan pada berbagai simbol, yaitu mematikan dan<br />
menghidupkan, yang berakhir dengan memutuskan. Sejumlah upacara<br />
dilakukan. Mulai dari upacara mematikan, ditandai dengan pemindahan<br />
mayat ke ruang tengah tongkonan dengan kepala menghadap selatan dan<br />
kaki ke utara (allo lekoâ€™na), hingga upacara maâ€™parempeâ€™ yang intinya<br />
menguburkan mayat di bagian selatan ruang tengah (sali).</p>
<p>Si sakit lalu disimpan di atas rumah menunggu upacara kedua (aluk dio<br />
rante). Bisa dalam hitungan bulan atau tahun, bergantung kesiapan<br />
keluarga. Pada titik ini selain gelaran orang sakit, ia juga<br />
digambarkan sebagai to mammaâ€™ lan kulambu manikna (orang tidur dalam<br />
kelambu kalung emasnya). Ia tetap diperlakukan sebagai orang hidup<br />
dengan memberinya makan tiga kali sehari.</p>
<p>Ketika upacara kedua dilaksanakan, ritus pertama yang dilakukan adalah<br />
maâ€™tundan, yaitu membangunkan dia dari tidurnya. Lalu posisinya diubah<br />
ke posisi mati (to tungara). Sejumlah ritus dilakukan disertai dengan<br />
korban hewan babi dan kerbau.</p>
<p>Berbagai upacara yang mengikutinya, hingga upacara maâ€™pasongloâ€™, yaitu<br />
melakukan prosesi ke tempat upacara terakhir (rante), adalah<br />
tahap-tahap rite of passage yang memutus hubungan (kaâ€™tu) dengan rumah<br />
tongkonan dan lumbung. Dia secara simbolis diputuskan dari rumpun<br />
keluarga (sang rapu, sang tongkonan).</p>
<p>Tetapi, ia diputuskan dari kampung halamannya bukan untuk pergi<br />
selamanya. Ia diharapkan menjadi nenek moyang yang aktif membangun<br />
hubungan kembali dengan orang hidup dan terutama diharapkan akan<br />
kembali melipatgandakan apa yang sudah dikorbankan untuknya (sule<br />
maâ€™bolloan barraâ€™).</p>
<p>Orang mati yang hidup</p>
<p>Dari uraian di atas tampaklah bahwa keunikan budaya Toraja terletak<br />
pada pandangan yang berkaitan dengan human agency, keagenan manusia<br />
(Giddens, 1990, Central Problems in Social Theory) dalam menangani<br />
kekuatan-kekuatan alam gaib. Tetapi, uniknya, mereka tidak tunduk pada<br />
alam gaib khususnya yang berkaitan dengan kekuatan-kekuatan supernatural.</p>
<p>Ada kekaguman, ketercengangan, bahkan ketakutan di hadapannya, namun<br />
ada upaya mengontrolnya dan bersahabat dengannya. Manusia dapat<br />
mengontrol alam gaib (arwah). Dan, inilah yang membedakannya dengan<br />
agama besar lainnya, dengan manusia selalu tunduk di depan Sang Ilahi.</p>
<p>Ini pulalah yang menjelaskan mengapa orang mati diperlakukan sebagai<br />
yang hidup. Orang mati tidak pernah mati, tetapi selalu hidup. Bukan<br />
hanya sebagai suatu pandangan hidup, melainkan sesuatu yang masih<br />
dipraktikkan sekarang. Mereka sangat akrab dengan si sakit, bahkan<br />
tidur bersamanya. Di Toraja utara, kalau pasangan hidup mati sang<br />
istri atau sang suami tidur bersama si mati di ranjang yang sama dalam<br />
satu kelambu. Mirip kisah Romeo dan Juliet.</p>
<p>Jangan kaget! Toraja memang ibarat sebuah kota yang dihuni oleh orang<br />
mati yang hidup!</p>
<p>Stanislaus Sandarupa Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas<br />
Hasanuddin, Anggota Asosiasi Tradisi Lisan</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arhiefstyle87.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arhiefstyle87.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arhiefstyle87.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arhiefstyle87.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arhiefstyle87.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arhiefstyle87.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arhiefstyle87.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arhiefstyle87.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arhiefstyle87.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arhiefstyle87.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arhiefstyle87.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arhiefstyle87.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arhiefstyle87.wordpress.com&blog=815275&post=17&subd=arhiefstyle87&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arhiefstyle87.wordpress.com/2008/03/14/toraja-kota-orang-mati-yang-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/33b921d0c64c5cd19ccbeecc563e019f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arif Keren</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>