Bank Dunia Sarankan Pengurangan Subsidi BBM
JAKARTA-MI: Bank Dunia menilai pemerintah lebih baik mengurangi besaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) untuk memperoleh dana lebih besar yang dapat dialokasikan bagi pengentasan kemiskinan.
Subsidi BBM saat ini dinilai tidak tepat sasaran karena hanya dinikmati masyarakat mampu yang lebih banyak menggunakan BBM.
“Pemerintah pun seharusnya mulai mengurangi subsidi BBM pada APBN. Sebab subsidi tersebut bisa digunakan untuk memaksimalkan mengurangi angka kemiskinan, dengan mendorong pendidikan,” kata Country Director World Bank Indonesia Joachim von Amsberg di Jakarta, kemarin.
Program yang harus digiatkan pemerintah justru adalah mengurangi angka kemiskinan dengan memberikan subsidi langsung bagi rakyat miskin, menjaga harga barang, dan mengurangi ekspor barang ke luar negeri.
“Untuk jangka pendek, pemerintah bisa memberikan subsidi langsung kepada masyarakat, ataupun menaikkan tarif ekspor agar harga barang di dalam negeri tidak lebih tinggi daripada di luar. Untuk jangka panjang, pemerintah harus menggiatkan produksi,” ungkapnya.
Dalam pembahasan APBN-P 2008, pemerintah menyepakati subsidi BBM mencapai Rp130,894 triliun. Bila ditambah dengan subsidi untuk pemakaian listrik sebesar Rp61 triliun, total subsidi mendekati angka Rp200 triliun.
Sejumlah kalangan juga sudah menyarankan agar pemerintah membuka opsi menaikkan harga BBM untuk menekan pengeluaran subsidi. Namun, hingga saat ini pemerintah masih bertahan dengan keinginan tidak menaikan harga BBM. DPR mengatakan pihaknya baru akan mengambil inisiatif kenaikan harga BBM setelah harga minyak menyentuh level US$130 per barel. Saat ini harga minyak mentah sudah berada di bawah US$100 per barel.
Senior Economist Standard Chartered Fauzi Ichsan menilai secara teori mengurangi subsidi APBN untuk mendorong pembangunan infrastruktur serta mengurangi kemiskinan clan pengangguran tidaklah salah.
“Namun, apakah pemerintah pusat dan daerah bisa memanfaatkan tambahan dana pembangunan itu. Selama ini kan daya serap fiscal masih sangat rendah.
Sumber: MEDIA INDONESIA / Rabu, 26 Maret 2008

Tinggalkan Balasan