Upaya Peningkatan Perpustakaan Sebagai Pusat Sumber Belajar

Oleh : Arif Wicaksono Mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta

BAB I

PENDAHULUAN

Berbagai usaha yang dilakukan oleh guru atau pengelola pendidik untuk lebih meningkatkan serta mendukung proses belajar agar lebih efektif dan efisien. Meskipun banyak faktor yang menentukan kualitas pendidikan atau hasil belajar. Salah satunya yang terkait dengan sumber belajar. Banyak berbagai sumber yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar.

Seperti yang dilakukan oleh ibu Hariyati melakukan praktek mengajar mata pelajaran IPS di SDN Kalisalak II Kebasen. Salah satu kegiatannya adalah siswa diajak ke warung dekat sekolah, dengan menanyakan berbagai jenis barang, harga beli dan harga jual. Selain itu, belajar dari sesama teman juga memiliki makna lebih besar sebab siswa lebih mudah memahami bahasa dan isyarat yang diberikan oleh temannya. Lewat kegiatan berkelompok pula siswa memperoleh berbagai hal yang sulit didapatkan pada saat belajar sendiri, seperti sikap mau menghagai orang lain, sikap mau menerima orang lain, bekerja sama, dan sikap menikmati hidup bersama orang lain.

Taman Bacaan Masyarakat (TBM) juga dapat dijadikan sebagai bagian dari layanan dalam memenuhi minat baca masyarakat serta sebagai sumber belajar bagi masyarakat dengan menyediakan bahan-bahan bacaan atau koleksi bahan pustaka serta informasi lainnya. Dilihat dari sisi pelayanan, TBM masih belum dikelola secara profesional, dari sisi koleksi bahan pustaka, koleksi yang dimiliki masih belum lengkap ragam dan jenisnya sesuai kebutuhan masyarakat sekitar, serta kemampuan pengelola belum sesuai standar. Pentingnya keberadaan TBM dalam menumbuhkan minat baca masyarakat, maka diperlukan TBM yang dapat mengakomodir dan memfasilitasi kepentingan tersebut.

Banyaknya sumber belajar perlu dilestarikan serta dikelola, karena berperan untuk mendorong efektifitas serta optimalisasi proses pembelajaran melalui penyelenggaraan berbagai fungsi yang meliputi fungsi layanan fungsi pengadaan/pengembangan media pembelajaran, fungsi penelitian dan pengembangan, dan fungsi lain yang relevan untuk peningkatan efektifitas dan efisiensi pembelajaran. Untuk itu diperlukannya upaya dalam peningkatan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar.

BAB II

Kajian Teori

1. Teori Sumber Belajar

Secara tradisional, sumber belajar adalah guru dan buku paket. Padahal sumber belajar yang ada di sekitar sekolah, di rumah, di masyarakat sangat banyak. Sangat di sayangkan berbagai sumber belajar disekitar kita yang berlimpah-limpah tersebut belum dapat dimanfaatkan secara maksimal. Sumber belajar tradisional adalah guru dan buku teks, dan untuk banyak guru (dan dosen) ini masih adalah cara utama untuk mengajar. Siapa atau apa saja sumber belajar itu? Tentu saja bukan guru sebagai satu-satunya sumber belajar. Tapi apapun, baik lingkungan, nuansa, alat, bahan dan lain-lain bisa berfungsi sebaga sumber belajar.

Menurut konsep Teknologi Pendidikan, sumber belajar dapat meliputi (1) Orang (seperti guru, teman, tokoh, artis/selebritis, dll); (2) Bahan (seperti buku teks, modul, CD-ROM pembelajaran, VCD Pembelajaran, OHT, dll); (3) Alat (seperti komputer, LCD projector, peralatan lab, dll); (4) Lingkungan (baik lingkungan fisik seperti tata ruang kelas atau non fisik seperti nuansa, iklim belajar, hubungan antara guru dan siswa, dll); (5) Pesan; (6) Tehnik.

Itu semua merupakan sumber belajar. Jadi, dalam proses pembelajaran di sekolah atau perguruan tinggi atau di perusahaan tempat kerja, harus ada upaya atau harus ada sekelompok orang dengan keahlian, tugas dan tanggung jawab tertentu yang mampu menyulap sedemikian rupa semua sumber belajar tersebut agar optimal untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi proses pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukanlah suatu institusi yang “secara konseptual” dinamakan sebagai Pusat Sumber Belajar. Pusat Sumber Belajar ini, atau apapun namanya adalah sekelompok orang plus sekretariat (atau bangunan) yang bertugas mengelola dan mengoptimalkan berbagai bentuk dan jensi sumber belajar, seperti disebutkan di atas, sedemikian rupa untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi pembelajaran.

Suatu lembaga pendidikan tinggi tidak mungkin dapat terselenggara dengan baik jika para dosen dan para mahasiswa tidak didukung oleh sumber belajar yang diperlukan untuk penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.

2. Pusat Sumber Belajar

Menurut Tucker (79) pusat sumber belajar didefinisikan dengan istilah media center, dengan pengertian bahwa suatu departemen yang memberikan fasilitas pendidikan, latihan, dan pengenalana melalui produksi bahan media (transparansi overhead, slide, filmstrip, videotape, dll) serta memberikan pelayanan penunjang (seperti sirkulasi peralatan audiovisual, penyajian program-program video, pembuatan katalog, dan pemanfaatan pelayanan sumber-sumber belajar pada perpustakan. Pusat Sumber Belajar bertugas untuk menyediakan sarana dan media pendukung bagi kegiatan belajar mengajar seperti yang dilakukan oleh Yayasan Pendidikan Salman Al-Farisi, yakni seperti pengadaan alat peraga yang efektif bagi kegiatan belajar mengajar (KBM), pengadaan media promosi dan publikasi, dan lain sebagainya.

3. Perpustakaan

Menurut Sulistyo (1991)perpustakaan diartikan sebagai sebuah ruangan, atau gedung yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu yang digunakan pembaca bukan untuk dijual.

BAB III

Pembahasan

Peningkatan Perpustakaan sebagai Pusat Sumber Belajar

Upaya untuk menghidupkan dan mengembangkan perpustakaan sangat dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Tidak hanya tugas pengurus/anggota perpustakaan dan institusi terkait, melainkan kita semua karna intinya usaha bersama menjaga atau mengembangkan ilmu pengetahuan. Serta merevisi atau mengkaji ulang tujuan dari perpustakaan, untuk mengintensifkan perpustakaan menjadi pusat sumber belajar.

Untuk itu, perpustakaan perlu memiliki atau memberikan pelayanan yang prima dan terbaik dalam penyediaan dan pelayanan informasi dalam menunjang tugas pokok dan fungsi lembaga induknya. Artinya memberikan pelayanan prima, yaitu suatu sikap atau cara pustakawan dalam melayani penggunanya dengan prinsip people based service (layanan berbasis pengguna) dan service excellence (layanan unggul). Semua ini untuk memuaskan pengguna, meningkatkan loyalitas pengguna, serta meningkatkan jumlah pengguna.

Bukan hanya pemimpin tetapi semua pengelola atau pegawai perpustakaan harus berani menampilkan “wajah baru” atau “gerakan baru” dalam arti berani melakukan terobosan baru dan paradigma baru yaitu dapat mengubah persepsi masyarakat/akademis dari perpustakaan identik dengan buku menjadi perpustakaan identik dengan informasi.

Ketergantungan pada seorang pemimpin perlu ditinggalkan dan bergerak menciptakan kreatifitas atau inovasi yang sistematis. Pimpinan pusat (lembaga) tentunya membuka pintu yang lebar kepada semua bawahannya untuk menentukan kebijakan dalam menciptakan keratifitas untuk mengembangkan dan meningkatkan perpustakaan.

Upaya selanjutnya bagaimana pengelola menjalin hubungan dengan semua pihak atau institusi melakukan kerja sama yang saling menguntungkan untuk meningkatkan dan mengembangkan perpustakaan. Hubungan dengan masyarakat juga perlu ditingkatkan, misalnya membuka perpustakaan keliling, pelatihan penulisan karya ilmiah, kegiatan kompetisi dalam masyarakat (lomba synopsis, artikel, opini dll). Hal ini untuk meningkatkan minat baca masyarakat/akademis dan menjadi perpustakaan yang mampu bersaing.

Sehubungan dengan ini kemampuan pustakawan, idealnya perlu adanya Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI yang terakreditasi sehingga dapat menetapkan sertifikasi untuk standar kompetensi tertentu bagi pustakawan Indonesia agar berdaya saing tinggi dan akreditasi perpustakaan.

Kemudian adanya Undang-undang tentang Perpustakaan yang meliputi :

- Kepala Perpustakaan (unsur pimpinan)

- Petugas tata usaha perpustakaan (unsur pembantu pimpinan)

- Unsur pelaksana yang terdiri atas:

a) Petugas pengadaan/pengolahan bahan pustaka,

b) Petugas pelayanan (sirkulasi dan referensi),

c) Petugas penyuluhan/pemasyarakatan, dan

d) Petugas penelitian dan pengembangan

Dengan adanya undang-undang tentang perpustakaan khususnya unsur pelaksana yang terkait dengan petugas penyusluhan, penelitian dan pengembangan lebih ditekankan sehingga dapat menciptakan atau menemukan sesuatu yang baru. Serta menganalisa bagaimana usaha atau jalan untuk lebih meningkatkan perpustakaan menjadi pusat sumber belajar.

BAB IV

Penutup

Kesimpulan

Perpustakaan bukan hanya miliki satu lembaga melainkan milik kita semua. Setiap perpustakaan harus dapat memberikan pelayanan yang prima dan terbaik. Dalam pengelolaan dapat menjalin hubungan dengan semua pihak atau institusi dengan melakukan kerja sama yang saling menguntungkan untuk meningkatkan dan mengembangkan perpustakaan. Membuat hubungan dengan masyarakat yang ada di sekitar perpustakaan tersebut.

Saran

Untuk meningkatkan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar maka perpustakaan harus dapat melakasanakan tugasnya sesuai dengan fungsi perpustakaan sebagai pusat sumber belajar. Perpusatakaan dapat mengikuti perkembangan zaman yang ada serta memperbanyak sumber referensi baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Daftar Pustaka

AECT. 1997. The Definition of Educational Technology. Washington: AECT

Budhiningsih, C. Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : PT Rineka Cipta

Mudhoffir. (1986). Prinsip-Prinsip Pengelolaan Pusat Sumber Belajar. Bandung: Remaja Rosdakarya

Muhtadi, Ali. 2005. Managemen Sumber Belajar ‘Buku Pegangan Kuliah’. Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta

Wirojoedo, Soebijanto. 1986. Perencanaan Pendidikan’Buku Pegangan Kuliah’. Yogyakarta : CV. Kaliwangi

Pujiriyanto. 2005. Otomasi Perpustakaan. Yogyakarta : FIP UNY

Seels, Barbara B & Richey, Rita C. 1994. Teknologi Pembelajaran: Definisi dan Kawasannya (terjemahan oleh Yusuf Hadimiarso, dkk). Jakarta: Unit Percetakan Universitas Negeri Yogyakarta

http://www.surya.co.id/web/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=30740

http://www.karangturi.org/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=59

http://www.ung.ac.id/web/lp3/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=16

http://lib.unair.ac.id/index.php?option=com_content&task=view&id=152&Itemid=252

2 thoughts on “Upaya Peningkatan Perpustakaan Sebagai Pusat Sumber Belajar

  1. Setahun yang lalu saya mendaftar di Teknologi Pendidikan…
    Tapi saya belum tahu banyak peran lulusan Teknologi Pendidikan di Dunia Sekolah..karena belum ada di Sekolah2 yang saya temui lulusan dari TP…kalaupun di Lab Komputer…biasanya dari lulusan ilmu Komputer…jadi dimana biasanya lulusan TP itu di tempatkan di Sekolah2..terimakasih

  2. BANYAK SEKALI KEGUNAAN LULUSAN TP.TERUTAMA ILMU BAGI PRIBADI SENDIRI .TAMBAH BANYAK BELAJAR ILMU AKAN KITA RASAKAN TAMBAH KURANG
    ILMU ITU.SEBENTAR LAGI SYARAT KEPALA DINAS PENDIDIKAN SAYA MENYARANKAN LULUSAN DARI TP.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s